NovelToon NovelToon
Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi / Time Travel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Calista F.

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Kegelapan memenuhi lorong bawah tanah di bawah Akademi Starfell.

Udara dipenuhi bau darah, debu batu, dan sisa mana corruption yang belum sepenuhnya menghilang.

Tetesan darah jatuh perlahan ke lantai.

Tik.

Tik.

Tik.

Pria berjubah hitam itu terbatuk keras sebelum akhirnya jatuh berlutut.

"Kh..."

Darah hitam keluar dari mulutnya.

Lingkaran sihir di tangan kirinya retak parah sekarang. Cahaya merah gelap yang tadi memenuhi tubuhnya perlahan padam sedikit demi sedikit.

Tatapannya penuh kebencian.

"Mustahil..."

Gerbang itu seharusnya sudah terbuka lebih besar. Setidaknya retakannya harus bertahan lebih lama. Namun Crimson Flame kembali menutupnya.

Sekali lagi.

Pria itu menggertakkan gigi.

"Lyra Vane..."

Bahkan setelah mati pun perempuan itu masih menghalangi mereka.

Mana hitam di sekeliling ruangan tiba-tiba bergerak.

SWOOOSH.

Bayangan gelap muncul perlahan dari sudut lorong.

Seorang wanita bertudung hitam berjalan mendekat tanpa suara.

Langkahnya ringan.

Terlalu ringan untuk manusia biasa.

"Kau gagal." Suaranya terdengar tenang.

Pria berjubah hitam langsung menegang.

"Segelnya melemah," katanya cepat. "Aku hampir berhasil membuka jalurnya. Pewaris Crimson Flame sudah mulai bangkit."

Wanita itu diam beberapa detik. Lalu tertawa kecil.

"Itu justru masalahnya."

Hening. Pria itu perlahan mengangkat kepala.

Tatapan wanita itu tersembunyi di balik tudung hitamnya. Namun tekanan mana yang keluar darinya membuat udara terasa berat.

"Kau membangunkannya terlalu cepat," lanjutnya pelan.

"..."

"Dan sekarang keluarga Vane pasti mulai bergerak."

Pria itu mengepalkan tangannya.

"Kalau kita menunggu lebih lama, segel itu akan pulih lagi."

"Tidak." Wanita itu menggeleng pelan. "Segelnya memang melemah. Tapi sekarang bukan waktunya."

Hening panjang memenuhi lorong bawah tanah. Lalu perlahan wanita itu menoleh ke arah atas.

Ke arah akademi.

"Namun satu hal sudah pasti..."

Senyum tipis muncul di balik bayangan tudungnya.

"Pewarisnya benar-benar telah bangun."

Mana hitam berputar di sekitar tubuhnya.

"Lilith pasti akan senang mendengarnya."

DEG.

Pria berjubah hitam menunduk cepat.

Nama itu saja sudah cukup membuat tekanan di udara berubah.

Wanita itu mengangkat tangan pelan.

Lingkaran sihir hitam muncul di bawah kaki mereka.

"Kita mundur dulu," katanya tenang. "Permainan baru saja dimulai."

SWOOOOOSH.

Tubuh mereka perlahan menghilang bersama bayangan. Dan lorong bawah tanah kembali sunyi. Hanya menyisakan sisa darah dan retakan mana hitam kecil yang belum sepenuhnya hilang.

Freya terbangun karena bau obat yang menyengat hidungnya. Itulah hal pertama yang ia sadari setelah bangkit dari kematian - setidaknya itu yang ia rasakan - bukan rasa sakit, bukan trauma, bukan pula kilasan kiamat. Melainkan bau obat-obatan yang sangat kuat.

"...Uh."

Kelopak matanya terasa berat saat dibuka perlahan dan langit-langit putih langsung menyambut pandangannya.

Ruangan medis.

Freya menatap kosong beberapa detik. Lalu...

DEG.

"GERBANG..."

"Kalau kau berteriak lagi, aku akan melemparmu kembali pingsan."

Freya langsung membeku. Ia menoleh cepat.

Felix sedang duduk di kursi dekat tempat tidurnya sambil menyender malas. Rambut hitamnya berantakan. Mantel panjangnya masih penuh debu dan bekas luka kecil.

Di tangannya ada beberapa dokumen yang terlihat seperti laporan akademi. Namun ekspresi kakaknya terlihat jauh lebih lelah dibanding biasanya.

