Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
POV: Devandra
Pintu kamarku terbuka, perempuan itu masuk dengan aroma semerbak mawar. Hanya dengan mencium aromanya saja sudah membuat dadaku berpacu tidak karuan. Dia berjalan mendekat ke arahku, dress piyama mini yang dia pakai terlihat sedikit transparan.
Aku menyuruhnya duduk di sofa yang ada di depanku. Dia menurut tanpa bertanya apa-apa, aku tahu dia cukup percaya diri kali ini. Aku menarik senyum kecil di sudut bibirku.
"Aku punya sesuatu buat kamu." kataku.
Tapi dia malah memberikan ekspresi wajah yang seperti orang ketakutan.
"Aku nggak suka kalimat itu, aku selalu teringat hal waktu itu," katanya tiba-tiba.
Mungkin dia masih menyimpan trauma dengan kejadian waktu itu, dia bahkan mengira aku akan memberinya Miko lagi.
"Nggak ada Miko, tenang aja."
Dia langsung sedikit tenang mendengar itu.
Aku meraih sapu tangan merah, dan menutup matanya. Dia hanya menurut, dan ini terlihat jauh lebih mudah. Setelah memastikan Nara tidak bisa melihat apapun, aku membuka kancing kemejaku dan sedikit melonggarkan bagian resleting celanaku.
Tanganku gemetar, entah kenapa, mungkin karena ini pertama kalinya. Aku memang sudah lama bersamanya, bahkan saat ini kami sudah menjadi pasangan suami istri. Tapi selama itu pula, aku tidak pernah melakukan hal ini padanya. Dan mungkin ini akan terasa aneh baginya, karena dia belum terbiasa.
Entahlah.
Bibirnya yang tebal alami, ku usap perlahan sebelum akhirnya aku menempelkan milikku ke bibir itu. Dia sedikit mundur namun aku langsung menahannya.
"Dev, itu apa?" tanyanya.
"Kalau mau tau, buka mulutnya!"
Perlahan bibirnya terbuka pelan, hangatnya liur itu mulai bisa kurasakan. Sedikit demi sedikit ku kudorong perlahan, reflek aku mendesah pelan. Saat akhirnya bertemu dengan lidahnya, dia sempat merintih pelan. Namun aku tetap memaksakan masuk.
Tapi ini tidak maksimal, Nara selalu menahan dorongan ku dengan lidahnya. Karena merasa tanggung, aku mendorongnya lebih dalam, dia tersedak. Terkadang batuk kecil, mungkin aku memaksa terlalu dalam sampai dia beberapa kali ingin muntah.
Kedua tangannya mencengkeram erat pinggangku, terlalu perih, mungkin setelah ini aku memiliki tato kuku di pinggang.
"Ah...." tiba-tiba aku merasakan sakit.
"Jangan terkena gigi." Pekikku, jujur saja tapi itu teramat menyakitkan, sebenarnya ada rasa takut saat ingin melakukan ini, takut pada behelnya yang terlihat lebih seperti deretan silet yang tajam.
Sialnya itu selalu terjadi berulang-ulang, hingga membuatku lebih banyak merasakan ngilu daripada nikmat. Mungkin aku harus lebih banyak melatihnya.
Dia menggeleng ingin menyudahi permainan ini.
"Sebentar lagi," pintaku. "Lakukan yang benar, agar cepat selesai!"
Setelah beberapa saat yang panjang, aku akhirnya selesai, dan sengaja membuangnya di dalam mulut Nara. Reflek dia memukuli perutku, saat aku melepaskannya, dia langsung mual sambil membungkuk di lantai, dengan kasar dia melepaskan penutup di matanya.
Dia berdiri, menatapku dengan mata yang penuh amarah.
Plak.
Tamparan itu mendarat di pipiku, dan aku hanya tertawa melihatnya.
"Kenapa kamu selalu menyiksaku?" katanya dengan nafas yang masih tidak beraturan.
Penyiksaan? Kenapa dia menganggapnya penyiksaan? Bukankah semua wanita melakukan itu?
"Ini bukan penyiksaan," aku meraih wajahnya, mendekap tubuhnya, "kamu hanya belum terbiasa, nanti kalau sudah terbiasa kamu pasti bisa menikmatinya."
"Aku nggak mau terbiasa!" tangannya memukuli dadaku kesal.
...***...
Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar, menyorot tepat ke wajahku seolah sengaja ingin mengusir sisa kantuk yang bahkan belum tuntas. Dengan malas, aku memaksakan diri bangun.
Punggungku terasa pegal. Saat pandanganku menyapu sekitar, barulah kusadari aku ternyata tertidur di sofa sejak semalam. Aku mengusap wajah pelan, mencoba mengingat apa saja yang terjadi tadi malam. Yang paling jelas kuingat hanyalah Nara, wajah kesalnya. Dan bagaimana perempuan itu berlari keluar dari kamarku seolah aku baru saja melakukan dosa besar pada umat manusia. Aku mengembuskan napas pelan, antara geli dan lelah memikirkan tingkahnya.
