Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Motor Arjun melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai ramai di pagi hari. Angin sejuk bertiup lembut, menyapa wajah kami dan membuat ujung selendang di bahuku berkibar pelan. Aku duduk manis di belakang punggungnya, memeluk pinggangnya dengan erat, merasakan kehangatan dan rasa aman yang selalu dia berikan.
Dari posisiku duduk, aku bisa melihat dengan jelas keserasian warna baju kami berdua: Arjun dengan kemeja biru dongker dan celana kremnya, aku dengan baju kurta biru dongker bersulam emas dan celana krem yang sama persis warnanya. Rasanya kami seperti pasangan yang dibuat serasi oleh takdir itu sendiri.
Rambutku yang kusanggul rapi di balik helm membuatku tetap nyaman, tidak terganggu oleh angin, dan aku senang sekali Arjun sangat memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Di kakiku, terdengar suara gemerincing halus dari gelang Payal pemberiannya, bunyi kecil yang seolah jadi irama pengiring perjalanan cinta kami.
"Kita mau ke mana sih, Jun? Gak mau ngasih tau terus dari tadi," tanyaku penasaran sambil sedikit mendekatkan bibirku ke telinganya agar suaraku terdengar di antara deru mesin motor.
Arjun tertawa renyah, suaranya terdengar bahagia. Dia memiringkan kepalanya sedikit ke belakang, menatapku sekilas dengan senyum jahil namun penuh kasih sayang.
"Sabar dikit lagi ya, Sayang. Nanti juga sampai. Tempat yang aku pilih hari ini pas banget buat kita. Cocok sama penampilan kita yang serasi gini, cocok sama suasana hati aku yang lagi paling bahagia sedunia karena udah dikenalin resmi sama orang tua kamu tadi," jawabnya santai namun penuh makna.
Aku tersenyum sendiri mendengarnya. Benar juga, rasanya beban berat di dada Arjun hilang sepenuhnya setelah percakapan hangat dengan Ayah dan Ibu tadi. Dia terlihat jauh lebih ringan, lebih bebas, dan lebih bersemangat dari biasanya.
Tak lama kemudian, motor Arjun mulai berbelok masuk ke jalanan yang lebih sepi, rindang, dan asri. Pohon-pohon besar berjejer di pinggir jalan, memberikan naungan sejuk. Tak lama kemudian, terlihatlah gerbang besar dengan tulisan Taman Wisata Budaya.
Tempat itu cukup terkenal di kota kami, tempat di mana berbagai budaya dan tradisi dipamerkan dalam bentuk bangunan, taman, dan pameran seni.
"Ini loh tujuannya, Ra," kata Arjun sambil mematikan mesin motornya tepat di tempat parkir.
Dia turun lebih dulu, lalu dengan sigap membantu menurunkan tanganku dan membukakan helmku dengan hati-hati.
"Kita ke sini? Wah, bagus banget tempatnya, Jun," seruku takjub sambil melihat sekeliling. Tempat ini memang indah, penuh warna, dan kental nuansa seni serta tradisi.
Arjun tersenyum bangga, lalu menggenggam tanganku erat. Jemarinya yang hangat menyelip di sela-sela jemariku, menggenggamnya seolah tak mau melepaskan barang sedetik pun.
"Iya. Aku sengaja ajak ke sini. Soalnya tempat ini banyak banget nuansa yang mirip sama tempat asal aku, banyak banget hal yang ngingetin aku sama rumah nenek di India sana. Dan aku pengen... makin kenalin semuanya ke kamu. Aku pengen kita jalan di tempat yang penuh budaya, pakai baju yang bernilai budaya juga, berdua aja, menikmati waktu kita yang udah direstui penuh sama orang tua," ucapnya lembut sambil menatapku dalam.
Kami pun masuk ke dalam kawasan taman itu. Suasana di dalamnya sangat indah. Ada bangunan-bangunan bergaya khas India dengan kubah-kubah kecil, ukiran rumit, dan warna-warna cerah yang mencolok seperti merah, kuning, dan emas. Ada juga taman bunga yang rapi, air mancur, dan jalan setapak berbatu yang asri.
