NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan memuncak!

Laura menunggu Nadia di depan gerbang kontrakan mereka. Pagi ini, dia memilih berangkat ke kampus bareng Nadia karena Nadia juga ada jam pagi ini.

Sambil menunggu Nadia, dia membalas pesan dari Rio. Laura mengatakan mereka akan bicara nanti malam. Rio pun langsung membalas dengan memberikan alamat restoran tempat mereka akan ketemuan nanti malam.

Saat Laura larut menatap layar handphonenya, mobil hitam mendekat kearahnya dan berhenti tepat di dekatnya.

Pemilik mobil itu membuka kaca mobilnya, "Laura!" Serunya dari dalam mobil membuat Laura sontak menoleh.

"Digo!"

"Hei, lo tinggal di kontrakan ini?" Digo bertanya sebelum dia turun dari mobilnya.

"Iya. Lo tinggal di daerah sini juga?"

"Iya, gue tinggal di komplek perumahan sana." Menunjuk kearah komplek perumahan khusus mahasiswa-mahasiswa elit.

"Mau ke kampus?"

"Iya."

"Ya udah bareng gue aja yok!"

"Gak usah. Gue sama teman."

"Naik mobil?"

"Motor."

"Oh, oke."

Digo tampak kecewa. Tapi, dia tetap tersenyum pada Laura.

"Loh Nad, motornya mana?" tanya Laura begitu melihat Nadia berjalan kearahnya tanpa motor.

"Beb, ban motor gue kempes. Harus di bawa ke tambal ban, ada paku di bannya."

"Ya udah, bareng gue aja. Kampus kita kan searah!" celetuk Digo antusias.

Laura melirik jam di layar handphonenya. "Gimana beb?"

Nadia melirik sebentar kearah Digo yang tersenyum lebar. "Gak ngerepotin?" tanya Nadia pelan.

"Gak repot sama sekali." Digo membukakan pintu depan mobil untuk Laura dan membukakan pintu belakang untuk Nadia juga.

"Makasih." ucap mereka berbarengan sebelum masuk ke mobil mewah itu.

Digo senang bisa berangkat ke kampus bareng Laura. Dan sepanjang perjalanan, Digo tidak pernah henti berceloteh menceritakan apa saja tentang masa SMA mereka.

Laura pun menanggapi dengan heboh. Mereka bicara berdua tapi ributnya seperti orang satu komplek.

Nadia sendiri hanya ikut iya-iya saja, atau sekedar tersenyum saat mereka meminta pendapatnya tentang obrolan mereka.

Melihat Laura sebahagia ini bersama Digo, membuat Nadia merasa ikut senang. Dimata Nadia, Digo itu lucu, bisa membawa suasana menjadi lebih ramai. Laura yang beberapa hari ini murung karena permasalahan dengan mantannya pun bisa tertawa lepas bersama Digo.

Nadia yang tidak tahu dan tidak pernah punya pengalaman tentang hubungan pria dan wanita, kali ini bisa langsung melihat sorot penuh cinta di mata Digo. Digo sepertinya sudah lama menyukai Laura, tapi dia terjebak di zona pertemanan.

"Eh nanti kalian pulangnya sore?" tanya Digo kemudian.

"Gue sih iya, sore jam empat. Kalau Nadia jam dua udah pulang, kan beb?" Nadia merespon dengan anggukan kepala.

"Oh gitu. Tadinya gue mau ngajak makan malam bareng."

"Sorry, tapi gue udah ada janji."

"Sama siapa?"

"Ada, teman juga." jawab Laura ragu.

Digo mengangguk paham, senyum yang tadi ceria tiba tiba terlihat sendu.

"Nadia ada janji juga?"

"Gak ada sih." sahut Nadia pelan.

"Ya udah, makan sama gue aja. Nanti sekalian pulangnya bareng. Searah juga kan kita." tawar Digo ramah.

"Nadia kerja." sahut Laura.

"Kerja? Kerja dimana, Nadia?"

"Sky Kafe." jawab Nadia.

"Lah itu kafe sepupu gue, bang Adit. Ya udah, nanti bareng gue aja ke sana. Lo kerja jam berapa?"

