NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Pihak Ketiga / Beda Usia
Popularitas:41.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alana Xaviera merasa seperti sosok yang terasing ketika pacarnya, Zergan Alexander, selalu terjebak dalam kesibukan pekerjaan.

‎Kecewa dan lapar akan perhatian, dia membuat keputusan nekad yang akan mengubah segalanya - menjadikan Zen Regantara, pria berusia tiga tahun lebih muda yang dia temui karena insiden tidak sengaja sebagai pacar cadangan.

‎"Jadi, statusku ini apa?" tanya Zen.

‎"Pacar cadangan." jawab Alana, tegas.

‎Awalnya semua berjalan normal, hingga ketika konflik antara hati dan pikiran Alana memuncak, dia harus membuat pilihan sulit.


‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 : TCB

"Dia ini punya ilmu teleport atau apa. Kenapa suka sekali muncul secara tiba-tiba,"

Wajah Alana nampak tegang, menatap was-was pada Zen yang kini melangkahkan kakinya mendekat dengan menenteng paperbag di satu tangannya. Padahal sebelumnya dia sudah mengingatkan, jika Zen hanya boleh datang disaat dia membutuhkan.

"Aku datang karena disuruh mama untuk mengembalikan ini," Zen mengulurkan paperbag yang dia pegang. "Dress kamu yang ketinggalan dirumah,"

"Sayang, dia siapa?" tanya Zergan. Dia cukup mengenal siapa saja teman-teman Alana, dan dia belum pernah melihat pria yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.

"Ah, dia..." Alana berusaha untuk menutupi kegugupannya, "Dia anaknya teman mama. Tadi pagi aku dan mama main kerumahnya dan kebetulan bajuku basah jadi aku menggantinya dengan baju kakaknya," jawab Alana dengan jujur, dia menerima paperbag dari tangan Zen.

"Pantas saja aku belum pernah melihatnya," ucap Zergan seraya tersenyum, dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Aku Zergan, pacarnya Alana."

Zen menatap tangan itu, seringai tipis muncul diwajahnya. "Aku juga pacarnya Alana."

"Sayang," Alana melingkarkan tangannya cepat di lengan Zergan sebelum Zen sempat menyambut tangan Zergan. Jangan sampai Zen bicara yang macam-macam didepan Zergan.

"Bukankah kamu harus pulang. Besok kamu akan pergi keluar kota, jadi kamu harus istirahat yang cukup." ujar Alana, memaksakan sebuah senyuman diwajahnya supaya Zergan tidak curiga jika dia sedang mengusirnya secara halus.

"Ah, ya," Zergan menggaruk pelipisnya, "Kalau begitu aku pulang dulu, aku pasti akan merindukanmu selama aku diluar kota nanti,"

Pandangan Zergan beralih menatap Zen, "Kamu..."

"Zen. Zen Regantara." ucap Zen memperkenalkan diri.

Zergan mengangguk, menepuk lengan Zen. "Salam kenal, Zen. Tapi maaf aku harus pulang sekarang, masih banyak pekerjaan yang menantiku besok,"

"Aku antar kamu sampai kedepan," Alana meletakkan paperbag itu diatas meja, lalu pergi ke teras rumah bersama dengan Zergan. Sebelum keluar dia menatap Zen sekilas.

Begitu sampai di teras rumah, Alana melihat motor Zen yang terparkir di depan gerbang. Pantas saja dia tidak mendengar ada suara motor masuk ke halaman rumah karena Zen memarkirkan motornya didepan.

"Besok sebelum berangkat aku akan menelfonmu." Zergan mengusap lembut pipi Alana, memberikan kecupan ringan dikening kekasihnya sebelum dia masuk kedalam mobil.

Lambaian tangan Alana mengiringi kepergian mobil Zergan dari halaman rumah tersebut. Setiap kali Zergan meninggalkannya seperti ini, Alana merasakan hatinya kembali kosong dan kesepian.

"Wow, perpisahan yang sangat dramatis," Zen melingkarkan tangannya di pundak Alana, membuat wanita itu terkesiap kaget.

Alana menghembuskan napas kasar, melipatkan kedua tangannya di atas perut. Gara-gara kedatangan Zen yang tidak tepat waktu, dia harus kehilangan momen romantis bersama dengan Zergan.

"Bisa tidak kamu jangan seperti jelangkung, suka muncul tiba-tiba," Alana memprotes dengan wajah kesal.

Zen tertawa, melihat wajah kesal Alana justru membuatnya merasa gemas. "Bukankah harusnya aku yang marah, aku datang bukan untuk melihat pertunjukan romantis kamu dengan pacar kamu yang satu lagi loh."

