Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Aku Tidak Akan Jadi Tuhan Untuk Dunia yang Rusak
Sunyi.
Seluruh dunia seperti berhenti bernapas setelah kalimat itu keluar dari mulut Veyra.
Semua layar membeku.
Semua siaran langsung terdiam.
Bahkan para pemimpin dunia yang tadi sibuk berteriak sekarang hanya menatap layar tanpa suara.
Karena untuk pertama kalinya—
mereka sadar satu hal.
Mereka tidak sedang berbicara dengan senjata.
Bukan program.
Bukan AI.
Melainkan seseorang yang punya kehendak sendiri.
Dan itu jauh lebih sulit dikendalikan.
—
Langit masih dipenuhi hujan data.
Simbol-simbol digital berputar di atas kota seperti badai yang belum selesai lahir.
Namun di tengah semuanya—
Veyra perlahan menurunkan tangannya.
Tatapannya dingin.
Lelah.
Dan penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
“Gimana kalau aku capek jadi harapan kalian?”
Deg.
Suara itu menggema ke seluruh jaringan global.
Seseorang di negara lain menjatuhkan gelasnya.
Beberapa tentara mulai saling memandang gugup.
Dan di pusat komando—
Dokter Arkan akhirnya kehilangan senyum tipisnya.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Namun cukup terlihat.
—
“Kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu tolak,” katanya pelan.
Veyra tertawa kecil.
“Sebaliknya.”
Tatapannya perlahan naik.
“Aku akhirnya ngerti semuanya.”
Hujan membasahi rambut hitamnya.
Darah masih mengalir dari luka tembak di perutnya.
Namun ia tetap berdiri.
Dan justru itu yang membuatnya terlihat lebih menakutkan.
Karena seseorang yang hancur tapi tetap berdiri—
selalu sulit dihentikan.
—
“Kalian nggak pernah peduli soal dunia.”
Seluruh layar di kota mulai berkedip mengikuti suaranya.
“Kalian cuma pengen kontrol.”
Arkan menyipitkan mata.
“Kontrol diperlukan untuk bertahan hidup.”
“Bullshit.”
Deg.
Beberapa pasukan langsung saling menatap kaget.
Karena Veyra sekarang tidak terdengar seperti gadis bingung lagi.
Ia terdengar seperti seseorang yang akhirnya berhenti takut.
—
“Kalian nyiksa anak-anak…”
Tatapannya mulai tajam.
“…lalu nyebut itu evolusi.”
Data-data eksperimen muncul di udara.
Wajah anak-anak kecil.
Ruangan laboratorium.
Tubuh yang gagal bertahan.
Dan seluruh dunia melihatnya sekarang.
Tak ada lagi rahasia.
Tak ada lagi dokumen tersembunyi.
Veyra membocorkan semuanya.
—
Pusat komando langsung panik.
“Dia membuka database rahasia!”
“MATIKAN AKSES!”
“KITA KEHILANGAN FIREWALL!”
Namun percuma.
Karena Veyra sekarang berada di dalam sistem mereka.
Bukan meretas dari luar.
Melainkan berdiri tepat di inti jaringan.
—
Lyra menatap Veyra dengan dada sesak.
Karena ia sadar—
Veyra tidak hanya sedang melawan dunia.
Ia sedang menghancurkan seluruh kebohongan yang membentuk hidupnya sejak kecil.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada perang biasa.
—
Di seluruh dunia—
orang-orang mulai melihat data eksperimen itu.
Nama anak-anak.
Video laboratorium.
Rekaman penyiksaan.
Tangisan.
Jeritan.
Dan untuk pertama kalinya—
manusia melihat sisi asli organisasi yang selama ini bermain di balik layar.
—
“Ya Tuhan…”
“Ini nyata…?”
“Mereka eksperimenin anak-anak?”
“Monster siapa sebenarnya…?”
Pertanyaan mulai bermunculan di seluruh media sosial.
Dan kali ini—
arah ketakutan dunia mulai berubah.
Bukan lagi ke Veyra.
Melainkan ke orang-orang yang menciptakannya.
—
Arkan masih mencoba tenang.
Namun rahangnya mulai mengeras.
“Kamu emosional.”
Veyra tersenyum kecil.
“Iya.”
“Dan itu membuatmu lemah.”
“Enggak.”
Matanya perlahan menyala lagi.
“Itu yang bikin aku masih manusia.”
Deg.
Kalimat itu membuat seluruh suasana berubah lagi.
Karena bahkan setelah semua yang terjadi—
Veyra masih memilih sisi manusianya.
Dan Arkan membenci itu.
