NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan Pagi dan Janji Kebahagiaan

Pukul 03.00 pagi. Alarm dari salah satu ponsel di atas nakas berdering nyaring. Sepasang suami istri itu masih asyik menyelami mimpi, berpelukan mesra. Sang suami mendekap erat tubuh istrinya dari belakang. Dering alarm yang tak berhenti itu membuat salah satunya terbangun.

"Hmmm..."

Kelopak mata Kinanti perlahan terbuka. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa; ia berada dalam pelukan tubuh kekar suaminya. Menolehkan kepalanya ke belakang, ia dapat melihat samar-samar wajah damai Aditya yang tertidur pulas. Pria itu tampak polos dan menggemaskan, jauh berbeda saat mode nakalnya datang. Kinanti memandangi wajah tampan itu. Terlintas di pikirannya untuk mengecup hidung mancung suaminya.

CUP!

Aditya tak bergeming. Dengkuran halusnya masih teratur. Kinanti mengulum senyum geli. Nyenyak sekali tidurnya sampai tak terusik.

"Kecapekan, ya?" gumam Kinanti lirih.

Ia kembali memusatkan perhatiannya ke ponsel yang menyala-nyala. Kinanti berniat bangun, namun tubuhnya tiba-tiba ditarik dari belakang. Ia kembali berbaring di ranjang. Kinanti langsung menoleh ke suaminya, dan benar saja, Aditya sudah terbangun dari tidurnya. Meskipun kelopak matanya masih terpejam, bibir seksi yang semalam menciumnya brutal itu kini tersenyum kecil.

"Mau ke mana?" Suara berat sehabis bangun tidur pria itu terdengar serak.

"Mas Adi sudah bangun?" tanya Kinanti memastikan.

Tak ada sahutan dari Aditya. Kinanti pun mencicit malu saat mengatakan, "Aku mau mandi dulu, Mas."

"Masih pagi banget, Sayang. Tidur lagi saja, yuk," ucap Aditya, merangsek mendekap tubuh sang istri. Kinanti menggeliat, meminta dilepaskan.

"Mas...." ucap Kinanti.

"Hm?" jawab Aditya.

"Sudah mau Subuh. Tidak enak kalau ketahuan Bapak kita telat keluar kamar," ucap Kinanti, berusaha lepas dari dekapan Aditya. Napas sang suami terasa hangat di lehernya.

"Mas?" desak Kinanti.

"Mas masih ngantuk, Sayang," ucap Aditya, terdengar dengan decakan lirih.

Menghela napas pasrah, Kinanti berniat melepaskan lilitan lengan kekar itu.

"Ya sudah, Mas Adi tidur saja. Sebentar lagi aku mandi dulu," ucap Kinanti.

Aditya yang mendengar kata 'mandi', pikiran liarnya kembali hadir.

"Mandi?" tanyanya, tiba-tiba penuh semangat.

"Iya," jawab Kinanti.

"Ikut. Mas mau mandi bareng kamu," ucap Aditya dengan semangat membara.

"Maaasss..." rengek Kinanti, memohon.

"Mas bercanda," Aditya terkekeh.

"Lepaskan tangannya, ih!" ucap Kinanti.

"Tidak mau," ucap Aditya, jahil.

Kinanti meronta minta dilepaskan, sedangkan Aditya terkekeh-kekeh, benar-benar jahil.

"Mas Adiii..." panggil Kinanti.

"Ya, Sayang?" jawab Aditya.

"Lepasin..." rengek Kinanti.

CUP!

Aditya mencium kilat bibir yang sedari tadi merengek itu, membuat Kinanti terdiam.

"Terima kasih, ya," ucap Aditya.

"Untuk?" tanya sang istri, mengerjap-ngerjap.

"Untuk yang semalam," Kinanti mengulum senyum malu.

"Semalam enak sekali, Sayang. Tidur sambil 'menyusu'," ucap Aditya tanpa filter.

Kinanti menepuk pelan pinggang suaminya. "Cara bicaranya!"

