Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Anak yang Disembunyikan dari Dunia
“Arsen.”
Suara dingin itu menggema dari atas basement.
Membuat suasana yang tadi penuh haru langsung berubah mencekam.
Raka refleks mundur sedikit.
Tatapannya berubah waspada.
Sedangkan Arsen langsung berdiri di depan Nadira dan Raka secara refleks.
Melindungi.
Lagi.
“Ayah…”
Suara Arsen rendah.
Penuh emosi yang ditahan.
Langkah kaki terdengar turun perlahan dari tangga besi.
Tok.
Tok.
Tok.
Dan beberapa detik kemudian—
Ayah Arsen muncul di ujung tangga bersama beberapa pria bersenjata.
Tatapannya langsung berhenti saat melihat Raka.
Untuk pertama kalinya…
Ekspresi pria itu berubah.
Bukan takut.
Bukan panik.
Melainkan kaget.
“Kamu…”
Raka langsung memegang tangan Nadira erat.
Tubuh anak itu sedikit gemetar.
“Dia siapa?”
Bisiknya pelan.
Nadira langsung sadar.
Raka bahkan tidak mengenal dunia luar.
Tidak mengenal siapa-siapa selain Adrian.
Dan itu membuat dadanya sakit.
“Aku pikir anak itu udah mati.”
Suara ayah Arsen dingin lagi sekarang.
Seolah keterkejutannya tadi tidak pernah ada.
Papanya langsung maju satu langkah.
“Jadi benar…”
Tatapannya penuh kemarahan.
“Kalian nyembunyiin dia.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Kami menyelamatkannya.”
“Menyelamatkan?”
Mamannya langsung menangis lagi.
“Dia dikurung di basement bertahun-tahun!”
Namun ayah Arsen tetap tenang.
“Kalau dia muncul waktu itu…”
Tatapannya jatuh ke Raka.
“…dia bakal dibunuh.”
Deg.
Semua langsung diam.
“Siapa yang mau bunuh dia?”
tanya Arsen tajam.
Namun ayahnya tidak langsung menjawab.
Dan itu membuat suasana makin berat.
“Om Adrian bilang banyak orang jahat nyari aku.”
Suara Raka kecil.
Anak itu terlihat bingung sekarang.
Karena semuanya terlalu mendadak.
Terlalu besar.
“Dia bilang aku nggak boleh keluar.”
Tatapannya perlahan jatuh ke Nadira.
“Aku cuma boleh lihat Kakak dari foto.”
Air mata Nadira langsung jatuh lagi.
Ia tidak bisa membayangkan hidup seperti itu.
Tumbuh sendirian.
Bersembunyi.
Melihat dunia hanya lewat cerita orang lain.
“Kenapa dia nggak bawa kamu pergi?” tanya Nayla pelan.
Raka diam beberapa detik.
Lalu menjawab,
“Katanya belum aman.”
Deg.
Arsen langsung menatap ayahnya tajam.
“Siapa yang bikin nggak aman?”
Sunyi.
Namun jawabannya sudah terasa jelas sekarang.
“Ayah nggak bakal nyakitin anak kecil.”
Akhirnya ayah Arsen bicara.
Namun Nadira langsung tertawa kecil hambar.
“Setelah semua yang terjadi…”
Tatapannya penuh luka.
“…aku udah nggak tahu harus percaya siapa.”
Pria itu menatap Nadira cukup lama.
Dan Nadira tidak suka tatapan itu.
Terlalu tajam.
Terlalu menghitung.
“Kamu mirip ibumu.”
Deg.
Nadira langsung merinding.
Karena nada suaranya terdengar aneh.
Seolah menyimpan sesuatu.
“Cukup.”
Arsen melangkah maju.
Tubuhnya berdiri tepat di depan Nadira sekarang.
“Ayah nggak akan sentuh mereka.”
Tatapan ayahnya berubah dingin.
“Kamu siap lawan aku demi keluarga itu?”
“Kalau perlu.”
Sunyi.
Beberapa pria bersenjata mulai bergerak gelisah.
