NovelToon NovelToon
Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat

Status: tamat
Genre:Fantasi / Mafia / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:4.7M
Nilai: 4.3
Nama Author: ins

Monster itu menginginkan darah, aku berlari menjauh darinya. Dia selalu menemukan keberadaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ins, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batu Terkutuk

Di dalam kantor Fredian.

"Perkenalkan saya Clarisa.." Seorang gadis cantik mengulurkan tangan pada Fredian.

"Saya Fredian, silahkan duduk" Fredian menarik kursi ke belakang, mempersilahkan gadis itu duduk.

Clarisa merupakan seorang model terkenal, dia adalah artis yang akan mensponsori Reshort milik Fredian. Fredian yang mengajukan permintaan itu padanya, tapi gadis itu sengaja mengajukan syarat. Gadis itu sudah cukup lama memendam perasaan cintanya kepada Fredian.

Dan hari ini merupakan kesempatan yang tidak akan disia-siakan oleh gadis itu.

"Saya bersedia menjadi sponsor Reshort Angel, tapi saya punya satu syarat!" Ujar Clarisa pada Fredian. Gadis itu melangkah menyentuh leher Fredian.

"Apa itu?" Tanya Fredian pada gadis cantik di depannya. Sambil menepis tangan Clarisa.

"Jadilah pacarku!" Gadis itu berdiri di belakang Fredian membisikkan di telinga pria itu.

Clarisa terlihat sangat agresif dalam mengutarakan perasaannya. Tanpa mengatakan cintanya sudah sangat jelas di wajah gadis itu bahwa dia begitu menginginkan Fredian.

"Jika saya menolak?!" Tanya Fredian kembali, dia mencermati wajah gadis itu yang masih terus merayu di depannya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan gadis cantik itu.

Fredian merasa ada yang janggal dengan wanita di depannya saat ini. Ada hal yang aneh dan sulit dilukiskan mengenai sosok Clarisa.

"Saya tidak akan menyerah! tunggulah sejuta kejutan, hingga akhirnya kamu menyerahkan segalanya untukku seorang." Ucap Clarisa tersenyum yakin, gadis itu pergi meninggalkan Fredian dengan santai keluar dari dalam kantornya.

Fredian melakukan panggilan ke kantor Irna.

"Halo Rin?" Ujar Fredian melalui panggilan dari ponselnya.

"Iya, ada yang bisa saya bantu Pak?" Jawab Rini sekretaris Irna dari seberang.

"Kamu tahu Irna di mana?" Tanya pria itu karena sudah hampir seharian tidak mendapatkan kabar sama sekali tentang Irna.

"Sejak semalam ibu tidak meninggalkan pesan sama sekali pada saya pak, dan juga belum memberikan kabar apapun pak." Jawab Rini memberikan penjelasan pada Fredian.

"Sejak semalam? ada apa dengan semalam?" Ujar Fredian dengan nada terkejut melanjutkan pertanyaannya.

"Semalam ibu ada acara makan bersama keluarga Anggara, mungkin ibu pulang ke apartemen Pak Dion..." Jelas Rini sekretarisnya Irna pada Fredian kembali.

Fredian merasa tidak nyaman dengan hatinya, pria itu memutuskan untuk mendatangi Dion di apartemennya.

Sesampainya di depan pintu apartemen. Fredian mendengar lenguhan, dan rintihan seorang wanita.

"Ah, pelan-pelan dong!"

"Aduh, kamu menggemaskan sekali"

"Braaakkkkkkk!" Fredian mendobrak pintu dengan paksa.

Di depan matanya Dion bersama seorang artis yang lagi naik daun, bermesraan di atas sofa.

"Wah, ada tamu tidak diundang."

Wanita di sisi Dion buru-buru memunguti pakaiannya sambil berlari masuk ke dalam kamar.

"Huh, jadi ini sosok wajah asli seorang Dion Anggara?!" Geram Fredian mengetahui kelakuan pria itu yang sesungguhnya.

"Langsung saja! angin apa yang membawa seorang Presdir Reshort angel kemari?" Tanya Dion tanpa ingin merapikan pakaiannya kembali.

"Di mana Irna?!" Tanya Fredian tanpa ragu-ragu.

"Kenapa wajahmu begitu marah Presdir? bukankah kamu sudah tahu antara aku dan Irna pertunangan antara kami sebenarnya hanya sebuah skenario belaka!" Ujar Dion sangat santai sambil tersenyum menatap wajah Fredian.

"Cepat katakan di mana dia!!!" Sergah Fredian sambil hendak melayangkan pukulan ke arah Dion.

"Pamanku tertarik dengannya, jadi dia membawanya semalam. Mungkin saat ini mereka sudah melewati malam bersama dengan indahnya..." Ujar pria itu sambil berbaring terlentang di atas sofa.

