NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembaran Baru di Atas Luka Lama

​Suara sirine polisi perlahan memudar di kejauhan, meninggalkan keheningan yang janggal di lantai teratas Hotel Mulia. Angin malam berembus melalui pintu kaca yang retak, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Aku masih berdiri mematung di dekat dinding kaca, menatap pantulan diriku sendiri yang tampak begitu asing dengan gaun satin hijau zamrud ini.

​Di sampingku, Zaidan masih menatap lurus ke arah gemerlap lampu kota. Wajahnya yang tegas tampak mengeras di bawah temaram lampu restoran yang tersisa. Kata-katanya tentang kecelakaan Ayah tiga tahun lalu terus berputar-putar di kepalaku, meremukkan rasa lega yang baru saja sempat singgah di hatiku.

​"Zai..." suaranya tercekat di tenggorokan. "Apa maksudmu dengan 'bukan kecelakaan biasa'? Tolong jangan membuatku menebak-nebak lagi. Aku sudah lelah hidup dalam ketidaktahuan."

​Zaidan membalikkan tubuhnya, menatapku dengan sepasang mata yang menyiratkan rasa bersalah sekaligus proteksi yang begitu dalam. Ia menghela napas panjang, lalu merogoh saku kemeja hitamnya dan mengeluarkan sebuah pemutar suara digital (voice recorder) berukuran kecil yang sangat ramping.

​"Pak Surya sedang mengurus administrasi penyitaan aset Ardi di bawah bersama tim jaksa. Sebaiknya kita bicara di tempat yang lebih aman, Laras," ucap Zaidan lembut, namun ada nada mendesak dalam suaranya.

​"Tidak, Zai. Katakan di sini. Sekarang," ujarku berseras, jemariku mencengkeram pinggiran meja marmer dengan kencang. "Aku sudah menghadapi suamiku yang penipu, sahabatku yang berkhianat, dan pamanku yang ingin membunuhku. Menurutmu, rahasia apa lagi yang tidak sanggup kuhadapi?"

​Zaidan menatapku lama, seolah sedang menakar kekuatan mentalku. Akhirnya, ia mengangguk pelan. Ia menekan tombol play pada alat perekam di tangannya.

​Sebuah suara statis yang berisik terdengar selama beberapa detik, sebelum sebuah rekaman percakapan telepon seluler yang terdistorsi mulai memenuhi ruangan yang sunyi itu.

​"...Tenang saja, Tuan Besar. Rem mobilnya sudah diatur sedemikian rupa. Begitu mobil itu melewati tikungan tajam di jalur Cadas Pangeran, semuanya akan terlihat seperti kecelakaan murni akibat rem blong. Tidak akan ada jejak digital yang tertinggal."

​Jantungku rasanya berhenti berdetak. Itu suara Paman Ardi dari masa lalu. Tapi, bukan suara Ardi yang membuat sekujur tubuhku gemetar hebat hingga lututku lemas. Melainkan suara berat seorang pria paruh baya yang menjawab di seberang telepon.

​"Bagus. Pastikan dokumen cetak biru proyek kerja sama luar negeri itu ikut hangus di dalam mobil. Pria idealis seperti Hermawan tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama jika dia terus menolak menyerahkan hak paten teknologi pemurnian energinya pada konsorsium kita. Bagaimana dengan putrinya?"

​"Larasati tidak tahu apa-apa, Tuan Besar. Dia hanya gadis rumahan yang sibuk menulis novel romantis. Dia bisa kita kendalikan lewat orang-orang kita nanti."

​Pip. Rekaman itu dimatikan oleh Zaidan.

​Aku ambruk ke atas kursi, kedua tanganku menutupi wajah yang kini basah oleh air mata yang mengalir deras tanpa bisa kubendung. Dadaku naik turun dengan sesak, menahan hantaman kebenaran yang begitu kejam. Ayahku... Ayah dan Ibuku tidak meninggal karena takdir yang malang. Mereka dibunuh secara berencana. Dan Ardi hanyalah seekor anjing peliharaan yang mengeksekusi perintah dari seseorang yang dipanggil "Tuan Besar".

​"Bajingan..." bisikku di sela-sela isak tangis yang tertahan. "Mereka merenggut orang tuaku hanya karena selembar dokumen?"

​Zaidan berlutut di depanku, kedua tangannya memegang pundakku dengan mantap, menyalurkan kehangatan yang sangat kubutuhkan saat duniaku kembali runtuh untuk kedua kalinya. "Laras, dengarkan aku. Ayahmu, Om Hermawan, adalah seorang ilmuwan sekaligus pengusaha yang luar biasa. Sebelum beliau fokus mengurus bisnis sejarah dan barang antiknya, beliau memegang paten penting untuk proyek energi masa depan. Proyek itu yang diinginkan oleh Konsorsium Mahendra—konglomerasi terbesar di negara ini."

