NovelToon NovelToon
Reborn To Revenge

Reborn To Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Lynnshaa

Seorang siswa SMA yang bernama Revan Abigail adalah siswa yang pendiam dan lemah ternyata Revan adalah reinkarnasi seorang Atlet MMA yang bernama Zaine Leonhart yang ingin balas dendam kepada Presdirnya.
Siapakah Zaine Leonhart yang sebenarnya? mengapa Zaine melakukan Reinkarnasi? Rahasia kelam apa yang disembunyikan Presdir itu?
Ikuti misteri yang ada di dalam cerita ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lynnshaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - MENCARI JAWABAN TENTANG ZAINE (3)

Malam itu, Revan tak bisa tidur. Pikirannya terus berputar memikirkan kejadian tadi—Darius yang seharusnya sudah lumpuh, kemunculannya yang tiba-tiba ada, dan robot Zaine yang nyaris membunuh mereka.

Ia menatap langit-langit kamar, mencoba memahami situasi yang kini semakin rumit. Robert Marvolo jelas masih mengawasi mereka. Fakta bahwa mereka berhasil keluar hidup-hidup malam ini bukan berarti mereka aman.

...***...

Keesokan harinya di sekolah, ia duduk di kelas dengan pikiran melayang. Bahkan saat Alisha memanggil namanya, ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari.

"Revan?"

"Hah? Oh iya, kenapa?"

Alisha menyipitkan mata. "Lo kenapa, sih? Dari kemarin lo bengong mulu."

Revan mencoba tersenyum. "Cuma kurang tidur."

Alisha masih menatapnya dengan curiga, tapi akhirnya menghela napas dan membiarkannya.

Revan tahu kalau ia harus bersikap biasa saja, tapi sulit rasanya mengabaikan semua yang telah terjadi. Darius masih hidup. Robot Zaine nyaris membunuhnya. Dan Robert Marvolo… masih mengawasi dari bayang-bayang.

Bel masuk berbunyi, menandakan kelas akan dimulai. Guru masuk, memulai pelajaran, tapi pikiran Revan masih melayang. Bahkan ketika teman-temannya ribut membahas tugas, ia hanya menatap kosong ke arah papan tulis.

"Oi," bisik seseorang di sampingnya. Farel.

Revan menoleh. "Apa?"

Farel menatapnya dalam-dalam, lalu menulis sesuatu di kertas dan menyerahkannya.

"Setelah sekolah, di tempat biasa."

Revan mendesah pelan. Ia sudah menduganya.

Hari itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Revan terus melirik jam di sudut papan tulis, menunggu bel pulang berbunyi.

Saat akhirnya waktu sekolah berakhir, ia segera merapikan barang-barangnya dan keluar kelas. Farel sudah menunggunya di dekat gerbang sekolah.

“Lo lambat banget,” gumam Farel sambil menyandarkan punggungnya ke tembok.

“Gue nggak mau buru-buru terus ketahuan ada yang aneh,” jawab Revan santai.

Mereka berjalan ke tempat biasa—sebuah taman kecil yang jarang dikunjungi orang, tersembunyi di belakang gedung tua dekat sekolah. Begitu sampai, Farel menyilangkan tangan dan menatap Revan dengan serius.

“Jadi, mau jelasin apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya.

Revan menghela napas. “Banyak.”

Farel tetap diam, menunggu penjelasan.

Farel menatap Revan dengan curiga. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini? Kayak ada yang lo sembunyiin.”

Revan terdiam sejenak. Ia tidak bisa begitu saja menceritakan semuanya. Farel tidak tahu tentang Robert, apalagi tentang Zaine.

“Gue cuma… lagi banyak pikiran aja,” jawab Revan akhirnya.

Farel menghela napas. “Gue nggak maksa lo cerita kalau lo belum siap. Tapi jujur, gue khawatir. Lo nggak pernah sekepikiran ini sebelumnya.”

Revan tersenyum tipis. “Gue baik-baik aja, kok.”

Farel masih menatapnya dengan ragu, tapi akhirnya ia mengangguk. “Ya udah. Tapi kalau ada apa-apa, jangan sok kuat sendiri.”

Revan hanya mengangguk, meskipun dalam hati ia tahu—tidak semua hal bisa diceritakan begitu saja.

Farel akhirnya mengalihkan pembicaraan ke hal lain, mencoba mencairkan suasana. Mereka ngobrol ringan tentang sekolah, tugas yang menumpuk, dan rencana acara ekstrakurikuler minggu depan. Revan berusaha menanggapi seperti biasa, meskipun pikirannya masih terbagi.

Setelah beberapa saat, Farel melirik jam tangannya. “Gue duluan, ya. Ada janji.”

Revan mengangguk. “Oke. Hati-hati.”

Begitu Farel pergi, Revan duduk diam di bangku taman, menatap langit yang mulai kemerahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Namun, perasaan tidak nyaman masih ada.

Dan Robert Marvolo mungkin masih mengawasi.

Revan mengepalkan tangannya. Ia harus tetap tenang. Untuk sekarang, menjalani hidup seperti biasa adalah pilihan terbaik. Tapi cepat atau lambat, semuanya akan kembali menghantui.

Dan saat itu tiba, ia harus siap.