Freya langsung berkedip.

"...Kak?"

Felix mendesah panjang.

"Syukurlah. Akhirnya sadar juga."

"Aku tidur berapa lama?"

"Satu hari."

"SATU HARI?"

"Dan volume suaramu masih mengerikan. Berarti kondisimu memang sudah membaik."

Freya langsung memegangi kepalanya.

"Tunggu, jadi aku benar-benar pingsan?"

"Tidak." Felix tersenyum datar. "Kau hanya tidur cantik sambil membuat semua orang panik."

"Kakak jahat banget."

"Kalau kau mati aku bakal lebih jahat lagi."

DEG.

Freya langsung diam. Kalimat itu terdengar santai. Namun untuk sepersekian detik, ia melihat sesuatu di mata Felix. Ada kekhawatiran yang benar-benar nyata yang terpancar dari matanya.

Freya perlahan duduk. Tubuhnya masih terasa lemas.

"Akademi gimana?"

"Masih berdiri."

"Itu jawaban paling minim effort yang pernah aku dengar."

Felix mengangkat bahu santai.

"Kalau kau mau versi panjangnya, sebagian halaman hancur, tiga menara rusak, para profesor stres, dan seluruh murid sekarang menganggap adikku legenda urban berjalan."

Freya langsung memegangi wajahnya.

"Astaga..."

"Selamat."

"Aku gak mau selamat kalau reputasiku hancur begini."

"Terlambat."

BRAK.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Aria masuk sambil membawa nampan kecil berisi teh hangat. Dan begitu melihat Freya sudah sadar, matanya langsung membesar.

"Freya..."

Freya bahkan belum sempat bereaksi ketika Aria buru-buru berjalan mendekat.

"Kau sudah bangun..."

Nada suaranya terdengar lega sekali.

DEG.

Freya langsung terkena emotional damage.

"...Aria."

"Apa masih sakit? Apa kepalamu pusing? Profesor bilang kau terlalu banyak menggunakan mana kemarin..."

"Aku baik-baik saja."

"Benarkah?"

"Sedikit seperti habis ditabrak naga, tapi masih hidup."

Aria langsung terlihat semakin khawatir.

"Itu tidak terdengar baik sama sekali."

Felix yang melihat semuanya sejak tadi akhirnya bersandar lebih malas di kursinya.

"Aku baru sadar adikku ternyata tipe yang akan manja kalau sakit."

Freya langsung melotot.

"Aku tidak manja."

"Kau baru saja bicara seperti pasien terminal."

"Itu namanya dramatisasi emosional."

Aria menahan tawa kecil. Dan entah kenapa mendengar suara tawa kecil itu membuat suasana di ruangan terasa jauh lebih ringan.

Freya menatap Aria sebentar. Rambut cokelat muda gadis itu sedikit berantakan dan matanya juga terlihat lelah.

DEG.

"Tunggu." Freya langsung menyipitkan mata. "Kau tidur gak semalaman?"

Aria langsung membeku kecil.

"...Sedikit."

"Aria."

"Aku hanya khawatir..."

Freya langsung memegangi dadanya.

"Kak."

"Hm?"

"Aku akan mengadopsinya."

Aria langsung panik.

"H-Hah?"

Felix mendengus kecil.

"Tolong jangan menculik orang saat baru bangun tidur."

"Tapi dia terlalu baik."

"Itu bukan alasan legal."

Aria akhirnya benar-benar tertawa kecil sekarang. Dan untuk beberapa saat, Freya merasa semua kekacauan kemarin terasa jauh. Sangat jauh.

BRAK.

Pintu kembali terbuka tanpa ketukan.

"Kudengar pasien kiamat sudah sadar."

Freya langsung menoleh.

Ares masuk sambil membawa kantong makanan besar. Dan seperti biasa pria itu terlihat terlalu santai untuk seseorang yang baru selamat dari bencana gerbang dimensional.

"...Kenapa kamu bawa makanan sebanyak itu?"

"Karena makanan adalah bentuk dukungan emosional terbaik."

"Itu alasan paling keluarga Blackwood yang pernah aku dengar."

"Terima kasih."

Ares langsung duduk santai di sofa dekat jendela. Lalu meletakkan beberapa kotak makanan di meja.

"Aku membawa sup, roti, daging panggang, dan dessert."

Freya membelalak.

"Kamu jenguk orang apa buka restoran?"

