NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Mobil hitam itu melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan stabil. Di dalamnya, suasana terasa sunyi, hanya diisi oleh suara halus mesin dan sesekali desah napas yang tertahan.

Giana duduk di kursi belakang, memeluk Cayden erat di dadanya. Tatapannya mengarah ke luar jendela, namun pikirannya jelas tidak berada di sana. Pemandangan kota berlalu begitu saja tanpa benar-benar ia sadari.

Ia masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang sedang terjadi.

Baru beberapa hari lalu ia duduk di pinggir jalan dalam keadaan putus asa, kehilangan arah, kehilangan tempat, bahkan hampir kehilangan harapan. Dan sekarang, ia kembali berada di dalam mobil mewah, menuju tempat yang tidak ia kenal. Semuanya terasa terlalu cepat dan tiba-tiba.

“Apakah tempatnya jauh?” tanya Giana pelan, memecah keheningan.

Abraham yang duduk di kursi depan menoleh sedikit, lalu menjawab dengan tenang, “Tidak terlalu jauh, sebentar lagi kita hampir sampai.”

Giana mengangguk pelan, meskipun perasaan di dalam dadanya belum juga mereda. Ia menunduk, menatap wajah Cayden yang tertidur pulas di pelukannya. Bayi itu tampak damai, seolah dunia di sekelilingnya tidak pernah berubah.

Jemari Giana mengusap lembut pipi kecil itu.

“Setidaknya kau akan aman,” bisiknya pelan.

Beberapa menit kemudian, mobil mulai melambat dan akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan yang jauh lebih tenang. Jalanannya tidak seramai pusat kota, dipenuhi pepohonan rindang dan bangunan yang tertata rapi.

Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya klasik modern. Tidak semegah rumah utama keluarga Rutherford, tetapi tetap menunjukkan kemewahan yang tidak biasa.

Giana menatap bangunan itu dalam diam. “Ini … apakah ini tempatnya?” tanyanya ragu.

Abraham mengangguk yakin. “Ini tempat Anda tinggal sementara,” jawab Abraham singkat.

Lalu, Abraham membukakan pintu mobil, dan Giana turun perlahan sambil tetap menggendong Cayden. Kakinya terasa sedikit kaku, seolah ragu untuk benar-benar melangkah masuk. Namun akhirnya, langkahnya tetap mengikuti Abraham.

Begitu masuk, ia disambut oleh suasana hangat yang berbeda dari yang ia bayangkan. Interior rumah itu tidak terasa dingin atau menekan. Justru sebaliknya, terasa tenang, nyaman, dan terasa hidup.

Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan senyum ramah. “Selamat datang,” sapanya lembut. “Saya yang akan membantu Anda selama di sini.”

Giana sedikit terkejut dengan sambutan itu. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini. “Terima kasih,” jawabnya pelan.

Abraham kemudian menjelaskan beberapa hal singkat, bahwa semua kebutuhan Giana dan Cayden akan dipenuhi, bahwa ia tidak perlu khawatir tentang apa pun untuk sementara waktu, dan bahwa tempat ini telah dijaga dengan baik agar tidak sembarang orang bisa masuk.

“Anggap saja rumah ini sebagai tempat perlindungan,” kata Abraham.

Kalimat itu membuat Giana terdiam. Sebuah kata yang terasa asing, namun juga menenangkan.

“Bagaimana dengan Tuan Cameron?” tanyanya hati-hati.

Abraham terdiam sejenak sebelum menjawab, “Beliau sedang berada di London. Ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.”

Giana mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh.

Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Antara lega dan kecewa.

***

Sementara itu, di London, malam mulai turun perlahan.

Lampu-lampu rumah keluarga Rutherford menyala terang, tetapi suasana di dalamnya tidak sehangat yang terlihat dari luar.

Cameron berdiri di depan jendela kamarnya, menatap ke luar dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tangannya masih memegang ponsel, layar yang menampilkan pesan terakhir dari Abraham masih menyala bahwa ia sudah berhasil menjemput Giana dan Cayden. 

Seharusnya ia merasa lega. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Ia tidak ada di sana. Tidak bisa memastikan dengan matanya sendiri, ia tidak bisa melihat mereka secara langsung. Dan itu membuat sesuatu di dalam dirinya terasa kosong.

Pintu kamar terbuka tanpa suara. Bianca masuk perlahan, menatap putranya dari belakang. Untuk beberapa saat, ia hanya diam, mengamati sosok Cameron yang berdiri kaku di sana.

“Apa mereka sudah ditemukan? Apakah cucu Ibu sudah berhasil kau temukan?” tanyanya akhirnya.

Cameron tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke luar, sebelum akhirnya berkata, “Ya.”

Bianca menarik napas lega, meskipun perasaan bersalah masih jelas terlihat di wajahnya. Ia menatap Cameron sejenak sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati, “Di mana mereka sekarang?”

“Di tempat yang aman,” jawab Cameron singkat.

Bianca mengangguk pelan. Ia melangkah mendekat dan berdiri tidak jauh dari putranya. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kata-kata. Ada banyak hal yang ingin ia ucapkan, tetapi semuanya terasa tertahan di tenggorokan.

