Isabella, seorang wanita yang dihadapkan pada perceraian mendalam dengan suaminya—Justin, merasakan pukulan takdir yang lebih kuat saat perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Sementara itu, menghilangnya Mama, Papa, dan Kakaknya secara tiba-tiba membuat Isabella terjebak dalam kebingungan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, Isabella kembali ke negaranya dengan harapan baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan suaminya—Justin. Pertemuan ini memicu pertanyaan sulit: Akankah mereka berdua mampu melihat melampaui masa lalu mereka yang penuh dengan perasaan yang tidak selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi itu Isabella terbangun dengan tubuh yang sedikit lemas, dia lupa tidur lebih awal karena terlalu asyik mengobrol dengan sahabatnya. Padahal pagi itu adalah hari pertama dia bekerja di Girald Group.
Isabella tidak boleh datang terlambat karena itu akan mengurangi penilaian atasan terhadap dirinya. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, selang beberapa belas menit ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat segar.
Isabella memakai baju kerjanya dan menyisir rambut di depan cermin. Sedikit memainkan ekspresi wajahnya agar tidak kaku saat sampai di perusahaan. Setelah di rasanya sudah cukup baik, Isabella berjalan keluar kamar dan pergi untuk membangunkan David. Bocah itu masih tertidur pulas dengan posisi yang sudah tak beraturan, mungkin memang sudah menjadi sifat dasar anak kecil yang tak bisa tidur dengan tenang.
"Sayang ... ayo bangun, ini sudah pagi. Jangan jadi pria yang malas, kamu harus mandi dan sarapan." Isabella menarik selimut yang sudah melilit tubuh anaknya. Pria kecil itu sedikit membuka matanya dan bergumam seperti layaknya orang yang baru saja bangun tidur.
Saat dapat di pastikan kalau David sudah bangun Isabella beranjak dan pergi ke ruang makan untuk sarapan. Belum sampai di sana saja aroma makanan telah menghiasi seisi rumah. Makanan sudah lengkap di atas meja dengan uap yang masih terlihat jelas.
"Selamat pagi ..." sapa Rissa sambil tersenyum.
"Pagi ..." Isabella membalas senyuman Rissa dan segera duduk mengambil posisi makan. Sudah menjadi kebiasaan Rissa yang mempersiapkan segala macam kebutuhan Isabella saat wanita itu mulai bekerja. Dia juga mendapatkan bayaran dari Isabella dengan mengurus rumah.
"Aku berangkat ya, Rissa ..."
Terlihat David baru saja keluar dari dalam kamarnya seperti orang linglung yang tak tahu arah tujuan. Ia berjalan menuju meja makan mencari sumber dari aroma lezat yang menggerakkan tubuhnya, bahkan bocah itu tak sadar jika telah lewat di samping Isabella.
Isabella menghela nafas pelan. "Dasar anak ini, ada-ada saja kelakuannya," gumamnya sambil tersenyum kecut.
Isabella memesan driver online agar lebih cepat sampai di perusahaan, dia tak mau membuat penilaian buruk saat hari pertama bekerja.
"Mbak, Isabella ...?" tanya pria yang mengenakan jaket khusus berlambangkan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa antar.
"Iya, benar. Ayo langsung ke tujuan ya, saya sudah terlambat."
"Oh, baik Mbak."
***
Di depan bangunan besar yang tidak lain adalah perusahaan tempat ia bekerja, Isabella turun dari kendaraan dan membayar jasa antarnya.
"Terima kasih, Pak."
Isabella tersenyum kemudian melangkah masuk ke dalam perusahaan dengan langkahnya yang begitu anggun. Isabella harus bertindak profesional saat dalam pekerjaan dengan begitu orang-orang takkan memandang rendah dirinya dan malah mungkin akan berdecak kagum.
"Bersiaplah kalian semua akan tersingkirkan oleh ku ..." gumam Isabella tergelak pelan.
Pintu masuk perusahaan terbuka otomatis seolah menyambut kedatangannya. Isabella berjalan dengan pandangan ke depan dan dagu yang sedikit naik ke atas. Membuat dirinya mendapatkan kesan yang arogan namun juga profesional. Beberapa pasang mata mulai mencuri pandangan terhadapnya.
"Heh, ini baru yang namanya pesona ..." Isabella menyunggingkan senyuman percaya diri.
Ia berjalan menuju tempat resepsionis untuk mendapatkan beberapa informasi yang ia butuhkan. Kemarin setelah menandatangani kontrak, Isabella tak diberitahukan di bagian mana dirinya harus bekerja, karena itulah dia ingin meminta beberapa petunjuk pada wanita resepsionis itu.
"Pagi ...." sapa Isabella mencoba untuk tersenyum.
-
-
-
-
-
***
BERSAMBUNG..............
kalau author berani melakukan itu, aku benar salut pada author
adek g da ahlak lah..
dan knpa justin punya feeling semacam itu ya??