Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bayangan Lama di Balik Perlindungan
Fasilitas Rahasia: Kesetiaan yang Tersembunyi
Satu minggu setelah penemuan "Buku Merah" dan pembersihan total dari jaringan Tuan Viktor, Rima dipindahkan ke fasilitas medis rahasia milik Ares. Di sana, ia menerima perawatan terbaik, dan perlahan-lahan kondisinya membaik, meskipun proses pemulihannya akan memakan waktu lama.
Natalie mengunjungi ibunya setiap hari. Hubungan mereka masih canggung—terlalu banyak tahun yang hilang dan terlalu banyak rasa sakit yang harus dihadapi. Namun, Natalie mulai merasakan rasa damai yang aneh.
Suatu sore, Rima, yang kini bisa berbicara beberapa kata dan menulis lebih lancar, memberi isyarat kepada Natalie untuk mendekat.
"Ada yang lain," bisik Rima, suaranya lemah tapi jelas. "Bukan hanya aku yang melindungimu. Ada yang membantuku menghilang."
Natalie mencondongkan tubuh. "Siapa, Bu? Siapa yang berani menghadapi Ayah Ares?"
Rima meraih tangan Natalie, dan dengan susah payah menulis dua kata di papan kecil: "DION. MENYAYANGIMU."
Dion. Nama itu menghantam Natalie dengan kejutan yang jauh lebih personal daripada kejutan tentang Ayah Ares.
Dion adalah seorang pemuda dari lingkungan masa kecil Natalie, sedikit lebih tua darinya. Dia selalu menjaga Natalie di masa remajanya yang kacau, menjauhkannya dari masalah di jalanan. Dion bukan orang jahat, tetapi dia beroperasi di pinggiran dunia gelap, mengerjakan hal-hal kecil untuk bertahan hidup. Natalie tahu Dion memiliki perasaan yang mendalam dan tulus padanya—perasaan yang ia tinggalkan di belakangnya ketika ia memutuskan untuk melarikan diri ke kota besar dan mencari jalannya sendiri.
"Dion? Kenapa dia melakukan ini?" tanya Natalie.
"Dia tahu kau ingin bebas. Dia tidak bisa melindungimu dari Ayah Ares, jadi dia memilih untuk melindungiku agar aku tidak menjadi bebanmu," jelas Rima dengan susah payah. "Dia membantuku menghilang, mengatur tempat tinggal rahasia. Dia menjagaku dari jauh selama bertahun-tahun. Dia... pahlawanmu yang lain, Natalie."
Natalie merasakan gejolak emosi yang rumit: rasa terima kasih yang tak terhingga, rasa bersalah karena melupakan Dion, dan sedikit rasa khawatir tentang reaksi Ares.
Reaksi sang Raja
Natalie harus segera memberitahu Ares. Ini adalah risiko keamanan yang nyata.
Ketika Natalie menyampaikan informasi itu, Ares sedang mengunci semua aset Tuan Viktor menggunakan data dari Buku Merah.
"Dion? Siapa dia?" tanya Ares, nadanya datar, tetapi Natalie bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba.
"Dia... dia seseorang dari masa laluku. Dia bukan ancaman, Ares. Dia hanya..." Natalie mencari kata yang tepat. "Dia orang baik yang terperangkap dalam dunia yang salah. Dia jatuh hati padaku saat kami remaja. Dia melindungi ibuku karena dia mencintaiku."
Ares berhenti bekerja dan menatap Natalie, matanya tajam dan menilai.
"Orang yang mencintaimu dan tahu semua kelemahanmu adalah ancaman, Natalie. Itu adalah aturan pertama di kerajaanku," kata Ares. "Dia adalah variabel yang kuabaikan karena kuanggap kau sudah membakarnya dari hidupmu."
"Dia melindungiku! Dia melindungi ibuku dari Ayahmu! Dia loyal, Ares, loyal padaku," tegas Natalie.
"Dia loyal padamu, ya. Tapi apakah dia loyal padaku?" tanya Ares. "Dia adalah kunci yang membuat Rima tetap tersembunyi. Dia tahu di mana ibumu berada. Jika dia tahu betapa berharganya kau bagiku sekarang, dia bisa menjadi leverage baru bagi musuhku, atau bahkan Tuan Viktor."
Ares berjalan ke Natalie, mengambil kedua tangannya. "Aku menghargai apa yang dia lakukan untuk ibumu. Dan aku akan membalasnya. Tapi aku harus bertemu dengannya, Natalie. Aku harus melihat matanya dan mengukur loyalitasnya. Dan aku harus membuatnya mengerti satu hal: Kau adalah milikku."
Perhitungan Ares
Ares segera mengaktifkan jaringan Rook untuk menemukan Dion. Ternyata, Dion telah menghilang dari lingkungan lamanya sejak Rima dipindahkan ke fasilitas rahasia. Ia cerdas, seperti yang diperkirakan Ares.
Dua hari kemudian, Dion menghubungi Laras, yang kini berada di bawah perlindungan Rook.
Natalie dan Ares memutuskan untuk mengatur pertemuan. Itu bukan hanya pertemuan untuk berterima kasih; itu adalah pertarungan kekuasaan yang halus antara dua pria yang mencintai wanita yang sama.
"Aku akan pergi bersamamu," kata Natalie kepada Ares. "Ini adalah masa laluku. Aku harus mengakhiri ini dengan benar."
Ares mengangguk. "Tentu saja. Kau adalah umpan, Natalie. Umpan yang sempurna untuk melihat apakah kesetiaannya adalah pada masa lalu, atau pada masa depan yang kau miliki di sisiku."
Rook mengatur pertemuan di sebuah kafe sepi di pinggiran kota. Natalie mengenakan pakaian kasual, berusaha tampak seperti dirinya yang dulu, tetapi dengan aura kekuasaan yang tak bisa disembunyikan.
Saat Dion masuk—pria muda yang tampak lelah dengan mata yang jujur—dia langsung melihat Natalie. Ekspresi di wajahnya adalah campuran lega, kekaguman, dan kesedihan mendalam. Ia adalah gambaran masa lalu yang berjuang.
Dion tidak melihat Ares pada awalnya. Ia hanya melihat Natalie.
"Natalie," bisik Dion, namanya terasa seperti kenangan yang menyakitkan di lidahnya. "Kau... kau berhasil. Aku melihatmu di berita."
"Ya, Dion," jawab Natalie, suaranya lembut. "Aku ingin berterima kasih. Untuk ibuku. Kau menyelamatkan hidupnya."
Tepat saat Dion hendak mengatakan sesuatu, Ares muncul dari bayangan, berdiri di samping Natalie. Kehadirannya menguasai ruangan, seperti predator yang memasuki wilayahnya.
"Aku yang akan mengurusnya dari sini, Dion," kata Ares, suaranya tenang, tetapi penuh peringatan.
Perkenalan mereka bukanlah jabat tangan, melainkan pernyataan kekuasaan yang dingin. Natalie tahu pertemuan ini akan menentukan apakah masa lalu Dion akan menghantui masa depannya, atau menjadi sekutu yang tak terduga dalam kerajaan barunya.