Setelah Farel pergi, Revan duduk diam di bangku taman, menatap langit yang mulai kemerahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Namun, perasaan tidak nyaman masih ada.

Robert Marvolo masih mengawasi.

Revan tahu ini belum berakhir. Meskipun ia mencoba menjalani hidup seperti biasa, bayang-bayang Robert selalu ada di belakangnya.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Huft... Gue berasa kayak kriminal kalo di chat kayak gini terus menerus." desis Revan

Revan menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.

Robert masih bermain dengan cara lamanya. Mengawasi dari kejauhan, mengirim ancaman halus, dan menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.

Tapi Revan tidak akan membiarkan dirinya jadi target mudah. Jika Robert masih mengincarnya, maka sudah saatnya ia bersiap.

Ini belum berakhir.

Revan menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapat pesan semacam itu, dan ia yakin bukan yang terakhir.

Saat hari semakin gelap, ia memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, ia terus waspada, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Robert Marvolo selalu punya cara untuk mengawasi tanpa terlihat.

Setibanya di rumah, Revan langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia duduk di kursinya, memikirkan langkah selanjutnya. Jika Robert masih mengincarnya, maka ia tidak bisa terus diam.

Tapi untuk saat ini, ia harus bermain aman.

Ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Farel.

Revan tersenyum kecil. Setidaknya, masih ada hal-hal normal dalam hidupnya.

Ia tertawa dan meletakkan ponselnya sambil merebahkan diri di kasur.

Besok, ia akan berusaha menjalani hari seperti biasa.

Meskipun ia tahu, cepat atau lambat, Robert akan bergerak lagi.

...***...

Keesokan harinya, Revan tiba di sekolah dengan niat menjalani hari seperti biasa. Ia memasuki kelas dan menemukan Farel sudah duduk di bangkunya, menekuni sesuatu di ponselnya.

"Lo nggak lupa tugas kita, kan?" tanya Farel tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

Revan menghela napas dan duduk di kursinya. "Nggak, tenang aja. Gue inget kok."

Farel menoleh dengan tatapan skeptis. "Beneran inget atau cuma ngomong biar gue nggak bawel?"

Revan terkekeh. "Serius, gue inget."

Farel akhirnya mengangguk puas. Tapi sebelum mereka bisa berbicara lebih jauh, seorang siswa lain mendekati meja mereka.

"Revan, lo dipanggil sama guru BK," kata anak itu sambil melirik Revan dengan rasa penasaran.

Revan mengerutkan kening. "Guru BK? Ngapain?"

Anak itu mengangkat bahu. "Gue cuma disuruh nyampein."

Farel meliriknya dengan curiga. "Lo ada masalah?"

Revan menggeleng. "Nggak ada."

Tapi dalam hatinya, ia merasa ada yang aneh. Tanpa banyak bicara, ia bangkit dan keluar kelas, menuju ruang BK.

Saat ia tiba di depan pintu, ia mengetuk perlahan.

"Masuk," terdengar suara dari dalam.

Revan membuka pintu dan melangkah masuk. Namun, begitu melihat siapa yang duduk di dalam, langkahnya terhenti.

Seorang pria paruh baya dengan jas rapi tersenyum ke arahnya.

Bukan guru BK.

"Senang akhirnya bisa bertemu dengan lo, Revan," kata pria itu dengan suara tenang.

Revan langsung waspada. Ia tak mengenali pria ini. Tapi satu hal yang pasti…

Orang ini bukan bagian dari sekolah.

Revan tetap berdiri di ambang pintu, tidak langsung masuk sepenuhnya. Matanya menelusuri ruangan, mencari tanda-tanda lain apakah ada orang lain di dalam. Namun, hanya pria itu dan seorang guru BK yang tampak sibuk dengan dokumen di mejanya.

"Duduk," kata pria itu, masih dengan senyum tenangnya.

Revan tetap waspada, tapi akhirnya melangkah masuk dan duduk di kursi di seberang pria tersebut.

"Lo siapa?" tanya Revan tanpa basa-basi.

Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Nama gue Leonard. Gue cuma mau ngomong sebentar sama lo."

Leonard? Revan tidak mengenali nama itu. Tapi instingnya mengatakan bahwa pria ini bukan orang biasa.

"Ngomong soal apa?" tanyanya, berusaha tetap tenang.

Leonard tersenyum kecil. "Soal..." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Robert Marvolo."

Revan merasakan tubuhnya menegang. Seketika, udara di ruangan itu terasa lebih berat.

Leonard memperhatikan reaksinya dengan tatapan tajam. "Gue butuh bantuan lo, Revan. Lo dan gue punya musuh yang sama."

Revan mengerutkan kening. "Maksud lo apaan?"

Leonard menatapnya serius. "Gue pengen ngejatuhin Robert Marvolo."

Revan menatap pria itu dengan ragu. Ini jebakan? Atau benar-benar kesempatan?

Tapi satu hal yang pasti… permainan ini baru saja berubah.

1
Jing Mingzhu5290
Cepatlah melengkapi imajinasi kami, author!
nasipadangenakjir: bab 7 akan segera update yaa! terimakasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Yuzuru03
Gilaaa ceritanya!
nasipadangenakjir: terimakasih! 🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!