Tanganku meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Tanpa berpikir panjang, aku membuka aplikasi m-banking. Jemariku otomatis mengetik nominal yang sudah terasa terlalu familiar. Hari ini tepat satu bulan sejak terakhir kali aku mengirim uang untuk Nara. Karena, entah sejak kapan, itu menjadi kebiasaan yang selalu kulakukan, rutin setiap bulan. Seolah memastikan perempuan itu tetap baik-baik saja, bahkan saat dia sedang kesal padaku. Menyebalkan memang, tapi anehnya aku tetap melakukannya.
Namun entah kenapa, pagi itu rasa penasaranku muncul begitu saja. Aku mulai memperhatikan riwayat transaksi di rekening perempuan itu. Awalnya hanya iseng. Ingin tahu, apa saja yang biasanya ia beli selama satu bulan terakhir. Tapi beberapa detik kemudian, dahiku justru mengernyit. Mataku berhenti pada satu angka yang terasa aneh. Saldo rekeningnya kenapa masih sebanyak ini? Bahkan dibanding terakhir kali aku mengeceknya, jumlahnya justru terlihat semakin menumpuk.
Aku terdiam beberapa saat. Tunggu dulu, jadi selama ini dia hampir tidak memakai uangnya? Perempuan itu sebenarnya hidup bagaimana? Apa dia memang tidak punya keinginan untuk membeli sesuatu? Tidak ada barang yang ia incar? Atau jangan-jangan selama ini dia terlalu terbiasa menahan diri sampai lupa cara menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri?
Aneh. Padahal kebanyakan orang kalau diberi akses uang sebanyak itu biasanya langsung berubah jadi atlet belanja online. Manusia memang punya bakat luar biasa mengubah “cuma lihat-lihat” jadi satu kardus penuh paket. Tapi Nara? Bahkan nyaris tidak tersentuh.
Aku langsung bergegas turun ke lantai bawah. Langkahku otomatis menuju kamar Nara. Pintu terbuka tapi kosong. Dahiku langsung mengernyit. Ke mana lagi perempuan itu pagi-pagi begini? Aku berbalik menuju dapur, mendapati Bibik Sumi sedang sibuk menyiapkan bahan masakan di meja.
“Nara di mana, Bik?” tanyaku tanpa basa-basi.
Bibik Sumi menoleh sekilas. “Perasaan tadi Bibik lihat Non lagi berjemur di taman.”
Tanpa membuang waktu, aku langsung menuju taman samping rumah. Tapi tetap saja kosong. Tidak ada tanda-tanda perempuan itu. Aku berhenti sejenak, mencoba berpikir.
Rumah pohon? Bisa jadi.
Langkahku beralih menuju area belakang rumah, melewati jalan kecil menuju hutan pribadi yang membatasi taman belakang. Udara pagi masih terasa dingin, dedaunan bergerak pelan tertiup angin. Setelah sampai di bawah rumah pohon, aku mendongak ke atas.
“Nara!” panggilku.
Tidak ada jawaban.
Dengan sedikit kesal, aku akhirnya naik untuk mengecek sendiri. Dan hasilnya? Kosong. Aku mengembuskan napas panjang. Ke mana lagi perempuan ini? Masih pagi sudah ngajak orang main petak umpet.
“Nara...” Kali ini suaraku terdengar lebih keras.
Aku terus memanggil namanya sambil berjalan kembali, rasa tidak nyaman mulai muncul pelan di dada. Jangan bilang dia pergi tanpa bilang apa-apa lagi.
"Cari Non Nara, Pak?" Tiba-tiba Bima berlari kecil menghampiriku.
"Iya, kamu lihat?"
"Ada di ujung sana." Tangannya menunjuk ke dalam hutan.
Aku langsung berlari kecil, dari kejauhan aku melihat sesuatu tapi tampak aneh dan tidak normal. Mataku menyipit ingin memastikan bahwa itu manusia, bukan hewan.
Langkahku mulai mendekat, mataku membulat saat aku melihatnya.
"Astaga, Nara kamu lagi ngapain?"
Tubuhnya berada dalam posisi yang sulit dijelaskan. Sangat aneh untuk ukuran manusia normal. Matanya tertutup, tapi napasnya terdengar teratur. Seolah memang sedang menikmati aktivitas absurd itu. Beberapa detik kemudian, matanya perlahan terbuka dan langsung menatapku.
"Aku lagi terapi." katanya santai.
"Terapi jenis apa kayak gitu?" tanyaku heran.
"Terapi otot." katanya datar.
Aku menyentuh daguku, berpikir beberapa saat, "ini nggak terlihat seperti terapi."
Dia masih menatapku dari posisi terbalik.
"Kamu malah mirip, simpanse."
“Kita kan memang kerabat simpanse,” jawabnya singkat.
Aku langsung mengusap wajah pelan. Kadang aku benar-benar tidak tahu harus menanggapi perempuan ini bagaimana.
“Oke, terserah kamu,” kataku akhirnya menyerah. “Mau simpanse, kukang, atau spesies langka apapun itu. Terserah.” Aku menunjuk ke arahnya. “Tapi aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?” tanyanya santai.
