NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:580
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKSI KEANO

Di lapangan basket, suara sepatu berdecit keras di atas lantai.

"SINI! SINI!"

"OPER, WOI!"

"KEANO BELAKANG!"

Bola basket melayang cepat dari satu pemain ke pemain lain.

BRAK!

Keano menangkap bola itu dengan satu tangan. Gerakannya begitu cepat hingga dua siswa yang menjaganya langsung terlambat bereaksi.

"Jaga dia!" teriak salah satu anggota tim lawan.

Terlambat.

Keano berputar.

DRIBBLE.

DRIBBLE.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu—

SWOOSH!

Bola masuk sempurna ke dalam ring.

"WOOOH!"

Lapangan langsung ramai oleh sorakan.

"Gila..."

"Keano masukin ring lagi."

"Dia emang monster basket, ketua kita gitu"

Keano hanya mengusap keringat di lehernya lalu berjalan mundur santai seolah hal tadi bukan sesuatu yang luar biasa.

Di pinggir lapangan, Denis yang sedang duduk di tribun menggeleng.

"Anjir ganas banget."

Raka tertawa.

"Lo iri?"

"Bangga gue "

"Bohong Lo."

Denis melempar botol minumnya ke arah Raka yang langsung menghindar sambil ngakak.

Sementara itu...

Dari koridor lantai dua, Senja, Arelina, dan Nara baru saja lewat.

Suara sorakan membuat Senja refleks menoleh.

"Rame banget..."

Arelina mengikuti arah pandangannya.

"Pasti latihan basket, ayok kita kesana, gue yakin sih keano bakalan taklukin lawan lagi"

Nara tersenyum bangga.

"Dari dulu dia emang suka banget basket."

Arelina melirik Senja.

" Aman rel, gue gak apa-apa."

Di bawah sana, Keano kembali menerima bola.

Seketika beberapa siswi yang sedang lewat ikut berhenti.

"Keano..."

"Ya ampun ganteng banget."

"Fokus dong mainnya."

Arelina langsung memutar mata.

"Norak."

Senja menahan tawa.

Sedangkan Nara diam.

Matanya memperhatikan bagaimana tatapan Senja tanpa sadar terus mengarah ke lapangan.

Menarik. sangat menarik.

Lalu tepat saat Keano berhasil mencetak angka lagi, pandangannya terangkat ke atas.

Dan..

Tatapannya bertemu dengan Senja.

Hanya beberapa detik.

Namun cukup membuat Keano berhenti berjalan.

Senja yang sadar langsung salah tingkah dan buru-buru memalingkan wajah.

"Udah, Rel. Ayo ke kelas."

"Eh? Kok buru-buru?"

"Ayo ikut aja."

Arelina yang tidak mengerti hanya mengangkat bahu lalu mengikuti.

Nara berjalan di belakang mereka.

Diam, mengamati.

Sementara di lapangan, Raka yang melihat perubahan ekspresi Keano langsung menyeringai jahil.

"Oalah..."

Keano melirik tajam.

"Apa?"

Raka menunjuk ke arah koridor lantai dua yang kini mulai kosong.

"Seseorang habis lewat ya?"

"Diam."

"HAHAHA! KENA!"

Keano langsung melempar handuk ke wajahnya.

Namun tanpa mereka sadari...

Nara yang berjalan menjauh masih sempat menoleh sekali ke arah lapangan.

Senyumnya tetap manis.

Tapi kali ini ada sesuatu yang dingin di balik tatapannya.

"Jadi dia..."

"Orang yang paling sering membuatmu tersenyum sekarang."

"Senja?"

Keano masih berdiri di lapangan saat melihat Senja berbalik dan berjalan menjauh bersama Arelina dan Nara.

Entah kenapa...

Ada dorongan aneh yang membuatnya tidak ingin membiarkan momen itu berakhir begitu saja.

"Keano!"

Pelatih memanggil dari tengah lapangan.

"Latihan belum selesai!"

"Iya, Coach!"

Namun matanya masih mengikuti sosok Senja yang semakin menjauh di koridor.

