NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15.Kembali.

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan tak terduga di Desa Gemilang. Di Kota Vale Ria, kehidupan kembali berjalan seperti biasa, namun ada perubahan halus yang mulai terasa. Rama Cahya tetap menjalani rutinitasnya yang padat—menghadiri rapat, meninjau proyek, dan mengatur jalannya perusahaan besar yang ia pimpin. Berbeda dengan rencana awalnya yang ingin memaksa warga desa pindah, kali ini ia memutuskan untuk mengikuti garis besar proposal yang dibuat Ivy. Ia mengakui bahwa rencana itu masuk akal, menguntungkan kedua belah pihak, dan tidak merusak keaslian alam yang menjadi sumber kehidupan penduduk setempat. Namun, di balik kesibukannya, pikirannya sesekali melayang mengingat gadis muda yang berani itu, meski ia selalu berusaha mengabaikannya dengan dalih bahwa itu hanya ketertarikan sesaat.

Sementara itu, di kediaman utama keluarga Dermawan, suasana terasa lebih tenang namun menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ivy harus meluangkan waktunya hampir setiap hari untuk berkunjung ke rumah sakit bersama ibunya, Nyonya Lusi . Hasil pemeriksaan dokter tetap sama seperti sebelumnya—tidak ada perubahan yang signifikan, namun ada kabar yang sedikit menenangkan meski tetap membuat hati prihatin: sel kanker di otak Ivy tumbuh dan menyebar dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dibandingkan perkiraan awal.

Saat duduk di ruang tunggu rumah sakit, memandang laporan hasil pemeriksaan yang dipegang ibunya, hati Ivy terasa penuh dengan keyakinan yang semakin kuat. Dugaanmu benar adanya. Selama aku bisa tetap bersentuhan dengan Tuan Rama, tubuhku akan mendapatkan kekuatan untuk melawan penyakit ini. Dia bukan hanya sumber energi, dia adalah satu-satunya kesempatan agar aku bisa terus hidup, pikirnya dalam hati.

Melihat ibunya yang terlihat lelah dan matanya berkaca-kaca menahan sedih, Ivy memberanikan diri mengutarakan niat yang sudah ia rencanakan matang-matang.

“Ma, ada satu hal yang ingin aku minta. Tolong bicarakan dengan Ayah, agar aku bisa dijodohkan dengan Tuan Rama Cahya,” ucap Ivy dengan nada tenang namun tegas.

Mendengar permintaan itu, Nyonya Lusi menoleh cepat dengan tatapan terkejut dan tidak setuju. “Ivy, apa yang kau bicarakan? Saat ini kondisimu sedang membutuhkan perawatan dan ketenangan pikiran. Fokuslah pada proses penyembuhan, bukan memikirkan urusan pernikahan atau pria lain. Lagipula, Tuan Rama itu jauh lebih dewasa, karakternya keras, dan hidupnya sudah mapan. Apa yang membuatmu tiba-tiba menginginkan hal itu?”

Ivy menghela napas panjang, mengerti betul alasan ibunya menolak. Jika ia berada di posisi ibunya, mengetahui bahwa anaknya hanya memiliki waktu hidup yang terbatas, ia pun pasti akan melarang hal yang sama. Bagaimana mungkin seorang ibu mengizinkan anaknya yang sakit parah untuk terikat dalam sebuah ikatan pernikahan, apalagi dengan pria yang memiliki reputasi dingin dan keras?

“Aku mengerti kekhawatiran Ibu, tapi percayalah, ini penting untukku. Ini bukan sekadar keinginan sesaat, Bu,” jawab Ivy lembut, namun ia tidak bisa menjelaskan alasan sesungguhnya tanpa membuat ibunya mengira ia sudah kehilangan akal sehat.

Setelah pemeriksaan selesai, keduanya pulang ke rumah dan sepakat untuk tetap menyembunyikan kondisi sebenarnya Ivy dari Ayah dan Oliv, adik angkatnya. Mereka takut jika hal itu diketahui, justru akan mengganggu kestabilan keluarga dan urusan bisnis yang sedang berjalan.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sebentar. Begitu mereka baru saja melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu, suasana langsung berubah menjadi tegang. Oliv berdiri di tengah ruangan dengan wajah yang tampak sedih dan matanya berkaca-kaca, sementara di depannya tergeletak sebuah kotak perhiasan yang terbuka.

“Kak Ivy, kenapa kau harus melakukan hal ini?” tanya Oliv dengan nada terisak, seolah baru saja mengalami kekecewaan besar.

Ayah mereka, Tuan Tio, berdiri di sampingnya dengan raut wajah yang muram. “Ivy, bisakah kau jelaskan ini? Oliv baru saja kehilangan cincin pertunangan dari Brian. Saat dia dan pembantu memeriksa ke seluruh penjuru rumah, akhirnya cincin itu ditemukan terselip di antara tumpukan pakaian di dalam lemari pakaianmu.”

