Spin off Hati Untuk Arya
.
.
Ari putra wongso, mencintai seorang perempuan bernama Karina, namun tanpa sepengetahuannya sang kekasih mencintai sahabatnya sendiri. Ari selalu merasa Karina tak mencintainya,namun ia memilih bertahan dan berharap Karina akan mencintainya. Namun di penghujung jalannya ia menemukan sebuah jalan buntu. Rasa percaya dirinya runtuh karena takut tak bisa membahagiakan orang yang ia cintai.
Sementara Airil Karina Yatri menantang Ari untuk melangkah ke jalan yang serius, ia berjanji akan mencintai Ari setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Namun Ari gugup untuk melangkah, tak yakin cinta bisa tumbuh semudah Karina mengatakannya.
Kehadiran seorang janda bernama Vanessa aulia putri memberi warna berbeda bagi laki-laki yang tengah dilanda rasa kesepian karena mengakhiri hubungannya dengan Karina. Kedewasaan Vanessa membuat Ari begitu nyaman dengannya.
Siapakah yang akan menjadi penghujung hati Ari? sang kekasih Karina atau sang janda Vanessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catatan kecil di sudut buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Arbi menatap datar pintu lift yang membawanya ke lantai 3, tempat ruangan Ari berada. Baru saja pintu lift terbuka, ia sudah melihat orang yang ia cari. Ari sudah berdiri di depan lift dengan membawa tas kerjanya. Sedikit aneh bagi Arbi, karena tak biasanya Ari pulang di jam kantor yang belum selesai.
“lo mau kemana? ketemu klien?” tanya Arbi saat keluar dari pintu lift.
“survey projek bentar” jawab Ari dengan singkat. Ia segera masuk ke dalam pintu lift, namun Arbi dengan cepat menarik tangan Ari hingga Ari keluar dari lift tersebut.
“apaan sih” rutu Ari seketika.
Beberapa saat kemudian pintu lift tertutup kembali, membuat Ari semakin mengumpati tindakan Arbi. “lo mau apa sebenarnya?”
“gue mau bahas kerjasama untuk projek di Filipina,” jawab Arbi.
“besok aja lah, gue lagi buru-buru nih," jawab Ari sembari memencet tombol lift lagi.
“kenapa sih lo? buru-buru amat kayaknya”
“ini masalah depan gue, lo jangan ikut campur,” jawab Ari dengan ketus
“ohh, Karina ya,” Sindir Arbi.
Ari diam tak menjawab, membuat Arbi sesekali menyentil pundak Ari untuk menggodai sahabatnya itu.
“lo urus aja Anjani sana, jangan ikut campur urusan gue,” jawab Ari dengan ketus.
Arbi tersenyum satir kepada Ari, saat lift terbuka mereka sama-sama masuk ke dalam lift.
Ari segera menuju mobilnya dan mengendarainya dengan cepat menuju restoran Tomy. Sesekali ia mengumpat kepada Arbi. Ia sudah mulai belajar melupakan Karina, tapi tadi Arbi malah mengumbar nama itu lagi di depannya.
‘Rin, kamu apa kabar? apa kamu sudah bahagia dengan laki-laki itu, doakan juga aku bahagia dengan pilihanku kali ini, Rin’ Ari membatin dengan sendu.
Kecepatan mobilnya ia tambah, dengan cepat Ari membelah jalanan ibukota menuju restoran Tomy. Saat Sampai di lokasi tersebut, Ari segera memakirkan mobilnya di dekat mobil Vanessa.
Melihat mobil hitam Vanessa saja, ia sudah merasakan kegugupan. ‘ahh, apa secepat ini aku jatuh cinta’ batin Ari mengumbar senyumannya.
Namun senyuman itu tak bertahan lama, adalah sosok Abel yang berdiri berkacak pinggang sembari menatap tajam kepadanya di depan ruko tersebut. Ari melangkah pelan membalas tatapan Abel dengan datar.
'itu Tomy makan apa sih dia, betah amat sama anak yang satu ini' batin Ari mengabaikan Abel yang masih melihat kesal kepadanya.
Ia kemudian mengalihkan penglihatannya ke arah pekerja yang masih sibuk bekerja mengikuti arahan Sari. “mau apa kamu kesini?” tanya Abel dengan nada geram saat posisi mereka sudah dekat.
“mau ngorok,” jawab Ari dengan asal.
Abel seketika saja mendengus kesal dengan jawaban Ari, ia melotot tajam ke arah Ari yang masuk ke dalam rukonya. Ari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mencari sosok Vanessa disana.
Namun tidak ia temukan. Ari kemudian masuk ke dalam lagi, hanya pekerjanya yang ada disana. Beberapa diantara mereka memberi hormat kepada Ari.
Ari langsung naik ke lantai 2, disana ia melihat Tomy tengah berbicara dengan Vanessa, beberapa pekerja juga terlihat bekerja di lantai 2 tersebut. Ari mendekat dan menyapa Tomy dan Vanessa dengan ramah.
“apa kalian sedang membicarakan sesuatu yang penting? gue ganggu nggak?” tanya Ari dengan pelan.
