Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG KEMBALI RAMAI
Sore itu, ponsel Purbaya kembali berdering.
Kali ini dari kakaknya.
“Iya, Mbak?”
“Pur, ini kita sudah sampai Stasiun Klaten sebentar lagi sampai Jogja.” Suara kakaknya terdengar jelas di seberang.
Purbaya langsung berdiri dari duduknya.
“Sudah di Klaten?” ulangnya memastikan.
“Iya. Paling nggak lama lagi masuk Jogja.”
“Iya, Mbak. Aku jemput di stasiun.”
Telepon ditutup.
Purbaya langsung mengambil kunci mobilnya, lalu menoleh ke arah ruang tengah.
“Noya,” panggilnya.
Anak itu menoleh.
“Mau ikut Papa jemput Eyang sama Budhe?”
Noya terlihat antusias, langsung berdiri kecil.
Purbaya menghampirinya, membenarkan sedikit bajunya.
“Ayo.”
Dari dapur, Mbok Sri muncul.
“Pak, mau pergi?”
“Iya, Mbok. Jemput Ibu di stasiun.”
“Inggih, Pak. Noya ikut nggih?”
Purbaya mengangguk.
“Iya. Biar sekalian ketemu.”
Mbok Sri tersenyum kecil, lalu mengangguk paham.
Tak lama, Purbaya dan Noya sudah keluar rumah.
Mobil melaju meninggalkan halaman.
Keramaian stasiun mulai terasa saat Purbaya dan Noya melangkah masuk ke area penjemputan.
Orang-orang lalu lalang, suara pengumuman bersahutan, dan deretan penumpang mulai keluar dari pintu kedatangan.
Purbaya menyapu pandangannya, mencari wajah yang dikenalnya.
Tak butuh waktu lama.
Dari kejauhan, seseorang melambaikan tangan.
“Pur!”
Suara itu langsung dikenalnya.
Mbak Rina.
Purbaya segera melangkah lebih cepat, hampir bergegas.
Saat jarak mereka semakin dekat, satu per satu wajah itu terlihat jelas.
Ibunya berdiri di tengah. Wajahnya langsung berubah hangat saat melihat anaknya.
Di sampingnya, Mbak Rina dengan dua anaknya--yang sudah lebih besar beberapa tahun dari Noya--berdiri sambil ikut melambaikan tangan.
Dan di sisi lain, Mbak Ningsih berdiri lebih tenang, dengan senyum tipis yang tidak banyak berubah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Purbaya saat sudah sampai.
“Wa’alaikumussalam,” jawab ibunya, lalu langsung mendekat.
“Pur...” panggilnya lembut.
Purbaya menunduk sedikit, mencium tangan ibunya.
Perempuan itu mengusap bahunya pelan, seolah memastikan anaknya benar-benar ada di depannya.
“Sehat, to?” tanyanya.
“Iya, Bu.”
Mbak Rina langsung mendekat, menepuk bahu adiknya.
“Wah, makin sibuk aja ya sekarang,” godanya ringan.
Purbaya tersenyum tipis.
“Belum, Mbak.”
Anak-anak Mbak Rina langsung mendekat ke Noya.
“Hai, Noya!” sapa mereka antusias.
Noya terlihat sedikit canggung, tapi tetap berdiri di dekat ayahnya.
“Noya... udah gede,” sambil menatap cucunya penuh perhatian.
“Iya, Bu.”
Ibunya membungkuk sedikit, mencoba mendekatkan diri.
“Noya... inget Eyang?”
Noya hanya menatap, belum banyak bereaksi.
Namun ibunya tetap tersenyum, tidak memaksa.
Di sisi lain, Mbak Ningsih akhirnya mendekat.
“Lama nggak ketemu,” ucapnya singkat, tapi hangat.
“Iya, Mbak.”
Percakapan kecil itu berlangsung di tengah keramaian stasiun.
Namun ada satu hal yang belum ditanyakan.
Ibunya menatap sekeliling sebentar, lalu kembali ke Purbaya.
“Eva di mana, Pur?” tanyanya.
Pertanyaan itu datang lebih cepat dari yang ia harapkan.
Purbaya sempat terdiam sepersekian detik.
“Eva lagi di Surabaya, Bu,” jawabnya akhirnya. “Ada urusan kerjaan.”
Ibunya langsung mengernyit.
“Surabaya?” ulangnya.
“Iya, Bu. Urusan kantornya.”
Belum sempat Purbaya menambahkan apa-apa, ibunya sudah lebih dulu menanggapi.
“Lha kok bisa ninggalin rumah pas kita mau datang?” nada suaranya mulai berubah.
“Kerjaan itu ya kerjaan, tapi keluarga juga harus dipikir.”
Mbak Rina dan Mbak Ningsih saling pandang sekilas, tapi tidak ikut menyela.
“Ibu ini datang jauh-jauh,” lanjutnya. “Masa dia malah pergi?”
Purbaya tetap diam.
Ia tidak mencoba membela, juga tidak menyetujui.
“Memangnya dia nggak punya asisten?” sambung ibunya lagi.
“Harus dia sendiri yang ke sana?”
Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup tajam.
“Perempuan itu kalau sudah punya keluarga... ya harus tahu prioritas,” tambahnya, sedikit menggeleng.
Suasana jadi sedikit kaku.
Purbaya menarik napas pelan.