"Dasar pria brengsek kamu! Bam! duaak! bum!" Fredian tidak sabar lagi, langsung menghajar Dion. Membuat wajah pria itu babak belur.

"Kenapa kamu segitu marahnya padaku? gadismu itu, jangan harap kamu bisa menemukannya kembali!" Gertak Dion pada Fredian. Pria itu mengusap ujung bibirnya yang berdarah.

Fredian keluar dengan amarah seratus derajat celsius siap menghantam apapun yang berniat menghalangi langkahnya.

"Rian?!" Panggil Fredian melalu ponselnya.

"Ya, ada apa?" Tanya Rian sambil memeriksa cairan kimia dalam sebuah tabung kecil.

"Irna diculik!" Ujar Fredian dengan nada panik.

"Apa maksudmu?!" Tanya Rian tersentak kaget masih belum bisa mencerna kata-kata Fredian.

Pria itu segera meletakkan tabung kecil itu pada tempatnya. Dia bergegas berlari keluar dari laboratorium, masuk ke dalam kantornya.

"Aku tidak tahu di mana dia sekarang! Tapi aku akan bertaruh denganmu satu hal! Jika aku menemukannya lebih dahulu kali ini. Aku tidak akan pernah memberikan Irna Damayanti padamu!" Ujar Fredian menutup telponnya.

"Akh Siaalllaaan! Braaak!" Rian dengan marah menggebrak meja kerjanya.

Dia kembali mengingat keluarga Anggara, keluarga yang sangat licik dalam bisnis. Terlibat beberapa masalah yang rumit.

"Kemana lagi gadis itu kali ini? Terakhir aku menghubungi sekretarisnya semalam dia berpesan akan menghadiri pertemuan keluarga Anggara." Rian bertanya-tanya dalam hatinya.

"Pasti keluarga licik itu yang sengaja melakukannya!! salahku sudah terlalu sibuk mengurusi perusahaan, hingga tidak memperhatikannya! jika terjadi sesuatu pada istriku, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!" Geram Rian pada dirinya sendiri.

Rian meminta beberapa orang untuk mencari tahu keberadaan Irna.

Rian mendapatkan informasi dari anak buahnya. Seorang pelayan yang bertugas malam itu, di acara makan malam tepat pada saat Irna menghilang, berkata bahwa Irna dibawa oleh Reynaldi karena pingsan.

Rian memeriksa berkas tentang Reynaldi, seorang desainer ternama dan memiliki sepuluh pesawat pribadi, juga sebuah pulau pribadi yang terletak di tengah samudra.

Reynaldi seorang pewaris dari lima puluh perusahaan produsen fashion, yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya.

"Jika tiba-tiba jejak Irna lenyap, kemungkinan besar Irna ada di pulau itu!" Ujar Rian sangat yakin.

***

"Kamu sudah bangun?" Ujar Reynaldi berdiri di belakang Irna. Pria itu tersenyum melihat wajah penuh amarah di depannya itu.

"Kamu punya rencana apa lagi untukku?" Irna menatap wajah pria itu dengan sangat geram. Irna tidak menyangka pria itu sangat licik dan menakutkan.

Bahkan dia tidak tanggung-tanggung menculiknya dan membawanya ke pulau yang terletak jauh di tengah samudera.

"Tidak ada, keponakanku sungguh sangat ahli memainkan peran menjadi tunangan seorang Irna Damayanti. Membuatnya terlena hingga masuk ke dalam perangkap!"

Ujar Reynaldi sambil memainkan rambut Irna lalu menciumnya.

"Apa yang kamu fikirkan, gadis manis?" Masih terus membelai rambut Irna.

"Plaaak!" Irna dengan wajah sangat marah menampar pipi Reynaldi membuat ujung bibirnya berdarah.

"Adikku Clarisa adalah seorang model, dia jatuh cinta dengan Fredian, jadi aku sedikit membantunya!" Ujar Reynaldi lagi, sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah.

Pria itu tidak terlihat marah karena Irna telah menamparnya, dia masih tetap tersenyum menikmati kemarahan gadis di depannya itu.

"Kenapa pria itu selalu membawa masalah denganku!!" Geram Irna membayangkan wajah Fredian menahan amarahnya.

Selama ini Fredian selalu saja membuat masalah hingga mengaitkan dengan dirinya membawanya masuk ke dalam banyak kesulitan.

"Asal kamu tahu saja, aku Irna Damayanti, tidak ada hubungannya dengan Fredian! kecuali kontrak kerja! dan aku juga tidak bertunangan dengan Dion Anggara, semuanya hanyalah setingan saja!"