Alana menoleh cepat, menurunkan tangan Zen dari pundaknya. "Sebaiknya kamu juga pulang, aku mau istirahat!"

Zen menarik tangan Alana saat wanita itu hendak berbalik, melingkarkan satu tangannya di pinggangnya. Mungkin dia belum memiliki cinta yang besar untuk Alana, tapi dia sudah memiliki ketertarikan sejak pertemuan pertama mereka.

Satu tangannya terangkat, menyentuh anak rambut Alana dan merapikannya kebelakang telinga. Sebuah perlakuan sederhana yang mampu membuat Alana terkesima.

"Besok aku jemput, kita pergi nonton." ucap Zen, membuyarkan lamunan singkat Alana.

Zen menurunkan tangannya, melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. "Aku punya waktu senggang dua minggu sebelum nanti aku mulai bekerja di perusahaan papaku. Jadi selama itu aku akan mengajakmu untuk bersenang-senang."

"Istirahatlah, dan jangan lupa mimpikan aku," Zen mengedipkan sebelah matanya.

Alana menahan pergelangan tangan Zen sebelum pria itu sempat berbalik pergi, "Setelah kamu mulai bekerja nanti, apa kamu juga tidak akan memiliki banyak waktu untukku?"

Zen menoleh, mendekatkan wajahnya kearah Alana secara perlahan. Menatap dalam mata Alana yang sedang nunggu jawaban darinya. "Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu dan tidak akan menjanjikan apapun untuk saat ini, tapi nanti kamu akan tahu sendiri jawabannya, Alana."

"Ini sudah malam, aku harus pulang sekarang." Zen menjauhkan wajahnya, kembali berdiri dengan tegak. Satu tangannya terulur menyentuh kepala Alana dan mengacak rambutnya gemas. "Jangan lupa cium aku dalam mimpimu."

Zen berbalik dan meninggalkan teras rumah. Dia melambaikan tangannya pada Alana begitu sudah duduk di atas motor besarnya, memakai helm full facenya dan bersiap untuk melaju pergi dengan mesin motor yang sudah menyala.

Kali ini Alana merasakan sesuatu yang berbeda, saat melepaskan kepergian Zen mengapa rasanya berbeda dari saat dia melepaskan kepergian Zergan tadi. Tidak ada kesedihan, tapi perasaan bahagia yang tidak bisa dia sembunyikan.

-

-

-

Zen menelisik penampilan Alana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tadi pagi Alana menelfonnya dan memintanya untuk tidak datang menjemput kerumah karena tidak ingin mamanya curiga jika dia pergi keluar bersama dengan Zen.

"Kenapa? Apa aku terlihat jelek?" tanya Alana saat Zen menatapnya tanpa minat.

‎Zen hanya terdiam, matanya fokus pada Alana dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Dia mulai melepaskan kancing jaket denimnya, kemudian membungkuk. Satu kakinya menempel di lantai, sementara kaki lainnya membentuk sudut di depan badannya.

‎Tangan kiri Zen menggenggam ujung jaket, sementara kanannya secara hati-hati membungkus bagian pinggang Alana, mengikat ujung-ujung jaket itu sehingga membentuk ikatan sederhana untuk menutupi paha atas Alana yang terekspos karena dress mini yang dikenakannya.

Zen mendongakkan kepalanya setelah dia selesai memakaikan jaket itu. Tak memperdulikan tatapan para pengunjung lain yang sedang menatap pada mereka berdua dan berbisik.

"Aku suka jika pacarku terlihat cantik dan seksi, tapi ada kalanya kamu juga harus memperhatikan penampilan kamu. Jangan memakai pakaian seperti ini jika pergi ke tempat ramai, karena itu bisa mengundang tangan-tangan jahil." Zen kembali berdiri dengan tegak. "Kamu tunggu disini sebentar, aku akan mengantri untuk membeli tiketnya."

Sesuatu yang hangat seperti membungkus hati Alana. Bagaimana Zen memperlakukannya, memperhatikannya, semua itu mulai membuatnya merasakan nyaman saat berada di dekat pria itu.

Tatapannya tertuju pada pria bertubuh tinggi dengan memakai kaos berwarna putih yang sedang ikut mengantri membeli tiket. Seandainya saja Zergan yang memperlakukannya seperti ini, Alana pasti akan merasa sangat senang sekali. Tapi sekarang kekasihnya itu sedang pergi keluar kota dan sedang sibuk dengan pekerjaannya.