Aku menatap posisi tubuhnya yang masih aneh itu cukup lama. “Kamu bisa turun dulu nggak sih?” tanyaku sedikit kesal.
“Kamu yang tiba-tiba datang ganggu ketenanganku, sekarang malah seenaknya nyuruh-nyuruh.” Balasnya cepat.
Aku mengembuskan napas panjang. Baiklah sepertinya pagi ini aku memang harus mengalah pada simpanse pribadi milikku.
Tanganku terangkat menunjukkan layar ponsel. “Kenapa uang dariku masih sebanyak ini?” tanyaku langsung ke inti masalah.
“Oh, itu...” Dia terlihat berpikir beberapa detik. “Ya karena aku nggak pakai uangnya.”
Dahiku langsung berkerut. “Kenapa nggak dipakai?”
“Aku bingung mau dipakai buat apa.”
Aku terdiam beberapa saat. Serius?
“Nara, kamu bisa beli sesuatu. Baju, tas, skincare, apa kek. Bebas.” kataku pelan, berusaha sabar.
“Hmm...” Wajahnya terlihat benar-benar sedang berpikir serius. Sampai aku hampir percaya otaknya sedang loading.
“Aku nggak butuh itu semua,” jawabnya akhirnya. “Lagian aku udah punya. Semua kebutuhanku juga udah tersedia di rumah.”
Aku langsung terdiam. Aneh, di luar sana banyak orang yang kalau punya akses uang tinggal gesek langsung berubah jadi kolektor paket online. Tapi perempuan ini malah seperti tidak punya keinginan apa-apa untuk dirinya sendiri. Entah kenapa itu justru terasa sedikit menyedihkan.
Sumpah, kadang aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran perempuan ini. Maksudku, sedikit egois mungkin, tapi setidaknya biarkan aku merasa berguna sebagai suami. Pakai uang itu kek, beli sesuatu yang dia suka. Apa pun!
Karena melihat rekeningnya terus menumpuk begini malah membuatku merasa seperti cuma transfer otomatis tiap bulan tanpa fungsi yang jelas. Menyedihkan sekali.
“Nara,” panggilku sambil menghela napas. “Beli apa aja yang kamu mau.”
Aku mengangkat ponselku sedikit ke arahnya. “Kalau uangnya terus numpuk kayak gini, lama-lama jumlahnya bisa buat beli pulau.”
Dia malah terlihat santai dari posisinya yang masih absurd itu.
“Bagus dong,” jawabnya enteng. “Berarti aku bisa punya pulau pribadi.”
Aku langsung terkekeh pelan, dasar. Bahkan bercandanya pun aneh. Aku sedikit mendekat ke arahnya, menundukkan tubuh agar wajah kami sejajar.
“Kamu nggak perlu nunggu rekening itu numpuk buat beli pulau. Kalau mau, aku bahkan bisa kasih kamu satu.”
Tatapanku jatuh ke wajahnya beberapa detik.
“Tanpa harus pakai uang dari rekeningmu.”
Tatapan polosnya membuatku gemas setengah mati. Jujur saja, sampai sekarang aku masih bingung harus merasa seperti apa memiliki istri seperti dia. Haruskah aku merasa senang karena dia perempuan yang begitu sederhana? Atau justru merasa aneh karena aku tidak pernah terbiasa hidup berdampingan dengan seseorang seperti dirinya?
Selama ini, caraku mencintai seseorang selalu sama. Memberikan kenyamanan, kemewahan. Apa pun yang mereka inginkan. Dan anehnya, aku justru merasa puas saat melihat orang yang kucintai menerimanya dengan bahagia. Mungkin egois, tapi ada kepuasan tersendiri ketika aku merasa bisa menjadi pria yang mampu menjaga, memenuhi, dan membahagiakan perempuan di sisiku.
Tapi Nara, Nara benar-benar berbeda. Sangat jauh berbeda dari Viona. Perempuan ini aneh, polos dengan cara yang sulit dimengerti, lucu, tapi kadang membuat frustrasi. Bisa terlihat dewasa di satu waktu, lalu tiba-tiba berubah childish seperti anak kecil yang keras kepala.
Dan entah kenapa justru itu yang membuatku sulit berpaling darinya.
Ada sesuatu tentang dirinya yang terasa terlalu mudah untuk dirindukan. Terlalu mudah membuat rumah yang besar ini terasa lebih hidup. Tapi mungkin, itu juga alasan kenapa aku tahu satu hal dengan sangat jelas. Aku tidak ingin melepaskannya dari sisiku. Tidak sekarang, mungkin tidak akan pernah.
"Ahaaa...." Teriaknya tiba-tiba, membuyarkan lamunanku. "Aku tahu akan menggunakan uang itu untuk apa."
Wajahnya yang tadi terlihat santai kini berubah begitu ceria. Biasanya kalau perempuan ini mendadak punya ide, hasil akhirnya jarang normal. Senyum di wajahnya terlalu lebar untuk ukuran manusia waras. Aku langsung menyipitkan mata curiga.
...***...