Jelas Irna pada Reynaldi, dia sama sekali tidak pernah merasa masuk ke dalam perangkap Dion.

"Aku ragu nona Irna, apakah yang kamu katakan itu benar adanya, melihat wajah Fredian begitu antusias saat kalian berdua bertemu."

"Ditambah lagi ketika anda terluka dia begitu perhatian seperti seorang suami memperhatikan istrinya!" Ujar lagi Reynaldi dengan pandangan sinis.

"Oh jadi kamu pikir seperti itu, aku rasa dia sungguh tergila-gila padaku! lalu apa keuntungannya kamu menawanku di sini??!"

Tanya Irna tanpa memperdulikan apa yang dikatakan oleh pria itu.

"Kamu akan jadi wanitaku, pelepas dahagaku! haahahaahaa!" Reynaldi tertawa lebar, berjalan meninggalkan Irna sendiri.

Irna terperanjat mendengar pernyataan dari Reynaldi.

"Astaga! bagaimana mungkin aku bertemu dengan pria gila sepertinya!" Gumam Irna sambil menggigit ujung ibu jarinya.

"Apa kamu fikir sesederhana itu?! kamu akan menyesal! lihat saja nanti! apa dia berharap aku menjadi sebotol anggur yang bisa digunakan sebagai minuman???!" Tambah Irna tersenyum sinis dalam hatinya.

Hari menjelang malam, Irna masih memikirkan bagaimana caranya dia bisa keluar dari pulau terpencil itu. Dia merasa tidak ada jalan keluar sama sekali, dia juga tidak punya cara untuk menghubungi Fredian atau Rian.

"Ini di mana, aku pun tidak tahu, kepalaku pusing sekali!" Gumamnya lagi.

Irna mencoba mencari sesuatu di seluruh ruangan dalam rumah, tidak ada hal yang misterius, gadis itu tidak menemukan apapun.

"Dengan apa pria itu membawaku kemari?? tidak mungkin dengan perahu! apa dia memiliki helikopter pribadi??" Irna menggaruk jidatnya masih bingung memikirkan jalan keluar.

"Dia pasti pria kaya raya, jika tidak, mana mungkin dia mengurungku di sini. Ini rumah yang sangat megah, dan hanya ada sebuah rumah di sini. Yaitu rumah ini rumah milik pria itu." Bisiknya lagi sambil mondar-mandir di depan rumah mewah itu sendirian.

"Eh, kemana Reynaldi si gila itu?! kenapa tiba-tiba dia menghilang??? pasti ada jalan di sekitar sini, jika tidak di dalam rumah.. apakah di tengah hutan sana??"

Gadis itu melempar tatapan matanya menunjuk ke tengah hutan di belakang rumah megah tersebut.

Hutan tersebut sangat lebat, dan banyak ditumbuhi pohon besar. Hanya ada beberapa pohon kelapa, selebihnya adalah pohon bakau yang memiliki akar panjang dan menjulur ke segala arah di sekitar rawa yang ada di dalam hutan.

Hampir tidak ada celah untuk melihat cahaya yang berasal dari langit, saking rimbunnya pepohonan hutan tersebut menjadi gelap seperti malam.

Beberapa akar menggantung diri batang yang menjulang tinggi, pohon-pohon berwarna hitam dan berlumut. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan.

Irna tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam kepalanya saat itu, hingga membuatnya membangun sebuah keberanian di dalam hatinya untuk masuk ke dalam hutan.

Irna berjalan menyusuri hutan, ada satu jalan setapak di sana. Hari sudah mulai gelap, Irna terus menyusuri jalan dengan bantuan cahaya rembulan yang hanya tampak remang-remang.

Tidak ada suara apapun selain suara binatang kecil yang mulai mengepakkan sayapnya. Juga langkah kakinya yang gemerisik menginjak dedaunan kering di tengah hutan.

Ada sebuah gua, Irna berjalan masuk.

"Di sini gelap sekali, bagaimana aku bisa tahu ada jalan di sini??" Irna meraba dinding goa, menemukan sebuah pemantik dan lilin.

Irna melihat sekitarnya, gua tersebut letaknya sangat tersembunyi dan tidak terlihat dari luar hutan.

"Memang benar, ada orang yang menggunakan pemantik ini. Pemantik ini masih hangat."

Irna merasakan hangat pada batang pemantik yang dipegangnya itu, gadis itu kemudian menyalakannya, sambil terus berjalan di dalam lorong gua.

Dia terus menapakkan kakinya di jalan yang menuju ke bagian dalam gua, langkah kakinya tiba-tiba berhenti karena mendengar sebuah suara dari bagian dalam gua.

