Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Sekte Yunwu Sesungguhnya
Keesokan harinya Huang membuka matanya. Rasa sakit di tubuhnya jauh berkurang. Luka di punggung, paha dan perutnya sudah mulai menutup dengan cepat. Hanya tersisa sedikit rasa perih saat bergerak terlalu kuat.
Pil pemulihan dari Tetua Mo jauh lebih baik dibandingkan yang dia bayangkan.
Huang menghembuskan napas panjang. Lalu bangkit, dan berjalan keluar bilik.
Saat keluar dari bilik, seorang tabib tua sudah menunggu sambil membawa cawan ramuan hitam pekat.
"Minumlah. Ini membantu mempercepat pemulihan darah dan energi spiritual."
Huang menerimanya dengan sopan. "Terima kasih."
Dia langsung meminum ramuan tersebut tanpa ragu. Rasa pahit menyebar di mulutnya, namun tubuhnya segera terasa lebih ringan.
Setelah itu Huang berjalan keluar.
Di luar balai pengobatan, Lei Shan dan Luo Mei sudah menunggu.
Lei Shan melambaikan tangan. "Akhirnya keluar juga."
Huang menangkupkan kedua tangannya. "Maaf membuat kedua senior menunggu."
Luo Mei menggeleng pelan. "Tidak lama."
Huang menghela nafas lega, lalu berbicara. "Aku ingin menemui guru terlebih dahulu."
Lei Shan mengangguk. "Pergilah. Kami tunggu di pelataran sekte."
Huang mengangguk, setelah itu berjalan menuju kediaman Tetua Mo.
Setelah beberapa saat... dia tiba di tempat yang sudah sangat dikenalnya selama dua bulan terakhir. Tebing batu yang sunyi, halaman sederhana, dan kursi rotan tua di pinggir tebing.
Tetua Mo sedang berdiri membelakangi Huang sambil menatap jurang di bawah sana.
Huang menangkupkan kedua tangannya. "Guru."
Tetua Mo berbicara pelan tanpa berbalik. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku... aku merasakan kebanggaan, juga kelegaan sejati. Dan itu bukan berasal dari diriku sendiri, melainkan dari muridku."
Huang terdiam.
Dia memahami sebagian maksud ucapan itu. Namun bagian tentang kelegaan sejati masih terasa ambigu baginya.
Huang menundukkan kepala. "Murid sudah memenuhi janji untuk mendapatkan posisi pertama. Namun... memikirkan akan meninggalkan Guru, murid merasa sedikit sedih."
Tetua Mo berbalik, langsung memukul kepala Huang.
Plak!
"Bodoh. Mati saja kau."
Huang memegang kepalanya sambil tersenyum pahit.
Tetua Mo meneguk araknya lagi, lalu memandang Huang dengan tatapan sayu.
"Hei, Huang. Dalam hidup ini, akan selalu ada pertemuan dan perpisahan. Kalau kau siap bertemu seseorang, maka kau juga harus siap untuk berpisah."
Tetua Mo membalikkan tubuhnya lalu kembali menatap jurang. "Kultivasi tidak mengenal keabadian hubungan. Bahkan antar guru dan murid pun akan berpisah suatu hari nanti. Jadi jangan menjadi emosional hanya karena akan memasuki sekte bagian dalam."
Huang terdiam beberapa saat, lalu berjalan berdiri di samping Tetua Mo. "Aku tidak emosional karena perpisahan."
Huang tersenyum kecil. "Lagipula murid masih bisa kembali kemari kapan saja, untuk melihat guru."
Tetua Mo tersenyum miring. Tidak menjawab.
Tidak berselang lama... Tetua Mo berbicara dengan suara berat. "Huang... jadilah kuat sampai keinginanmu tercapai. Dan... terima kasih sudah menjadi muridku. Maaf jika caraku mendidikmu terlalu kasar."
Huang segera menggeleng, lalu membungkuk dalam. "Seharusnya murid yang berterima kasih. Dan murid juga meminta maaf karena terlalu bodoh."
Tetua Mo mengibaskan tangannya. "Bangkitlah. Tidak perlu seperti itu."
Huang kembali berdiri.
Tetua Mo memandang Huang lama sekali. Tatapannya jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Setelah itu dia berbalik dan berjalan menuju kursi rotannya.
"Pergilah. Mulai sekarang kau bebas menjadi murid siapa pun. Aku ingin kembali menjalani hidup santai. Melatihmu selama dua bulan membuat waktu bersantaiku hilang terlalu banyak."
Huang terkekeh kecil. "Maaf, Guru."
Lalu dia kembali menangkupkan kedua tangannya dengan hormat. "Murid pergi. Guru... jagalah kesehatan, jangan terlalu banyak minum arak."
Tetua Mo hanya mengibaskan lengan bajunya tanpa menoleh lagi.
Huang memandang lelaki tua itu beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan kediaman tersebut. Namun belum sempat menjauh, empat gelang berat langsung terpasang di lengan dan kaki Huang.
Huang berbalik menoleh ke arah gurunya.
Tetua mo mengibaskan lengannya dengan gerakan malas. "Pergi."
Huang mengangguk, lalu berjalan pergi.
Tidak lama kemudian dia tiba di pelataran sekte luar. Lei Shan dan Luo Mei sudah menunggu di sana.
"Sudah selesai?" tanya Lei Shan.
Huang mengangguk pelan. "Sudah."
"Kalau begitu ayo pergi. Kita menuju sekte bagian dalam."
"Baik senior."
Mereka bertiga segera berjalan bersama menuju arah timur sekte luar.
Setelah beberapa waktu...
Mereka kini berjalan melewati jalan batu, hingga akhirnya tiba di sekte Yunwu yang sesungguhnya, didepan gerbang. Jarak sekte Yunwu bagian dalam sekitar dua kilometer dari Sekte Yunwu bagian luar.
Huang menghentikan langkahnya sesaat. Tatapannya bergerak perlahan ke depan. Gerbang besar setinggi puluhan meter berdiri kokoh dengan ukiran awan dan pedang di seluruh permukaannya. Energi spiritual di sekitar tempat itu jauh lebih padat dibandingkan sekte bagian luar. Bahkan napas Huang terasa sedikit lebih ringan ketika menghirup udara di sana.
Di balik gerbang, bangunan-bangunan besar berdiri berjajar di pegunungan. Aula batu hitam, paviliun kayu merah, serta jembatan panjang yang menghubungkan satu puncak dengan puncak lain terlihat megah. Beberapa burung spiritual terbang melintas di langit, sementara kabut tipis mengelilingi bagian bawah gunung.
Lei Shan tersenyum kecil melihat ekspresi Huang. "Bagaimana? Besar, bukan?"
Huang mengangguk jujur. "Besar senior."
Luo Mei berbicara tenang. "Sudahlah. Ayo masuk."