NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Elora

"Sya......Makan yok."

Elora dari tadi mengetuk pintu kamar Elisya. Setelah pulang gereja tadi, mereka belum ngobrol sama sekali. Tapi satu yang jelas, wajah datar Elisya saat melewatinya tadi.

Tok.... tok.... tok....

"Elisya......?"

Tak ada sahutan dari dalam. Pintu itu juga masih tetap tertutup.

"Elisya Mayura Pasaribu??" panggil Elora lagi sambil mengetuk pintu itu keras.

Cklek.......

Elisya keluar dengan ekspresi yang sama seperti tadi. Melihatnya, Elora sedikit terkejut spontan mundur selangkah.

"Ayok makan......" ajak Elora menarik tangan Elisya.

"Nggak!" jawab Elisya singkat dengan nada suara yang tak biasa.

Elisya ingin menutup pintu kamarnya lagi.

"Eh...... wait." ucap Elora menahannya.

"Apa lagi sih? Aku nggak lapar!!" nada suaranya mulai naik.

"Aduh, mampus...... pasti marah." batin Elora membaca ekspresi itu.

"Masa sih nggak lapar...... aku udah masak tempe kesukaan kamu loh....." goda Elora masih berusaha terdengar santai.

"Nggak.! " jawab Elisya cepat sambil ingin menutup pintu kamarnya kembali.

"oke, oke....." ucap Elora menahan pintu itu. "Aku akan cerita, kemana aku tadi,"

Elisya paling tidak suka dengan apa yang dilakukan Elora tadi. Merasa dikecewakan dan tak dianggap penting.

"Ayok......" tarik Elora duduk di ruang tengah.

Elisya masih tetap memasang wajah datar. Tapi sebenarnya ia sangat ingin mendengar penjelasan apa yang membuat Elora menghilang tadi di gereja.

"Jadi gini......." ucap Elora memulai menjelaskan.

Elora dan Elisya memang sama-sama masih jomblo. Semenjak mereka kenal di dunia kerja, mereka sudah sama-sama tau akan hal itu. Dan mereka menganggap itu bukan masalah. Mereka enjoy dengan semua itu. Walaupun, terkadang mereka merasa sedikit risih dengan guru-guru di sekolahnya, sering kali untuk menjodoh- jodohkan mereka.

Masih ingat kan......? Waktu Elora pulang sendiri kemarin karna Elisya pergi ke toko buku 'Lentera Kata'...... Saat itulah semuanya berawal.

"Ihhh...... Elisya, aku kan jadi jalan sendiri." gumam Elora saat itu di tengah jalan. Jaraknya memang tak jauh, tapi jika jalan sendiri pasti akan lebih terasa.

"Aduh...... Itu di depan banyak mahasiswa lagi."

Di depan Elora terlihat segerombolan orang. Sepertinya memang mereka adalah mahasiswa karna itu masih dekat dengan lingkungan kampus.

"Gimana ini ya?" tanya Elora sendiri.

Elora sedikit takut, karna dilihat dari penampilannya mahasiswa itu sedikit berantakan. Entah ingin demo atau apa. Tapi yang pasti mereka terlihat tidak baik-baik saja.

Elora melihat sekelilingnya. Dan tempat yang paling aman menurutnya itu harus ke seberangnya. Saat ia ingin menyeberang jalan itu, sebuah motor melaju dengan kecepatan yang lumayan. Elora kurang memperhatikan itu sebelumnya karna langkahnya cukup buru-buru ingin segera menyebrang.

"Akh........!!" teriak Elora.

Orang itu mengerem motornya tiba-tiba. Tapi karna cukup melaju cepat membuat motor itu sedikit menyenggol lengan Elora.

"Hah? Jadi kamu luka? coba lihat." tanya Elisya khawatir di tengah cerita itu.

Elora menunjukkan lengannya yang sudah diperban. Luka itu memang luka kecil.

"Siapa sih orangnya?" tanya Elisya tak suka.

"Ihh, Sya...... Dengar dulu. Biar aku lanjut ceritanya dulu." ucap Elora.

"Astaga..... Maaf......" ucap orang itu membantu Elora berdiri.

Elora berdiri dan mengangkat pandangannya. Dia melihat seorang laki-laki berdiri di depannya. Penampilannya cukup rapi, pangkasan rambutnya sangat rapi.

"Dan yang pasti....... wanginya enak......" lanjut Elora menjelaskan pada Elisya.

"Aneh.....!" ucap Elisya memukul lengannya tak sengaja.