"Keduanya mungkin."

Felix melirik makanan itu.

"Dari mana kau dapat semua ini?"

"Dapur akademi."

"Mereka mengizinkan?"

"Tidak."

Hening. Freya langsung memegangi dahinya.

"Kamu benar-benar kriminal sosial."

"Aku lebih suka istilah oportunis."

Aria buru-buru menuangkan teh untuk semua orang sebelum suasana makin absurd.

Ares lalu melirik Freya.

"Bagaimana rasanya jadi pahlawan akademi?"

Freya langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Aku terlihat seperti orang yang mau jadi pahlawan?"

"Tidak."

"Bagus."

"Kau terlihat seperti orang yang ingin tidur tiga hari."

"ITU BENAR."

Ares tertawa kecil. Lalu ekspresinya sedikit berubah lebih serius.

"Gerbangnya berhasil ditutup."

Ruangan langsung sedikit lebih hening.

Freya perlahan menatapnya.

"Sementara?"

"Sementara."

DEG.

Jantung Freya sedikit turun. Namun entah kenapa Ia sudah menduganya. Tidak mungkin semuanya selesai semudah itu.

Felix akhirnya ikut bicara.

"Para profesor masih menyelidiki sisa corruption di bawah akademi."

"Dan pemanggil itu?"

Hening. Ares mengangkat bahu kecil.

"Kabur."

"Hebat." Freya menatap kosong langit-langit. "Villain kita ternyata kompeten."

"Sayangnya iya."

Freya menghela napas panjang. Lalu tanpa sadar tangannya bergerak pelan menyentuh dadanya sendiri.

Tempat rasa panas Crimson Flame masih samar terasa.

Lyra.

Kilasan perempuan itu masih jelas di kepalanya. Namun sebelum pikirannya semakin berat...

TOK TOK.

Ketukan pintu terdengar pelan. Dan suasana ruangan langsung berubah. Felix duduk lebih tegak, Aria langsung berdiri refleks. Bahkan Ares ikut mengangkat alis kecil.

Pintu terbuka perlahan. Zevian masuk ke dalam ruangan. Putra mahkota itu masih mengenakan seragam hitam akademi. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Namun aura dinginnya tetap sama seperti biasa.

Tatapan biru gelapnya langsung jatuh pada Freya.

"Kau sudah sadar."

Freya langsung duduk lebih tegak tanpa sadar.

"...Yang Mulia ternyata masih ingat saya."

"Sulit melupakan seseorang yang hampir membakar akademi."

Freya langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Aku korban keadaan."

"Akademi mungkin tidak setuju."

Ares langsung menyeringai kecil.

"Aku mulai berpikir Yang Mulia sebenarnya cukup lucu."

"Kau berpikir terlalu jauh," jawab Zevian datar.

Namun Freya tetap melihat sesuatu yang aneh. Zevian terlihat lebih lelah dibanding biasanya. Dan entah kenapa tatapannya terus kembali padanya seolah memastikan Freya benar-benar baik-baik saja.

DEG.

Freya buru-buru mengalihkan pandangan.

'Kenapa dia lihat aku terus?'

Crimson Valkyrie langsung berkomentar dari pinggangnya.

"Karena kau hampir mati kemarin."

'Kamu gak membantu sama sekali.'

Felix yang sejak tadi diam akhirnya membuka mulut.

"Yang Mulia sepertinya cukup sering berkunjung ke ruangan adikku akhir-akhir ini."

Hening. Freya langsung membeku. Ares perlahan mulai tersenyum.

'Oh tidak. Aura kakak overprotective mulai keluar.'

Namun Zevian tetap terlihat tenang.

"Aku hanya memastikan kondisi pewaris Crimson Flame stabil."

Ares langsung menoleh pada Felix.

"Itu alasan paling formal yang pernah kudengar untuk menjenguk seseorang."

"Aku juga berpikir begitu."

Freya langsung stres.

"KENAPA KALIAN BERDUA KOMPAK SEKALI SAAT MENGERJAIKU?"

Aria buru-buru menahan tawanya.

Zevian hanya menatap Freya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.

"Kau benar-benar tidak ingat apa pun setelah gerbang tertutup?"

Freya mengerjap.

"...Sedikit."

Ia mengingat api.

Rantai merah.

Dan Lyra.

Namun Freya belum siap membicarakan itu lagi. Jadi ia hanya berkata pelan, "Aku cuma ingat semuanya terasa sangat panas."

