Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN YANG TAK DISADARI
Tak terasa, Gu Yanran dan Mo Chen sudah meninggalkan jalan utama ibu kota cukup jauh.
Kuda mereka terus melaju melewati hutan bambu yang lebat. Sinar matahari siang menembus sela-sela dedaunan, menciptakan bayangan panjang di tanah. Angin berembus lembut.
Yanran yang sejak tadi memacu kudanya tanpa tujuan akhirnya memperlambat langkah kudanya ketika sebuah desa kecil terlihat di kejauhan.
Desa itu terpencil.
Rumah-rumah kayu sederhana berdiri rapi di tengah pepohonan hijau. Asap tipis mengepul dari dapur penduduk. Anak-anak kecil berlarian di jalan tanah sambil tertawa riang, sementara beberapa petani sedang menjemur hasil panen mereka.
Suasananya damai.
Tenang.
Sangat berbeda dari intrik dan ketegangan di ibu kota.
Yanran menatap desa itu cukup lama tanpa bicara. Untuk beberapa saat, emosinya yang kacau perlahan mulai mereda.
Ia masih duduk di atas kudanya sambil memegang tali kendali dengan longgar.
Sementara itu, Mo Chen turun dari kudanya perlahan.
Tatapannya terus tertuju pada Yanran.
Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi hari ini.
Biasanya Gu Yanran selalu tenang, rasional, dan sulit dipancing emosi.
Bahkan ketika menghadapi perang sekalipun, wanita itu tetap bisa berpikir jernih.
Namun hari ini berbeda.
Sejak melihat Murong Meiying keluar dari kediamannya, sikap Yanran berubah total.
Mo Chen berjalan mendekat beberapa langkah.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.
Yanran tidak langsung menjawab.
Mo Chen menghela napas kecil.
“Tadi aku hanya bercanda.”
“Biasanya kau tidak seperti ini.”
Yanran akhirnya menoleh pelan.
Sorot matanya masih terlihat rumit.
“Aku tidak tahu,” jawabnya lirih.
Jawaban itu justru membuat Mo Chen semakin bingung.
“Apa aku menyinggungmu?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau marah?”
“Aku tidak marah.”
Mo Chen mengerutkan dahinya.
“Kalau begitu kenapa kau pergi begitu saja dari kediamanku?”
Yanran menggigit bibirnya pelan sebelum menjawab.
“Bukankah kau tidak ingin aku mengganggumu?”
Mo Chen terdiam beberapa detik.
“Maksudmu?”
“Kesenanganmu jadi tertunda karena kedatanganku.”
Ucapan itu membuat Mo Chen semakin tidak mengerti.
“Kesenangan?”
Yanran langsung memalingkan wajahnya.
Mo Chen menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas.
“Biasanya kau langsung berbicara ke inti masalah.”
“Kali ini kau terlalu berbelit-belit.”
“Aku sulit memahami maksudmu.”
Mendengar itu, emosi Yanran kembali naik.
Tatapannya terhadap Mo Chen menjadi semakin tajam.
Suasana mendadak sunyi.
Hanya suara angin dan dedaunan bambu yang bergesekan satu sama lain.
Mo Chen mulai merasa ada sesuatu yang benar-benar salah.
Namun sebelum ia sempat bicara lagi
Tiba-tiba terdengar jeritan dari arah desa.
“Tolong!”
“Lepaskan anakku!”
Suara tangisan dan teriakan panik langsung memecah ketenangan desa kecil itu.
Yanran dan Mo Chen langsung menoleh bersamaan.
Sekelompok pria kasar berpakaian compang-camping terlihat menyerbu desa. Mereka membawa pedang dan tongkat kayu sambil menarik beberapa anak kecil dan gadis muda secara paksa.
Para penduduk ketakutan.
Beberapa pria desa mencoba melawan, tetapi langsung dipukul jatuh.
“Bandit!”
Tatapan Yanran langsung berubah dingin.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menarik tali kendali kudanya.
HYAAAT!
Kudanya melesat cepat seperti anak panah.
Mo Chen sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi Yanran yang begitu cepat.
Dalam sekejap, Yanran sudah tiba di tengah desa.
Seorang bandit baru saja hendak menarik seorang gadis kecil ketika—
BUUK!
Tubuhnya langsung terpental jauh akibat tendangan Yanran.
Pria itu menghantam gerobak kayu hingga hancur.
Semua orang langsung terdiam.
Yanran turun dari kudanya dengan gerakan ringan.
Tatapannya dingin dan penuh tekanan.
“Ada yang ingin mati lebih cepat?” tanyanya tenang.
Para bandit langsung marah.
“Berani sekali wanita ikut campur!”
Salah satu dari mereka mengayunkan pedangnya.
Namun—
SWOOSH!
