NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09

“Babe, sudah lama sekali aku tidak ke rumahmu. Hari ini, aku mau ke rumah, ya?”

Cameron yang tengah mengunyah makan siangnya itu mendadak tersedak saat mendengar permintaan kecil Regina. Permintaan yang sederhana namun terasa berat bagi Cameron.

“Apa? Kau mau ke rumah? Hari ini?” tanyanya seraya menyeka mulutnya dengan serbet putih.

Regina mengangguk. “Iya, kenapa ekspresimu begitu? Kau sampai tersedak. Apa yang membuatmu terkejut? Aku hanya bilang ingin ke rumah,” katanya menatap Cameron penuh selidik. “Babe, kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

Cameron tersenyum tipis. “Tidak, tentu saja tidak. Tapi, kau mungkin tidak akan menyukai suasana rumah saat ini,” katanya sambil meraih segelas air putih. “Bagaimana jika kita ke villa saja? Di sana pemandangannya sangat bagus.”

Tatapan Regina berubah penuh selidik, ia yakin sekali Cameron tengah menyembunyikan sesuatu. “Tidak, aku tetap ingin ke rumahmu. Babe, aku ini calon istrimu, kan? Ayolah, aku hanya ingin berkunjung, aku janji tidak akan merepotkanmu ataupun kepala pelayan itu.”

Cameron terdiam sejenak. Sudah pasti ia tidak akan bisa melawan kehendak Regina atau ia akan membuat masalah baginya nanti. Maka, ia pun mengangguk. “Baiklah, tapi tunggu sebentar, aku harus menghubungi Bibi Sarah untuk merapikan kamar tamu.”

Regina menggeleng. “Tidak perlu, Babe. Sudah kubilang, aku hanya ingin berkunjung sebentar saja,” katanya seraya melepas serbet makannya dan meraih tas tangannya.

Tanpa perlu menunggu Cameron, Regina lebih dulu berjalan menuju mobil. Di belakangnya, Cameron tampak sedikit panik, ia tidak bisa membiarkan Regina mengetahui soal Cayden ataupun Giana. Jika masalah itu sampai diketahui orang lain, maka Cameron pasti akan berada dalam masalah yang besar dan serius.

“Astaga, Bibi. Cepatlah angkat.”

***

“Giana! Gawat!” Sarah berseru panik memasuki kamar Giana dengan tergopoh-gopoh.

Giana yang baru saja selesai menyusui Cayden itu lantas menoleh dan bertanya. “Ada apa, Bibi? Kenapa kau datang dengan tergesa? Apa terjadi sesuatu?”

Sarah mengangguk. “Ini benar-benar keadaan darurat. Nona Regina akan datang ke sini, dan dia … tidak, Tuan bilang, kau dan Cayden harus sembunyi lebih dulu! Nona Regina tidak boleh tahu perihal Cayden,” terangnya dengan napas yang terengah.

Giana tampak tertegun sesaat, berusaha memahami tetapi kemudian ia pun mengangguk mengerti. Dalam keluarga kaya seperti Cameron, ada beberapa hal yang tampak rumit. Alih-alih banyak bertanya, Giana memilih mengikutinya saja.

Selepas merapikan kamar tidur tersebut, Sarah mengajak Giana dan Cayden ke belakang rumah, tempat di mana para pelayan tinggal secara bersamaan. Letaknya tak jauh dari rumah utama, hanya berjarak beberapa meter.

“Untuk sementara waktu, kau tinggallah dulu di sini bersama Cayden, ya? Sampai Nona Regina pergi,” kata Sarah menempatkan Giana di dalam kamarnya. “Aku harus pergi untuk menyambutnya, jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa minta bantuan pada Sofia, ya.”

Giana hanya mengangguk kecil, menatap kepergian Sarah bersama dengan beberapa pelayan yang lainnya. Lalu, ia meletakkan Cayden yang tertidur pulas.

Sofia yang juga berada di kamar Sarah, menatap Giana sinis. “Beritahu aku jika kau membutuhkan sesuatu. Tapi, jika bisa, sebaiknya jangan memanggilku,” katanya ketus.

Giana tak menggubrisnya, ia tahu bahwa Sofia mungkin tidak suka dengan keberadaannya di sini. Namun, menurut Giana bukan tugasnya untuk membuat Sofia menerimanya di sini.

“Cayden, tidurlah yang nyenyak, ya.” Ia mengusap lembut pipi Cayden.

Sementara di depan, semua pelayan tampak sibuk menyambut kedatangan Regina ke rumah.

