NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Hitam

Langkah kaki Jake bergerak menuruni tangga dengan angkuh, melewati pilar-pilar batu yang kokoh menuju ruang tamu yang luas di lantai bawah. Ruangan itu memiliki langit-langit tinggi dengan jendela melengkung raksasa yang memperlihatkan pemandangan hutan yang sunyi di luar sana.

Di bawah cahaya lampu gantung kristal yang megah, Kevin tengah berdiri menunggu tuannya dengan sikap tegak. Saat menyadari adanya noda merah yang merembes di punggung tangan Jake, ia lantas langsung mendekat dengan raut khawatir.

“Tuan. Tangan Anda...?”

Jake hanya melewati pria itu tanpa sepatah kata pun, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa putih panjang yang empuk. Dengan gerakan tenang namun dingin, ia menuangkan minuman berwarna keemasan ke dalam gelas kaca yang berada di atas meja, lalu meminumnya dalam sekali teguk. Gelas itu ia letakkan kembali dengan suara denting yang cukup keras, memecah keheningan ruangan.

Kevin mendekat dengan sigap, merogoh saku jasnya untuk memberikan sapu tangan bersih kepada sang atasan. Jake menerimanya, lalu melilitkan kain tersebut ke punggung tangannya yang terluka dengan gerakan yang sangat tenang, seolah rasa perih itu tidak ada artinya.

Kevin mendongak, menatap ke arah koridor lantai atas, “Apa gadis itu yang melakukannya?”

Jake menyeringai tipis di sela-sela gerakannya. Memori saat Shasha berteriak dan menghantamkan vas ke tubuhnya kembali terlintas. Ia mengikatkan simpul sapu tangan itu dengan kuat dan menatap lukanya yang kini sudah terbungkus rapi.

“Beri dia makan. Melenyapkannya sekarang tidak akan menarik.”

Kevin terdiam, tidak langsung merespons perintah itu.

Jake yang menyadari keraguan tangan kanannya pun mendongak, menatap Kevin dengan tatapan yang mengintimidasi.

“Lakukan sekarang,” perintahnya tegas.

Kevin berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara, “Mempertahankan gadis itu terlalu lama di dekat Tuan bisa menimbulkan bahaya. Jika Nona Lana ingin menyingkirkannya, maka sebaiknya—“

“Kau pikir aku pria seperti apa, hah? Berapa lama kau sudah bekerja untukku?” potong Jake dengan nada suara yang rendah namun sarat ancaman.

Kevin menunduk dalam, “Sudah sepuluh tahun, Tuan.”

“Keberadaan gadis itu tidak akan memengaruhiku sedikit pun. Dan ya, kuingatkan sekali lagi. Menyekapnya di sini adalah murni rencanaku. Lana hanya meminta bantuan agar putra keluarga Elbar itu mau menerima cintanya.” Jake menyandarkan punggungnya di sofa, menatap langit-langit ruangan yang megah, “Salahkan saja gadis itu yang terlalu pandai menggoda pria kaya.”

Ia tersenyum miring dengan tatapan bak iblis yang sedang mendapatkan mangsa baru, “Mempermainkannya akan menjadi hiburan yang sangat menyenangkan.”

Jake mendongak lagi, mengunci pandangan Kevin, “Kau mengerti?”

“Baik, Tuan,” jawab Kevin patuh, “Saya akan segera membelikannya makanan.” Ia menunduk hormat, lalu melangkah pergi meninggalkan Jake sendirian di ruang tamu yang dingin itu.

Jake kembali menegakkan tubuhnya, menuang kembali minuman keras ke dalam gelas kacanya. Ia meminumnya perlahan dengan pandangan yang tidak sabar untuk membuat Shasha menyesal karena telah berani menyakiti perasaan adik kesayangannya.

......................

Sementara itu, Bima yang sedang mengikuti kelas, duduk dengan perasaan gelisah. Suara dosen yang menjelaskan teori di depan kelas hanya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu. Matanya tidak lepas dari jarum jam dinding yang bergerak lambat, lalu beralih ke pintu yang tertutup rapat.

“Kau dimana, Sha?” Batinnya gelisah.

Shasha bukan tipe mahasiswi yang akan melewatkan kelas tanpa kabar. Dia adalah definisi kedisiplinan. Namun, bangku di sebelah Bima kosong melompong. Ia sudah menghubungi Shasha puluhan kali, tapi ponsel gadis itu tidak aktif. Penyesalan mulai menggerogoti hati Bima. Seharusnya semalam ia tidak menyerah saat melihat kafe itu kosong. Seharusnya ia langsung menuju kosan Shasha, bukan malah pulang karena merasa bersalah telah datang terlambat.

Begitu dosen menutup buku dan mengucap salam, Bima tidak menunggu sedetik pun. Ia menyambar tasnya, mengabaikan seruan teman-temannya, dan berlari keluar.