"Alana?"

Suara seseorang membuat Alana menoleh. Melihat Cindy, sahabatnya, kini sudah berdiri tidak jauh darinya bersama dengan suaminya.

"Alana, ini beneran kamu?" Cindy berseru, melangkahkan kakinya cepat dan memeluk Alana dengan erat. Dua sahabat yang sudah lama tidak berjumpa itu tertawa bahagia.

Cindy mengurai pelukannya, menatap ke sekeliling seperti sedang mencari keberadaan seseorang.

"Kamu datang kesini dengan Zergan kan?" tanya Cindy.

-

-

-

Bersambung....

1
D_wiwied
tebakanmu bener Al, zergan biang keroknya
Khusnul Khotimah
aduhh kenapa mbak Mina bilang KLO diajak kakaknya Zen.
s moga zergan tidak cari keberadaan zen
markona
ini jg mulut nya mba mina GK bisa semua sekali menyembunyikan sesuatu mulutnya rombeng bgt jangan jangan mba mina ini naksir bgt ke zergan, pecat aj Alana itu pembantu mu mulut GK bisa dijaga, heran dan km Alana pura pura aj GK tau masalah ini ke zergan apa lg NT klu zergan ingin cari tau tentang Zen ke km, disitu lah bisa km curiga,
lia juliati
biarin aja orng jahat kerna karna trus d bayar tunai
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
mana suasana nya mendukung lagi ya zen.berduan,hujan pula.hemmmmmm....
POV setan 😈"lanjutkan, jangan berhenti"


Emang ada yang kamu lewatkan gan degan alias zergan.yaitu tentang kemungkinan terkecil dari setiap kejadian.harusnya,kamu pastiin mayat nya zen.kalo blm lihat dengan mata,kepala,pundak dan kaki.jangan lgsg menyimpulkan Zen udah end.
Resa05
wah ngga sabar nih tungguin cerita selanjutnya
Bunda HB
ART ember mulut e apa2 bilang sama zearga .bilang aja gk tau.art nya pecat aja gk guna. 🤭🤭
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
ingat zergan! siapa menanam, bakal memanenn, jika kamu menanam bunga lateng, jangan harap akan memanen mawar. jadi jangan salahkan zen sama Alana, jika akan mengirimmu masuk hotel prodeo wkwkw
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Awalnya aku cium-ciuman
Akhirnya aku peluk-pelukan
Tak sadar aku dirayu setan
Tak sadar aku ku kebablasan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Dangdutann dulu gaes..Ben tambah semangat goyangnya 💃🤣
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
yaeelahhh zen zen, sudah macam orang kelaparan saja 🤣 Tangan sakit tak menghalangi kegiatan jamah, menyesap dan meremat 🤦‍♀️ yang sakit tangannya penting itunya tak sakit, gass lahhh wkwkw
Khusnul Khotimah
baca bab ini q baca pelan pelan ikut berdebar jantungku....🤭
🔥Violetta🔥: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi...nyanyi sek Ben nggak oleng wkwkwkwk
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™: kita mah anak buahnya Mr crab yang mata duitan 🤣🤣
total 6 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
wah wah wah kamu meremehkan karina..zergan! demi anak, seorang ibu bisa melakukan apa saja. meskipun nyawa taruhannya..jadi jangan main2 dengan sosok yang di panggil ibu.
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
Mereka yang ketemu, aku yang deg-deg serrrrrr. Lana, cerita juga ya, kalo kamu positip.serius dech, doi pasti seneng banget.


Di episode ini aku hawatir sama Karina well.serius, zergan kek psikopat.halalin semua cara buat dapetin keinginannya.
🔥Violetta🔥: Minta didemo si Ntoon 😅😅
total 5 replies
ari sachio
mending nikah scr diam2 dulu dech mereka biar kehamilan al g dimanfaatin zergan.
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
Apa hal pertama yang akan kamu katakan pada Zen Al. "aku kang3n, apa kabar, aku hamil"? apapun itu, selamat ketemu ayah dari anakmu ya.og jadi terharu gini yak.....


Kamu juga lancang zergan, ngurung kayla dan gak boleh ketemu sama ibu nya.
D_wiwied
akhirnya Alana akan bertemu sg Zen, tp ttp hrs waspada sm zergan takutnya dia memata2 i kalian
Zuri
ya mungkin aja lah.. Zen kan punya nyawa 9
Zuri
akhirnyaaa bisa denger suara ayanggg
Zuri
aku... hamil ma.. zen pelakunya🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!