Ivy yang baru saja pulang dan merasa sangat lelah menatap adiknya itu dengan pandangan datar. Ia sudah terbiasa dengan drama yang sering dimainkan Oliv untuk terlihat sebagai korban dan menjatuhkan posisinya di mata keluarga.

Belum sempat Ivy membuka mulut, Nyonya Lusi langsung melangkah maju membela putri kandungnya. “Tidak mungkin Ivy melakukan hal semacam itu. Pasti ada kesalahpahaman. Mungkin saja cincin itu terjatuh dan terbawa tanpa sengaja.”

“Tapi buktinya ada di sana, sayang,” sanggah Tuan Tio. “Barang itu ditemukan di kamarnya. Bagaimana bisa terbawa tanpa sengaja sampai ke dalam lemari tertutup?”

Perdebatan pun pecah. Ayah membela Oliv, menganggap bukti yang terlihat sudah cukup jelas, sedangkan Ibu bersikeras mempertahankan nama baik Ivy. Suasana menjadi semakin panas dan menyakitkan, membuat kepala Ivy terasa berdenyut hebat.

Akhirnya, kesabaran Ivy habis. Ia berteriak dengan suara lantang namun penuh ketegasan, “Cukup! Berhentilah berdebat seperti anak kecil yang tidak tahu aturan!”

Semua orang langsung terdiam dan menoleh ke arahnya. Ivy memanggil Bibi Nora yang berdiri di sudut ruangan, “Bawa kartu memori yang ada di kamarku. Aku sudah memasang kamera pengawas secara diam-diam di depan pintu kamarku dan di dalam ruangan itu sejak lama. Aku tahu betul sifat adikku ini, jadi aku harus waspada.”

Mendengar hal itu, raut wajah Oliv seketika berubah pucat, namun ia segera kembali memerankan perannya dengan baik. Ia mengusap air matanya dan berkata dengan nada lembut, “Sudahlah, Ayah, Ibu. Itu hanya sebuah cincin. Jika Kak Ivy menginginkannya, biarkan saja dia memilikinya. Bahkan jika dia juga ingin mengambil posisi perjodohanku dengan Brian, aku rela mengalah. Aku tidak ingin terjadi pertengkaran di antara kita.”

Kata-kata itu justru membuat posisi Ivy terlihat semakin buruk, seolah ia benar-benar berniat mengambil apa yang menjadi milik adiknya.

Namun Ivy tidak tergoyahkan sedikit pun. Ia menatap Oliv dengan tatapan tajam, “Sebaiknya kau diam dan jangan banyak bicara. Nanti kita lihat siapa yang sebenarnya salah dan siapa yang hanya pandai berakting.”

Namun, sebelum Bibi Nora sempat kembali membawa rekaman itu, Tuan Tio sudah mengangkat tangannya menandakan perintah berhenti. “Sudah cukup. Masalah ini tidak perlu diperpanjang. Oliv, maafkan kesalahpahaman ini. Ivy, tolong kembalikan cincin itu dan biarkan semuanya selesai sampai di sini saja.”

Nyonya Lusi merasa tidak terima dan ingin terus meminta keadilan, namun Ivy segera menahan lengannya dan menggeleng pelan. “Sudahlah, Bu. Tidak apa-apa. Aku lelah hari ini, izinkan aku beristirahat di kamar.”

Ia tahu betul, meski rekaman itu diperlihatkan, Ayah tetap akan mencari alasan untuk memaafkan Oliv. Perjodohan antara Oliv dan Brian, keponakan Rama, memiliki nilai bisnis yang sangat besar dan menguntungkan bagi perusahaan keluarga. Ayah tidak akan membiarkan hubungan itu rusak hanya demi membuktikan kebenaran yang dianggapnya sepele.

Begitu sampai di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Ivy menghela napas panjang dan melepaskan semua rasa lelah, kesal, dan kecewa yang menumpuk di dadanya. Ia duduk di meja belajarnya, lalu mengeluarkan buku-buku tebal tentang ilmu kedokteran dan anatomi tubuh.

Ivy sudah memutuskan dengan tegas—ia tidak akan melanjutkan jejak ayahnya mengurus perusahaan. Ia ingin menjadi dokter, sama seperti mendiang Nenek Eli, yang pernah menyelamatkan banyak nyawa. Mungkin dengan mempelajari ilmu ini, ia bisa menemukan cara lain untuk memahami kondisi tubuhnya sendiri selain hanya bergantung pada kehadiran Rama.

Sambil membalik halaman buku, pikirannya melayang kembali pada sosok pria itu. Tenang saja, Tuan Rama. Kita akan bertemu lagi. Entah lewat urusan bisnis, entah lewat rencana perjodohan, atau cara apa pun yang mungkin. Selama aku bisa tetap dekat denganmu, aku punya cukup waktu untuk belajar, berjuang, dan terus hidup.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!