"Lho? Benar, kan? Kamu saja sampai mendesah-desah semalam," ucap Aditya, menggodanya lagi.

"Mas!" tegur Kinanti.

Aditya terkekeh sambil menyembunyikan wajahnya di rambut Kinanti yang acak-acakan di bantal.

"Mas Adi suka?" tanya Kinanti.

"Kenapa Mas harus tidak suka?" ucap Aditya.

"Tapi belum sepenuhnya kuberikan. Maaf ya, Mas, karena aku sedang datang bulan, kamu harus menahan dulu," ucap Kinanti.

Aditya mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah cantik Kinanti di bawahnya.

"Kita tahu waktunya belum tepat, Sayang. Tidak apa-apa, Mas bisa menunggu," ujarnya, menenangkan.

Meloloskan satu tangannya dari lilitan sang suami, Kinanti membelai wajah rupawan itu.

"Aku jadi tidak enak sama Mas yang harus sabar menunggu," ucap Kinanti lesu.

Aditya tersenyum lebar. "Sayang, nantinya kan bakal dapat jatah dobel."

Kinanti mendatarkan wajahnya. Ada maksud terselubung ternyata.

"Oh, begitu ya rencananya..."

Aditya tertawa saja. Keduanya saling mendekap sebentar, lalu bergantian mandi sebelum azan Subuh berkumandang.

❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁

🏡 Pesan Ayah dan Perpisahan Sementara

Paginya, Kinanti sudah sibuk di dapur, sedangkan sang suami keluar untuk memanaskan mesin mobilnya. Pak Wisnu terlihat masuk ke dapur.

"Nak," panggil Pak Wisnu.

"Ya, Pak?" jawab Kinanti, menoleh sekilas. Tangannya masih terampil mengangkat telur dadar dari penggorengan.

"Bapak mau bicara sama kamu," ucap Pak Wisnu.

"Ada apa, Pak?" tanya Kinanti sambil mematikan kompor. Kinanti memusatkan perhatian sepenuhnya kepada sang ayah.

"Hari ini kan Bapak masuk kerja. Jadi, jaga rumah. Kalau mau keluar, jangan lupa dikunci. Bapak bawa kunci cadangan, Nak," ucap Pak Wisnu. Sang putri mengangguk.

Pak Wisnu menatap putri semata wayangnya dengan lekat.

"Kenapa, Pak, kok lihatin Kinan begitu?" tanya Kinanti.

"Bapak masih tidak menyangka sekarang kamu sudah menikah. Bapak tahu kalau suamimu punya rumah pribadi. Kamu sudah menikah, Nak. Sebaiknya kamu ikut suamimu," ucap Pak Wisnu, menyampaikan kekhawatiran yang ia simpan.

"Pak," lirih Kinanti, memandang wajah ayahnya.

"Bapak tidak apa-apa di rumah sendiri. Tanggung jawabmu ada pada suamimu," tambah Pak Wisnu, membuat Kinanti sudah mulai berkaca-kaca.

"Tapi Kinan tidak mau meninggalkan Bapak sendirian di rumah. Kinan sama Mas Adi tinggal di sini saja, ya, sama Bapak juga," pinta Kinanti.

Pak Wisnu terkekeh. "Bapak sudah besar. Tidak perlu khawatir."

"Nanti siapa yang masak kalau bukan Kinan?" ucap Kinanti.

"Kan ada Magic Com, Nak. Lauknya gampang. Nanti bisa dadar telur seperti kamu buat ini, atau bisa beli juga di warung," ucap Pak Wisnu.

Kinanti langsung menghambur ke pelukan hangat ayahnya.

"Bapak," ucap Kinanti dengan derai air mata yang berjatuhan.

"Kamu masih bisa sering main-main ke sini, menjenguk Bapak. Sudah, tidak usah menangis," ucap Pak Wisnu.

