karya pertama ini sedikit tidak layak untuk di baca, takutnya kalian baca malah jadi pening kepala 😅
"kamu itu hanya istri keduaku, jadi jangan banyak bertingkah"
perasaanku hancur seketika mendengar ucapan suami ku sendiri.
mengapa takdir seolah ingin mempermainkan ku.
apa istri pertama nya tau bahwa suaminya telah menikah lagi, bagaimana perasaan nya kalau tau suaminya telah menikah dengan ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hujan
jam menunjukkan pukul 13.00 matahari sedang terik-teriknya, membuat siapa saja enggan untuk beranjak keluar rumah.
sementara di kamar Danu dan Laras sedang bersantai di atas kasur saling menatap satu sama lain.
"kayanya mas lebih suka sama body kamu yang sekarang, lebih menggairahkan" Danu tersenyum menggoda istri nya.
"mas ih" dengan cepat Laras menutup mukanya karena malu.
Danu membuka tangan Laras yang menutupi wajahnya.
"satu ronde lagi yah" pinta Danu dengan wajah memelas nya.
Laras menggelengkan kepalanya.
"aku cape mas pingin mandi"
"sini mas mandiin" senyuman nakal yang di tampilkan Danu seketika berubah saat Laras mencubit perut suaminya.
"aduuh sakit sayang"
dengan cepat Laras berlari kecil ke arah kamar mandi. belum sampai di kamar mandi langkah Laras terhenti saat Danu memeluknya dari belakang.
"jangan lari sayang, nanti jauh"
"lepas aku mau mandi" Laras berontak dari pelukan Danu saat merasakan bagian bawah Danu yang menegang, takut Danu meminta nya lagi karena Laras merasa sangat lelah padahal Danu baru melakukannya sekali.
saat Danu melepaskan pelukannya, Laras tidak menyia-nyiakan kesempatan emas nya untuk masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
senyum mengembang di wajah Danu melihat tingkah istrinya.
sementara di dalam kamar mandi Laras tengah memegang dadanya karena detak jantungnya yang berdebar. senyum lebarnya pun menghiasi wajah gembilnya.
setelah selesai mandi Laras tidak menemukan Danu di kamarnya. seprai yang terlihat rapi dengan buket bunga mawar di atasnya membuat senyum lebar Laras mengembang saat melihatnya.
Laras membaca kertas yang terletak di samping bunganya.
Indah wajahmu menghiasi hari
Senyum manismu meluluhkan hati
Hari demi hari terasa sepi
Bila tawamu tak mengiringi
Tetaplah menjadi penenang hati
Karena bagiku kau begitu berarti
Ku mohon…
Jangan pernah berniat tuk pergi
Ataupun rasa untuk membenci
Karena ku ingin kau tetap di sini
Menemani…
Menjaga hati yang telah kau kunci
(NB: karya --Abdul Zaelani)
hari ini hati Laras sangat berbunga-bunga karena perlakuan romantis suaminya.
Laras menyimpan kembali bunga nya di atas kasur dan berjalan ke luar untuk mencari Danu.
nampak suaminya dengan rambut basah yang tengah duduk santai sambil menggenggam ponselnya.
segera Laras mengampiri Danu dan duduk di sebelahnya.
"makasih" ucap Laras menampilkan senyum terbaiknya.
mendengar suara istrinya Danu melihat ke arah samping tempat duduknya.
"sama-sama"
"mas sini ikut aku"
lengan Danu di tarik Laras untuk mengikuti nya.
Laras berhenti di garasi dan menunjuk ke arah motor yang terparkir di sana.
"mas bisa bawa motor?"
"bisa" Danu menganggukkan kepalanya.
"aku pingin jalan-jalan naik motor"
"pakai mobil saja ya, siang bolong begini panas" sebenernya Danu malas keluar apalagi memakai motor.
"tapi aku maunya naik motor" wajah berseri Laras kini berubah menjadi murung.
"yaudah tapi nanti sore ya" Danu memberikan senyum. terbaik di wajahnya berharap sang istri mau mengikuti ucapannya.
"maunya sekarang" dengan nada sedikit marah yang di tampilkan Laras tidak dapat Danu bantah.
"oke aku bawa jaket dan kunci dulu" dengan sangat terpaksa Danu mengabulkan permintaan istri cantik nya.
dan siang itu mereka membelah jalan dengan motor matic yang bi bawa Danu, Laras memeluk danu dari belakang.
"kita mau kemana?"
"engga tau, pokoknya aku pingin jalan-jalan aja"
Danu mengangguk faham dan terus melajukan motornya tanpa tujuan.
langit yang siang itu sangat panas semakin berubah menjadi gelap, tidak terasa sore itu mereka pergi terlalu jauh.
"ini udah sore kita pulang yah"
"tapi aku masih mau jalan-jalan" Laras nampak lesu saat suaminya minta pulang.
"tapi ini mendung ras"
dengan sangat terpaksa Danu tetap mengikuti keinginan istrinya.
selang lima belas menit hujan turun dengan derasnya. Danu memberhentikan motornya dan meneduh di halte bus.
Laras melihat ke arah Danu yang terlihat kesal. Laras tidak berani berbicara sepatah kata pun.
tidak sedikit orang yang meneduh di halte itu, bahkan mereka berdesakan tidak ingin kecipratan air hujan. Danu melihat Laras tidak nyaman di sana.
"ini keinginannya maka terimalah" batin Danu.
sudah setengah jam mereka menunggu hujan reda, tapi sepertinya hujan sedang tidak ingin bekerjasama.
Danu membuka Jaket yang ia kenakan, dan memberikan nya pada tubuh Laras yang sudah kedinginan.
meskipun sedang marah tapi perhatian Danu pada Laras tidak hilang.
"makasih mas" namun Danu tidak menjawab ucapan terimakasih dari Laras.
Laras tahu betul kalau suaminya marah padanya. Laras terus menundukkan wajahnya tidak berani walau hanya menatap suaminya.
mobil hitam milik Danu berhenti di halte, tidak lama keluar supir Oma membawa payung untuk Laras dan Danu.
keheningan pun terjadi di dalam mobil, baik Danu atau pun Laras tidak ada yang membuka suara sedikitpun.
setelah sampai di rumah mereka berganti pakaian dan naik ke atas kasur.
Laras memegang tangan Danu.
Danu hanya melirik sekilas dan kembali menatap tv di depannya.
"mas aku minta maaf karena tidak mengikuti ucapan mas" ucap Laras dengan penuh penyesalan yang terlihat jelas dari wajahnya.
"hmmm" sesingkat itu jawaban mas Danu, dia benar-benar marah seperti nya.
mas Danu terus mendiamkan aku seharian, aku yang terus mengikuti mas Danu seperti tidak terlihat olehnya dia acuh sekali padaku.
bahkan saat kami tidur mas Danu memunggungi ku, aku menggoyangkan lengannya perlahan namun tidak berbalik atau berkata apapun. aku menyerah dan mencoba untuk tidur.
"aku tidak mungkin terus menerus mengabulkan permintaan mu yang di luar batas, aku tidak ingin kamu dan anak ku kenapa-kenapa, ini peringatan agar kamu mau mendengar ucapan ku dan mengikutinya dengan patuh" batin Danu.