"Itu deskripsi yang buruk," komentar Ares.

"Aku juga pingsan, jangan menuntut kualitas narasi dariku."

Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, sudut bibir Zevian bergerak tipis. Sangat tipis namun Freya melihatnya.

DEG.

'ASTAGA DIA SENYUM LAGI.'

Felix langsung menyipitkan mata kecil. Entah kenapa, Putra mahkota itu terlihat terlalu nyaman di dekat adiknya. Dan itu membuat insting kakaknya mulai aktif.

TOK.

Tongkat seseorang tiba-tiba terdengar dari luar. Lalu pintu ruangan kembali terbuka.

Semua langsung berdiri refleks.

Duke Cassius Vane masuk ke dalam ruangan. Aura kepala keluarga langsung memenuhi udara. Mantel panjang bangsawan hitamnya masih rapi seperti biasa. Rambut hitamnya tersisir sempurna. Dan ekspresinya tetap datar. Namun entah kenapa tatapannya langsung mencari Freya begitu masuk.

Hening menyelimuti ruangan.

"Ayah," sapa Felix lebih dulu.

Cassius mengangguk kecil. Lalu berjalan mendekat ke tempat tidur Freya.

Freya langsung duduk lebih tegak. Entah kenapa meskipun ayahnya sebenarnya penyayang, aura Duke Vane tetap terasa menyeramkan.

Cassius berhenti tepat di depan tempat tidurnya.

Diam beberapa detik. Lalu akhirnya bertanya pelan, "Apa kau terluka?"

Sederhana. Namun Freya langsung diam karena nada suara itu benar-benar terdengar khawatir.

"Aku masih hidup," jawab Freya kecil.

Cassius mengembuskan napas sangat pelan.

Hampir tidak terlihat.

"Bagus."

Hanya satu kata. Namun Felix langsung melirik ayahnya kecil. Karena ia tahu itu versi panik Duke Cassius Vane.

Dan Freya, untuk pertama kalinya benar-benar sadar kalau ayahnya sangat takut kehilangan dirinya.

Cassius akhirnya beralih menatap profesor penyembuh di sudut ruangan.

"Pastikan kondisinya benar-benar stabil."

"Tentu, Duke Vane."

"Dan jangan biarkan rumor bodoh menyebar terlalu jauh di akademi."

Profesor itu langsung mengangguk cepat.

Freya diam-diam hampir tersenyum kecil. Ayahnya benar-benar mencoba melindunginya meskipun caranya masih seperti sedang menginterogasi kriminal kerajaan.

Tidak lama kemudian...

TOK.

"Aku harap aku tidak terlambat untuk reuni keluarga dramatis ini."

Suara baru terdengar dari pintu. Dan seseorang masuk sambil membawa aura mana yang jauh lebih besar dibanding profesor biasa.

Pria berambut perak panjang itu mengenakan mantel akademi putih-hitam dengan simbol Starfell di dadanya. Tatapan emasnya terlihat tajam namun santai.

"Headmaster," gumam Ares kecil.

Edward Valtor. Kepala Akademi Starfell. Dan salah satu mage terkuat kerajaan.

Pria itu masuk sambil melihat keadaan ruangan. Lalu menghela napas panjang.

"Aku pergi satu konferensi beberapa hari..."

Tatapannya beralih ke jendela luar yang masih dipenuhi reruntuhan.

"...dan akademiku hampir berubah jadi medan perang."

Freya langsung merasa bersalah sedikit.

"Maaf?"

Edward langsung menatapnya. Lalu tertawa kecil.

"Aneh sekali. Kau terdengar seperti murid yang baru memecahkan vas bunga, bukan seseorang yang baru menutup gerbang dimensi."

"Karena aku juga bingung hidupku kenapa jadi begini."

"Itu cukup adil."

Edward berjalan mendekat. Tatapannya berubah sedikit lebih serius saat melihat Freya.

"Bagaimana keadaan Crimson Flame?"

Hening. Freya menggenggam selimutnya pelan.

"...Masih ada."

"Aku tahu."

Edward menghela napas kecil.

"Tapi untuk sekarang, itu sudah cukup."

Ia lalu menoleh pada semua orang.

"Gerbang berhasil ditutup sementara."

Ruangan kembali hening.

"Namun segelnya melemah," lanjut Edward. "Dan kita belum tahu siapa sebenarnya organisasi di balik corruption ini."