Denis yang berdiri di sampingnya langsung menyadari.

"Woi."

"Hm?"

"Mau ke mana lo?"

Keano mengambil botol minumnya.

"Sebentar."

"Sebentar apaan?"

"Bentar gue balik."

Raka langsung melotot.

"WAH..NGACO LO, MAU NINGGALIN LAPANGAN"

Keano tidak menjawab.

Ia hanya berjalan cepat meninggalkan lapangan.

"WOOOI! KEANO!"

Raka langsung tertawa terbahak-bahak.

"PARAH! KENA PARAH!"

Sementara itu...

Di koridor lantai satu Senja sedang berjalan santai bersama Arelina.

Sedangkan Nara berada sedikit di belakang mereka.

"Aduh lapar."

"Itu dari tadi yang kamu pikirin cuma makan."

"Karena gue manusia normal."

Senja terkekeh kecil.

Lalu—

"Senja tunggu!"

Langkahnya terhenti, suara itu terdengar familiar.

Sangat familiar.

Senja menoleh dan membeku.

Keano berdiri beberapa meter di belakang mereka.

Masih mengenakan jersey latihan basket.

Rambutnya sedikit berantakan karena keringat.

Napasnya bahkan masih sedikit terengah.

Seolah ia benar-benar berlari ke sini.

Arelina langsung melihat bergantian antara Senja dan Keano.

Lalu...

Senyum jahil muncul di wajahnya.

"Wowww."

"Diam."

"Gue belum ngomong apa-apa."

Nara yang berdiri di belakang ikut memperhatikan.

Tatapannya tenang.

Namun matanya mengamati setiap detail.

Keano berjalan mendekat.

"Lo habis dari perpustakaan?"

Senja mengernyit.

"Cuma mau nanya itu?"

Keano terdiam sesaat.

"..."

Jujur saja.

Dia sendiri tidak tahu kenapa mengejar Senja.

Begitu melihat gadis itu pergi, kakinya langsung bergerak.

Dan sekarang...

Dia malah tidak punya alasan yang masuk akal.

Arelina sudah menahan tawa mati-matian.

"Anjir."

"Rel."

"Gue diem."

"Kamu enggak diem dari tadi"

"Oke, sorry."

Keano menghela napas.

Lalu menatap Senja.

"Lo gak ingat tadi gue ngomong apa?"

"Hah,,,apa..?"

"Gue bakalan cari lo"

Arelina langsung membalik badan.

"Gue pergi dulu."

"REL!"

"Gue haus."

Padahal di tangannya sudah ada botol minum.

Senja hampir melempar tas ke kepala sahabatnya.

Sedangkan Nara...

Masih berdiri di tempat.

Senyumnya tetap ramah.

Tapi untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa mengganggu di dadanya.

Karena kini ia bisa melihatnya dengan jelas.

Keano tidak datang ke sini karena kebetulan.

Dan perhatian yang diberikan Keano kepada Senja...

Jauh lebih besar daripada yang ia perkirakan

Nara yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang akhirnya maju sedikit.

Senyumnya tetap manis.

"Ke', kita ke kantin yuk. Kebetulan aku belum makan siang."

Keano menoleh beberapa detik ia terdiam.

Lalu menggeleng pelan. "sorry gue gak bisa."

Nara sedikit terkejut.

"Hm?"

"Gue masih latihan."

Seolah baru ingat, Keano melirik ke arah lapangan basket di kejauhan.

Dari sana terdengar suara pelatih yang samar-samar masih memanggil pemain.

"Coach bisa ngamuk kalau gue kelamaan ngilang."

Arelina langsung menahan tawa.

"OH. JADI MASIH INGAT LATIHAN?"

"Rel." ucap Senja

"Gue cuma nanya."

Keano mengabaikannya lalu kembali menatap Nara.

"Nanti aja, ya."

Nara tetap tersenyum.

"Oh... iya, gak apa-apa."

Namun ada sedikit kekecewaan yang berhasil ia sembunyikan.

Karena jujur saja...

Keano tadi berlari meninggalkan lapangan.