“nggak Ri, ini cuma bahas masalah interior disini aja” jawab Tomy.
Ari mengangguk pelan, ia lihat ke arah Vanessa yang membuang muka darinya, “ohh, Tom” Ari bergumam.
“lo coba bilang sama Abel agar jangan galak lagi sama gue, gue benar-benar nggak nyaman” ucap Ari mencoba menggiring Tomy untuk meninggalkannya bersama Vanessa.
“Abel kan emang kayak gitu orangnya, lagian lo sih, dari awal udah buat masalah sama dia” ucap Tomy dengan seadaanya.
“iya, lo bilang dulu sana, entar gue nggak bisa turun lagi jika dia masih seperti itu" kilah Ari.
“biar aku aja yang bilang Ri” sambar Vanessa seketika, ia berjalan ke arah tangga dengan cepat. Membuat Ari mengusap tengkuknya karena kebingungan. Malah Vanessa yang turun, bukan Tomy.
“lo kenapa?” tanya Tomy yang bingung dengan tingkah Ari.
“tahu ah, lo jadi teman nggak peka amat sih” umpat Ari dengan kesal. Dahi Tomy seketika berkerut bingung.
Ari berjalan menuju balkon lantai 2, tangannya masih memegang dokumen proposal projek dr. Arfi untuk Arya. Padahal dokumen itu sudah siap menjadi modusnya, tapi malah gagal total.
Tomy menautkan alisnya, ia malah bertambah bingung dengan sikap Ari, "wahh, udah gila nih anak, pasti stress karena putus sama Karina" gumam Tomy sembari menggeleng pelan melihat punggung Ari.
Pandangan Ari menatap penuh langit sore yang mulai menguning. Kesibukan jalan raya semakin jelas terdengar. Namun suara Vanessa yang pamit karena hendak pulang mengagetkannya. Ari melihat ke arah halaman ruko. Terlihat Vanessa berjalan ke arah mobilnya.
Ari tersentak, ia lekas turun ke bawah dengan cepat. Melewati Tomy yang masih melihat para bekerja merapikan lantai 2. Lagi, Tomy menggeleng dengan tingkah sahabatnya itu."benar-benar nggak waras nih anak" gumam Tomy pada tingkah Ari.
Vanessa yang tengah sibuk merapikan tas yang ia bawa, ia sedikit kaget mendengar pintu jendela mobilnya diketok. Vanessa melihat ke arah jendela mobil tersebut.
Dengan cepat kaca jendela itu diturunkan Vanessa, menghadirkan senyuman hangat Ari disana. "kenapa Ri?" tanya Vanessa seolah tidak pernah terjadi apa-apa dengan mereka.
Ari memberikan dokumen yang ia pegang. "aku titip ini buat Arya ya Nes" ucap Ari dengan ramah.
"ohh, ok Ro, nanti ku kasih sama Arya"
Vanessa mengambil dokumen itu dan menyalakan mobilnya.
"buru-buru amat Nes, padahal aku baru datang" gumam Ari dengan pelan, menyiratkan rasa kecewanya.
"aku rasa kamu tahu masalahnya Ri"
"karena aku ada disini?" tanya Ari.
Vanessa masih mengunci pintu mobilnya, tangannya juga hendak ingin menutupi jendela itu lagi dengan tombol yang ada di pintu kemudi.
"aku harus buru-buru pulang Ri, nggak enak pergi lama-lama, Mila kan lagi hamil, kakek juga perlu aku untuk menemaninya, aku nggak mau ego sama kepentingan ku sendiri saja" ucap Vanessa yang masih berusaha menghindari Ari.
Karena kejadian sore kemarin, sikap Vanessa terlihat kaku. Ia merasa canggung dekat dengan Ari. Dan yang jelas adalah ia merasa gugup dan jantung berdegup melihat Ari ada di dekatnya.
"ok Nes, sekarang kamu boleh pergi dariku, tapi aku nggak akan nyerah Nes" Ari bergumam pelan. Ia kemudian menjauh dari mobil Vanessa. Dengan berat hati, ia melepas gadis itu untuk pulang.
"Nes apa yang kamu ragukan dariku? apa kamu masih menyimpan ketakutan karena hubungan mu dan Irman sangat menyakitimu?" ungkap Ari pada dirinya sendiri. Membayangkan rasa sakit Vanessa akibat kebohongan Irman atas tes kesuburan itu seketika melintas di pikirannya.
"aku akan ubah semuanya jadi senyum kebahagiaan kita Nes, kita, aku dan kamu" gumam Ari lagi. Mobil Vanessa telah menghilangkan di antara banyak kendaraan di jalanan. Meninggalkan Ari yang masih terpaku memikirkan semua dugaannya kepada Vanessa.
"ngapain kamu jadi patung disana" teriak Abel kepada Ari. Teriakan yang memecahkan lamunan Ari.
ahh, nih anak, paham situasi nggak sih' umpat Ari memutar badannya, ia melihat penuh geram kepada Abel yang berwajah ketus melihatnya.
apalagi Karina yang katanya didikan agama nya lebih dari Ari
dan itu sangat jarang...