NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyemai benih

"Ah.....ya....di sana!"

Mendengar eranganku, Adam membuka mulut dan melahap gunung kenyalku tanpa melepaskan matanya dari mataku.

Pinggulku semakin liar bergerak menggesekan dengan tubuhnya. Seolah mengerti, Adam naik menyambar bibirku agar aku dapat merasakan ereksinya.

"Adam, please!" Aku memohon, hampir menangis karna tak tahan dengan gelombang gairah yang semakin berombak.

Mungkin karna tidak ingin moodku surut, perlahan Adam menegakkan badannya, berlutut diantara kedua kakiku.

Sekilas aku dapat melihat ereksi kebanggannya itu sebelum dia kembali berlabuh ke atas tubuhku. Sempat otakku memikirkan hal bodoh, 'muat tidak?'

Terasa ereksi itu bergesekan pelan dengan titik gairahku dan suara erangan fitrah kami semakin memenuhi ruangan. Kedua tangannya di topang di bawah bahuku. Bibirnya kembali menyerang bibirku, bersamaan dengan itu pinggulku bergerak mengikuti irama pinggulnya.

"Winda..." Suara Adam semakin serak memanggil namaku setelah melepaskan bibirku, dia memandangku dengan mata yang sayu dan aku tahu maksud pandangannya itu.

"Ya... Adam." Namanya kupanggil penuh kasih sambil mengangkat pinggulku agar menyentuh ereksinya.

Adam kembali menunduk dan mengecup bibirku. 1 tangannya turun kebawah, mem-paskan ereksinya dengan pembukaanku.

Lantas kakiku spontan melingkar di pinggangnya, tak sabar ingin merasakan. Dengan satu hentakan, aku menjerit merasakan kesakitan bagai sengatan listrik di bawah perutku.

"Winda." Adam memanggilku cemas, tubuhnya diam terpaku.

Sedang mataku masih terpejam, mengatasi rasa sakit yang menusuk akibat hentakannya tadi.

"Sayang, maaf. Sungguh, saya tidak menyangka kalau sayang masih-"

"Shhh, gak usah minta maaf. Itu hadiah dariku. Sekarang kamu sudah tau kan?" Aku memintas kata-katanya. Mataku sedikit berkabut, melihat matanya yang berkaca.

Adam mengangguk lemah. Ada senyum bahagia kulihat di sana.

"Kenapa kamu tidak memberitahukan ini pada saya? Bukannya kamu bilang sudah tidak virgin? Tapi tadi itu--"

"Karna aku tau, kamu gak akan percaya jika gak ada pembuktian."

"Terimakasih sayang." Lalu Adam mencium wajahku bertubi-tubi. "Jadi sekarang bagaimana? Mau sampai disini atau-"

"Tuntaskan cepat!" Aku merengek sambil menggoyangkan pinggulku.

Adam tersenyum dan mengerang, mungkin merasakan nikmat. Kemudian, perlahan dia melai bergerak turun naik.

"Sakit?" Sempat dia bertanya ketika aku memejamkan mata.

Lantas aku menggeleng dan membuka mata memandangnya yang menanti jawabanku. "Gak, enak malahan. Udah goyang aja."

"Benar, tidak sakit? Kalau sakit bilang ya? Saya bisa-"

"Iiih, bawel! Aku bilang gak sakit. Udah buruan," potongku. Jujur rasa sakit yang kurasa tadi berangsur hilang, di ganti dengan nikmat yang ternyata berkali-kali lipat dari apa yang pernah aku rasakan dulu bersamanya.

Adam pun mulai melakukan apa yang aku mau. Suara kulit beradu seolah jadi musik latar penyatuan kami. Nama Adam silih berganti dalam eranganku. Suara yang tidak pernah keluar dari mulutku, menjadi saksi kenikmatan dari hubungan yang halal ini.

Ketika gelombang kenikmatan datang menggulung, kulilitkan kedua kakiku di belakang bunggungnya. Adam seolah tau aku sedang mengalami klimaks, lantas dia semakin cepat bergerak, dan tidak lama benihnya tersemai. Ereksinya yang masih berdenyut, ku-kemut kuat. Inginkan setiap tetes cintanya terpatri dalam diriku.

Musik latar terhenti. Erangan nafsu terdiam. Yang tinggal hanyalah sisa nafas.

Beberapa saat kemudian Adam berguling kesamping, di hadiahkan ke dadaku beberapa kecupan sambil menghela nafas.

Sumpah, seluruh tubuh terasa lebih ringan menyisakan sengetan elektrik yang menjalar ke setiap sendi, terasa hingga ke tulang.