Isak tangis Kinanti membuat Pak Wisnu ikut menitikkan air mata. Putri kecilnya sudah menjadi istri seorang pria yang baik. Pak Wisnu lega melepas Kinanti pada putra sulung keluarga Wijaya itu. Sudah lama Pak Wisnu merasa bahwa juragan muda itu baik dan, Insyaallah, bisa membimbing putri semata wayangnya ini menjadi istri yang salehah ke depannya. Meskipun sempat menculik Kinanti, Pak Wisnu tahu itu adalah salah satu bentuk perjuangannya, walaupun caranya salah.

"Bapak bisa tenang. Kamu sudah sah sama Nak Aditya. Dia orangnya baik, seperti Juragan Jaya. Jadi, Bapak harap kamu juga baik sama suamimu, ya. Jangan membangkang, kalau dinasihati itu yang nurut," nasihat Pak Wisnu sambil membelai lembut rambut Kinanti.

Pak Wisnu sangat menyayangi putrinya. Dua puluh tahun ia menjaga. Semoga Aditya kelak bisa membahagiakan putri semata wayangnya ini.

"Bapak nikah lagi saja, ya," ucap Kinanti tiba-tiba.

"Hush! Bicara apa kamu ini," ucap Pak Wisnu.

"Biar ada yang masakin, ada yang menemani di rumah," ucap Kinanti yang khawatir pada sang ayah. Namun, Pak Wisnu menggeleng. Almarhumah istrinya, ibu Kinanti, adalah cinta pertama dan terakhir pria paruh baya itu. Bahkan sampai sekarang, ia masih mengenang mendiang sang istri. Tidak akan tergantikan sampai kapan pun, walaupun sudah lama berpulang.

Tak jauh dari mereka yang berpelukan hangat, Aditya diam-diam memandangi.

*Bapak tenang saja. Kinanti aman bersama saya, sesuai janji saya kemarin,* batinnya dalam diam.

❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁

☀️ Pagi yang Syahdu

Kini, pria paruh baya itu sudah berangkat setelah selesai sarapan bersama. Awalnya, Aditya ingin mengantar sang mertua menggunakan mobilnya, namun Pak Wisnu menolaknya secara halus.

"Ya sudah, Bapak berangkat dulu, ya," ucap Pak Wisnu.

"Bapak yakin berangkat sendiri, tidak diantar saja?" ucap Kinanti yang khawatir.

"Ah, Bapak sudah biasanya berangkat sendiri. Malah manja nanti kalau minta diantar menantu Bapak," ucap Pak Wisnu sambil bercanda. Anak-anaknya bergantian menyalami dan berpesan.

"Hati-hati, ya, Pak," ujar Aditya.

"Bapak berangkat, ya. Assalamu'alaikum," pamit Pak Wisnu.

"Wa'alaikumsalam," jawab serentak pengantin baru itu.

Aditya dan Kinanti memandang motor bapaknya yang sudah meninggalkan pekarangan rumah. Sepasang suami istri baru itu berdiri bersisian di teras rumah.

"Yuk, masuk, Sayang. Panas," ajak Aditya. Tangannya memayungi sang istri agar tak kepanasan, padahal waktu itu masih jam 8 pagi.

"Panas dari mana, Mas Aditya? Ini masih jam delapan pagi," Kinanti mendongak, menatap wajah tampan sang suami yang agak menyipit karena silau matahari.

Keduanya pun masuk, sambil Aditya merangkul pinggang Kinanti. Gadis itu hanya mengenakan daster santai, sedangkan sang suami memakai kaus oblong dan bercelana pendek. Pria tampan itu memang physical touch. Pintu rumah ditutup Aditya setelah keduanya masuk ke dalam.

"Mau ke mana lagi?" tanya Aditya, mencegah Kinanti yang akan pergi.

"Peralatan dapur masih belum sempat kucuci tadi. Sebentar, aku cuci dulu. Mas Adi nonton TV saja, gih," ucap Kinanti.

Keduanya berpisah di ruang keluarga. Aditya melepaskan dekapannya. Kinanti berlalu ke dapur.