Tatapan emasnya sedikit menyipit.

"Artinya akademi tidak lagi aman sepenuhnya."

Freya langsung menegang.

Namun sebelum suasana berubah berat, Edward tiba-tiba berkata, "Karena itu, Akademi Starfell akan diliburkan selama dua minggu."

Hening.

Lalu...

"...Hah?"

Freya berkedip.

Ares mengangkat kepala cepat.

"Libur?"

"Betul." Edward terlihat lelah. "Sebagian bangunan rusak, para murid trauma, dan para profesor membutuhkan waktu untuk memperbaiki pertahanan akademi."

Ia mengusap dahinya.

"Dan kalau aku tidak meliburkan akademi sekarang, kemungkinan besar stafku yang akan mengalami serangan mental berikutnya."

Ares langsung mengangguk penuh pengertian.

"Masuk akal."

"Kau terlalu cepat menerima keputusan itu."

"Karena aku menghormati kesehatan mental profesor."

"Pembohong," gumam Freya.

Namun beberapa detik kemudian...

DEG.

Freya membelalak.

"Tunggu."

Semua menoleh padanya.

"Itu berarti..."

"Ya," jawab Edward tenang.

"AKU LIBUR DUA MINGGU?"

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Lalu Ares tertawa kecil.

"Lihat? Dia bahkan lebih bahagia soal libur dibanding selamat dari kiamat."

"Karena kiamat tidak memberi waktu tidur."

Edward menatap Freya beberapa detik. Lalu tertawa kecil samar.

"Kau benar-benar berbeda dari rumor tentang keluarga Vane."

"Percayalah, saya juga sering berpikir begitu."

Suasana ruangan akhirnya terasa jauh lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya sejak malam gerbang itu, Freya merasa semuanya benar-benar berakhir.

Setidaknya untuk sementara.

Sore harinya, Freya akhirnya diperbolehkan keluar dari ruang medis. Meskipun sebenarnya semua orang masih terlihat ragu membiarkannya berjalan sendiri.

"Aku tidak akan meledak mendadak," protes Freya sambil berjalan di koridor akademi.

"Itu kalimat yang biasanya diucapkan orang sebelum meledak," jawab Ares santai.

"Kenapa aku masih berteman denganmu?"

"Karena aku tampan dan menyenangkan."

"Satu dari dua itu bohong."

"Kejam sekali."

Koridor akademi terlihat jauh lebih sepi dibanding biasanya. Beberapa bagian dinding masih retak. Beberapa Profesor dan petugas sihir terlihat sibuk memperbaiki bangunan.

Sesekali Freya bisa merasakan tatapan murid lain. Bisik-bisik kecil mulai terdengar.

"Itu dia..."

"Pewaris Crimson Flame..."

"Dia benar-benar menutup gerbangnya sendiri..."

Freya langsung memegangi wajahnya.

"Selesai sudah kehidupan normalku."

Aria yang berjalan di sampingnya langsung terlihat khawatir.

"Mereka hanya kagum padamu."

"Aku tidak mau dikagumi. Aku mau hidup tenang sambil makan dessert."

"Tujuan hidup yang bagus," komentar Felix.

Mereka akhirnya berhenti di taman depan akademi. Matahari sore mulai turun perlahan. Dan untuk pertama kalinya setelah kekacauan itu, Starfell terasa damai lagi.

Freya mengembuskan napas panjang. Lalu tiba-tiba menoleh pada Aria.

"Aria."

"Hm?"

"Ikut ke mansion Vane selama liburan."

Hening.

Aria langsung membeku.

"Eh?"

Felix perlahan menoleh.

"...Apa?"

Freya langsung menggenggam tangan Aria dramatis.

"Demi kesehatan mentalku."

"Itu alasan yang sangat mencurigakan," gumam Felix.

"Aku hampir mati kemarin. Biarkan aku egois sedikit."

Aria terlihat panik.

"T-Tapi aku tidak ingin merepotkan keluarga Vane..."

"Tidak merepotkan." Freya langsung menggeleng cepat. "Lagipula mansion kami terlalu besar dan menyeramkan kalau ditinggal sendiri."

"Hei," protes Felix.

"Kakak juga menyeramkan sedikit."

"Aku tersinggung."

"Syukurlah."

Aria akhirnya tertawa kecil. Namun sebelum ia sempat menjawab, Ares tiba-tiba angkat tangan.

