Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilu dalam Genggaman
Bara melangkah keluar dari kos-kosan Adi dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu godam. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun tak mampu mendinginkan gejolak kemarahan yang membakar dadanya. Setiap langkahnya terasa berat, terbayang kembali kilatan jam tangan emas di pergelangan pria misterius itu—sebuah simbol yang seharusnya melambangkan kehormatan, namun kini hanya terlihat seperti noda darah di mata Bara.
Ia berjalan tak tentu arah, menghindari lampu-lampu jalan yang terlalu terang. Pikirannya tersangkut pada satu nama: Widjaya.
Bagaimana mungkin seseorang tega menghabisi nyawa anggota keluarganya sendiri, lalu membiarkan seorang mekanik jujur—ayahnya—menanggung dosanya sampai ke liang lahat? Pengkhianatan ini jauh lebih busuk dari yang ia bayangkan.
Ponsel di saku celananya bergetar. Satu notifikasi muncul, Memecah kegelapan yang menyelimuti pikirannya.
[Laras]: Bar, aku rindu kamu
Bara berhenti di bawah pohon mahoni yang gelap. Ia menatap layar ponsel itu dengan mata yang memanas. Jemarinya ragu untuk mengetik, namun ia tak ingin Laras curiga.
[Bara]: Jangan rindu, rindu itu berat. Biar aku saja
Laras di seberang sana terkekeh setelah membaca balasan Bara.
"Kayak Dilan aja nih si Bara," gumamnya sambil tersenyum menatap langit-langit kamar.
Bara berhenti di bawah pohon mahoni yang gelap. Ia menatap layar ponsel itu dengan mata yang memanas. Laras tidak tahu apa-apa. Gadis itu mencintai keluarganya.
Bagaimana aku bisa memberitahumu, Ras? Bahwa ada srigala yang menyamar jadi domba di dalam keluargamu.
Bara harus menemui Malik dan membuatnya bicara. Namun, ia harus sangat berhati-hati. Jika pria berjaket kulit itu tahu bahwa bukti ini masih ada, bukan hanya nyawa Bara yang terancam, tapi Adi juga bisa menjadi sasaran karena dianggap saksi.
Malam itu, di bawah langit yang hitam pekat, Bara bersumpah pada dirinya sendiri. Nama ayahnya akan bersih, dan siapa pun pria di balik jaket kulit itu, dia akan membayar setiap tetes air mata yang jatuh dari wajah ibunya selama tiga tahun ini.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Bara duduk di pinggiran tembok rooftop, menatap lurus ke arah langit kota yang nampak berawan. Pintu besi di belakangnya berderit keras, disusul suara langkah kaki ringan yang sangat ia kenal.
"Tebak aku bawa apa?" suara Laras memecah keheningan.
Bara menoleh, melihat Laras berjalan mendekat dengan senyum lebar yang membuat matanya hampir membentuk garis bulan sabit. Gadis itu tidak langsung duduk, melainkan berdiri di depan Bara dan menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna biru muda dengan stiker beruang kecil di atasnya.
Bara menerima kotak itu, merasakan permukaannya yang masih terasa hangat.
"Roti bakar cokelat keju. Spesial buatan aku, lho.
Laras duduk di samping Bara, menyandarkan botol minuman dingin di antara mereka.
Bara membuka tutup kotak itu. Aroma cokelat yang manis langsung menyeruak, bertolak belakang dengan rasa pahit yang sejak semalam menyangkut di tenggorokannya. Ia mengambil satu potong dan mengunyahnya perlahan.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Laras penuh harap.
"Enak kok. Pas," jawab Bara singkat sambil mencoba tersenyum,
Laras mengamati ekspresi Bara dengan teliti. Angin rooftop memainkan anak rambutnya, namun tatapannya tak beralih dari wajah pemuda itu. "Bar... kamu ngerasa nggak sih, sehabis jadian kamu jadi lebih banyak diam?