Kinanti mencuci sebentar beberapa peralatan kotor. Kurang lebih lima belas menit kemudian, Kinanti pun kembali ke ruang keluarga, di mana sang suami berada. Ia membawa nampan yang berisi dua gelas es teh hangat dan kue kering sisa camilan acara akad kemarin. Aditya tampak fokus menatap berita di layar televisi.

"Mas, aku buatkan es teh. Diminum, ya. Enak, segar," ucap Kinanti.

Mendengar suara lembut sang istri, Aditya pun menoleh. Kinanti sudah duduk di sampingnya sambil menyeruput pelan segelas es teh. Gadis itu memandangnya.

"Kenapa?" tanya Kinanti.

"Mas? Kok malah melihatiku? Tidak diminum es teh-nya?" tanya Kinanti lagi. Atensi Aditya turun ke cangkir putih itu.

"Apa Mas Adi mau kopi saja?" tanya Kinanti sekali lagi.

"Mas tidak suka kopi, Sayang," ucap Aditya, masih menatap sang istri hingga netra keduanya kembali bertemu.

"Terima kasih ya sudah dibuatkan es teh," ucap Aditya. Kinanti hanya mengangguk kecil. Sang suami mulai meminum.

"Enak? Apa kurang manis, Mas?"

Mengulum bibirnya yang masih melekat rasa teh, Aditya tersenyum menatap sang istri.

"Takaran gulanya sih sudah pas, tapi..." ucap Aditya menggantung.

*Tapi apa lagi?* batin Kinanti, menatap sang suami dengan tanda tanya.

"...kalau minumnya sambil melihatimu, manisnya jadi bertambah, Sayang," lanjut Aditya.

DEG!

Bibir Kinanti langsung mengulum senyum. Aditya benar-benar perayu ulung.

"Mas Adi, ih!" ucap Kinanti dengan manja.

Pria tampan itu meletakkan cangkir miliknya ke atas meja, dan mulai merangsek memeluk tubuh molek istrinya.

"Hm?" tanya Aditya.

"Menggombal terus," ucap Kinanti.

"Mas tidak menggombal, Sayang. Mas bicara apa adanya," elak Aditya.

"Dihh..." ejek Kinanti.

Aditya semakin tersenyum gemas. Tak kuat menahan, akhirnya ia kecup wajah cantik istrinya itu.

CUP! CUP! CUP! CUP!

Kening, kedua pipi, hidung, bibir—semuanya dikecup. Setiap inci tak terlewatkan, membuat Kinanti tertawa kegelian.

"Mas Adi, hahaha... stop, Mas, geli ih. Aaa, sudah, ahahaha..." ucap Kinanti.

Melihat tawa riang Kinanti, Aditya dibuat menghangat. Ia berjanji akan membahagiakan Kinanti.

Air mata waktu itu akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya. Aditya tidak akan membiarkan setetes air mata ketakutan sang istri hadir lagi. Sudah cukup. Aditya tidak akan membuat sang istri menangis lagi. Kinanti berhak bahagia bersamanya.

Menghentikan kecupan brutalnya, Aditya memandangi paras cantik istrinya itu, yang kini sedang mengatur napas. Keduanya saling pandang. Tangan Kinanti terangkat, merapikan rambut Aditya yang berantakan jatuh ke kening.

"Ganteng banget," ucap Kinanti.

"Suami siapa sih ini?" tanya Aditya, menggoda sang istri.

"Suami Kinanti, dong," jawab Kinanti.

Mereka sama-sama saling melempar senyum. Berpelukan mesra di pagi hari begini sungguh terasa syahdu sekali.

"Mas mencintaimu, Sayang."

"Aku juga mencintaimu, Mas."

CUP!

Kinanti mengecup pipi suaminya sekilas. Betapa membuncahnya perasaan dalam dada pria tampan itu. Aditya dibuat jatuh cinta berkali-kali dengan istri kecilnya ini. Tatapannya tak pernah bisa bohong. Ia selalu menatap penuh cinta dan dalam kepada istrinya. Jika Kinanti sudah di sampingnya, ia tak butuh apa-apa lagi.

Bersambung__

_____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!