Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Pengakuan Nenek Mira
Dua hari telah berlalu sejak pertemuan dengan pengemis tua di gerbang istana. Bobon menghabiskan waktunya dengan berlatih dan mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan Wulan. Dia tahu ini tidak akan mudah. Wulan bukan lagi wanita yang dulu dicintainya. Dia adalah Jenderal Iblis yang kejam dan pendendam. Tapi Bobon tidak menyerah. Dia percaya bahwa di balik kebencian itu, masih ada cinta yang tersisa.
Pagi ini, Bobon sedang berlatih pedang di arena bersama Pangeran Bima. Gerakannya semakin lancar dan sempurna. Setiap tebasan dan tusukan dilakukan dengan presisi yang luar biasa. Pangeran Bima kesulitan mengimbanginya.
"Kau semakin kuat, Bobon," kata Pangeran Bima sambil mengatur napas. "Aku hampir tidak bisa menahan seranganmu."
"Aku hanya mengikuti aliran, Pangeran. Tubuhku bergerak sendiri."
"Itu karena kau sudah terbiasa. Tubuhmu mengingat semua jurus yang pernah kau pelajari."
Bobon mengangguk. Dia meletakkan pedangnya dan duduk di tepi arena. Pangeran Bima duduk di sampingnya.
"Bobon, aku dengar Wulan akan datang besok," kata Pangeran Bima pelan.
"Iya. Aku akan menemuinya."
"Apa kau sudah siap?"
"Aku tidak tahu, Pangeran. Tapi aku harus melakukannya. Aku harus meminta maaf padanya."
Pangeran Bima menepuk pundak Bobon. "Aku percaya padamu. Kau bisa melakukannya."
Bobon tersenyum tipis. "Terima kasih, Pangeran."
Saat mereka sedang berbicara, seorang utusan istana berlari mendekat. "Tuan Bobon! Ada tamu untukmu! Dari Sekte Gunung Berbunga!"
Bobon langsung berdiri. "Siapa?"
"Aku tidak tahu, Tuan. Tapi dia meminta bertemu denganmu segera."
Bobon bergegas ke ruang tamu istana. Di sana, seorang wanita tua dengan rambut putih dan pakaian sederhana sedang duduk. Wanita itu menatap Bobon dengan mata penuh air mata.
Bobon terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Nenek... Nenek Mira?"
Nenek Mira tersenyum. Air mata mengalir di pipinya. "Bobon... cucuku..."
Bobon berlari dan memeluk neneknya erat. Tangisnya pecah. "Nenek! Nenek masih hidup! Aku sangat merindukan Nenek!"
Nenek Mira memeluk balik Bobon dengan erat. "Aku juga merindukanmu, Nak. Aku sangat merindukanmu."
Mereka berpelukan lama. Air mata mengalir deras dari kedua mata mereka. Semua perasaan yang tertahan selama ini meledak dalam pelukan itu.
Setelah mereka tenang, Bobon duduk di samping Nenek Mira. "Nenek, bagaimana Nenek bisa selamat? Aku melihat Nenek melawan mereka. Aku pikir Nenek..."
"Aku hampir mati, Bobon," kata Nenek Mira dengan suara lemah. "Tapi Rara dan murid-murid Gunung Berbunga datang tepat waktu. Mereka membawaku ke sekte dan merawatku. Aku tidak sadarkan diri selama berminggu-minggu."
"Tapi sekarang Nenek sudah sehat?"
"Masih lemah. Tapi aku sudah cukup kuat untuk bepergian. Aku harus menemuimu, Bobon. Ada banyak hal yang harus aku katakan."
Bobon menggenggam tangan neneknya. "Aku dengar, Nek. Aku siap mendengarkan."
Nenek Mira menarik napas dalam-dalam. "Pertama, aku harus mengaku padamu. Aku bukan hanya nenek angkatmu. Aku adalah... murid Sekte Gunung Suci. Aku meninggalkan sekte itu 50 tahun lalu untuk melindungimu."
Bobon terkejut. "Nenek... murid Sekte Gunung Suci?"
"Iya. Aku adalah salah satu murid terbaik. Tapi aku memilih meninggalkan semuanya untuk menjagamu. Karena aku tahu siapa dirimu dan apa yang akan terjadi."