Bara tertegun. Ia menutup kembali kotak bekalnya, merasa tidak sanggup menghabiskan isinya saat ini. "Masa sih? Perasaan kamu aja kali, Ras. Aku cuma lagi mikirin tugas Pak Bambang yang numpuk."
Laras tidak lantas percaya. Ia menghela napas, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Bara. Keheningan menyelimuti mereka berdua di ketinggian itu.
"Kalau ada apa-apa, cerita ya? Aku nggak suka liat kamu kayak punya beban sendirian. bisik Laras pelan.
Iya, Tuan Putri
Bara menggenggam tangan Laras, menautkan jari mereka erat-erat
Ia menatap tautan jemari mereka
Ras, kamu tahu nggak kenapa Tuhan menciptakan sela-sela di antara jari manusia?"
Laras menoleh, alisnya bertaut lucu. "Hah? Pertanyaan macam apa itu? Ya memang dari sananya begitu, kan?"
Bara menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Ia mengangkat tautan tangan mereka sedikit lebih tinggi ke arah cahaya matahari senja.
"Sela-sela jari itu ada supaya aku bisa mengisi kekosongan di tangan kamu dengan jari-jariku sendiri. Biar aku bisa menggenggam kamu seerat ini."
Laras tertegun. Pipinya mendadak terasa panas, lebih merah dari warna langit di ufuk barat. Ia tertawa kecil untuk menutupi rasa salah tingkahnya, lalu menyenggol bahu Bara pelan.
"Dasar! Belajar gombal dari mana sih? Kebanyakan baca novel ya?"
Bara tidak menjawab. Ia hanya tertawa pelan, namun dalam hati, ia mengeratkan genggamannya. Di balik candaan itu, ada ketakutan yang nyata.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Setelah makan malam usai, Laras hendak beranjak menuju kamarnya di lantai atas. Namun, suara lembut ibunya menghentikannya.
"Laras, tunggu sebentar. Ibu mau bicara," ujar sang ibu sambil meletakkan serbetnya.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Denandra? Apa sudah ada kecocokan?"
Laras terdiam sejenak. Nama itu selalu muncul seperti sebuah kewajiban yang harus dipenuhi.
"Denandra... dia pria yang baik, Bu," jawab Laras singkat, mencoba mencari aman.
"Ya pasti baik lah, Nduk. Wong asalnya saja dari keluarga baik-baik," sahut Eyang Putri. Suaranya tenang namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Beliau membenarkan posisi duduknya, menatap Laras dengan tatapan yang seolah sudah mengatur seluruh masa depan cucunya.
"Denandra itu pria paling cocok dengan kamu. Wetonnya sudah dihitung, bibit, bebet, dan bobotnya semua pas. Tidak ada yang kurang."
Laras hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa seperti sebuah bidak catur yang sedang dipindahkan ke kotak yang sudah ditentukan. Di pikirannya, mendadak muncul bayangan Bara—pria yang jelas-jelas tidak masuk dalam kriteria 'bibit, bebet, bobot' versi keluarganya.
"Setelah lulus SMA nanti, dia akan kuliah di UGM," lanjut Eyang Putri lagi.
"Sama, kamu juga harus ke sana. Itu sudah tradisi dari dulu, keluarga kita lulusan dari sana semua. Tidak ada pengecualian."
"Nggeh, Eyang. Insyaallah," jawab Laras lirih.
"Gimana study group-nya? Lancar, Ras?" tanya Bapak Laras.
"Alhamdulillah, lancar, Pak."
Bapak hanya mengangguk-angguk pelan, memberikan isyarat bahwa jawaban itu sudah cukup baginya.
"Eyang, Bapak, Ibu... Laras izin masuk kamar duluan, nggeh. Masih ada tugas yang harus diselesaikan."
Tanpa menunggu jawaban lebih lama, Laras segera meninggalkan tempat. Ia ingin menjauh dari pembicaraan tentang Denandra, tradisi keluarga, dan ekspektasi yang mulai terasa seperti tembok tinggi yang memisahkannya dengan dunia luar.
Ijin mampir🙏