NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Berita itu tidak langsung masuk media besar.

Ayah Karina terlalu berpengalaman untuk membiarkan nama putrinya dilempar mentah-mentah ke publik. Satria juga bergerak cepat. Manajer hotel mengunci rekaman CCTV. Pengacara Karina mencatat semua saksi. Raka Wibisana tidak dibawa polisi malam itu juga, tetapi ia ditahan di ruang manajemen hotel sampai keluarganya datang dengan wajah kacau.

Namun di lingkaran atas Jakarta, kabar tidak perlu media.

Cukup satu pesan.

`Ada kamera tersembunyi di ruang VIP acara Pradipta Foundation. Karina Hartono hampir dijebak.`

Dalam satu jam, semua orang penting sudah tahu.

Dalam dua jam, cerita mulai punya versi.

Versi pertama: Raka mabuk dan bertindak sendiri.

Versi kedua: staf hotel lalai.

Versi ketiga: ada orang dalam yayasan yang menyiapkan ruangan.

Versi keempat, yang paling pelan tetapi paling berbahaya: Alya Pradipta menyelamatkan Karina dan membuat Daren tidak bisa bicara.

Alya pulang lewat pintu servis hotel.

Bukan karena takut.

Karena ia tidak ingin wartawan gaya hidup yang masih berkeliaran mendapatkan foto wajahnya malam itu. Biarkan cerita bergerak tanpa gambarnya. Orang akan lebih penasaran.

Yusuf membukakan pintu mobil.

"Nyonya baik-baik saja?"

"Iya."

"Tuan Arga menelepon tiga kali."

"Aku tahu."

Ia masuk mobil dan menelepon balik.

Arga mengangkat pada dering pertama.

"Kamu di mana?"

"Mobil."

"Sendiri?"

"Dengan Yusuf."

"Karina?"

"Aman. Pengacaranya datang. Satria menjadi saksi. CCTV diamankan."

Arga menghela napas. "Bagus."

"Kamu terdengar seperti orang yang sejak tadi berjalan mondar-mandir."

Hening.

Alya mengangkat alis. "Kamu benar-benar berjalan?"

"Sedikit."

"Arga."

"Lilis sudah memarahiku."

"Aku juga akan."

"Aku menunggu."

Suara itu lelah, tetapi hidup.

Alya melihat lampu jalan dari kaca mobil. "Mereka memakai Karina untuk membuat skandal. Ada minuman yang ditukar, kamera di ruang VIP, Raka masuk setelah kami di sana. Staf Daren terlibat."

"Daren?"

"Belum bisa dibuktikan dia memerintah langsung. Tapi stafnya, akses ruang, dan reaksinya buruk."

Arga diam.

"Kamu terkejut?" tanya Alya.

"Tidak. Aku hanya marah karena tidak terkejut."

Alya memahami kalimat itu.

Kadang yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan, tetapi fakta bahwa hati sudah lama menebaknya.

"Pulanglah," kata Arga.

"Aku sedang pulang."

"Cepat."

"Kamu khawatir?"

"Iya."

Jawaban itu terlalu langsung.

Alya tidak segera membalas.

Arga juga tampaknya sadar, karena ia menambahkan dengan nada lebih datar, "Kamu membawa banyak bukti. Mereka mungkin ingin mengambilnya."

"Tentu."

"Itu maksudku."

"Tentu."

Di ujung telepon, Arga menghela napas kesal. "Kamu menyebalkan."

"Aku tahu."

Saat Alya sampai di rumah, Arga benar-benar berada di ruang tengah.

Memakai cardigan gelap, duduk di kursi dengan wajah pucat, Lilis berdiri tidak jauh seperti penjaga yang gagal membuat pasien patuh.

Begitu melihat Alya, Lilis langsung berkata, "Nyonya, saya sudah melarang Tuan turun."

"Aku tahu bukan salahmu."

Arga mengerutkan kening. "Kenapa kamu langsung percaya dia?"

"Karena kamu memang sulit diatur."

Yusuf menunduk menyembunyikan senyum.

Alya menyerahkan tas kepada Yusuf. "Masukkan ke ruang kerja. Jangan buka. Pastikan laptop cadangan tidak terhubung jaringan."

"Baik, Nyonya."

Arga melihat tas itu. "Bukti?"

"Salinan foto, rekaman, kronologi, daftar saksi."

"Kamu membawa pulang semua?"

"Yang asli ada pada Karina, Satria, dan pengacara. Aku membawa salinan."

"Efisien."

"Aku belajar dari orang yang ingin membunuhmu pelan-pelan. Jangan simpan bukti di satu tempat."

Arga tidak tertawa.

Alya melihat wajahnya.

"Kamu kelelahan."

"Kamu juga."

"Aku tidak sakit."

"Bukan berarti tidak bisa lelah."

Kalimat itu membuat Alya diam sesaat.

Lilis diam-diam mundur setelah memberi isyarat obat malam. Alya mengangguk. Ruang tengah menyisakan mereka berdua.

Arga berkata, "Ceritakan dari awal."

"Besok."

"Sekarang."

"Kamu perlu tidur."

"Aku tidak akan bisa tidur kalau hanya tahu setengah."

Alya menatapnya.

Lelaki itu keras kepala. Namun malam ini keras kepalanya bukan karena ego. Ia ingin tahu medan. Ia ingin ikut menanggung.

Baik.

Alya duduk di sofa dan menceritakan semuanya. Dira yang memberi informasi. Satria yang datang. Karina yang pusing setelah minum. Ruang VIP. Kamera. Raka. Staf Daren. Ratna yang mencoba menyelesaikan secara kekeluargaan. Karina yang menelepon ayahnya.