“Ibu … ingin menemuinya,” ucap Bianca akhirnya, suaranya pelan. “Apakah boleh?”

Cameron menoleh. Tatapannya tajam, seolah mencoba membaca kesungguhan di balik ucapan itu.

“Untuk apa?” tanyanya.

Pertanyaan itu tidak terdengar kasar, tetapi cukup untuk membuat Bianca terdiam sejenak. Ia menunduk sebelum akhirnya menjawab, “Ibu ingin memastikan dia baik-baik saja dan mungkin memperbaiki kesalahan Ibu.”

Cameron tidak langsung menjawab. Ia menatap ibunya cukup lama, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela.

“Belum saatnya,” katanya pelan.

Bianca terdiam. Ia mengerti. Kepercayaan tidak bisa kembali hanya dengan satu niat, dan kesalahan yang telah ia lakukan tidak bisa begitu saja dihapus.

Di sisi lain kota, Regina berdiri di balkon kamarnya dengan segelas minuman di tangan. Angin malam berhembus pelan, mengibaskan rambutnya yang tergerai rapi. Suasana di sekelilingnya tampak tenang, tetapi pikirannya tidak demikian.

Ia tahu ada sesuatu yang berubah dalam diri Cameron, dan ia juga tahu penyebabnya. Sebuah rahasia yang belum sepenuhnya ia pahami, tetapi cukup untuk membuatnya merasa terancam. Regina menyesap minumannya perlahan, matanya menyipit tajam.

“Kalau aku tidak bisa mempertahankan posisiku,” gumamnya pelan, “Maka aku akan memastikan tidak ada yang bisa mengambilnya dariku.”

Senyum tipis terukir di wajahnya. Namun kali ini, senyum itu bukan lagi senyum manis, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin dan berbahaya.

Kemudian, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, berniat menghubungi seseorang yang sudah lama sekali ia rindukan. “Halo, Sayang. Apa kita bisa bertemu malam ini? Ya, aku sangat bosan dan merindukanmu sekarang ini.” 

***

Sementara itu, di tempat perlindungan, malam telah tiba.

Giana duduk di tepi ranjang, memandangi Cayden yang tertidur pulas di sampingnya. Ruangan itu terasa hangat dan nyaman, jauh dari rasa takut yang selama ini terus menghantuinya. Namun entah mengapa, hatinya belum sepenuhnya tenang.

Perlahan, ia mengusap rambut halus bayi itu. Tatapannya melembut, dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Cayden?” bisiknya lirih.

Semakin lama, ia semakin merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan darinya, tentang Cameron, tentang keluarga itu, dan juga tentang Cayden sendiri.

Namun satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Cayden lagi. Apa pun yang harus ia hadapi, akan ia hadapi, apa pun resikonya.

Giana kemudian berbaring di samping Cayden, menarik selimut tipis hingga menutupi tubuh kecil itu. Ia memejamkan mata, mencoba beristirahat, meskipun pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan. Di tempat baru ini, ia mungkin telah menemukan perlindungan. Namun ia belum tahu bahwa badai yang sesungguhnya, belum benar-benar dimulai.

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berarti kamu aman Giana 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
modus 🤭
awesome moment
menghilang bersama. keknya lbh keren. bikin smua blingsatan. tp...ttp mengendalikan sumber uang. regina pasti menggila. bianca antara cemas, lega dan kangen. ayah cameron tiba2 dpt boom dri bianca. bhw cameron melindungi anak cassie. ato...munculkan asal usul giana. yg...sdh pasti tdk bisa diabaikan. kn keren tu.
HK: Kak, thank u km sudah memberiku ide 🥺👏👏👏
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga kamu ketahuan selingkuh Regina 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mungkin dikira Cameron itu ayahnya 🤭
awesome moment
😄😄😄buka kaki lebar2 y, Regina. service hra paripurna utk hasil yg memuaskan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah hatimu sudah berpaling 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bersabarlah Giana 🤭
awesome moment
kapan cameron akan memilih cay dan giana. regina makin arogan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar ulat bulu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu merindukan mereka 🤭
awesome moment
yg ptg Giana dan Cay, aman dlu. buat bianca tersiksa rasa bersalah. tp...jgn smp bocor ke regina
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ibu harus minta maaf pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sekarang cari lg Cayden 🤭
awesome moment
akhirnya...cay dan giana aman.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ayo pulang Cameron 🤭
elief
cameron harus nya lebih tegas, batalin aja pertunangannya thor. jadi gemes ih
awesome moment
nha kn bener. kasihan cay. ditolak ibunya. pamannya jg g bisa melindungi. biarkan giana dan cay menghilang lg j. g ush ketemu cameron. buat p? g guna. klo toch ketemu jg g bakalan bisa melindungi. cameron akan ttp tunduk ke keingan kelg. menghilamg lagi lah. giana dan cay. hidup berdua dgn nyaman meski g berlimpah. jgn smp jd korban plin plannya cameron. pergi yg jauh. klo perlu...g ush kembali.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah sembarangan nih 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!