Banyak pengunjung yang menoleh ke arah kami. Bukan cuma karena Arjun yang tampan dengan kulit sawo matangnya dan ciri khas keturunannya, tapi juga karena kami berdua terlihat sangat serasi. Baju kami yang senada biru dongker dan krem, ditambah gaya bajuku yang kental nuansa India, membuat kami terlihat seperti pasangan yang indah, anggun, dan menyatu. Arjun terlihat sangat bangga, dia berjalan tegak, menggenggam tanganku erat, sesekali melirikku dengan senyum puas.
"Kamu tau, Ra..." bisik Arjun saat kami berhenti di depan sebuah bangunan kecil bergaya kuil dengan ukiran bunga yang indah.
"Pas aku lihat kamu tadi pagi di rumah, keluar pakai baju kurta ini, warnanya sama persis sama aku, rambut disanggul rapi, cantik banget... jantung aku rasanya mau meledak saking senangnya. Rasanya pengen teriak ke seluruh dunia kalau kamu itu pacar aku, kalau kamu itu milik aku, dan kalau kita pasangan paling serasi sedunia."
Aku tersipu malu, wajahku memanas mendengar pengakuannya yang tiba-tiba dan manis itu. Aku memukul pelan lengan kekarnya.
"Ah kamu jangan gombal deh, bisa aja ya ngomongnya," kataku sambil menunduk malu, tapi senyum bahagia tak bisa kutahan dari bibirku.
Arjun tertawa, lalu mengangkat tangan yang menggenggam tanganku, mengecup punggung tanganku dengan lembut dan hormat.
"Bukan gombal, Ra. Itu beneran. Kamu tau nggak, di budaya kami, pasangan yang pakai warna serasi itu dianggap simbol persatuan, simbol kalau hati dan tujuan kalian itu satu. Dan hari ini, kamu secara sadar atau enggak, udah ngelakuin itu. Kamu udah nyatu sama aku, nyatu sama asal-usul aku, nyatu sama hati aku."
Dia menunjuk ke arah baju yang kupakai.
"Baju kurta yang kamu pakai itu, Ra... itu baju yang biasa dipakai wanita di sana buat jalan-jalan, buat acara santai tapi tetap ingin terlihat sopan dan cantik. Aku senang banget kamu mau pakai itu. Senang banget kamu mau ngertiin aku, mau masuk ke dunianya aku. Itu lebih mahal dari apa pun hadiah yang bisa aku beli buat kamu."
Kami pun berjalan kembali menyusuri jalan setapak, menikmati pemandangan indah. Arjun menjadi pemanduku. Dia menjelaskan satu per satu hal yang kami lihat. Dia menjelaskan arti ukiran, arti warna-warni bangunan itu, cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan tempat-tempat serupa di negaranya, hingga makna di balik tanaman-tanaman yang tumbuh di sana.
Setiap kali ada tangga atau jalanan yang sedikit berbatu, Arjun selalu lebih dulu berjalan di depan, lalu memapah tanganku atau memegang lenganku agar aku tidak terpeleset. Dia sangat berhati-hati, sangat menjagaku, persis seperti janjinya tadi pagi di depan orang tuaku. Dia memastikan aku nyaman, aku aman, dan aku bahagia.
Tengah hari, kami duduk beristirahat di sebuah bangku panjang di bawah pohon rindang yang ada di pinggir danau buatan. Air danau itu tenang, memantulkan bayangan langit biru dan awan putih. Arjun mengeluarkan bekal yang dia bawa dari rumahnya sendiri. Ada nasi rempah, acar, dan dua kotak minuman manis yang segar.
"Makan dulu ya, Sayang. Biar kuat jalan-jalan lagi," katanya lembut sambil membuka wadah itu. Dia mengambil sedikit nasi, lalu menyodorkan sendok itu ke bibirku.
"Ayo dibuka mulutnya, aku mau suapin dulu pacar aku yang cantik ini."
Aku tertawa kecil, menurut saja dan membuka mulutku. Rasanya lezat sekali, berbumbu kental khas masakan rumahnya, hangat dan nikmat.
"Enak kan? Ini resep andalan Ibu aku. Beliau juga senang banget pas aku bilang hari ini aku mau jemput kamu dan kenalin ke orang tua kamu. Beliau sampe bilang, 'Wah, akhirnya Arjun bawa pulang bidadarinya,'" cerita Arjun sambil terkikik geli.