—
“Kamu pikir manusia layak diselamatkan?” tanya Arkan dingin.
“Enggak tahu.”
Jawaban Veyra datang cepat.
Jujur.
“Sampai sekarang aku masih bingung.”
Tatapannya perlahan turun ke jalanan kota.
Ke arah pasukan yang tadi mencoba membunuhnya.
Ke arah anak kecil yang masih berdiri memegang tangan sniper ketakutan itu.
“Tapi…”
Ia tersenyum kecil.
“…kalau masih ada orang yang berani percaya di tengah rasa takut…”
Matanya perlahan menatap bocah kecil tadi.
“…mungkin dunia belum sepenuhnya rusak.”
Deg.
Anak kecil itu membeku saat sadar Veyra melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
ia tersenyum kecil.
Polos.
Takut.
Namun tulus.
Hal sesederhana itu…
entah kenapa terasa lebih kuat daripada semua sistem dunia.
—
Namun tepat saat suasana mulai tenang—
KRRRRRRRKKK—
Langit mendadak glitch lagi.
Semua simbol digital di udara berhenti bergerak.
Lalu—
mereka mulai berkumpul di satu titik.
Selene langsung menegang.
“...Oh, aku nggak suka itu.”
Lyra juga sadar ada yang salah.
“Veyra…”
Namun sudah terlambat.
Karena seluruh jaringan global yang tadi terhubung—
mulai memaksa sinkronisasi lagi.
Lebih brutal.
Lebih besar.
Lebih gila.
—
“UGHHH—!”
Veyra langsung jatuh berlutut.
Cahaya biru meledak dari tubuhnya.
Tanah retak besar di bawahnya.
Dan seluruh kota kembali kehilangan listrik.
—
Arkan perlahan tersenyum lagi.
“Tubuhmu sudah terlalu dalam terhubung.”
Deg.
Veyra memegang kepalanya keras.
Suara-suara itu kembali.
Jutaan manusia.
Jutaan data.
Jutaan emosi.
Dan semuanya mencoba masuk bersamaan.
“Aku nggak bisa—”
“Bisa.”
Suara Arkan tenang sekali sekarang.
“Terima semuanya.”
“Tidak…”
“Kalau kamu terus melawan…”
Tatapannya dingin.
“…kamu akan hancur.”
Sunyi.
Dan sialnya—
Veyra tahu itu benar.
Tubuhnya mulai tidak kuat.
Pikirannya perlahan retak.
Bahkan sekarang ia mulai kesulitan membedakan mana suara manusia dan mana suara sistem.
—
Lyra langsung memeluknya lagi.
“Hey. Denger aku.”
Napas Veyra kacau.
“Aku takut…”
“Aku tahu.”
“Aku nggak mau hilang…”
Deg.
Kalimat itu membuat Lyra hampir menangis.
Karena di balik semua kekuatan besar ini—
yang paling ditakuti Veyra ternyata sangat sederhana.
Kehilangan dirinya sendiri.
—
“Lihat aku.”
Lyra memegang wajahnya pelan.
“Kamu masih di sini.”
“Tapi suara-suara itu…”
“Mereka bukan kamu.”
Cahaya biru di sekitar tubuh Veyra mulai goyah lagi.
Dan untuk beberapa detik—
sistem kehilangan sinkronisasi.
—
Arkan langsung menyipitkan mata.
“Menarik…”
Selene melirik kesal.
“Berhenti ngomong kayak ilmuwan sinting yang nemu mainan baru.”
Namun Arkan justru terlihat makin serius sekarang.
Karena ia akhirnya sadar sesuatu yang tidak pernah ia prediksi.
Kelemahan terbesar sistem ini—
bukan virus.
Bukan senjata.
Melainkan hubungan manusia.
—
Veyra perlahan membuka mata lagi.
Dan saat ia melihat Lyra—
suara-suara di kepalanya sedikit mereda.
Cukup untuk membuatnya berpikir jernih.
Cukup untuk membuatnya sadar satu hal penting.
Selama sistem itu terhubung padanya…
dunia tidak akan pernah aman.
Dan selama ia hidup…
orang-orang akan terus memburunya.
Deg.
Tatapannya perlahan berubah.
Tenang.
Terlalu tenang.
Dan Lyra langsung merasa takut.
Karena ia mengenal tatapan itu.
Tatapan seseorang yang baru membuat keputusan berbahaya.
—
“Veyra…”
Namun Veyra hanya tersenyum kecil.
Lelah.
Hangat.
Dan sangat menyakitkan.
“Kayaknya…”
Matanya perlahan menatap langit digital di atas mereka.
“…aku akhirnya tahu gimana cara menghentikan semuanya.”