Langkah kaki Bima bergema keras di koridor kelas. Sambil melangkah lebar, jempolnya terus menekan tombol panggil pada kontak Shasha. Namun hasilnya tetap sama yaitu muncul suara operator yang menyambutnya.

“Sial!” umpatnya pelan.

Langkahnya terhenti mendadak saat melihat siluet seorang wanita di dekat gedung fakultas seni. Di sana, Lana berjalan dengan tenang sambil memeluk sebuah kanvas besar. Mengingat ancamannya kemarin pada Lana untuk menjauhi Shasha, firasat buruk langsung menghantam dada Bima.

“LANA!” teriak Bima. Suaranya menggelegar, membuat beberapa mahasiswa yang melintas menoleh kaget.

Lana berbalik. Alih-alih takut, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya sebelum ia dengan cepat menggantinya dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.

“Mencariku lagi?” tanya Lana tenang, suaranya terdengar manis, “Bukannya kemarin kau mengancamku? Sekarang apa? Berubah pikiran dan mau jadi kekasihku?”

“Hentikan omong kosongmu!” Bima mencengkeram bahu Lana, matanya merah karena amarah, “Apa yang kau lakukan pada Shasha?!”

Lana mengerjapkan mata, memasang wajah polos yang sempurna, “Shasha? Kenapa bertanya padaku? Kau kan pengawal setianya. Aku tidak tahu apa-apa.”

“Kau pasti dalangnya, Lana. Aku tahu bagaimana liciknya dirimu!”

Lana menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca, dan menunjukkan akting yang sangat meyakinkan, “Ada yang salah dengan kepalamu, Bima. Kau mencintaiku tidak, tapi menuduhku iya. Hanya karena kau peduli padanya, bukan berarti setiap hal buruk yang menimpanya adalah perbuatanku!”

Suara Lana bergetar, membuat orang-orang di sekitar mulai berbisik, dan memandang Bima seolah dialah antagonisnya. Bima akhirnya melepaskan cengkeramannya, lalu mencoba mengatur napasnya yang memburu.

“Shasha menghilang,” ucap Bima lirih, suaranya pecah karena keputusasaan, “Dia tidak bisa dihubungi.”

Lana menutup mulutnya dengan tangan, menunjukkan keterkejutan yang dramatis, “Menghilang? Bagaimana mungkin? Apa kau sudah menghubungi keluarganya?”

“Dia yatim piatu, Lana. Tidak ada siapa-siapa lagi selain aku,” jawab Bima.

Lana tampak terdiam sejenak, lalu menurunkan bahunya seolah ikut bersedih, “Aku... aku merasa bersalah. Kemarin aku sempat bicara kasar padanya. Kalau terjadi sesuatu padanya, aku juga tidak akan tenang. Bagaimana kalau aku membantumu mencarinya?”

Bima menatap Lana tajam. Kecurigaan masih ada di sana, namun rasa putus asanya jauh lebih besar.

“Kau serius?”

“Aku tidak memanfaatkan keadaan, Bima. Aku hanya ingin menebus kesalahanku kemarin,” ucap Lana lembut.

Bima terdiam cukup lama, menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk lemah, “Baiklah. Tapi kau ikut kelasmu dulu saja. Aku akan ke kantor polisi untuk membuat laporan, setelah itu aku akan menjemputmu.”

Lana mengangguk patuh, “Hati-hati.”

Bima pun berbalik dan berlari menuju parkiran, meninggalkan Lana yang masih berdiri diam. Begitu sosok Bima menghilang dari pandangan, wajah sedih Lana menguap seketika, digantikan oleh seringaian yang mengerikan.

Ia kemudian merogoh ponsel dari tasnya dan menghubungi sebuah nomor.

“Kakakku tersayang, sedang apa?” tanyanya manja begitu sambungan terhubung.

“Bekerja,” jawab suara bariton yang dingin di ujung telepon.

Lana terkekeh, suaranya terdengar penuh kemenangan, “Bima baru saja pergi ke kantor polisi. Kasihan sekali, dia pikir polisi di kota ini punya nyali untuk melawanmu.”

“Jangan pedulikan hal itu,” sahut Jake datar, “Fokus saja pada rencanamu untuk mendapatkan anak itu. Urusan gadis itu, biar aku yang tangani. Dia tidak akan pernah ditemukan jika aku tidak mengizinkannya.”

“Terima kasih, Kak. Kau memang yang terbaik,” ucap Lana puas.

Ia pun memutus panggilan, merapikan rambutnya, dan berjalan menuju kelas dengan langkah ringan. Di dalam hatinya, ia tertawa puas. Selama Shasha tetap hilang dalam sekapan kakaknya, selama itu pula Bima akan terus bergantung padanya. Mencari Shasha yang tidak akan pernah ditemukan adalah cara terbaik bagi Lana untuk memastikan bahwa di mata Bima, hanya ada sosok dirinya yang selalu setia menemani di masa sulit.

1
kalea rizuky
kacian bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!