NovelToon NovelToon
Aku Tak Sempurna

Aku Tak Sempurna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Meitania

Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.

Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.

"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....

......

Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...

Semoga suka dengan cerita baru nya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bengkak

Mau tak mau Dita pun harus rawat inap karena infeksi di pipinya membuat pipinya membengkak. Kania tak habis fikir bagaimana bisa di tampar sampai bengkak dan infeksi. Dita memang memiliki kulit sensitif tapi Kania tak menyangka jika tamparan bisa berakibat separah itu.

"Besok Mama sama Papa ke sini De." Kania.

"Hm.." Jawab Dita mengangguk.

"Sakit banget ya De? Kakak ngga nyangka pipi kamu bakal sampe kaya gini." Kania.

"Abang Hendrik dalam perjalanan ke sini dan sepertinya Abang marah besar De. Abang adek besok sama Papa mama." Kania.

Dita meneteskan air matanya karena telah membuat semua keluarganya khawatir. Ibu Rani yang mengerti keadaan putri angkatnya pun segera mendekati dan memeluknya dari samping. Sementara Dokter Wijaya sedang berbincang bersama Ardi di ruang lain.

"Sayangnya Mami, ngga perlu merasa bersalah nak. Kami melakukan semua ini karena kami sayang kamu. Jangan pernah merasa merepotkan atau merasa sendiri ada kami di sini Nak." Ucap Ibu Rani.

Kania tersadar bangkit dari duduknya dan bergabung memeluk Dita bersamaan dengan Ibu Rani.

"Maafin Kakak ya De. Bukan maksud Kakak menyalahkan kamu sayang. Kakak marah tapi kakak tidak bisa berbuat apapun. Sejak kecil kamu ngga pernah punya luka selain luka operasi itu. Kakak sedih kesal dan semua rasa bercampur." Bisik Kania ikut menitikan air matanya.

"Anak-anak Mami semuanya hebat. Kalian kebanggaan Mami Papi dan Mama Papa. Mami merasa paling beruntung memiliki kalian semua. Jika ada kata di atas terima kasih Mami akan ucapkan itu pada Mama dan Papa kalian karena telah mengijinkan Mami menjadi orang tua kalian juga." Ibu Rani.

Dita mengeratkan pelukannya pada Ibu Rani dengan deraian air mata yang tak ada henti.

Untuk memastikan jika luka yang di alami Dita memang parah pihak kepolisian pun datang melihat keadaan Dita. Di dalam ruangan berada Mama dan Mami Dita. Sementara Dita tengah berbaring tertidur efek dari obat yang di konsumsinya.

"Selamat siang Ibu. Maaf kedatangan kami mengganggu istirahat siangnya." Ucap salah satu polisi bername tag Feri.

"Selamat siang. Mari silahkan Pak. Maaf putri kami tengah tertidur efek dari obat." Ibu Rani.

"Tidak masalah Ibu. Maaf kami hanya ingin memastikan keadaannya saja." Feri.

"Silahkan Pak." Ibu Rani.

"Ma, ini polisi yang kemarin menangani kasus Dita." Ucap Ibu Rani memperkenalkan Feri.

"Oh, iya. Terima kasih banyak Pak kami sudah di bantu." Ibu jelita.

Feri sedikit bingung melihat dua wanita paruh baya di hadapannya yang memiliki wajah yang hampir mirip. Namun dirinya berusaha tampak biasa saja.

"Ini Mama kandung Dita Pak. Dan saya Ibu angkatnya Dita." Ucap Ibu Rani memahami kebingungan Feri.

"Eh, iya Bu." Ucap Feri menampilkan deretan gigi putihnya.

Kemudian Feri mendekati sisi tempat tidur Dita dan betapa terkejutnya Feri melihat bagian pipi Dita yang memerah. Kemudian Feri meminta ijin untuk mengambil gambarnya kedua ibu itu pun mengijinkannya.

Sepeninggalannya dua polisi tersebut Ibu Rani dan Ibu Jelita pun kembali berbincang mengenai keadaan Dita. Walau sudah lama Dita ikut bersama Ibu Rani tapi Ibu Rani selalu saja banyak bertanya apapun tentang Dita pada Ibu Jelita.

"Dita memang tidak seaktif Kania saat kecil. Dita paling jarang punya luka." Ibu Jelita.

"Saya selalu panik kalo Dita sakit Mba. Apalagi ini meninggalkan luka begini rasanya saya ingin membalas perempuan itu. Tapi, saya berusaha tenang untuk Dita dan menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian.

"Terima kasih ya Mba Rani. Mba sudah menjaga putri-putri kami dengan baik." Ibu Jelita.

"Mba, ngga begitu ah. Rani sangat-sangat berterima kasih sama Mba sama Mas karena sudah mengijinkan Rani sama Mas Wi menjadi bagian keluarga kalian." Ibu Rani.

"Kami pun sama-sama berterima kasih Mba Rani. Karena Mba Rani dan Mas Wijaya, kami terbantu menjaga dan merawat putri-putri kami yang tinggal berjauhan dengan kami." Ibu Jelita.

"Mi Ma..." Panggil Dita lirih.

"Iya sayang..."

"Mau minum.." Pinta Dita lirih.

Ibu Jelita segera memberikan minum di atas nakas di dekatnya. Ibu Rani membantu Dita bangun dengan penuh kasih.

"Masih sakit nak?" Tanya Ibu Jelita.

"Udah lebih baik Ma. Ini adek udah bisa ngomong sedikit. Kalo kemarin ngga bisa ngomong sakit banget." Jawab Dita pelan.

"Ngga apa-apa sayang sabar ya." Ibu Jelita.

"Iya Ma. Yang lain kemana?" Tanya Dita yang hanya melihat Mama dan Maminya saja di sana.

"Keluar sebentar para laki-laki itu pengen ngopi." Ibu Jelita.

"Papi juga?" Dita.

"Tentu saja sayang. Mumpung ada Papa kamu kesempatan deh Papi bisa nongkrong." Ibu Rani.

Dita tersenyum samar karena pipi nya masih sedikit sakit. Kania pergi ke klinik hari ini karena ada projek baru di klinik yang mengharuskan dirinya hadir.

1
farah
baru awal cerita sdh bikin penasaran, ada apa dgn dhita?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!