Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAFAS DI BAWAH AIR
Raungan mesin helikopter di atas kepala menciptakan riak kecil di permukaan air rawa yang tenang. Cahaya lampu sorot raksasa itu menyapu tajam, membedah kabut putih yang menyelimuti akar-akar pohon. Yudha memberikan isyarat tangan agar semua orang merapat ke batang pohon besar yang berlumut.
Ghazali bersandar berat pada bahu Keyra. Napasnya masih menderu akibat suntikan adrenalin yang dipaksakan, namun matanya tetap tajam, mengawasi setiap pergerakan di permukaan air.
---
"Kapten, itu bukan buaya," bisik Yudha sembari mengarahkan laras senjatanya ke arah gelembung-gelembung kecil yang muncul secara berkala di permukaan air, sekitar sepuluh meter dari posisi mereka. "Itu Tim selam taktis mereka sudah masuk ke area hulu."
Keyra mencengkeram lengan jaket taktis Ghazali. "Mereka mengepung kita dari atas dan bawah, Ghaz. Kita tidak bisa lari lebih jauh di daratan yang terbuka ini."
Bastian memeriksa tabletnya yang retak dengan panik. "Sial! Mereka mematikan jaringan satelit sipil. Aku tidak bisa memanggil bantuan dari unit luar. Kita benar-benar terisolasi di rawa ini."
Ghazali menatap Keyra, lalu menatap cincin kabel tembaga di jarinya yang berkilau terkena pantulan lampu sorot helikopter. Sebuah rencana gila muncul di kepalanya.
"Yudha, berapa tabung oksigen darurat yang kita punya di tas taktis?" tanya Ghazali.
"Hanya dua, Kapten. Milik saya dan milik Reno yang sempat saya ambil," jawab Yudha cepat.
"Berikan satu pada Keyra, satu pada Bastian," perintah Ghazali tanpa ragu.
"Lalu kamu? Dan Yudha?" Keyra membelalakkan mata. "Kamu baru saja operasi bahu, Ghaz! Masuk ke air rawa yang kotor dengan luka terbuka itu sama saja dengan bunuh diri!"
"Dokter, dengar aku," Ghazali menangkup wajah Keyra, mengabaikan rasa perih yang menjalar dari bahunya. "Tim selam itu menggunakan sensor suara dan panas di permukaan. Satu-satunya cara melewati mereka adalah dengan menyelam di bawah akar pohon, mengikuti aliran arus bawah yang menuju ke muara. Aku dan Yudha terlatih untuk breath-holding dalam kondisi ekstrem. Tapi kalian tidak."
"Ghazali, tidak! Ini terlalu berisiko!"
"Ini perintah, Keyra," suara Ghazali kembali ke nada komandan yang tak terbantahkan. "Yudha, siapkan alatnya. Bastian, pastikan tabletmu terbungkus kantong kedap air. Begitu lampu sorot helikopter lewat ke arah timur, kita masuk."
Yudha dengan cekatan memasangkan masker oksigen kecil pada Keyra dan Bastian. Keyra menatap Ghazali dengan tatapan memohon, namun pria itu hanya memberikan anggukan kecil yang meyakinkan janji seorang tunangan yang tak akan membiarkan maut memisahkan mereka di sini.
Wuuushhh!
Lampu sorot helikopter menyapu tepat di atas kepala mereka, lalu menjauh menuju rimbunnya hutan di sisi lain.
"SEKARANG!" bisik Ghazali.
Mereka meluncur pelan ke dalam air rawa yang keruh dan dingin. Keyra merasakan sensasi dingin yang menusuk tulang saat air menyentuh kulitnya. Di bawah permukaan, dunia berubah menjadi labirin akar yang gelap dan mengerikan.
Keyra berenang di samping Ghazali. Ia bisa melihat pria itu menahan napas dengan wajah yang mengeras, satu tangannya tetap memegang tangan Keyra agar mereka tidak terpisah oleh arus bawah. Di atas mereka, bayangan hitam penyelam musuh terlihat melintas perlahan dengan lampu senter bawah air yang menyapu ke segala arah.
Tiba-tiba, sebuah akar bakau yang tajam tersangkut di kain kasa bahu Ghazali. Pria itu tersentak, gelembung udara keluar dari mulutnya karena rasa sakit yang tak tertahankan. Darah mulai merembes keluar, menciptakan kabut merah tipis di dalam air.
Keyra panik. Ia mencoba melepaskan kaitan akar itu, namun arus bawah mulai menguat. Di saat yang sama, salah satu penyelam musuh menyadari adanya noda darah di air dan mulai mengarahkan lampunya ke arah posisi mereka di bawah akar.
Ghazali menatap Keyra, memberikan isyarat agar Keyra terus berenang mengikuti Yudha. Ia berniat melepaskan pegangan tangannya untuk memancing penyelam itu menjauh.
Keyra menggeleng kuat-kuat di dalam air. Ia menarik masker oksigennya, mencoba membaginya dengan Ghazali di tengah tekanan air yang menyesakkan, namun Ghazali menolaknya. Pria itu justru menarik pisau komandonya, bersiap untuk pertempuran bawah air terakhir demi memberi jalan bagi Keyra.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....