Suara tersebut mengaum memenuhi seluruh gua, membuat sekujur bulu kuduknya meremang. Rintihan yang menyakitkan seperti binatang buas tengah merasakan kesakitan yang luar biasa.

Auman binatang itu begitu keras dan melengking nyaring memekakkan telinga Irna.

Irna belum yakin, dan dia masih terus melangkah agar lebih mendekat lagi dengan asal suara.

Derap langkahnya menjadi kaku dan tidak bisa secepat biasanya, bagaimanakah dia juga merasa sedikit takut.

"Graaauuuunggggg... graaauuuung.." Terdengar suara dari dalam gua. Irna merasakan tangannya mulai bergetar, lilin di tangannya ikut terguncang.

"Astaga suara apa itu? jangan-jangan memang benar seperti dugaanku ada binatang buas di sini?" Ujar gadis itu sambil mencari asal suara.

Mahluk di dalam gua, setinggi tiga meter. Berbulu seperti gorila, matanya merah menyala. Menyalak mengaung seperti serigala.

"Siluman serigala? dia tidak dirantai, beberapa detik lagi dia akan mengetahui keberadaan diriku di sini, baju robek di dekat mahluk itu bukannya itu milik Reynaldi???! apakah dia jelmaan siluman?! atau dia telah dimangsa oleh mahluk itu??" Irna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Dia masih belum bisa mencerna apa yang telah disaksikan olehnya sekarang sangat mengejutkan dirinya. Siluman serigala ada di depan matanya sekarang.

Kemudian dia ingat dengan kalung kristal merah, kristal tersebut menyala terang membingkai leher Reynaldi, kalungnya ada di leher mahluk itu.

"Akkkkhhhh! graaauuuung!" Mahluk itu mergang kesakitan. Memegang lehernya, kalung itu membuatnya tercekik.

Dan karena itu mahluk itu terus meraung-raung merasakan lehernya terluka.

Mahluk tersebut terhuyung-huyung meraih sebuah botol berisi darah segar, kemudian menenggaknya. Aroma amis darah menebar ke seluruh goa.

"Dia meminum darah?" Bisik Irna sambil menutupi bibirnya dengan telapak tangannya.

Kaki Irna terasa membeku, dia sempat berfikir jika pria itu akan menghabisinya di dalam goa. Kemudian mengambil darahnya untuk diminum.

Perlahan tubuh mahluk tersebut berangsur-angsur berubah.

Irna masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu.

"Reynaldi, dan kalung itu ada sebuah hubungan yang tidak bisa dijelaskan secara logika!!" Ujar Irna dengan penuh keyakinan.

Kini Irna tahu jalan keluarnya, dia hanya harus mencari cara agar Reynaldi masuk ke dalam perangkapnya.

Irna meniup lilin di tangannya. Hingga lilin pun padam, Irna masih terus menatap kalung kristal di leher Reynaldi. Kalung yang mengandung kekuatan, seolah-olah di sanalah titik kelemahan mahluk itu.

Irna berasumsi bahwa dengan mengambil atau merebut kalung itu dari tangan Reynaldi akan bisa membebaskan dirinya.

Namun Irna melupakan satu hal bahwa manusia serigala memiliki indera penciuman yang sangat tajam!!

bersambung....

1
desakpadna
emnk fredian bkin org pen maki" bodo bet, kurang ap cb irna slah aj n trlalu cemburu jd gk waras
desakpadna
berulang x fredian bodoh bet, cwe sllu d curigai lama" lelah ngomong percuma
desakpadna
syok s presdir baru ,, niat ngambil untung malah d bkin syok sm kenyataan🤣
Tina Cahaya
bosan lht cerita Kania,,
Muliatu Nisa
bbb
tetanggamu
udh 3 thn irna baru sadar kesalahannya..
Film Akuh
gak jelas!!!
Elvin: Permisi kak MP 1. (Kau Rela Ku Lepas) 2. (Melamar Tuan Velden)
total 1 replies
Ayu Dwi S
mau bilah pantes lah emg wanita tak ubah wanita rumah bordir
Ridens
visualnya dong thorr
Ridens
tapi aku lebih suka Rian Thor 🙃
Chefi Norhidayah
next
ahahahaaaa
Kok jadi Inge sinetron ganteng ganteng serigala ya 😁😁😁😁
menarik
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
krisan
next
Edha Alvin
alamakkk itu para lelaki itu knp ya..jatuh cinta ap udah gila🤦🤦😂😂
Ambar Wati
👍
Edha Alvin
What..200juta seminggu😬😬
aku jg mau🤭🤭
Edha Alvin
aku cmn fokus am cwek yg d rebutan 2 cwok😅😅seruuuu
jodohnya Chanyeol
irna yang berhadapan sama nenek sihir, gw yang takut 😖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!