Nadia bingung mau jawab apa. Ini pertama kalinya dia bertemu cowok yang baru kenal tapi udah ramah seperti ini.

Melihat Nadia kebingungan, Laura menyikut lengan Digo yang sedang memegang setir.

"Apa?" tanyanya bingung.

"Makasih ya. Tapi, gue ke kafenya sendiri aja. Kalau lo mau mampir, mampir aja. Nanti kita ketemu di sana." jawab Nadia pada akhirnya setelah beberapa saat menyusun kalimat di kepalanya.

Laura mendelik memberi kode pada Digo untuk setuju dengan saran Nadia. Untungnya kali ini Digo langsung paham.

"Oh gitu, ya udah kalau gitu nanti kita ketemu di kafe."

Nadia tersenyum haru saat dia menyadari usaha Laura untuk membuat Digo mengerti kalau dia tidak biasa berkomunikasi dengan lawan jenis berbasa-basi terlebih baru kenal.

Digo terlalu santai dan menganggap Nadia mungkin sama seperti Laura yang asik di ajak ngobrol. Makanya dia bicara seperti itu pada Nadia. Tapi, menurut Nadia ajakan Digo barusan terkesan kurang nyaman dan belum tepat aja waktunya, karena mereka belum sedekat itu.

...>~<...

Mobil Kevin baru saja berhenti di depan kampus.

"Nanti kalau udah sampai Jakarta, kasih kabar ya!" seru Jeni sebelum turun dari mobil.

"Iya sayang. Kamu yang semangat belajarnya."

"Tentu dong."

Saat Jeni turun dari mobil, Laura dan Nadia berjalan dari gerbang depan kearah Jeni.

"Loh, kok kalian jalan kaki!" seru Jeni heran.

"Motor gue kempes." jawab Nadia.

"Tadi kita nebeng sama Digo." lanjut Laura.

Saat mereka semakin dekat, Kevin yang tadinya sudah menyalakan mobil, malah turun lagi dari mobil.

"Pagi Nadia!" Sapanya tiba-tiba membuat tiga orang itu sedikit terkejut.

Nadia yang tidak tau apa-apa pun membalas sapaan itu dengan tersenyum.

"Motor lo mana?" tanya Kevin lagi yang kali ini membuat wajah Jeni bersungut kesal.

"Motor gue kempes. Lagi mau di bawa ke bengkel."

Kevin terus mengajukan dua sampai tiga pertanyaan pada Nadia. Dia sampai tidak menyadari wajah kekasihnya sudah merah padam menahan cemburu. Untungnya Laura menyadari itu, dia pun langsung ikut nimbrung dengan pembicaraan Kevin dan Nadia.

"Oh iya, Kevin. Tolong bilang sama Rio, ketemuannya nanti malam." ucap Laura sengaja mengalihkan fokus Kevin.

"Oh gitu. Ya udah nanti gue kasih tahu sama Rio."

"Makasih ya, Kevin."

Kevin tersenyum, kemudian matanya kembali melirik pada Nadia yang juga mulai merasa tidak nyaman. Nadia mulai menyadari Kevin yang terus menatapnya sejak tadi.

"Sayang, kamu belum berangkat. Jakarta jauh loh." celetuk Jeni dengan mencoba terlihat baik baik saja.

Mendengar suara itu, Kevin pun tersadar kalau dia sudah terlena. "Iya sayang." Menarik tangan Jeni untuk kemudian dia kecup punggungnya.

"Hati-hati dijalan."

"Tentu. Kamu juga jaga diri selama aku gak ada."

"Kamu tu, matanya jangan jelalatan!" Ketus Jeni sarkas.

"Gak akan jelalatan kok sayang." masuk kembali ke mobilnya.

Begitu mobil Kevin pergi, Mobil Yuri tiba di dekat mereka. Yuri hanya berhenti untuk menjemput Laura. Lalu mereka pun segera menuju fakultas mereka.

Sementara Jeni langsung melangkah cepat meninggalkan Nadia yang merasa bingung karena Jeni tidak mengajaknya seperti biasa.

"Beb, tunggu!" Nadia berjalan cepat menyusul langkah Jeni.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!