Kisah ini menceritakan tentang Kayla Andini Putri, seorang gadis berusia 18 tahun yang
hamil diusianya yang masih muda, akibat perbuatan Om nya sendiri yang bernama Aldo Febrian.
Aldo sendiri sudah memiliki anak dan istri dan ia berhubungan intim dengan Kayla saat kondisinya sedang mabuk.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firchim04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Lagi
Terima kasih atas dukungan kalian semuanya 🙏
Maaf author tidak bisa balas satu persatu komentar kalian, tapi pastinya akan selalu author like untuk semua saran dan juga dukungannya ya 😊
Hari ini author up 2x lagi hehe. Pasti nggak sabar kan ingin tahu cerita selanjutnya?
Langsung saja ya, Selamat Membaca 🌸🌸🌸
...****************...
Kayla tertidur di sofa, setelah pertempuran yang luar biasa banyaknya bersama Aldo.
Aldo masih belum tertidur dan memilih untuk mengelus-elus pipi Kayla sambil menatap wajah Kayla yang sedang tertidur, yang menurut Aldo wanitanya itu sangatlah cantik.
Tidak lama kemudian, Aldo beranjak dari sofa dan mulai memakai pakaiannya. Ia berniat memindahkan Kayla kedalam kamar mereka. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Kayla yang terbalut dengan selimut, kemudian membawanya masuk kedalam kamar.
Setelah membaringkan Kayla di tempat tidur, Aldo memutuskan untuk membereskan kekacauan yang terjadi di tempat kerjanya, kemudian melanjutkan menyiapkan berkas-berkas untuk konferensi pers yang tersisa hitungan jam saja.
Tidak terasa pagi sudah menjelang, Aldo sama sekali tidak tidur semalaman. Ia menghabiskan malamnya untuk bercinta dengan Kayla, sehingga waktu yang tersisa terpaksa harus dilakukannya untuk menyiapkan semua berkas-berkas.
Aldo masuk kedalam kamar dan mendapati Kayla yang sudah menggeliat di atas tempat tidur.
"Selamat pagi, Honey"
Aldo menghampiri Kayla yang masih setengah sadar, kemudian mengecup bibir istrinya.
"Eungg... Bee, kenapa dicium sih? Aku kan baru bangun" kata Kayla, dengan suara berat khas orang baru bangun.
"Nggak apa-apa. Itu ciuman selamat pagi" ucap Aldo.
"Kamu kok nggak ada disamping aku dari semalam? Jangan bilang kamu nggak tidur, Bee"
"Iya memang tidak. Tapi nanti setelah konferensi, aku pulang kesini dan tidur, kamu temenin ya" kata Aldo.
"Nggak, aku mau ke kampus" tolak Kayla.
"Apa? Ke kampus? Nggak boleh. Nanti kamu dijahatin mereka lagi. Kamu pindah kampus aja ya, Han"
"Nggak mau, Bee. Biarkan aku hadapi semua itu, semua sudah menjadi resiko aku. Sekarang aku nggak gampang putus asa lagi kok, Bee. Percaya aku ya" mohon Kayla.
"Kamu yakin?" tanya Aldo, masih ragu.
"Yakin" jawab Kayla dengan cepat.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa langsung pulang ya jangan lari kemana-mana lagi. Aku khawatir dengan kamu dan anak kita" ujar Aldo.
"Iya, Bee"
"Ayo mandi bareng, biar cepat selesainya"
"Nggak mau. Nanti bukannya cepat malah lama lagi. Kamu mending bangunin Revan, Bee. Aku mandi duluan"
Kayla cepat-cepat masuk kedalam kamar mandi masih dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Saat Aldo ingin mencoba masuk, Kayla langsung menutup pintu kamar mandi kemudian menguncinya.
"Honey, kamu jahat banget. Kan cuma mandi bareng doang, aku nggak bakal ngajak gituan kok" kata Aldo, sambil mengetuk pintu kamar mandi berharap dibukakan oleh Kayla.
"Nggak mau, Bee. Aku kapok tadi malam loh. 4 ronde kamu ajak aku. Ingat ada dede bayi loh" sahut Kayla dari dalam kamar mandi.
"Sekali aja lagi, nggak bisa ya?" tanya Aldo, masih berharap.
"Nggak. Nanti malam aja, kalau aku nggak capek"
"Serius, Han?"
"Iya, tapi nggak janji"
"Iya deh. Kamu cepetan mandi ya, aku bangunin Revan dulu" kata Aldo.
"Iyaa"
Aldo memasuki kamar Revan dan membangunkan anak kesayangannya itu. Ya, meskipun Revan bukanlah darah dagingnya, tetapi ia sangat menyayangi Revan seperti anak kandungan sendiri.
