NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kepercayaan yang mulai tumbuh

Bab 23

Angin dari arah bukit membawa bau tanah basah yang belum turun hujan. Aroma itu familiar bagi Nayla sekarang. Bau yang selalu datang sepuluh menit sebelum langit benar-benar runtuh. Ia baru saja selesai menulis resep untuk Ibu Ratmi—obat hipertensi dosis rendah, dengan catatan kecil di pojok kertas: _kurangi garam, banyak minum air putih_. Tinta pulpennya masih basah.

Ketika Sari masuk. Perawat itu biasanya tidak pernah masuk tanpa batuk kecil atau berdeham terlebih dahulu, seolah langkahnya sendiri sudah cukup untuk mengumumkan kedatangan. Kali ini tidak. Ia berdiri di ambang pintu. Di tangan kanannya, tergenggam ponsel Nayla. Layar ponsel itu menyala, memantulkan cahaya ke wajah nya.

"Dokter," ujar Sari. Hanya satu kata. Namun satu kata itu jatuh ke ruangan seperti batu ke permukaan danau yang tenang. Tidak keras, tetapi riaknya menjalar ke seluruh dada Nayla.

Nayla menegakkan punggung. Refleks seorang dokter ketika mendengar nada suara yang salah. Ia menerima ponsel itu dengan tangan yang masih memegang pulpen. Ibu Ratmi belum sempat berpamitan keluar. Resep di meja masih tergeletak setengah terlipat.

Layar ponsel menampilkan tiga baris pesan. Dari sebuah nomor tanpa nama, hanya deretan angka yang urutannya sudah ia hafal.

Kak_Ibu masuk RS pagi tadi. Tekanan darah 200. Dokter menyatakan jantung.

Angka 200 itu menempel di retina Nayla lebih lama daripada huruf-huruf lain. Angka yang dalam dunia medis tidak pernah terdengar netral. Angka yang memaksa jantung bekerja melawan tahanan pembuluh darah yang menyempit. Angka yang, jika bertahan lebih dari beberapa jam, bisa membuka jalan bagi stroke hemoragik. Pembuluh pecah. Pendarahan di otak. Kehilangan fungsi.

Nayla tahu semua itu. Ia mengucapkannya setiap hari kepada pasien di tenda ini dengan suara tenang dan wajah datar. Namun ketika angka itu milik ibunya sendiri, semua pengetahuan medis di kepalanya mendadak terasa seperti teori kosong di atas kertas.

Jempolnya bergerak sebelum otaknya sempat memberi izin. Ia menekan ikon telepon hijau itu. Layar berubah. _Menghubungi Rian..._ Tulisan kecil itu berkedip, berharap, lalu padam. Panggilan terputus.

Di sudut atas layar, indikator sinyal menunjukkan satu bar. Satu bar tipis berwarna abu-abu yang naik turun.

"Rian, angkat dong" gumam Nayla. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Ia menekan ulang. _Menghubungi..._ Tut. Terputus lagi.

Ia mencoba untuk ketiga kalinya. Keempat. Kelima. Setiap kali hasilnya sama. Nada sambung yang tidak pernah sampai ke ujung, lalu sunyi.

Ponsel itu akhirnya terlepas dari genggamannya. Bukan karena ia sengaja melepaskan, melainkan karena jari-jarinya mendadak tidak lagi ia kenali sebagai miliknya. Ponsel menghantam meja kayu dengan bunyi "Tek"

Sari segera berlutut untuk memungutnya. "Dokter, hati-hati."

Nayla tidak menjawab. Tidak melihat. Tatapannya terpaku pada tangannya sendiri yang kini tergeletak di pangkuan, Jari-jari itu. Jari-jari yang enam jam lalu masih memegang jarum jahit melengkung untuk menutup luka sayat di lengan prajurit Hendra.

Kini terasa lemas.

"Dokter," panggil Sari lagi. Tapi Kali ini suaranya itu entah kenapa terdengar seperti jauh.

Nayla berdiri

Ia melangkah keluar dari tenda, tanpa menghiraukan panggilan dari sari ia menggenggam ponsel itu seolah menggenggam selang oksigen. Satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan satu-satunya orang yang tidak boleh ia kehilangan untuk kedua kalinya.

Lapangan di depan barak kosong. Pasir dan kerikilnya masih menyimpan panas matahari sore. Langit di sebelah barat masih mempertahankan warna jingga terakhir, namun tepinya sudah memudar menjadi ungu tua. Di sebelah timur, awan hitam bergumpal di atas bukit, bergerak perlahan namun pasti.

Selama di sini ia sudah belajar membaca langit Karang Wilis lebih baik daripada membaca buku teks kedokteran. Ia tahu, dari arah awan dan arah angin itu, hujan akan turun dalam satu jam.