​"Mahendra..." aku menggumamkan nama itu. Nama yang sering muncul di berita utama televisi sebagai penyokong dana utama berbagai proyek strategis nasional. Musuhku kali ini bukan lagi orang biasa yang bisa kutangkap dengan jebakan kamera tersembunyi di kamar hotel. Mereka adalah raksasa yang bisa menggerakkan hukum dengan uang mereka.

​"Ardiantoro sengaja mendekatimu dan menaruh Dimas di sisimu untuk memastikan kau tidak pernah menyelidiki kematian orang tuamu, sekaligus memantau apakah Om Hermawan sempat mewariskan hak paten atau cetak biru itu padamu dalam bentuk digital," lanjut Zaidan, tatapannya begitu intens. "Dan flashdisk perak yang kau temukan di laci rahasia ayahmu semalam... isinya bukan hanya data keuangan Ardi, Laras. Tapi kunci enkripsi untuk mengakses server penyimpanan paten tersebut."

​Aku mendongak, menatap Zaidan dengan mata yang sembap namun mulai memancarkan kilat kemarahan yang dingin. "Jadi... pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai?"

​"Ya," Zaidan berdiri, membantuku untuk ikut berdiri tegak kembali. "Ardi sudah tumbang, tapi penangkapannya malam ini pasti akan memicu alarm di markas Konsorsium Mahendra. Mereka akan tahu bahwa kau bukan lagi mangsa yang tidak berdaya. Mereka akan mencari tahu siapa yang berada di belakangmu."

​"Biarkan mereka tahu," ucapku sambil menghapus sisa air mata di pipiku dengan kasar. Aku merapikan hijabku, menatap potongan-potongan gelas kristal yang hancur di lantai—sama seperti hancurnya sisa-sisa kenaifanku malam ini. "Aku sudah kehilangan segalanya, Zai. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Jika mereka ingin bermain dengan seorang penulis, maka aku akan membuat akhir cerita ini menjadi neraka bagi mereka semua."

​Zaidan tersenyum tipis, ada binar kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan di matanya. "Kalau begitu, mari kita mulai babak kedua ini bersama-sama, Larasati. Aku sudah menyiapkan identitas baru untukmu dan tempat tinggal yang aman di pinggiran kota. Untuk sementara waktu, dunia harus mengira bahwa kau sedang pergi ke luar negeri untuk memulihkan trauma pasca-kasus Dimas dan Ardi."

​"Aku setuju. Kita harus bergerak di dalam bayangan, sama seperti yang mereka lakukan pada keluargaku," jawabku mantap.

​Malam itu, kami meninggalkan Hotel Mulia melalui pintu keluar khusus karyawan untuk menghindari kejaran wartawan yang sudah mulai berkerumun di lobi utama. Di dalam mobil dinas milik tim siber Zaidan, aku memegang erat ponsel lipat kecil terenkripsi itu.

​Aku membuka aplikasi catatan di ponsel pribadiku, menatap draf novel digital yang selama ini kutulis untuk platform online-ku. Pembacaku mungkin mengira draf berjudul Sandiwara Istri yang Terbuang ini adalah sebuah fiksi murni tentang romansa drama rumah tangga. Mereka tidak tahu bahwa setiap kata, setiap plot pengkhianatan yang kutulis di sana, adalah kode rahasia dan jurnal investigasi nyata yang sedang kulakukan.

​Aku mengetik beberapa kalimat baru di bagian sinopsis novelku yang bisa diakses oleh publik:

​“Ketika topeng sang malaikat telah hancur dan serigala telah masuk ke dalam sangkar, sang istri yang terbuang menyadari bahwa dia bukan sedang menghadapi sebuah akhir... melainkan sebuah awal dari perburuan sang pemilik takdir yang sesungguhnya.”

​Aku menekan tombol update. Biarlah dunia luar, termasuk orang-orang dari Konsorsium Mahendra yang mungkin sedang mengawasi akun mediaku, membaca pesan ini sebagai sebuah gertakan awal.

​Mobil melaju menembus kegelapan malam, membawaku pergi menjauh dari rumah masa kecilku, menjauh dari semua luka yang dibuat oleh Dimas dan Maya. Di sampingku, Zaidan fokus mengemudikan mobil, sesekali melirik kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan asing yang membuntuti kami.

​Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku beristirahat sejenak sebelum badai yang lebih besar datang menerjang. Aku, Larasati Hermawan, bersumpah di dalam kegelapan malam ini... bahwa darah orang tuaku tidak akan mengalir dengan sia-sia.

​Panggung sandiwara lama telah kututup dengan rapi. Sekarang, saatnya aku membangun panggung baru, di mana aku sendiri yang akan menjadi sutradara, penulis, sekaligus eksekutor tunggal bagi mereka yang telah menghancurkan hidupku.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!