Perempuan itu masuk bersama dengan Cameron di sampingnya. Pandangannya langsung mengitari seisi rumah yang terlihat tak jauh berbeda dengan terakhir kali ia mendatangi rumah ini 1 tahun yang lalu.

“Rumah ini tak jauh berbeda,” gumamnya lalu menoleh pada Cameron yang tampak biasa saja.

Pria itu melirik arloji di tangannya lalu menoleh pada Regina. “Kau masuk dan duduklah dulu, aku akan berganti pakaian. Satu jam lagi aku ada rapat penting,” katanya lalu berlalu dari sana, meninggalkan Regina seorang diri.

“Selamat datang, Nona Regina,” kata Sarah sedikit membungkukkan badan, lalu langsung diikuti beberapa pelayan yang lainnya.

Semua pelayan di rumah itu sudah mengetahui bahwa Regina adalah calon istri yang sudah dipilih untuk Cameron. Meskipun mereka belum resmi menikah, tetapi statusnya di rumah itu setara dengan nyonya.

Regina hanya menggumam pelan dan mengibaskan tangan sebelum akhirnya duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Ia meminta salah seorang pelayan untuk membuatkannya minuman dingin.

“Kukira akan menyenangkan, ternyata sama saja. Rumah ini sama membosankannya seperti Cameo,” gumamnya menghela napas, merasa bosan, padahal baru beberapa menit tiba.

Sementara Cameron di atas untuk mengganti baju, Regina memilih untuk berjalan-jalan sambil menunggu kekasihnya pelan. Namun, alih-alih pergi ke taman depan, Regina justru tertarik untuk pergi ke taman belakang.

“Bagaimana ini? Bagaimana jika Nona Regina pergi ke taman belakang dan bertemu dengan Giana?” ungkap salah seorang pelayan.

Sarah menoleh, ia pun tak tahu harus berbuat apa. Tak ada yang bisa melarang Regina untuk ke taman belakang.

“Sepertinya, kita harus segera memberitahu Tuan Cameron,” kata yang lainnya, ikut merasa cemas. Takut akan keributan yang akan terjadi jika Regina sampai melihat Giana ataupun Cayden.

“Kalian cepat beritahu Tuan Cameron, sementara aku akan mencoba mengalihkan perhatian Nona Regina.”

Sarah menyusul langkah Regina dengan cepat, tepat saat Regina akan mencapai kediaman para pelayan.

“Nona, itu tempat tinggal para pelayan, sebaiknya Anda tidak pergi ke sana,” kata Sarah cepat.

Regina menoleh. “Apa? Kenapa kau baru mengatakannya?! Untung saja aku belum menginjak lantai ini, atau tidak sepatu mahalku pasti akan kotor,” katanya menatap kediaman itu dengan tatapan jijik. Ia lalu langsung berbalik dan hendak pergi.

Namun, suara tangis bayi menghentikan langkahnya. Regina melihat Giana yang tengah menggendong bayi keluar dari salah satu bilik. Matanya membola, terkejut.

“Siapa itu? Kenapa dia ada di sini?” tanyanya pada Sarah. “Bayi siapa yang ada dalam gendongannya itu?”

Sarah tampak kikuk, tak tahu harus menjawab apa. “Nona … itu, itu adalah ….”

“Dia pelayan baru,” sahut Cameron yang berdiri beberapa langkah di belakang Sarah.

Regina langsung menatap Cameron dengan tajam. “Apa? Pelayan baru?” tanyanya tak percaya.

Cameron memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berusaha untuk tetap bersikap tenang agar kebohongannya tidak terbongkar.

“Apakah pelayan baru itu memiliki bayi? Bayi siapa itu, Cameo?” tanyanya lagi, menuntut jawaban.

“Bayi ini adalah anakku dari kampung, Nona. Maafkan bayiku jika suara tangisnya mengganggumu,” sela Giana.

Regina menatapnya tajam, tatapannya lalu berpindah pada sang bayi yang masih menangis entah karena apa. Ia sontak menutup telinganya sendiri.

“Astaga, suara tangisan anakmu ini membuat telingaku sakit! Pergi sana dan bawa bayi itu pergi. Berisik sekali,” katanya seraya berbalik pergi.

Cameron menatap Giana lama, antara merasa bersalah ataupun berterima kasih. Hanya beberapa saat, dan tanpa mengatakan apapun, ia menyusul langkah Regina yang menjauh.

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
mawar hitam
km yg sialan 😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!