Karena suasana antara ayah dan anak itu benar-benar tegang sekarang.
Dan Nadira mulai sadar—
Arsen tidak sedang menggertak.
Ia benar-benar siap melawan ayahnya sendiri.
Tiba-tiba Raka bicara pelan.
“Om…”
Semua langsung menoleh.
Anak itu menatap ayah Arsen lurus.
“Dulu Om pernah datang ke sini.”
Deg.
Nadira langsung membeku.
“Apa?”
Raka mengangguk kecil.
“Waktu aku kecil.”
Tatapannya polos.
“Tapi Om marah sama Om Adrian.”
Wajah ayah Arsen langsung mengeras.
“Raka.”
“Om bilang aku nggak boleh hidup.”
Sunyi.
Kalimat itu jatuh seperti bom.
Mamannya langsung menutup mulut shock.
Papanya terlihat makin pucat.
Sedangkan Nadira merasa darahnya berhenti mengalir.
“Apa maksudnya…”
Raka terlihat bingung melihat semua orang.
Namun ia tetap melanjutkan.
“Om bilang kalau aku keluar…”
Tatapannya perlahan turun.
“…semua bakal hancur.”
Deg.
Nadira langsung menoleh ke ayah Arsen.
Dan kali ini…
Ia benar-benar takut pada pria itu.
“Itu bohong.”
Suara ayah Arsen rendah.
Namun Nadira bisa melihat rahangnya mengeras.
Tanda pria itu mulai kehilangan kendali.
“Dia masih kecil waktu itu,” lanjutnya dingin.
“Memorinya bisa dimanipulasi.”
“Anak kecil nggak mungkin ngarang hal kayak gitu,” balas Nayla.
“Dan kalian pikir Adrian waras?”
Bentakan kecil itu membuat suasana kembali panas.
Namun Raka tiba-tiba memegang tangan Nadira lebih erat.
“Kak…”
Tatapannya mulai panik.
“Aku takut.”
Deg.
Kalimat sederhana itu langsung menghancurkan Nadira.
Karena sekarang ia sadar—
Raka masih anak kecil dalam banyak hal.
Meski tubuhnya tumbuh dewasa…
Hidupnya berhenti di basement ini.
“Nggak apa-apa.”
Nadira langsung memeluk adiknya.
“Kakak di sini.”
Dan untuk pertama kalinya…
Raka terlihat benar-benar rapuh.
Tangannya mencengkeram baju Nadira pelan.
Seolah takut kehilangan lagi.
Arsen memperhatikan mereka diam-diam.
Dadanya terasa aneh.
Karena ia tahu—
Mulai malam ini hidup Nadira akan berubah total.
Dan bagian paling menyebalkan…
Ia tidak bisa memastikan semua akan baik-baik saja.
“Polisi udah masuk area depan!”
teriak salah satu anak buah Damar dari atas.
Suasana langsung kacau lagi.
Ayah Arsen langsung menoleh ke anak buahnya.
“Kita pergi.”
“Ayah nggak bisa pergi sekarang,” kata Arsen dingin.
Pria itu tersenyum tipis.
“Kamu mau nangkep ayah sendiri?”
“Kalau Ayah bersalah.”
Deg.
Sunyi.
Ayah Arsen menatap putranya lama sekali.
Tatapan yang sulit dibaca.
Lalu ia tertawa kecil.
“Kamu benar-benar jatuh cinta sama perempuan itu.”
Jantung Nadira langsung berdegup aneh.
Namun Arsen tidak membantah.
Dan itu justru membuat suasana makin sunyi.
“Aku capek hidup kayak Ayah.”
Suara Arsen rendah.
Namun penuh ketegasan.
“Aku capek lihat semua ditutupin pakai uang.”
Tatapannya mengeras.
“Kalau memang harus hancur…”
Ia melirik Nadira sekilas.
“…biar semuanya hancur sekalian.”
Deg.
Untuk pertama kalinya…
Ayahnya terlihat kecewa.
Bukan marah.