Yanran menghindar dengan mudah.
Tangannya menangkap pergelangan pria itu lalu memutarnya kuat.
KRAK!
Jeritan menyakitkan terdengar.
Belum selesai.
Yanran menendang dada pria itu hingga terpental menghantam dua bandit lainnya.
Mo Chen yang berdiri di kejauhan hanya memperhatikan sambil tersenyum kecil.
Ia tahu Yanran kuat.
Namun setiap kali melihat wanita itu bertarung, ia selalu merasa kagum.
Yanran bahkan tidak menggunakan pedang.
Dengan tangan kosong, ia bergerak cepat di tengah para bandit.
BUUK!
BRAK!
DUUK!
Satu per satu bandit tumbang.
Ada yang terpental.
Ada yang pingsan.
Ada yang bahkan tidak sempat menyentuh Yanran sedikit pun.
Dalam waktu singkat, sepuluh bandit berhasil dilumpuhkan.
Penduduk desa langsung bersorak kagum.
“Hebat sekali!”
“Wanita itu luar biasa!”
“Dia bahkan tidak menggunakan senjata!”
Yanran berdiri tenang di tengah desa sambil merapikan lengan bajunya perlahan.
Seolah baru saja melakukan hal biasa.
Mo Chen berjalan mendekat sambil menahan senyum.
“Seperti biasa,” gumamnya pelan.
“Selalu membuat orang terpukau.”
Para penduduk desa segera mengikat para bandit yang pingsan untuk dibawa ke ibu kota dan diinterogasi.
Tak lama kemudian, para penduduk mulai mendekati Yanran.
Seorang pria tua menatapnya penuh rasa hormat.
“Maaf... apakah Anda Nona Gu Yanran?”
Yanran tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.
“Ya.”
Mata semua penduduk langsung membesar.
“Benar-benar dia adalah anak Panglima Gu!”
“Pahlawan perang itu ada di desa kita!”
“Kami mendengar Anda memenangkan peperangan beberapa bulan lalu!”
“Tidak disangka Anda secantik ini!”
“Banyak anak-anak di desa ini ingin mengikuti jejak anda”
Yanran membalas nya dengan senyuman.
Para penduduk langsung menyambutnya dengan antusias.
Beberapa anak kecil bahkan memandang Yanran dengan mata berbinar penuh kekaguman.
Mo Chen berdiri di samping Yanran sambil memperhatikan semuanya diam-diam.
Lalu seorang wanita desa tiba-tiba menunjuk ke arah Mo Chen.
“Kalau begitu... dia pasti kekasihmu ya?”
Yanran langsung sedikit tersedak.
Belum sempat ia menjawab—
Mo Chen tiba-tiba melangkah maju.
“Aku calon suaminya.”
Ucapan itu keluar begitu santai dan alami.
Yanran langsung membelalak.
Sementara para penduduk justru bersorak heboh.
“Wah! Kalian cocok sekali!”
“Satu tampan, satu cantik!”
“Nanti anak kalian pasti luar biasa!”
“Pasti cantik dan tampan!”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Yanran benar-benar kehilangan kata-kata.
Wajahnya memerah tipis.
Sementara Mo Chen terlihat sangat tenang seolah tidak mengatakan hal aneh.
Keduanya hanya bisa tersenyum canggung.
Tak ada satu pun penduduk desa yang mengetahui identitas asli Mo Chen sebagai Pangeran Ketiga Kekaisaran.
Bagi mereka, pria tampan itu hanyalah pasangan Gu Yanran.
Karna pernikahan pangeran ketiga dan Gu yanran belum di umumkan oleh kaisar.
Para penduduk kemudian mengundang mereka beristirahat di desa.
Mereka disuguhi teh hangat dan makanan sederhana.
Suasananya hangat.
Damai.
Jauh dari intrik istana.
Saat itulah seorang kakek tua duduk di samping Mo Chen sambil mengelus jenggot putihnya.
“Kalian pasangan muda memang cocok,” katanya sambil tertawa kecil.
Mo Chen hanya tersenyum sopan.
Namun tiba-tiba sang kakek berkata lagi,
“Kelak jika kau sudah menikah... jangan membawa wanita lain masuk ke kediamanmu.”
Mo Chen sedikit terdiam.
“Karena hal seperti itu akan menimbulkan masalah besar.”
“Khususnya jika wanita yang kau cintai sedang cemburu.”
Yanran yang sedang minum teh hampir tersedak.
Sementara Mo Chen mulai memperhatikan serius.
Kakek itu tertawa kecil.
“Wanita jarang mau mengakui perasaannya secara langsung.”
“Tapi ketika mereka mulai marah tanpa alasan jelas... berarti hatinya sudah bergerak.”
“Dan kalau sudah seperti itu, akan sulit kau hadapi.”
