Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Grand Entrance
Ballroom utama Hartfield adalah definisi dari kemewahan yang bikin sakit mata.
Ribuan lilin menyala di atas lampu gantung kristal raksasa, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang dipoles licin. Dindingnya dilapisi cermin emas, membuat ruangan terasa dua kali lebih luas dan dua kali lebih ramai. Musik orkestra mengalun lembut, waltz klasik yang elegan, mengiringi gemerisik gaun sutra dan denting gelas sampanye.
Di balkon VIP di lantai dua, yang menghadap langsung ke seluruh ruangan, duduklah Grand Duchess Victoria von Hart, Nenek Damian. Dia duduk di kursi berlengan yang menyerupai singgasana, memegang kipas bulu dengan angkuh. Di sebelahnya kosong. Ibu Damian, Duchess Eleanor von Hart, seperti biasa absen karena migrain mendadak.
Nenek Hart menatap ke bawah dengan senyum tipis bangga. Dia mengira malam ini akan menjadi malam kejayaan cucunya. Dia tidak tahu kalau di lantai bawah, cucunya sedang dianggap sebagai Patient Zero wabah kulit menular.
Aku, Bianca, dan Freya berdiri di sudut strategis, dekat meja prasmanan, tentu saja. Kami bertiga memegang gelas sampanye dan Freya dengan jus apelnya, sambil mengamati medan perang.
"Lihat itu," bisik Bianca di balik kipasnya. "Nyonya Danster sedang berbisik pada Countess Meyer. Mereka menatap ke arah pintu."
Aku mengikuti arah pandangnya. Benar saja. Para wanita bangsawan, yang biasanya berdiri anggun seperti patung, kini terlihat gelisah. Mereka saling berbisik, mendekatkan kepala, lalu menutup mulut dengan kipas sambil melirik-lirik ke arah tangga utama.
"Gosipnya sudah menyebar," gumamku puas. "Kerja bagus, Marie."
Tiba-tiba, musik orkestra berhenti sejenak. Konduktor mengangkat tongkatnya. Pintu ganda di puncak tangga terbuka lebar.
Seorang herald (pengumuman) berteriak dengan suara bariton:
"Yang Mulia, Duke Damian von Hart!"
Semua kepala menoleh. Semua percakapan berhenti. Ini adalah momen yang biasanya membuat para wanita menahan napas karena kagum dan para pria menahan napas karena iri.
Damian melangkah keluar.
Dia memakai seragam militer formal berwarna hitam dengan epaulette emas di bahu. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya tampan, dingin, dan tanpa ekspresi. Sempurna. Seperti pangeran dalam dongeng.
Dia mulai menuruni tangga marmer itu, satu per satu, dengan langkah tegap.
Namun, ada yang aneh dengan reaksi penonton malam ini.
Biasanya, saat Damian turun, akan ada desahan kekaguman massal. "Ah, Duke tampan sekali..." atau "Lihat matanya..."
Tapi malam ini? Hening.
Dan heningnya bukan hening kagum. Tapi hening curiga.
Aku melihat seorang Marchioness di barisan depan sedikit memundurkan langkahnya saat Damian lewat. Dia tidak menatap wajah Damian. Dia menatap... kulit Damian.
"Dia terlihat ... pucat, ya?" bisik seseorang di dekatku.
"Kudengar dia menderita penyakit langka," balas temannya. "Alergi air. Katanya kulitnya akan melepuh jika terkena air."
"Ya ampun! Pantas saja dia menyemprot parfum Musk sekuat itu! Untuk menutupi bau..."
"Sst! Jangan keras-keras!"
Damian, yang memiliki pendengaran tajam atau mungkin insting predatornya, merasakan perubahan atmosfer ini. Alisnya berkerut sangat tipis. Dia berhenti di anak tangga terakhir, memindai kerumunan dengan mata birunya yang tajam.
Dia mengharapkan lautan pemujaan. Sebaliknya, dia mendapatkan lautan social distancing.