"Kalau aku hamil kamu tau kan, itu anak siapa?" godaku dengan nafas yang masih tersengal.

Adam yang masih berbaring di dadaku mengangkat kepalanya dan tersenyum.

"Saya sangat sayang kamu, Winda," bisiknya, lalu mengecup bibirku.

"Aku juga sayang kamu, Adam," balasku dan turut mencium bibirnya.

Bahagia, itulah yang kurasa saat ini.

***

"Tumben, pagi-pagi udah datang?" Ana menegurku ketika aku baru melabuhkan duduk di sebelahnya. Kemudian dia menarik daguku kearahnya.

"Eh, tapi tunggu dulu. Wajahmu kenapa, pagi-pagi udah berseri gini. Sebelum ini gak pernah aku melihat wajahmu seperti ini? Biasanya datang pagi selalu badmood? Hayo....habis ngapain?"

"CK! Apaa sih?" rungutku sambil menepis tangannya.

"Cie...cie....marah. Hehe. Tapi sumpah, Win. Pagi ini auramu beda dari biasanya." Ana tak henti menggodaku.

Ah, biarkan saja lah. Nanti juga diam sendiri.

Dering ponsel menghentikan Ana yang masih menggangguku. Segera kujawab panggilan dokter Rina yang menanyakan tentang penggilanku yang tidak di jawabnya tadi malam. Dokter Rina menjelaskan kalau dia baru kembali dari Jepang. Tapi karna khawatir dengan panggilanku yang tak terjawab, makanya dia telepon balik.

"Oh, gak apa-apa dok. Tadi malam hanya ingin klarifikasi sedikit, tapi udah selesai kok," jawabku sengaja tidak menceritakan masalah tadi malam secara detail. Setelah mendengar alasanku, dokter Rina pun mengakhiri panggilan.

"Beb, cerita dong! Kamu udah punya pacar baru ya? Siapa? Rio ya?" tanya Ana sambil menggoyang-goyangkan lenganku.

"Mana ada. Aku aja gak pernah komunikasi dengan dia. Udah lah, jangan sebut lagi nama dia. Karna aku memang gak ada hubungan apa-apa dengan dia," balasku sedikit emosi karna nama Rio di bawa-bawa.

"Tapi si Rio itu kayaknya beneran suka deh sama kamu. Beberapa kali dia pernah nanyain kamu, waktu aku ketemu dia. Kamu gak mau ngasih dia kesempatan?" tanya Ana lagi yang kubalas dengan gelengan kepala.

"Kenapa? Apa karna kamu belum move-on dengan Adri?"

Aku menggeleng lagi. Eh, tapi tunggu dulu. Dari mana dia tahu nama Adri.

Belum sempat aku bertanya, pintu kelas di buka dan masuklah lelaki yang telah berhasil mencuri hatiku.

Pandangan pertamanya di lempar kearahku bersama senyum kecil, lalu berjalan ke mejanya.

"Oke, kalau kamu gak mau cerita gak apa-apa. Tapi aku ada cerita yang ingin kubagi." Ana berbisik pelan.

"Aku rasa, aku dan Adam udah mulai jatuh cinta, tau! Waktu lomba memasak aja dia begitu istimewa melayani-ku. Kayak cuma aku satu-satunya perempuan di acara lomba semalam. Ooh, sweetnya!"

"Good morning, class." Adam menyapa dan tersenyum lebar pada seisi kelas setelah mengeluarkan leptopnya.

"Good morning, Sir!" Riuh suara mahasiswi membalas sapaan Adam.

"Hmm, wajah Adam juga kayak ceria banget?" Ana berbisik lagi di sebelahku.

"Pak Adam. Dengar-dengar Bapak memenangkan penghargaan koki paling populer ya? Selamat ya, Pak." Seorang mahasiswa yang duduk di barisan depan bersuara, di susul teriakan dan siulan oleh teman-teman kelasku yang lain.

"Ya, itu benar. Tapi saya sendiri tidak menyangka akan mendapat penghargaan itu," balas Adam.

"Apakah itu alasan wajah Bapak pagi ini berseri?" Kali ini rekan kelasku perempuan yang bertanya.

Aku menahan diri agar tidak tersenyum melihat pipi Adam berubah kemerahan.

"Win, lihat. Pipi calon cowokku merona," bisik Ana dan tertawa kecil.

Adam menahan tawa sambil memencet batang hidungnya dengan mata di pejam rapat.

"Ayo, Pak, di jawab! Apa karna malam tadi Bapak mengalami malam luar biasa?" Rekan kelasku yang lain ikut bersorak.

Adam membuka mata. Dan ketika pandangannya di arahkan padaku, jantungku terasa di genggam, susah untuk bernafas.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!