Arga mendengarkan tanpa menyela.

Hanya ketika nama Daren muncul, rahangnya mengeras.

"Dira membantumu," katanya setelah Alya selesai.

"Dia menyelamatkan dirinya dulu."

"Tetap saja."

"Iya. Tetap saja."

"Karina akan menjadi sekutu?"

"Belum. Tapi dia berutang."

"Kamu suka membuat orang berutang."

"Lebih stabil daripada membuat orang berjanji."

Arga memandangnya lama.

"Apa kamu pernah percaya janji?"

Alya bersandar.

Pertanyaan itu datang terlalu pelan.

Ia bisa menolak menjawab. Biasanya ia akan menolak.

Namun malam sudah terlalu panjang, dan mereka sudah melewati terlalu banyak darah yang belum kelihatan.

"Pernah," katanya.

"Lalu?"

"Orang yang berjanji mati terlalu cepat, setelah meninggalkan semua beban padaku."

Arga tidak bergerak.

"Rafi?"

Alya menutup mata sebentar.

Nama itu lagi.

Di kehidupan ini, Rafi belum melakukan semua hal yang pernah ia lakukan. Ia belum menjadi laki-laki yang berdiri di puncak karena Alya. Ia belum mati dan meninggalkan perusahaan, anak, musuh, dan nama besar untuk Alya pikul sendirian.

Tetapi ingatan Alya tidak peduli pada urutan waktu.

"Suatu hari," katanya, "aku akan bercerita."

"Kapan?"

"Saat kamu cukup kuat untuk tidak pingsan mendengarnya."

Arga tersenyum samar. "Kedengarannya buruk."

"Sangat."

"Apakah itu alasan Nabila memilih Rafi?"

Alya membuka mata.

Arga menatapnya dengan tenang.

Ia terlalu cerdas untuk terus dibohongi dengan kalimat separuh.

"Nabila percaya Rafi akan menjadi pemenang," kata Alya.

"Kenapa?"

"Karena ia melihat hasil tanpa memahami proses."

Arga tidak bertanya lebih jauh.

Mungkin ia mengerti bahwa kalimat itu menyimpan sesuatu yang tidak masuk akal. Mungkin ia memilih menunggu.

Untuk pertama kalinya, Alya menghargai seseorang yang bisa menunggu.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Karina.

`Saya sudah aman. Terima kasih. Saya tidak akan lupa siapa yang menarik saya keluar dari ruangan itu.`

Alya memperlihatkannya kepada Arga.

Arga membaca, lalu berkata, "Satu sekutu."

"Satu calon sekutu."

"Kamu pelit bahkan pada kemenangan."

"Kemenangan yang dirayakan terlalu cepat biasanya mengundang kebodohan."

"Aku mulai curiga kamu menulis buku aturan sendiri."

"Mungkin."

Pesan lain masuk.

Dari nomor tidak dikenal.

`Kamu pikir menyelamatkan Karina membuatmu menang? Kamu baru saja membuka pintu yang tidak bisa kamu tutup.`

Alya menatap pesan itu.

Arga melihat wajahnya berubah.

"Apa?"

Ia menyerahkan ponsel.

Arga membaca. Matanya dingin.

"Balas?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Mereka ingin tahu aku takut atau marah. Kita beri mereka diam."

Arga mengangguk pelan.

Lalu ia mengulurkan tangan.

Alya melihat tangan itu.

"Apa?"

"Ponselmu."

"Untuk apa?"

"Aku simpan sampai pagi. Kamu tidur."

Alya hampir tertawa. "Kamu menyita ponselku?"

"Dokter Mira bilang pasien butuh istirahat. Aku memutuskan dokter juga berlaku untuk istri pasien."

"Aku bukan pasien."

"Malam ini kamu terlihat seperti orang yang bisa roboh tapi terlalu sombong untuk duduk."

Alya menatapnya.

Kalimat itu tidak halus.

Namun anehnya, tidak menyebalkan.

Ia menyerahkan ponsel.

Arga tampak terkejut ia menurut.

"Jangan terlihat begitu puas," kata Alya.

"Aku sedang menikmati kemenangan kecil."

"Sangat kecil."

"Tetap kemenangan."

Alya berdiri. "Aku tidur satu jam. Setelah itu kita susun kronologi."

"Tiga jam."

"Satu setengah."

"Dua."

"Baik. Dua."

Arga tersenyum lelah.

Saat Alya berjalan menuju tangga, ia memanggil, "Alya."

"Ya?"

"Malam ini kamu menyelamatkan Karina. Tapi kamu juga membuat mereka semakin takut."

"Aku tahu."

"Besok mereka akan lebih kotor."

Alya menatapnya dari anak tangga pertama.

"Bagus."

Arga mengangkat alis.

Alya berkata pelan, "Orang kotor selalu meninggalkan jejak lebih jelas ketika panik."

Ia naik ke lantai dua.

Di ruang tengah, Arga menggenggam ponselnya.

Lampu ruang tengah membuat bayangan di bawah matanya terlihat jelas. Ia belum sembuh. Jauh dari sembuh. Namun cara ia duduk malam itu berbeda dari hari pertama Alya masuk ke kamarnya. Tidak lagi seperti orang menunggu tubuhnya menyerah.

Lebih seperti orang yang sedang menghafal cara kembali berdiri.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ditinggalkan di belakang.

Ia hanya sedang menunggu giliran untuk berdiri.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!