"Kalau Aria ikut ke mansion Vane, aku juga ikut."

Hening. Freya langsung menoleh lambat.

"...Apa?"

"Observasi lapangan."

"Kamu mau liburan gratis."

"Benar."

Felix memegangi dahinya.

"Kenapa hidupku mulai dipenuhi orang aneh?"

"Karena Freya ada di pusatnya," jawab Ares santai.

"Aku merasa dihina."

"Kau memang dihina."

Aria buru-buru menahan tawanya lagi.

Dan beberapa langkah di belakang mereka, Zevian berdiri diam memperhatikan semuanya. Tatapan biru gelapnya jatuh pada Freya. Lalu pada tangan Freya yang masih menggenggam tangan Aria. Lalu pada Felix. Lalu pada Ares.

Hening. Entah kenapa suasana di dadanya terasa sedikit aneh. Terasa tidak nyaman. Dan ia tidak menyukainya.

Ares akhirnya menoleh.

"Yang Mulia mau ikut juga?"

Semua langsung melihat Zevian. Freya ikut menoleh. Dan untuk sepersekian detik, tatapan mereka bertemu.

"Aku punya pekerjaan kerajaan," jawab Zevian tenang.

"Oh..."

Freya mengangguk kecil. Tentu saja putra mahkota tidak bisa ikut liburan absurd ke mansion keluarga Vane.

Namun anehnya...Zevian tiba-tiba merasa semakin tidak nyaman. Terutama saat melihat Freya mulai kembali bercanda dengan Felix dan Ares.

Ares menyeringai kecil.

"Sayang sekali."

"Apa maksudmu?" tanya Zevian datar.

"Tidak ada."

Itu jelas bohong.

Dan entah kenapa, Zevian mulai merasa sangat ingin melempar Ares ke danau. Padahal ia sendiri tidak tahu alasannya.

Sementara itu Freya sama sekali tidak menyadari apa pun. Karena sekarang pikirannya dipenuhi satu hal.

'Aria akan datang ke mansion Vane.'

DEG.

'AKU HARUS MENDEKATKAN DIA DENGAN FELIX.'

Crimson Valkyrie langsung berkomentar datar.

"Kau benar-benar tidak punya prioritas yang benar."

'Ini namanya healing arc.'

"Memalukan."

Freya mengabaikannya. Karena untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu...Ia akhirnya merasa bisa bernapas lega.

Meskipun mungkin kehidupan tenangnya tidak akan pernah benar-benar normal lagi.

Dan entah kenapa perasaan itu tidak terlalu buruk.

1
aku
lagi 😁
aku
😭😭 alasan nmr 83 😭😭 🤣🤣🤣no.1 nya cembokurr 🤣🤣
aku
mulai mekar kah bunga asmara pangeran?? 😁
aku
🤣🤣🤣🤣 jlebbb 🤣🤣🤣
aku
aduduh,ngabrut 🤣🤣🤣 seminar ekonomi 🤣🤣🤣
aku
jangan2 si ares kyk emaknya 🤣
frina ayu: faktor genetik kak 😭
total 1 replies
paijo londo
lyra dulu meninggal karena TDK ada yg membantu untuk menutup gerbangnya hingga mengambil nyawanya sedangkan Freya mulai banyak yg munyukainya hingga tanpa ragu berani mengorbankan nyawanya untuk Freya 💪freya
paijo londo
celetukan Freya bikin Ares suka ketawa
paijo londo
frey lucu ya kalo ngumpat dalam hati kita yg baca jadi ketawa ngakak 🤣🤣
aku
kok kesian sm monster2 nya 😭😭
aku
res, lu lama2 gue gibeng jg. bkin reader kepo maksimal. 😭😭 agk curiga tp jg menghibur 🤣
aku
ceileeeehhh terkesimo kah kau frey 😌😌
aku
ares, lama2 kau makin mengerikan 😭😭
aku
selamatkan jantungmu frey 🤣🤣
aku
bnr, tidak fantassttt ish ish ish 😌😌🤣🤣
aku
ceplas ceplos dn bar bar kah aslinya ra??? 🤣🤣🤣
frina ayu: asbun kak dia🤣
total 1 replies
aku
heh 🤣🤣 nyukurin yg asli mati duluan 🤣🤣 astagaa
frina ayu: takutnua kalo gak dimatiin nanti rebutan tubuh kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!