"Aww......!" Elora menjerit kesakitan.

"Astaga..... sory, sory." ucap Elisya.

"Terus....." lanjut Elora menceritakan kejadian waktu itu.

Elora terdiam melihat laki- laki di depannya. Lengannya memang terasa sakit tapi orang di depannya lebih menarik perhatiannya sehingga sakit itu terabaikan.

"Maaf banget ya...... " ucap laki laki itu penuh rasa bersalah.

Elora tak merespon, matanya melongo melihatnya.

"Sepertinya sih, dia pikir aku waktu itu trauma sampai respon ku segitunya....." jelas Elora pada Elisya.

"Trus intinya apa sih?" tanya Elisya mulai tak sabar mendengar temannya itu.

"Issss sabar atuh Neng....."

Laki- laki itu meraih tangan Elora sampai ke motornya. Mereka pergi ke rumah sakit yang paling dekat dengan kejadian itu.

"Tidak perlu khawatir. Lukanya tidak terlalu serius. Dalam beberapa hari ke depan pasti sudah membaik dan menutup dengan sendirinya." ucap dokter itu sambil tersenyum menenangkan.

"Benaran, Dok?" tanya laki- laki itu memastikan. "Tidak ada luka serius?"

Dokter itu tersenyum lalu mengangguk.

"Tidak ada. Hanya luka ringan. Yang penting dijaga kebersihannya untuk ganti perbannya."

Laki- laki itu tampak menghembuskan napas lega.

"Syukurlah."

Di kursi sebelah, Elora itu diam-diam memperhatikan. Dia terpesona mendengar pertanyaan itu. Sejak tadi, laki- laki itu berkali-kali memastikan keadaannya, bahkan terlihat lebih cemas daripada dirinya sendiri.

Perempuan itu menunduk, berusaha menyembunyikan senyum tipisnya.

"Ada sesuatu yang kamu rasakan? Yang menganggu......?" tanya laki- laki itu ketika sudah keluar dari ruangan tadi.

Elora menggeleng kecil.

"Serius?" laki- laki itu menahan tangan Elora. "Soalnya saya khawatir dengan respon kamu tadi,"

Wajah Elora langsung memerah. Tak tau harus menjawab apa. Soalnya responnya bukan karna takut, tapi karna laki-laki itu berdiri di depannya terlihat begitu gagah.

"Hei...... Kamu benaran tak apa? Kenapa wajahmu tiba-tiba merah?" laki-laki itu memegang pipi Elora.

Elora membeku sebentar. Dan langsung mundur sedikit menjauh.

"Tidak....Tidak....Tidak apa. Saya baik-baik aja..... Aman." ucap Elora gugup.

"Maaf, Maaf...." ucap laki-laki itu.

"Sebentar......" ucap Elisya di tengah cerita itu. "Itu modus nggak sih?" lanjut tanya Elisya.

"Ihhh...... Apaan sih, Sya. itu bukan modus tapi PERHATIAN." tegas Elora.

"Awas sakit hati," Elisya mengingatkan sahabatnya itu.

"Ya ampun, Sya.......Jangan terlalu gitu, kita harus positif thinking sama orang." ucap Elora.

"Lagian nih ya, biar nggak jomblo mulu....." lanjut goda Elora.

"Akh....!! Terus apa kaitannya sama kau ninggalin aku di gereja tadi?"

"Oh, iya....." ucap Elora tersenyum tipis.

Laki-laki itu mengantarkan Elora sampai ke kontrakan.

"Terimakasih," ucap Elora sambil melangkah pergi.

"Hei tunggu....." panggil laki-laki itu.

Elora tersenyum mendengar suara itu memanggilnya, menahannya untuk tidak langsung masuk. Karna sebenarnya dia juga masih ingin ngobrol tapi tidak tau bagaimana caranya.

"Kenapa?" tanya Elora balik badan.

Laki-laki itu mendekat dan mengambil HP nya.

"Boleh minta nomornya? "

Jantung Elora berdetak lebih cepat. Itu jelas sesuatu yang diharapkan Elora.

"Maksudnya biar Saya bisa pastikan kalau kamu baik-baik saja." jelas laki-laki itu saat Elora tak memberi jawab.

Elora mengangguk.

"Ini......" laki-laki itu menyerahkan HPnya supaya Elora langsung mengetik nomornya disana.

"Lukanya jangan lupa dibersihkan dan obat nyeri tadi dimakan ya...." ucap laki-laki itu sebelum pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!