Mo Chen mendadak terdiam.
Kata-kata itu langsung mengingatkannya pada kejadian pagi tadi.
Murong Meiying keluar dari kediamannya.
Lalu Yanran langsung berubah aneh.
Pergi tanpa mendengarkan penjelasan.
Marah tanpa alasan jelas.
Dan sekarang...
Mo Chen perlahan menoleh ke arah Yanran.
Matanya sedikit membesar.
“Aku mengerti sekarang...” gumamnya pelan.
Yanran menatapnya bingung.
Namun Mo Chen tiba-tiba tersenyum kecil.
“Jadi begitu rupanya.”
Ia langsung bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Yanran.
“Ayo kita pulang.”
“Hari mulai gelap.”
Yanran sedikit bingung melihat perubahan ekspresi Mo Chen.
Namun ia tetap mengangguk pelan.
“Ya.”
Mereka segera berpamitan kepada penduduk desa.
Semua orang mengantar mereka dengan penuh rasa terima kasih.
“Datang lagi kapan-kapan!”
“Hati-hati di jalan!”
“Kalian pasangan terbaik!”
Ucapan terakhir itu membuat Yanran kembali salah tingkah.
Tak lama kemudian, mereka kembali menunggang kuda masing-masing dan meninggalkan desa kecil itu.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore berembus pelan di sepanjang jalan hutan.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam.
Hingga akhirnya Mo Chen membuka percakapan.
“Yanran.”
“Ya?”
“Maaf untuk hari ini.”
Yanran sedikit terkejut.
“Untuk apa kau meminta maaf?”
Mo Chen tersenyum tipis.
“Aku tidak tahu salahku apa.”
“Tapi melihatmu seperti tadi... hatiku sakit.”
Yanran langsung terdiam.
Ia perlahan menoleh ke arah Mo Chen.
Tatapan pria itu terlihat sangat serius.
Tidak ada nada bercanda sedikit pun.
“Kau tidak salah,” jawab Yanran pelan.
“Hanya saja... hari ini aku sedikit sensitif.”
Mo Chen menatapnya beberapa saat.
Lalu bertanya lagi dengan lembut,
“Sebenarnya apa yang terjadi hari ini?”
Yanran terdiam cukup lama.
Seolah sedang berdebat dengan dirinya sendiri.
Namun akhirnya ia menghela napas kecil.
“Aku sedikit marah.”
“Karena?”
“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekati Murong Meiying.”
Mo Chen mengerutkan dahinya.
“Tapi kau malah mengajaknya masuk ke kamarmu.”
“Apa?!”
Mo Chen langsung membelalak.
Beberapa detik kemudian—
“Hahahaha!”
Ia tiba-tiba tertawa keras.
Tawanya benar-benar lepas.
Yanran langsung menatapnya kesal.
“Kenapa kau tertawa?”
“Kau pikir ini lucu?”
Melihat Yanran semakin marah, Mo Chen justru makin sulit menahan tawanya.
“Yanran...” katanya sambil menahan senyum.
“Jadi sejak tadi kau cemburu?”
“Aku tidak cemburu!”
“Kalau begitu kenapa marah?”
Yanran langsung terdiam.
Dan itu membuat Mo Chen kembali tertawa kecil.
Akhirnya, Mo Chen mulai menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi pagi tadi.
Tentang Murong Meiying yang datang tiba-tiba.
Tentang dirinya yang sedang mandi.
Tentang pisau yang ia lempar sebagai peringatan.
Dan tentang bagaimana ia langsung mengusir Meiying setelah mendengar Yanran datang.
Semakin mendengar penjelasan itu, wajah Yanran semakin memerah.
Ternyata...
Ia benar-benar salah paham.
Yanran langsung memalingkan wajahnya karena malu.
Ia bahkan tidak berani menatap Mo Chen lagi.
Melihat reaksinya, senyum Mo Chen semakin dalam.
“Sekarang kau percaya?”
Yanran menggigit bibirnya pelan.
“Sedikit.”
Mo Chen tertawa kecil lagi.
Yanran yang semakin malu langsung menarik tali kendali kudanya.
HYAA!
Kudanya langsung melesat maju.
“Yanran!”
Mo Chen buru-buru ingin mengejarnya.
Namun tiba-tiba beberapa pengawal muncul dari arah depan.
“Yang Mulia!”
“Kami datang menjemput para bandit yang berhasil ditangkap!
Mo Chen langsung berhenti dengan wajah kesal.
Lalu kembali ke perdesaan untuk menjemput para bandit itu.
Sementara di kejauhan, Yanran sudah pergi lebih dulu dengan wajah merah karena malu.
Dan untuk pertama kalinya—
Mo Chen merasa hari itu adalah hari paling menyenangkan yang pernah ia alami.