Orang-orang tersenyum padanya, membungkuk hormat, tapi mereka menjaga jarak aman sekitar dua meter. Seolah-olah Damian adalah pasien karantina yang baru kabur dari rumah sakit.
Dari balkon VIP, aku bisa melihat Nenek Hart mengerutkan kening. Dia memajukan tubuhnya, bingung melihat kerumunan yang terbelah aneh itu. Dia mungkin berpikir orang-orang memberi jalan karena hormat, padahal mereka memberi jalan karena takut ketularan.
Damian melangkah maju menuju kerumunan. Kerumunan itu membelah secara otomatis, memberinya jalan yang sangat lebar.
"Selamat malam, Duke," sapa seorang Baron tua dengan senyum kaku, sambil menahan napas.
Damian mengangguk kaku. Dia terlihat bingung. Biasanya para wanita akan berkerumun di sekitarnya, berebut minta dansa pertama. Tapi sekarang? Para wanita itu sibuk membetulkan sarung tangan mereka, menghindari kontak mata.
"Ada apa ini?" gumam Damian pada dirinya sendiri, tapi aku bisa membaca gerak bibirnya.
Saat itulah matanya menangkap sosok kami di pojok ruangan.
Matanya melewati Bianca (tunangannya), melewati aku (si pembuat onar), dan berhenti tepat pada Freya (burung kenarinya).
Tatapan matanya berubah. Dari bingung menjadi... lapar.
Freya, sesuai latihan, tidak menunduk. Dia mengangkat gelas jus apelnya sedikit ke arah Damian, seolah bersulang. Tatapannya berkata: 'Halo, Bank Berjalan. Utangmu belum lunas.'
Damian terpaku.
Tapi sebelum dia bisa melangkah ke arah kami, Bianca melakukan pergerakannya. Dia menutup kipasnya dengan bunyi TAK! yang keras.
"Waktunya beraksi," bisik Bianca.
Dia berjalan anggun membelah kerumunan, menghampiri Damian. Tidak seperti yang lain, dia tidak menjaga jarak. Dia justru mendekat, menggandeng lengan Damian dengan posesif.
"Selamat malam, Damian," sapa Bianca dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang di sekitar. "Kau terlihat... kering malam ini. Syukurlah."
Orang-orang di sekitar langsung kasak-kusuk. "Dengar itu? Tunangannya sendiri bilang dia kering! Berarti benar dia jarang mandi!"
Wajah Damian berubah bingung. "Apa maksudmu, Bianca?"
"Oh, tidak apa-apa," Bianca tersenyum manis, tapi matanya dingin. "Hanya lega melihat kulitmu baik-baik saja. Aku dengar kelembaban udara malam ini cukup tinggi. Hati-hati, sayang."
Damian semakin bingung. Dia menatap lengannya sendiri, lalu menatap Bianca. "Kelembaban? Apa yang kau bicarakan?"
"Abaikan saja," kata Bianca sambil menepuk lengan Damian dengan sarung tangan tebal yang membungkus tangannya. "Mari kita berdansa. Tunjukkan pada mereka bahwa kau masih bisa bergerak lincah... meskipun dalam kondisi seperti ini."
Damian, yang sama sekali tidak paham konteks "kondisi seperti ini" yang orang lain artikan sebagai 'penyakit kulit parah', hanya menurut. Dia digiring ke tengah lantai dansa oleh Bianca.
Dan saat musik dimulai, aku melihat pemandangan paling lucu sedunia:
Duke Damian berdansa dengan tunangannya, dikelilingi oleh ratusan bangsawan yang menatapnya dengan campuran rasa kasihan dan jijik, sambil diam-diam menahan napas setiap kali Damian berputar ke arah mereka.
Reputasi "Duke Sempurna"? Hancur lebur. Digantikan oleh "Duke yang Baunya Ditutupi Parfum".
Aku mengangkat gelas sampanyeku.
"Cheers," bisikku pada Freya. "Malam ini, kita akan membuat sejarah."