Ia berjalan ke tengah lapangan. sambil Mengangkat ponsel tinggi-tinggi di atas kepalanya, menurunkan menekan tombolnya.

Ia mengulang. Lagi. Lagi. Lagi.

tetapi tetap nihil.

Dari arah barak prajurit, suara sepatu berlari menghantam kerikil. Bukan satu atau dua pasang. Empat pasang. Aldi dan dua prajurit lain yang namanya belum sempat Nayla hafal bergegas menuju pos jaga di ujung lapangan. Wajah mereka kaku.

Aldi melihatnya ketika berlari melewati lapangan. Ia tidak berhenti. Tidak menyapa. Hanya mengangguk sekali, cepat, sambil mengangkat telunjuknya ke bibir. Isyarat universal yang tidak membutuhkan terjemahan: _diam. tunggu._

Nayla tidak bertanya. Tidak ada ruang dalam kepalanya untuk pertanyaan sekarang. Namun bagian dari otaknya yang masih berfungsi sebagai dokter dan sebagai manusia mencatat kejanggalan: pergerakan mereka malam ini salah. Terlalu banyak personel untuk patroli rutin pukul enam sore. Terlalu tergesa untuk sekadar briefing harian. Sesuatu sedang terjadi. Sesuatu yang tidak ia ketahui.

Dari arah timur, di atas garis pepohonan yang membatasi desa, muncul sesuatu yang lain selain awan. Asap. Tipis, nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan baik-baik. Mengepul ke atas dengan pola yang terlalu teratur untuk kebakaran hutan biasa. Terlalu kecil untuk kepanikan, tetapi terlalu sengaja untuk diabaikan.

Nayla melihatnya. Aldi pasti juga melihatnya. Siapapun yang berdiri di lapangan itu pasti melihatnya.

Ponsel di tangannya bergetar. Sekali. Nayla hampir menjatuhkannya lagi karena refleks. namun itu bukan panggilan masuk melainkan nontif bar.

Ia menekan tombol panggil ulang sebelum bar itu sempat menghilang. _Tut... tut..._ Dua kali nada sambung. Lalu putus.

Satu bar itu pun lenyap dari layar.

"Anda sudah tujuh belas menit berdiri di tengah lapangan."

Suara itu datang dari belakangnya. Nayla tidak mendengar langkah kaki yang mendekat.

Dia berdiri dua meter di belakangnya, tidak di samping. Posisinya strategis—cukup dekat untuk berbicara, cukup jauh untuk tidak melanggar ruang pribadi, dan dengan sudut pandang yang memungkinkan ia melihat Nayla sekaligus seluruh lapangan di sekelilingnya.

Seragam lapangan lengkap. Kaus dalam hijau tua, celana kargo, rompi taktis. Sepatunya masih dipenuhi debu kering berwarna kemerahan. Debu dari luar barak. Dan Dari patroli.

Nayla tidak menoleh. Matanya tetap pada layar ponsel yang kini gelap. "Saya sedang mencari sinyal," pak jawabnya. Suaranya datar. Bukan datar karena tenang, melainkan datar karena seluruh emosinya sedang ia tekan ke dasar.

"Satu bar tidak cukup untuk melakukan panggilan suara," kata Raditya. Kalimatnya faktual. Tanpa basa-basi. Tanpa penghiburan yang tidak ia kuasai.

"Saya tahu," balas Nayla. Kata itu keluar lebih tajam daripada yang ia maksudkan. Bukan kemarahan kepada Raditya. Kemarahan kepada dirinya sendiri yang bodoh karena masih mencoba hal yang sama berulang kali dan berharap hasilnya berbeda. "Saya tahu."

Hening kembali. Raditya tidak bergerak mendekat. Tidak mengucapkan kata-kata klise seperti "sabar" atau "insya Allah semuanya akan baik-baik saja". Ia tidak memiliki bahasa untuk itu, dan Nayla, untuk pertama kalinya sejak mengenal pria itu, merasa bersyukur karena tidak ada yang berusaha menenangkannya dengan kalimat yang bahkan pengucapnya sendiri tidak benar-benar maksudkan.

Akhirnya Nayla yang berbicara. Bukan karena ia ingin berbagi, melainkan karena ia terlalu lelah untuk terus membangun tembok di hadapan satu-satunya orang yang berdiri di lapangan itu bersamanya.

"Ibu saya," pak katanya. Ia mengulurkan ponsel ke belakang menoleh. Layar masih menampilkan nama "Rian" dengan panggilan terakhir yang gagal. " dia sekarang Di rumah sakit. Tekanan darahnya dua ratus. Saya tidak bisa..."

