Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Indigo Terpaksa
Miko cukup terkejut melihat gelas di depannya terangkat dengan sendirinya. Pria itu memegang gelas kemudian menariknya turun. Jangan sampai pengunjung lain melihat apa yang terjadi barusan. Bisa-bisa pembeli di kedai nasi goreng ini bubar jalan.
“Sekarang percaya, Pak?”
“Siapa yang mengangkat gelas barusan? Maya?”
“Bukan, namanya Eris. Dia juga makhluk astral.”
“Pacar kamu?”
Mata Eris langsung membulat mendengar Miko menyebutnya sebagai kekasih Nino. Mana mungkin dia tertarik pada berondong penakut seperti Nino. Setali tiga uang, Nino juga langsung bereaksi. Tentu saja dia menyangkal tuduhan Miko.
“Saya masih normal, Pak. Ngapain juga punya pacar tapi ngga bisa dipegang.”
“Jadi kalian berdua indigo?” suara dan sikap Miko mulai melunak setelah melihat atraksi gelas melayang.
“Indigo terpaksa, Pak,” sahut Asep sambil melirik Nino.
“Maksudnya?”
Dengan lancar jaya tanpa hambatan apapun, Asep menceritakan asal muasal Nino menjadi indigo. Setelah itu dia menceritakan mengapa dirinya jadi bisa melihat makhluk astral juga.
Tawa Miko meledak begitu mendengar cerita pemuda itu. Sontak Nino dan Asep saling berpandangan. Sungguh mereka tidak menyangka akan reaksi yang diberikan oleh Miko.
“Bapak percaya ada orang indigo?” tanya Nino penasaran.
“Teman saya juga ada yang indigo, jadi ya saya percaya aja kalau kalian indigo. Tapi untuk kasus Maya, tetap harus ada bukti nyata. Kita tidak bisa asal menangkap orang tanpa bukti.”
“Iya Pak, kita ngerti. Tapi beneran Maya dibunuh Pak Anton. Aku dibawa Maya lihat kejadian pembunuhannya langsung. Jadi kaya reka adegan tapi langsung sama pelaku dan korbannya.”
“Apa Anton tinggal di apartemen itu?”
“Unitnya sudah dialihkan ke orang lain.”
“Kalian tahu dari mana? Dari Maya?”
“Ngga, Pak. Kita tahu dari satpam di sana. Waktu itu kita ke sana atas saran Eris, cari informasi dari makhluk astral yang stand by di sana.”
“Dapat infonya?”
“Boro-boro, Pak. Nu aya kita berdua kabur, soalnya tuh setannya seram banget.”
“Hahaha..”
Kembali terdengar tawa Miko. Tidak disangka berbicara dengan dua pemuda itu justru memberi hiburan tersendiri untuknya.
“Bapak bisa langsung periksa ke unitnya Pak Anton. Siapa tahu masih ada jejak pembunuhan Maya,” Nino memberikan usul.
“Tidak bisa begitu saja datang ke sana. Harus ada surat perintah penggeledahan dan untuk keluar surat itu, harus ada bukti atau saksi yang mengarah ke sana.”
“Satpamnya kenal dengan Pak Anton. Dia juga tahu soal Maya.”
Miko terdiam sejenak. Informasi yang diberikan Nino dan Asep cukup membantu penyelidikannya. Sejak awal dia memang sudah mencurigai Anton. Bahasa tubuhnya terlihat mencurigakan ketika sedang diinterogasi tentang Maya. Ditambah lagi dengan rekaman cctv di belakang gedung fakultas.
“Tapi Pak, yang saya heran, kok Pak Anton nekad sih ngubur Maya di taman fakultas?”
“Karena dia ingin memastikan sendiri kalau tidak akan ada yang menemukan mayat Maya. Hampir setiap hari dia ada di kampus, itu artinya dia bisa terus memantau keadaan taman itu. Tapi ternyata semua tidak sesuai keinginannya. Ada campur tangan Tuhan sampa akhirnya mayat Maya ditemukan di sana.”
Baik Nino maupun Asep menganggukkan kepalanya. Setuju dengan apa yang dikatakan Miko. Kalau hari itu tidak terjadi hujan besar disertai angin kencang, belum tentu mayat Maya berhasil ditemukan. Serapat-rapatnya kita menimbun bangkai, pada akhirnya akan ketahuan juga.
“Kira-kira Pak Anton bisa dimasukkan ke dalam daftar tersangka ngga, Pak?”
“Saya dan rekan saya sedang bekerja keras untuk itu. Kalian baiknya jangan ikut campur lagi. Kalau Anton tahu kalian terlibat dalam kasus ini, bisa jadi nyawa kalian berada dalam bahaya.”
“Maksudnya Pak Anton bakal bunuh kita gitu?”
“Tidak secara langsung. Tapi dia bisa menyuruh orang untuk membunuh kalian.”
Seketika nyali Nino dan Asep langsung menciut mendengar penjelasan Miko. Kompak keduanya langsung menganggukkan kepala. Setuju untuk tidak ikut campur lagi dengan kasus ini.
***
Selesai bertemu dengan Nino dan Asep, Miko tidak langsung kembali ke apartemennya. Pria itu memilih kembali ke kantor. Siapa tahu Iqbal berhasil menemukan petunjuk lain untuk kasus ini.
Ketika Miko tiba di kantor, nampak Iqbal sudah berada di ruangan mereka. Pria itu sedang mengamati secarik kertas berisi gambar hasil sketsa dari informasi yang didapatnya dari pria yang mentransfer uang ke rekening Maya.
“Aku pikir kamu sudah pulang,” tegur Iqbal ketika melihat Miko memasuki ruangan.
“Aku habis bertemu saksi yang menemukan mayat Maya. Apa yang kamu dapatkan?”
“Ini sketsa wajah orang yang memberi perintah untuk melakukan transfer ke rekening Maya.”
Miko mengambil kertas tersebut. Sejenak dipandangi sketsa wajah tersebut. Diperkirakan usia pria itu sekitar lima puluh tahun ke atas.
“Aku sedang mencari tahu orang itu di basis data kepolisian. Siapa tahu ada hasil,” lanjut Iqbal.
“Aku mau mencari tahu soal Anton.”
“Anton? Maksud mu salah satu dosen di kampus itu?”
“Iya. Aku curiga dengannya. Dia terlihat sedkit bersitegang di belakang gedung fakultas. Dia mengatakan hanya membahas soal cuti kuliah Maya. Tapi sepertinya tidak seperti itu. mereka terlihat lebih akrab. Penjual jus di kantin mengatakan kalau ada desas-desus yang mengatakan kalau Maya simpanan Om-om.”
“Maksud mu Maya itu simpanan Anton?”
“Bisa jadi. Makanya kita harus menyelidiki soal Anton. Selidiki juga orang-orang di sekelilingnya. Bukan tidak mungkin pria ini kenal dengan Anton,” ujar Miko sambil memperlihatkan kertas di tangannya.
“Ya, kamu benar.”
Dengan bersemangat Iqbal mulai mencari tahu tentang Anton, begitu pula dengan Miko. Untuk ke sekian kalinya petugas kepolisian itu lembur di kantor demi memecahkan kasus.
Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Miko dan Iqbal masih berada di ruangannya. Keduanya tengah berkutat dengan laptop masing-masing.
“Selain menjadi dosen, Anton juga memiliki usaha lain. Dia memiliki satu lahan bisnis yang di dalamnya terdapat tempat pencucian mobil, mini market dan café,” ujar Iqbal setelah pria itu memeriksa rekam jejak digital Anton.
***
Nah udah mulai diselidiki tuh Anton
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/