Wajahku makin bersemu merah.
"Ih, Ibu kamu bisa aja ya ngomongnya."
Arjun menatapku lekat-lekat, senyumnya perlahan menghilang berganti tatapan yang lebih dalam dan serius namun tetap lembut. Dia meletakkan sendoknya, lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya yang kasar namun hangat.
"Ra, serius deh... hari ini hari paling bahagia dalam hidup aku. Dua hal terbesar yang aku tunggu akhirnya kejadian. Satu, aku udah resmi jadian sama kamu. Dua, hari ini aku udah kenalan sama Ayah sama Ibu kamu, dan mereka restui kita. Ditambah lagi jalan-jalan sama kamu, lihat kamu cantik banget pakai baju serasi sama aku... rasanya aku nggak minta apa-apa lagi sama Tuhan. Aku udah punya segalanya."
Matanya berbinar, ada kilatan haru di sana.
"Aku tau dulu kamu takut, dulu kamu ragu. Tapi lihat sekarang ya, Ra... lihat kita sekarang. Kita berhasil ngelewatin semuanya. Kita berhasil bikin rasa sakit jadi rasa bahagia. Dan aku janji... momen indah kayak gini bakal makin banyak lagi. Akan ada jalan-jalan lagi, akan ada kenalan sama orang tua aku nanti, akan ada cerita-cerita baru, makanan baru, tempat baru... semuanya bakal kita lakuin bareng-bareng."
Aku menatap wajah tampannya, menatap mata indahnya yang selalu jujur padaku. Aku merasakan betapa besarnya cinta laki-laki ini padaku. Dia bukan cuma mencintaiku, tapi dia menghargai, dia menjaga, dan dia mempersatukan kami dalam segala hal.
Aku mengangguk pelan, air mata bahagia menggenang di pelupuk mataku. Aku memegang tanganku di atas tangannya yang masih bertengger di pipiku.
"Makasih ya, Jun... makasih udah sabar, makasih udah berjuang, makasih udah bikin aku ngerasain apa itu cinta yang beneran. Aku juga ngerasa hal yang sama. Rasanya aku jadi cewek paling beruntung sedunia bisa dipacari sama kamu, bisa dihargai sama kamu, bisa dikasih tau semuanya soal kamu sama budaya kamu. Aku bangga banget jadi pacar kamu, Jun. Bangga banget kita serasi kayak gini, bangga banget dikenalin ke mana-mana sama kamu."
Arjun tersenyum lebar, senyum paling indah yang pernah kulihat. Dia perlahan mendekatkan wajahnya, lalu dengan sangat lembut dan sopan, dia mengecup keningku lama dan penuh makna. Sebuah ciuman tanda kasih sayang, perlindungan, dan janji setia.
"Terima kasih juga udah mau jadi milik aku, Sayang. Kamu rumah aku. Kamu kebahagiaan aku."
Siang itu berlalu dengan begitu indah. Kami menghabiskan waktu berjam-jam di taman itu, berjalan bergandengan tangan, tertawa, berfoto berdua di depan bangunan-bangunan cantik dengan penampilan kami yang serasi dan anggun. Setiap kali kami berjalan melewati cermin atau kaca, kami selalu berhenti sebentar hanya untuk melihat betapa serasinya kami berdua. Arjun selalu saja bangga, selalu saja memuji penampilanku, selalu saja bilang aku cantik luar biasa.
Menjelang sore, saat langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, kami pun bersiap pulang. Di perjalanan pulang, aku memeluk pinggang Arjun lebih erat dari sebelumnya, menyandarkan kepalaku di punggung lebarnya, menikmati angin sore dan kebahagiaan yang meluap-luap di dada.
Hari ini sempurna. Mulai dari diperkenalkan secara resmi, mendapatkan restu orang tua, jalan-jalan ke tempat indah, sampai tampil serasi penuh makna budaya bersama laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini.
Dan Arjun... dia makin hari makin sempurna di mataku. Dia bukan cuma romantis, tapi dia laki-laki yang penuh rasa hormat, penuh sejarah, penuh kebanggaan akan asal-usulnya, dan dia rela berbagi semuanya itu hanya denganku.