Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Mobil limusin hitam berkilau perlahan memasuki gerbang luas kediaman keluarga Dante. Begitu kendaraan berhenti, seorang pria paruh baya segera melangkah cepat membuka pintu, menyambut majikannya dengan penuh hormat.
"Selamat datang, Tuan Dante." Luis, kepala pelayan yang sudah mengabdi bertahun-tahun, membungkuk dalam, diikuti puluhan pelayan yang berbaris rapi di belakangnya.
Saat Dante turun diikuti sosok yang berjalan di belakangnya, pria tua itu sempat ragu sejenak. "Selamat datang, Nyonya Clark."
Mendengar itu membuat Clark tersenyum tipis. "Halo Paman Luos"
'Kita bertemu lagi..'
Clark berjalan mengikuti Dante masuk ke dalam rumah megah itu. Di sepanjang lorong utama, deretan pelayan masih membungkuk hormat. Namun di antara mereka, pandangan Clark tertahan pada satu sosok yang membuat darahnya mendidih. Wajahnya seketika berubah masam.
Di sana, perempuan yang dulu sering menyiksanya, Elena, masih berdiri tegak seolah tak pernah melakukan kesalahan apa pun.
'Dasar perempuan berhati dua muka. Dulu aku selalu diam saja saat kau merendahkanku, tapi kali ini... kali ini aku takkan membiarkanmu menginjak-injakku lagi,' gerutunya dalam hati.
Karena terlalu sibuk memendam amarah, ia tak sadar bahwa Dante tiba-tiba berhenti melangkah.
BRUK!
"Aduh..." Clark mengusap keningnya yang terbentur punggung lebar suaminya. "Maaf, aku tidak sengaja." Ia segera memasang wajah sedih dan bersalah, berharap Dante tak marah.
Dante menatap keningnya yang sedikit memerah. "Keningmu?"
"Tidak apa-apa, sungguh." Meski baru saja kesakitan, ia tak kuasa menahan senyum lebar saat Dante menatapnya cemas.
Dante tak berkata banyak, hanya kembali berbalik dan melangkah lebih cepat. Clark sempat bingung, namun seketika tersenyum geli saat melihat ujung telinga pria itu memerah padam.
'Dasar pemalu, kau benar-benar menggemaskan,' batinnya. Namun ia segera menguatkan tekadnya. Ini adalah awal yang baru. Ia takkan bersikap ceroboh seperti dulu. Ia akan menjaga sikap, meluluhkan hati suaminya yang dingin itu dengan cara yang berbeda.
Setelah mereka berdua naik ke lantai atas, para pelayan perlahan menegakkan tubuh kembali. Elena mulai berbisik sinis pada rekannya.
"Kalian lihat sendiri kan? Tuan Dante menikahinya hanya karena terpaksa. Dia hanyalah alat untuk melunasi hutang keluarganya. Nanti dia akan diperlakukan tak ubahnya seperti pelayan rendahan seperti kita."
"Pelankan suaramu! Kalau sampai terdengar, bisa habis kita," tegur temannya.
"Memang itu kenyataannya. Lagipula, apa gunanya dia? Dia bahkan hanya alat tukar untuk melunaskan hutang!"
"Terserah kau saja. Aku sudah memperingatkanmu." Temannya pun pergi meninggalkannya.
Elena mendengus kesal, namun tak berani bersuara lebih keras.
Di dalam kamar utama yang luas dan mewah, saat Clark sedang berada di kamar mandi, Dante memanggil Paman Luis. "Suruh seseorang membawakan makanan ke sini."
Meski terlihat dingin dan cuek, sebenarnya Dante sangat perhatian. Ia sadar betul sejak di pesta pernikahan tadi, Clark tak menyentuh makanan sedikit pun. Ia berpikir mungkin wanita itu membencinya karena harus dipaksa menikah dengan pria yang tak ia kenal.
Namun tak ada jalan lain, pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Clark dari keluarga yang tak pernah menganggapnya berharga.
"Aku sudah selesai."
Clark keluar dengan handuk melilit rambut yang masih basah, mengenakan jubah mandi yang diikat asal saja. Pemandangan itu membuat jantung Dante berpacu tak menentu. Wajahnya seketika memerah, dan untuk mengalihkan pikiran yang mulai melayang, ia segera bangkit dan masuk ke kamar mandi tanpa menoleh lagi.
Saat sendirian, Clark duduk di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. "Kau memang mempesona, Clark," gumamnya pelan.
Namun matanya beralih pada deretan perawatan wajah yang tersusun rapi di meja rias. Semuanya masih baru. Ia teringat sifat Dante yang tak pernah peduli pada hal-hal semacam itu. Jika bukan untuknya, lalu untuk siapa semua ini disiapkan?
'Huh.. Dia masih saja perhatian seperti dulu.. makin cinta deh..'
Hatinya terasa sesak oleh rasa haru. Dulu ia selalu berpikir Dante membencinya, padahal pria itu diam-diam sudah menyiapkan segalanya dengan begitu teliti.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