Perjalan cinta yang tak di sangka sangka, dengan 2 pasangan yang saling bersikap cuek dan dingin, saling mengagumi satu sama lain karena sikap wibawanya
Bibi sosok gus dingin yang memendam rasa dengan santri putri ketua pondok yang sama cueknya dan datarnya pada santri yang selalu membuat kesalahan, dan sama orang yang baru pertama kali dia kenal
kedekatan dari keponakan Bibi menjadi jembatan hubungan mereka, hingga di titik pernikahan yang menjadikan kejutan bagi para idola mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rujuk
" Kita mau kemana Gus?" tanya Nasywa lagi yang cukup heran melihat Bibi yang sangat terburu buru
" Syifa sakit, kata kak Ula suruh jemput sayang, Abah sama Umi tidak ada di rumah, jadi kita aja gak apa apa ya" jawab Bibi sambil membukakan pintu mobil untuk Nasywa
Nasywa mengangguk dan lanjut mengikuti Bibi yang sangat terlihat panik
Dan Noval kembali kebakaran jenggot sudah di kagetkan dengan ucapan romantis gusnya untuk sang mantan kekasihnya
" Sabar.... Ini ujian, dan dia bukan milikmu lagi" Ucap temannya yang melihat juga sambil menepuk pundak Noval
" Iya sadar diri, sadar rai ( muka), sadar posisi" tambah teman satunya lagi ikut menepuk pundak Noval
Sedangkan di Riau Zula masih menangis sesenggukan, di dalam pelukan Ryan, karena gak tega aja melihat anaknya yang sakit di pondok sendirian
" Udah gak apa apa, paling itu giginya sakit sayang, kan dulu juga pernah bengkak Pipinya, " Ucap Ryan menenangkan istrinya
" Kita pulang ?" tanya Ryan lagi
Tapi Zula masih mikirin proyeknya yang masih tahap pembenahan
Dan pagi ini juga ada jadwal meeting, di perusahaan barunya
" Tadi Umi bilang apa?" tanya Ryan lagi
" Ya bilang kalau suruh bawa ke specialis anak, " jawab Zula apa adanya
" Ya kan memang biasanya anak anak juga gitu kan Ma, sedangkan Specialis anak, orang anak anak aja jadi pasien special di rumah sakit pakdenya" jawab Ryan menenangkan Zula
" Udah nanti ada Bibi sama mbahnya, biar di temani mereka, Papa ada meeting pagi ini, di tenangkan ya, kita tunggu kabar berikutnya dari Bibi ataupun Umi " tambah Ryan lagi ber fikir positif kalau Syifa akan baik baik saja
Hingga akhirnya Zula memilih mengikuti kata suaminya, dan mencoba untuk tetap berfikir positif
Setelah menempuh perjalanan 3 jam setengah, karena Bibi tadi ngebut, kini mereka sampai di pondok dengan Nasywa yang segera lari bersama Bibi
" Mbak Wawa" ucap Syifa lirih sambil tiduran saat Nasywa sampai di kamarnya
" Ya Allah nak...." Ucap Nasywa langsung memeluk Syifa
" Langsung bawa aja sayang" ucap Bibi gak mau basa basi dan bertanya kepada pengurusnya
" Kamu ke ndalem ya, saya langsung ke mobil aja" ucap Nasywa dan di iyakan oleh Bibi
Dan kini Bibi langsung menemui badalnya abang sepupunya itu yaitu pengganti pak yai dan bu nyai untuk menyampaikan izin agar membawa Syifa untuk berobat
Setelah itu Bibi kembali ke mobil dengan kambali panik sehingga gak bisa berfikir tenang
" Kita cari specialis anak di mana ini?" panik Bibi
" Saya gak tau juga gus, apa lagi di sini bukan di daerah saya" jawab Nasywa sambil memangku Syifa yang sudah bengkak badannya
" Tapi saya rasa ini langsung ke IGD aja deh Gus, lihat ini udah lemes juga anaknya" ucap Nasywa lagi
" Okey coba saya sharcing dulu di google," jawab Bibi langsung mengotak ngatik mobilnya
hingga akhirny Bibi menemukan Klinik terdekat yang ada IGDnya
Setelah sampai sana, Bibi segera meminta agar Syifa segera di tangani lebih cepat
Sebelumnya saat perjalanan mereka sempat telfon Umi Jihan dan Abah Hasan, kalau mereka mau menjemput Syifa