Kalimat itu berhenti di tengah jalan. Bukan karena air mata—meskipun tenggorokannya terasa sesak—melainkan karena ia menahan isak dengan cara yang sama seperti ibunya dulu menahan rasa sakit kemoterapi. Dengan mengunci rahang. Dengan menegakkan leher. Dengan menolak membiarkan tubuhnya runtuh di hadapan orang lain.

Raditya menerima ponsel itu. Ia menatap layar hanya sekilas. Tidak seperti orang awam yang akan membaca setiap kata berulang kali. Tatapannya seperti saat ia memeriksa luka tembak di bahu prajuritnya kemarin: cepat, menilai tingkat urgensi, mencari inti masalah.

"Bukit timur," ujarnya setelah beberapa detik. "Sinyal paling kuat pada pukul enam pagi. Sebelum hujan turun." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan kalimat berikutnya bukan sebagai tawaran, melainkan sebagai pernyataan operasional: "Saya akan mengantar Anda ke sana."

Nayla menggeleng. Gerakan refleks. Selama tujuh belas hari di desa ini, ia telah membangun satu prinsip: ia harus mampu berdiri sendiri. Jika ia mulai bergantung pada orang lain, terutama pada Raditya, maka batas-batas yang ia bangun akan runtuh satu per satu.

"Saya bisa sendiri," katanya.

Raditya tidak membantah. Tidak berdebat. Ia hanya tetap berdiri di tempatnya. Lima detik. Sepuluh detik. Gerimis pertama akhirnya jatuh di kejauhan, menghasilkan suara gemerisik yang datang bukan dari petir, melainkan dari jutaan tetes air yang mulai dilepaskan oleh awan yang terlalu berat untuk menahannya lebih lama.

"Pukul enam," ulang Raditya. Bukan permohonan. Bukan perintah. Nada suaranya seperti saat ia meletakkan peralatan medis di atas meja operasi—tersedia, siap digunakan jika diperlukan, tanpa memaksa. "Saya akan menunggu di pos jaga."

Ia berbalik. Langkahnya lurus dan mantap menuju barak, punggungnya tegak seperti biasa. Tidak menoleh sekalipun. Namun sebelum ia menghilang di balik pintu, Nayla melihat sesuatu: tangan kanan Raditya, yang biasanya masuk ke dalam saku seragam ketika berjalan, kini menggenggam ponselnya sendiri di sisi tubuh. Layar ponsel itu menyala redup, lalu padam, lalu menyala lagi, seolah ia juga sedang mencoba menghubungi seseorang yang tidak dapat ia jangkau.

Untuk pertama kalinya, Nayla bertanya-tanya dalam hati: siapa orang itu? Apakah Raditya juga memiliki seseorang di luar sana yang nomornya ia hafal, pesan darinya yang ia tunggu, dan ketakutan yang sama seperti yang kini mencekik Nayla?

Hujan mulai mengguyur deras ketika Nayla kembali ke tenda medis. Sari sudah tidak ada di sana. Obat-obatan tersusun rapi di rak bambu sesuai abjad. Lampu minyak dinyalakan, cahayanya goyang tertiup angin yang masuk dari celah terpal. Di atas meja kecil, ada secangkir teh hangat dengan uap tipis yang naik ke udara. Sari tidak meninggalkan catatan. Tidak perlu. Perawat itu tahu bahwa tindakan sering kali berbicara lebih jelas daripada kata-kata.

Nayla duduk di tikar pandan. Ponsel di tangannya, layar meredup, kontak "Rian" masih terbuka di aplikasi panggilan. Di luar, hujan menghantam atap terpal dengan suara yang berirama. Di sela-sela deru hujan, ia mendengar sesuatu yang lain: langkah sepatu prajurit. Lebih banyak dari biasanya. Berlari. Bukan menuju pos jaga yang biasa, melainkan ke arah timur. Ke arah barikade. Ke arah bukit. Ke arah asap tipis yang tadi ia lihat.

Pesan dari Rian belum ia balas. Ibunya masih terbaring di rumah sakit dengan tekanan darah yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Dan di luar sana, konflik perebutan wilayah yang selama ini hanya berupa bisik-bisik warga mulai menunjukkan wujudnya. Pelan. Tersembunyi. Namun denyutnya sudah bisa ia rasakan, seperti gemuruh sebelum gempa.

Besok pukul enam pagi. Entah untuk mencari sinyal. Entah untuk sesuatu yang lain yang belum berani ia beri nama, sesuatu yang mungkin dimulai ketika ia menerima uluran tangan dari seorang perwira yang tidak pandai berkata-kata.

Raditya akan ada di sana. Menunggu. Seperti janji yang tidak ia ucapkan, tetapi akan ia tepati.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!