Nara sempat mengira laki-laki itu mengejar dirinya.

Ternyata tidak.

Bahkan sekarang, saat diberi alasan untuk pergi ke kantin bersama, Keano langsung menolak.

Sementara itu, Arelina yang peka mulai melihat sesuatu.

Matanya bergerak dari Keano ke Senja.

Lalu kembali ke Keano.

"Ohhh..."

Keano langsung menyipitkan mata.

"Apa?, bukannya tadi lo mau pergi."

"Gak jadi, karena gue tahu, lo pasti bakalan ninggalin Senja"

"Gue beneran mau ngomong sama lo nanti."ucap Keano ke arah Senja

Keano menatap Senja dengan serius, seolah memastikan gadis itu tidak menganggap ucapannya sebagai candaan.

Senja berkedip pelan.

"...Oke."

Jawabannya singkat, tapi cukup membuat Keano sedikit lega.

"Beneran, tar gue cari lo lagi?"

Senja mengangkat alis.

"Kenapa di cari?, kan aku masih di sekolah? Takut aku kabur?"

Sedikit senyum muncul di wajah Keano.

"Bisa aja."

"Aku gak sesibuk itu."

"Bagus."

Arelina yang berdiri di samping langsung menyela.

"Maaf ya, saya merasa tidak terlihat di sini."

"Rel."

"Apa? Gue cuma observasi."

Keano menggeleng sambil menahan senyum.

Lalu kembali menatap Senja.

"Nanti gue cari lo."

"Iya."

"Jangan ngilang."

Kali ini Senja benar-benar tersenyum kecil.

"Iya, Keano. Aku dengar dari tadi."

Arelina langsung menunjuk Senja.

"Tuh kan! Senyum!"

"Rel, sumpah."

"Oke, oke, gue berhenti."

Dari kejauhan terdengar lagi suara pelatih.

"KEANOOO!"

Keano langsung menoleh.

"Iya, Coach!"

Sebelum berlari kembali ke lapangan, ia sempat melirik Senja sekali lagi.

"Nanti ya"

Senja mengangguk pelan.

"Nanti."

Dan entah kenapa, hanya satu kata sederhana itu sudah cukup membuat langkah Keano terasa jauh lebih ringan saat kembali ke lapangan.

"Perasaan gue doang kali ya."

"Rel apa sih."

"Oke, oke."

Senja yang merasa suasana mulai aneh langsung mengangkat tasnya.

"Kalau gitu kita ke kelas aja."

"Iya, ayo."

Arelina langsung menggandeng lengan Senja.

Namun sebelum mereka pergi, Keano kembali memanggil.

"Senja."

Langkah Senja berhenti.

"Iya?"

Keano tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tapi akhirnya hanya menggeleng.

"...Gak jadi."

"Hah?"

"Gak ada."

Arelina langsung memegang dahinya.

"Ya ampun, komunikasi kalian kenapa sih."

Senja sampai terkekeh kecil.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, Keano ikut tersenyum tipis melihatnya.

Dan itu tidak luput dari perhatian Nara.

Tidak sama.

Tatapan Keano kepada teman-temannya, kepada anggota basket, dan kepada dirinya...

Tidak sama dengan tatapan yang baru saja diberikan kepada Senja.

Perbedaannya sangat jelas.

"KEANO!"

Teriakan pelatih terdengar lagi dari lapangan.

"KALAU MAU PACARAN SEKALIAN AJA PULANG!"

Satu koridor langsung hening.

Lalu—

"HAHAHAHAHA!"

Arelina tertawa paling keras.

Wajah Keano langsung berubah.

"COACH!"

Senja spontan menunduk karena malu.

Bahkan beberapa siswa yang lewat ikut menoleh penasaran.

Sedangkan Nara hanya berdiri diam, senyumnya masih ada, tapi kali ini terasa jauh lebih tipis.

Karena sekarang ia semakin yakin.

Keano buru-buru meninggalkan lapangan bukan karena dirinya.

Melainkan karena melihat Senja berjalan pergi.

Ya ampun keano udah di teriaki coach nya juga... wkwkk

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!