Abah Hasan yang gak bisa tenang kalau dengar anak dan cucunya kenapa napa, terlebih cucu dari Zula langsung memilih pamit dan langsung nyusul Bibi yang saat tiba langsung share lokasi
" Maaf mas, untuk perlengkapan data pasien ada?" tanya salah satu petugas klinik tersebut
Dan klinik itu cukup besar dan luas, ada rawat inap dan IGD nya juga, bisa di bilang anak cabang dari rumah sakit besar
" Baik sebentar" ucap Bibi bermaksud minta pada Zula
Tapi sayang nomer Zula tidak bisa di hubungi, karena kebetulan di sana sedang mati lampu dan langsung hilang sinyalnya
Berkali kali Bibi menghubungi tapi sama sekali tidak terhubung, dan sudah semua nomer keluarga Rizqy juga di telfon sama sekali gak bisa di hubungi
" Ya Allah... Ini orang tuanya oada kemana sih" kesal Bibi pada kakaknya yang menurutnya justru mematikan ponselnya karena sedang meeting
Kebiasaan Zula dan Ryan kalau sedang meeting ponselnya selalu du matikan
" Gimana gus?" tanya Nasywa lembut
" Ck... Entah ni kakak, gak bisa di hubungi sama sekali" jawab Bibi dengan muka yang sangat kesal
" Maaf sus, ini mama papanya sedang di luar kota, kalau pake nama saya dulu gimana sebagai penanggung jawab, " Ucap Bibi pada pelayan
" Kami mau ambil data pasien pak, mana tau dia punya asuransi kesehatan" jawab pelayannya lagi
" Pake pribadi aja, dan segera di tangani, saya yang menjamin, " jawab Bibi cepat
" Nama pasien siapa?" tanya pelayan siap menulis
" Teuku Syifa Ar Rayya" Jawab Bibi dan pelayan mencatatnya
Tak lama menunggu perawat keluar dari ruang IGD setelah memeriksa Syifa
" Keluarga pasien Teuku Syifa " ucap perawat
" Saya sus, gimana dengan keadaan pasien?" tanya Bibi cepat
" Silahkan masuk pak" jawab Suster dan dokter yang akan menjelaskan di dalam
Saat mereka hendak masuk, bersamaan dengan Jihan dan Zain yang baru datang
" Umi... Abah" panggil Bibi dan muka Jihan dan Zain sudah sangat panik banget
" Gimana Syifa nak?" tanya Jihan
" Ini baru Bibi mau lihat Umi" jawab Bibi langsung Jihan masuk tanpa menunggu lagi
Di Riau, perasaan Zula makin gak karuan dan terus menangis di kamar,
Luna dan yang lain sudah mendengar kabar kalau Syifa sakit, dan mereka juga berfikir positif kalau Syifa baik baik saja
Sedari tadi Zula sudah kesal dan menangis terus karena menungu kabar dari Bibi yang tak kunjung datang
Dia mencoba untuk telfon juga tidak bisa, dan makin menjadi tangisannya karena sinyal yang sama sekali tidak ada dan tidak bisa di buat telfon sama sekali
" Ya Allah nak...sehat ya nak, gak kenapa napa ya nak" ucap Zula sambil menangisi anaknya yang saat ini dia belum mengetahui kanarnya
" La... Ula" panggil Luna sambil mengetuk pintu kamar Ula
" Iya Tan" jawab Zula sambil mengusap matanya yang masih sembab
Zula kemudian bangkit dan membuka pintu kamarnya
" Ini tad Bibi telfon minta data Syifa" ucap Luna gak bisa basa basi
" Katanya Syifa di bawa kerumah sakit" tambahnya lagi makin membuat Zula nangis saat anaknya sakit dia jauh dari anaknya
" Hiks... Hiks... Tante, mana Bang Ryan tan, jemput bang Ryan, Ula mau pulang" tangis Zula makin menjadi
" Iya ya, tante jemput ya, kamu tenang dan segera peking, nanti pulang" jawab Luna sambil memeluk Zula
Sedangkan di rumah sakit, Jihan kini sudah menemui Cucunya dan juga dokter yang menanganinya
" Gimana dok?" tanya Jihan tetap tenang tapi tidak dengan Zain yang ada di belakangnya
" Ini udah telat buk, kondisi pasien saat ini sangat kritis, dan di sini peralatan kami tidak memadai, jadi pasien harus segera di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar lagi, dan ini nanti harus langsung ke ruang ICU, untuk mendapat penanganan yang lebih intensif lagi, " jawab sang dokter menjelaskan
selamat ya wi. semoga menjadi SaMaWa