Bukan dingin.
Melainkan kecewa.
Dan entah kenapa itu jauh lebih menyeramkan.
“Kamu lemah.”
“Mungkin.”
Arsen tersenyum tipis hambar.
“Tapi setidaknya aku masih manusia.”
Hening panjang memenuhi basement.
Hanya suara hujan samar dari atas rumah yang terdengar.
Lalu—
Ayah Arsen perlahan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
Sebuah flashdisk kecil.
“Apa itu?” tanya Damar waspada.
Pria itu memutar flashdisk di jarinya santai.
“Semua data lama.”
Deg.
Papanya langsung pucat.
Pak Rudi yang sejak tadi diam juga langsung membelalakkan mata.
“Transfer uang.”
“Nama pejabat.”
“Semua transaksi.”
Tatapan pria itu perlahan jatuh ke Arsen.
“Dan cukup buat hancurin semua keluarga di sini.”
Napas Nadira langsung tercekat.
Jadi selama ini…
Semua rahasia mereka ada di benda kecil itu.
“Kasih ke polisi.”
Suara Arsen dingin.
Namun ayahnya tertawa kecil.
“Kalau aku kasih…”
Tatapannya tajam.
“…kamu pikir hidup kalian bakal aman?”
Sunyi.
“Orang-orang di atas kami jauh lebih besar.”
Nadira langsung merinding.
Karena cara pria itu bicara…
Terdengar terlalu serius.
“Maksudnya?”
Ayah Arsen berjalan perlahan mendekati mereka.
“Bisnis ini bukan cuma soal keluarga.”
Tatapannya gelap.
“Banyak orang penting ikut main.”
Deg.
Dan mendadak…
Semua terasa jauh lebih besar dari yang mereka kira.
“Jadi selama ini…”
Nadira menatapnya penuh tidak percaya.
“…kalian lindungi penjahat.”
“Kalau aku nggak ikut…”
Pria itu menatap balik dingin.
“…keluarga kami udah mati dari dulu.”
“Tapi banyak orang lain yang hancur!”
Bentakan Nadira membuat suasana kembali panas.
Namun pria itu tetap tenang.
“Dunia nggak sesederhana itu.”
“Aku nggak peduli.”
Air mata Nadira jatuh lagi.
“Adikku kehilangan hidupnya gara-gara kalian.”
Raka langsung menunduk pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
Nadira sadar sesuatu yang menyakitkan.
Adiknya tidak benar-benar hidup.
Ia hanya bertahan.
Tiba-tiba—
DUARRR!
Suara ledakan keras terdengar dari atas rumah.
Basement langsung bergetar.
Lampu berkedip.
Mamannya menjerit panik.
“Apa lagi itu?!”
Damar langsung mengumpat.
“Itu bukan polisi.”
Semua langsung tegang.
Dan detik berikutnya—
Suara tembakan terdengar bertubi-tubi dari luar.
DUARR!
DUARR!
DUARR!
Salah satu anak buah langsung turun panik.
“Mereka masuk!”
“Siapa?!” bentak Arsen.
Pria itu terlihat pucat.
“Orang bersenjata!”
Deg.
Ayah Arsen langsung berubah serius.
“Cepat tutup pintu atas.”
Namun semuanya terlambat.
Karena suara langkah kaki sudah terdengar mendekat.
Banyak.
Cepat.
Dan mengerikan.
Raka langsung gemetar.
“Kak…”
Nadira memeluknya erat.
“Nggak apa-apa.”
Padahal dirinya sendiri hampir panik.
Arsen langsung mengokang pistol.
Tatapannya berubah dingin total sekarang.
Sedangkan ayahnya akhirnya terlihat waspada sungguhan.
“Siapa mereka?” tanya Nayla takut.
Dan jawaban yang keluar membuat semua membeku.
“Mereka orang yang selama ini nyari anak itu.”
Deg.
Semua langsung menoleh ke Raka.
Dan untuk pertama kalinya…
Nadira sadar.
Adiknya bukan cuma korban.
Dia target.