Aldo juga sangat bangga dengan Revan, karena dia berbeda dengan anak kecil pada umumnya. Kalau sejak kecil anak lainnya hanya tahu bermain saja, berbeda halnya dengan Revan yang selalu melihat kedua orang tuanya bertengkar sejak masih kecil. Sehingga, cara berpikir Revan lebih dewasa dibandingkan umurnya.
"Revan, jagoan kecil Papa. Ayo bangun dong udah pagi, kan mau sekolah"
"Eungg.. Pa. Udah pagi ya?" tanya Revan, yang masih mengantuk.
"Iya sudah. Ayo bangun dong. Papa mau anterin kamu ke sekolah dan Mami Kay ke kampus. Cepat mandi ya, Papa tunggu di ruang makan"
"Iya, Pa" kata Revan, perlahan mulai beranjak dari kasurnya.
Aldo keluar dari ruangan Revan setelah membangunkan anaknya, kemudian kembali masuk kedalam kamar.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Kayla keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit ditubuhnya.
Aldo yang melihat pemandangan bagus dihadapannya, langsung menelan ludah.
Kayla yang tahu ekspresi wajah Aldo yang seperti ingin menerkamnya saat ini, langsung cepat-cepat masuk kedalam ruang ganti pakaian dan mengunci pintu.
"Loh, Han. Kok dikunci sih?"
"Takut, Bee"
"Takut kenapa?"
"Ekspresi kamu kayak mau nerkam aku. Mending kamu cepetan mandi, Bee. Jangan aneh-aneh, kamu kan ada konferensi pers nggak boleh telat" ucap Kayla.
Yaah gagal deh. Iya juga ya ada konferensi hari ini. Tahan sampai malam Aldo. Batin Aldo di dalam hati.
Dengan langkah gontai ia menuju ke kamar mandi dan mulai mandi.
Setelah berganti pakaian, Kayla langsung menyiapkan pakaian untuk Aldo dan segera turun untuk sarapan.
Aldo, Kayla, dan juga Revan mulai menyantap makanan mereka. Setelah makan, Aldo langsung mengantarkan Revan dan juga Kayla.
"Han, kapan kamu mau ngecek kandungan?" tanya Aldo.
"Hmm..Aku mau buat janji dulu dengan Dokter kandungannya" kata Kayla.
"Oke. Oh iya aku lihat kamu jarang muntah dan ngidam, Han"
"Iya, aku juga heran. Sekarang tuh nggak pernah mual lagi, apalagi minta makan yang aneh-aneh. Apa mungkin karena bayinya suka dekat sama Papanya ya?"
"Mungkin saja. Bagus dong kalau gitu. Nggak perlu repot-repot cari makanan yang aneh-aneh. Cukup dekat dengan aku, udah cukup. Iya kan?"
"Ihh Papa geer" celetuk Revan di jok belakang.
"Anak kecil diam. Ini pembicaraan orang dewasa" ucap Aldo.
"Kalau dewasa, ngapain bicara didepan anak kecil" balas Revan.
"Rasain tuh, Bee. Kamu sih macam-macam sama Revan, dia kan udah ngerti" kata Kayla.
"Iya deh, Papa salah. Maafin ya"
"Traktir es krim baru dimaafin" ujar Revan.
"Oke deh. Demi anak Papa, apasih yang nggak"
Kayla dan Revan tertawa mendengar perkataan Aldo.
Setelah mengantar Kayla ke kampusnya dan Revan ke sekolahnya, Aldo langsung menghadiri konferensi pers.
Sudah banyak awak media yang menunggu kedataangannya dan ingin meliputnya.
Di konferensi itu, Aldo langsung membeberkan semua kebusukan yang dilakukan Andre, kemudian mencabut semua saham yang ia punya di perusahaan Andre.
Di tempat lain, Andre sedang menonton konferensi pers milik Aldo. Ia melemparkan remote ke arah TV hingga membuat TV menjadi pecah. Ia sangat kesal karena sebentar lagi ia akan jatuh miskin kalau semua orang menarik saham mereka dari perusahaannya.
Tasya yang baru saja keluar dari kamar, terkejut melihat laya TV yang sudah pecah.
"Papa kenapa? Kenapa harus dipecahin sih?" tanya Tasya.
"Keluar kamu dari rumah" usir Andre.
"Apa? Kenapa aku keluar?"
"Kamu anak yang tidak berguna. Keluar kamu dari rumah ini" teriak Andre.
"Selama ini aku selalu belain Papa dan selalu ikut kemauan Papa, ternyata ini balasannya? Oke. Sekarang Papa yang angkat kaki dari rumah ini. Karena rumah ini milik Mama dan dibuat atas namaku. Keluar sekarang juga" bentak Tasya.
Andre semakin terlihat frustasi. Niatnya ingin mengusir Tasya, malah dia yang diusir dari rumah.