"Apa maksud Nenek?"
Nenek Mira menatap Bobon dengan mata serius. "Kau bukan hanya Pendekar Dewata, Bobon. Kau adalah reinkarnasi dari pendekar legendaris yang hidup 1000 tahun lalu. Kau terlahir kembali untuk melawan kegelapan yang akan datang."
Bobon terdiam. Kata-kata Nenek Mira sangat berat. "Aku... reinkarnasi?"
"Iya. Jiwamu telah hidup berkali-kali. Setiap kali kau mati, kau terlahir kembali untuk melanjutkan perjuanganmu. Kali ini, kau terlahir sebagai Pendekar Dewata. Tapi ada yang salah dalam proses reinkarnasi. Tubuhmu berubah menjadi bocah dan kekuatanmu tersegel."
"Kenapa bisa terjadi?"
"Aku tidak tahu persisnya. Tapi aku yakin ada campur tangan dari Sekte Iblis. Mereka tahu kau akan terlahir kembali dan mencoba menghentikannya."
Bobon merasakan kepalanya pusing. Ini terlalu berat untuk dipahami. "Jadi aku bukan hanya Bobon?"
"Kau adalah Bobon. Tapi kau juga lebih dari itu. Kau adalah harapan terakhir dunia ini."
Bobon diam. Dia merenungkan semua yang baru saja didengar. Reinkarnasi. Pendekar legendaris. Harapan terakhir. Semua itu terdengar seperti dongeng.
"Nenek, aku tidak tahu harus berkata apa," kata Bobon pelan.
"Kau tidak perlu berkata apa-apa, Nak. Kau hanya perlu menerima takdirmu. Dan melanjutkan perjalananmu."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Buka segelmu. Semua segel. Dan kau akan mengingat semuanya. Siapa dirimu sebenarnya. Apa tujuanmu. Dan siapa musuhmu."
Bobon memegangi dadanya. Segel keempat masih terasa hangat di sana. "Aku akan melakukannya, Nek. Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Takut mengingat semuanya. Nenek bilang aku akan menangis."
Nenek Mira tersenyum. "Kau memang akan menangis, Bobon. Kau akan menangis banyak. Tapi setelah itu, kau akan menemukan kedamaian."
Bobon memeluk neneknya lagi. "Aku mencintaimu, Nek. Terima kasih sudah selalu menjagaku."
"Aku juga mencintaimu, Nak. Aku bangga padamu."
Malam harinya, Bobon duduk di balkon kamarnya bersama Nenek Mira. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang semua yang telah terjadi.
"Bobon, ada satu hal lagi yang harus kau ketahui," kata Nenek Mira pelan.
"Apa itu, Nek?"
"Tentang Wulan. Dia bukan hanya Jenderal Seruling Kematian. Dia adalah... bagian dari takdirmu."
"Maksud Nenek?"
"Kau dan Wulan terhubung oleh ikatan yang lebih dalam dari cinta. Kalian adalah dua sisi dari koin yang sama. Kau terlahir untuk melawan kegelapan, dan dia terlahir untuk... menguji cintamu."
Bobon mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengerti nanti. Tapi ingat, apapun yang terjadi besok, jangan menyerah padanya. Wulan masih mencintaimu. Dan kau masih mencintainya."
Bobon mengangguk. "Aku tidak akan menyerah, Nek. Aku berjanji."
Nenek Mira tersenyum dan mengusap rambut Bobon. "Kau memang anak yang baik, Bobon. Nenek bangga padamu."
Di kejauhan, suara seruling terdengar. Melodi yang sedih dan memilukan. Bobon menoleh ke arah suara itu. Wulan sudah dekat.
Besok, mereka akan bertemu. Dan segalanya akan berubah.
Bobon menggenggam erat kain biru di sakunya. "Aku siap, Wulan. Aku siap menghadapi semuanya."
Dan di bawah sinar bulan, Bobon memejamkan mata dan berdoa. Berdoa untuk kekuatan. Berdoa untuk keberanian. Berdoa untuk cinta yang hilang.
Besok adalah hari yang akan menentukan segalanya.