“Iya, Bu,” jawabnya singkat.
Hanya itu. Tidak ada penjelasan juga pembelaan.
Ibunya belum berhenti.
Ia menatap Purbaya dengan sorot yang tegas, seperti sedang menilai sesuatu.
“Itulah kalau kamu punya istri pengusaha,” katanya pelan.
“Ibu dari dulu kurang setuju.”
Purbaya tidak langsung menanggapi.
Ia hanya mendengarkan.
“Kamu itu nanti bisa nggak diperhatikan,” lanjutnya.
“Istrimu lebih sibuk sama urusan perusahaannya daripada keluarga.”
Langkah mereka mulai bergerak keluar dari area stasiun.
Namun suara ibunya tetap terdengar di antara langkah-langkah itu.
“Apalagi kalau penghasilannya lebih besar dari kamu...” ia menggeleng kecil.
“Bisa-bisa kamu malah diinjak-injak, Pur.”
Kalimat itu cukup tajam.
Namun Purbaya hanya menghela napas pelan.
Ia juga tidak membenarkan.
Seolah memilih untuk tidak masuk lebih jauh ke arah itu.
Di dalam dirinya, ia tahu--tidak semua yang dikatakan ibunya sepenuhnya benar.
Tapi juga... tidak sepenuhnya salah.
Ada jeda panjang setelah itu.
Dan tanpa perlu dijelaskan--semuanya seperti sudah punya latar belakangnya sendiri.
Selama empat tahun terakhir, saat Purbaya sibuk menyelesaikan studi doktoralnya, Eva memang tidak pernah benar-benar dekat dengan mertuanya.
Bukan tanpa alasan.
Ini karena... ada jarak yang sejak awal tidak pernah benar-benar nyaman.
Sikap mertuanya yang cenderung mengatur.
Kebiasaannya ikut masuk dalam urusan rumah tangga.
Hal-hal kecil yang lama-lama terasa menekan.
Eva memilih menjaga jarak.
Dan Purbaya... membiarkannya.
Kini, semua itu seperti kembali muncul ke permukaan.
*
Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.
Lampu teras sudah menyala, menyambut kedatangan mereka.
Purbaya turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk ibunya.
Pak Sastro membantu membawa barang.
“Hati-hati, Bu.”
Ibunya mengangguk kecil, lalu melangkah turun dengan pelan.
Mbak Rina menyusul bersama kedua anaknya yang langsung terlihat penasaran melihat sekeliling rumah. Sementara Mbak Ningsih berjalan mengikuti di belakang.
Pintu rumah terbuka.
Mbok Sri sudah berdiri di dalam, seolah memang menunggu sejak tadi.
“Inggih... monggo, monggo...” sambutnya ramah.
“Ibu...” Mbok Sri menunduk hormat, lalu menyalami satu per satu.
Ibunya tersenyum tipis.
“Piye kabare, Mbok?”
“Alhamdulillah, Bu.”
Suasana terasa cukup hangat di awal.
Purbaya masuk terakhir, menutup pintu di belakangnya.
“Mbok,” katanya kemudian, “tolong antarkan Ibu dan yang lain ke kamar, ya.”
“Inggih, Pak.”
Mbok Sri langsung sigap mengambil beberapa barang bawaan.
“Monggo, Bu... kamarnya sudah Simbok bersihkan .”
Ibunya mengangguk, lalu mulai berjalan mengikuti Mbok Sri.
Mbak Rina dan anak-anaknya ikut di belakang, masih sesekali melihat-lihat isi rumah dengan rasa penasaran.
“Wah, rumahmu gede juga ya,,” celetuk Mbak Rina sambil tersenyum.
Purbaya hanya membalas dengan senyum tipis.
“Paklik... rumahnya besar banget,” ujar salah satunya.
Purbaya tersenyum tipis, lalu berjongkok sedikit.
“Mau lihat sesuatu?” tanyanya.
Kedua anak itu langsung mengangguk antusias.
Purbaya mengajak mereka ke samping rumah.
“Tuh, ada kolam ikan,” katanya sambil menunjuk.
Airnya jernih, ikan-ikan Koi berenang pelan di dalamnya.
“Waaah!” seru mereka bersamaan.
Belum selesai, Purbaya melanjutkan langkah ke belakang.
“Kalau itu... kolam renang, kalau mau renang silakan.”
Kali ini reaksi mereka lebih heboh.
“Serius, Paklik?! Kita boleh main?” tanya salah satu dengan mata berbinar.
Purbaya tersenyum kecil.
“Nanti ya, jangan sekarang. Istirahat dulu.”
Mereka langsung mengangguk cepat, tapi jelas tidak sabar.
“Seru banget, Ma! Kita besok mau berenang.” teriak mereka sambil berlari kecil kembali ke arah Mbak Rina.
Mbak Rina hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Dasar, lihat air aja langsung heboh.”
Sementara Mbak Ningsih lewat di sampingnya, menepuk pelan lengan Purbaya.
Purbaya menoleh. “Mbakyu keliatan capek?” ucapnya singkat.
Mbak Ningsih mengangguk kecil.
“Iya, sedikit."
“Kalau begitu, sebaiknya istirahat saja, Mbak. Semua sudah diberekan Mbok Sri.”
Tak lama, satu per satu mereka masuk ke kamar.
Suasana rumah yang tadinya sepi... kini berubah ramai.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