Azizah pura pura miskin demi dapat cinta sejati namun yang terjadi dia malah mendapatkan penghinaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Aziza melahirkan
"Siapa… siapa kamu?" suara Azizah terdengar lemah, bibirnya terkatup rapat untuk menahan rasa sakit. Matanya yang kabur berusaha keras mencari wajah yang menghadapinya.
Romi tetap fokus pada jalan, suaranya ketus. "Tenang, kamu akan baik-baik saja," ujarnya, meskipun ada kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
"Romi?" ucapnya dengan suara gemetar, tak percaya bahwa pria yang dulu pernah ia tinggalkan kini ada di sampingnya, membawanya menuju rumah sakitRomi menatap lurus ke depan, meskipun jantungnya terasa bergemuruh. "Zee... bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit," jawabnya, tetap ketus, namun di balik kata-katanya ada sedikit kekhawatiran yang tak bisa ia tutupi.
Azizah terdiam. Rasa sakit yang menjalar semakin kuat, menghalangi suaranya untuk keluar. Ia merasa canggung, bingung, dan merasa bersalah—kenapa Romi yang justru menolongnya? Pria yang dulu ia tinggalkan di saat mereka berada di ujung perpisahan. Tak ada lagi yang tersisa selain rasa sakit, dan canggungnya keadaan ini.
Mobil melaju lebih cepat, Romi semakin tidak bisa menahan pikirannya yang kacau. Ia sesekali melirik ke kaca spion, memperhatikan Azizah di kursi belakang, wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Ke mana suamimu?" tanya Romi, suaranya sedikit terpotong, mencoba menekan rasa pedih yang menggerogoti dadanya. "Kenapa kamu sendirian saat hamil? Kenapa kamu ditinggalkan saat akan melahirkan?"
Azizah menunduk, tak bisa menjawab. Setiap pertanyaan Romi terasa seperti duri yang menusuk, menyayat hatinya yang sudah rapuh. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa.
Setelah beberapa saat, Romi sadar, pertanyaannya mungkin terlalu kasar, terlalu banyak. "Ah, kenapa gue peduli sama dia? Kenapa gue langsung nolong dia lagi?" pikir Romi, cemas. Ia tetap fokus pada jalan, namun kegelisahan semakin terasa. Ia tak mengerti kenapa ia memilih untuk menolongnya. "Gue nggak ngerti," gumamnya, tertekan dengan situasi ini.
Di belakang, Azizah terus mengerang, membuat Romi semakin panik. AC mobil yang dingin tak bisa meredakan kekhawatirannya, keringat mengucur deras di pelipisnya. Keadaan semakin genting.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu panjang. Meskipun Romi berusaha tenang, wajahnya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik terasa berharga, dan dia tahu, jika ia tak segera bertindak, sesuatu yang buruk bisa terjadi.
Di luar, hujan mulai turun, gemericik air terdengar keras di atas atap mobil. Angin malam yang dingin masuk melalui celah-celah jendela, menambah rasa cemas di dada Romi. Ia menekan pedal gas lebih dalam, berusaha mencapai rumah sakit secepat mungkin.
"Sebentar lagi kita sampai," kata Romi, meski suara itu terdengar lebih seperti mencoba menenangkan dirinya sendiri daripada meyakinkan Azizah. Semua yang ada di pikirannya hanya satu: memastikan Azizah sampai ke rumah sakit dengan selamat.
Azizah hanya bisa pasrah, tubuhnya yang lemah tak mampu lagi menahan rasa sakit. Ia mengandalkan Romi—pria yang dulu ia tinggalkan—untuk membawanya ke tempat yang aman. Dalam kepayahan dan rasa sakit yang menyesakkan, ia berdoa dalam hati agar ia dan bayinya bisa selamat, meskipun hatinya penuh dengan rasa bersalah dan kebingungan.
Mobil berhenti dengan cepat di depan pintu rumah sakit. Romi segera melompat keluar, membuka pintu belakang, dan mengangkat tubuh Azizah yang lemah.
"Ayo, Zee, kita sudah sampai," katanya dengan suara serak, meskipun dirinya sendiri hampir tak bisa menahan ketegangan yang menghimpit dadanya.
Beberapa perawat segera mendekat, membantu membawa Azizah masuk ke dalam rumah sakit.
"Siapa suaminya?" tanya seorang perawat, menatap Romi yang terlihat kacau, namun tampak mencoba untuk tetap tegar.
"Saya suaminya." Jawab romi spontan
Perawat itu mengangguk dan segera mengarahkan Romi untuk mengurus administrasi. Romi merasa ada sesuatu yang aneh dengan keputusannya itu, tetapi dalam keadaan panik dan cemas, ia tak bisa berpikir jernih.
“Nama Istri bapak siapa?” tanya seorang petugas administrasi di meja pendaftaran.
“Azizah Pratama,” jawab Romi,
Setelah mengurus segala hal administratif, Romi dibawa ke ruang tunggu. Ia berjalan mondar-mandir, sesekali melihat jam di tangan, menunggu dengan gugup. Wajahnya tampak tegang, jarinya terkepal erat. Hatinya berdegup kencang.
Di ruang bersalin, Azizah terbaring, merasa semakin kesakitan. Setiap detik terasa lebih lama daripada yang seharusnya. Dalam kepedihan, ia hanya bisa berpikir tentang bayinya.
Sementara itu, di luar ruang bersalin, Romi menunggu dengan gelisah. Setiap suara pintu ruang bersalin terbuka membuat hatinya berdebar. Ia berjalan maju dan mundur, tak bisa diam. Ketegangan di dalam dirinya semakin besar, membuatnya sulit bernapas.
Perawat keluar dan melihat Romi yang berdiri dengan cemas. "Prosesnya masih panjang. Anda bisa menunggu di luar. Itu yang terbaik untuk sekarang," katanya, mencoba menenangkan Romi yang terlihat semakin panik.
"Tapi... dia... dia baik-baik saja, kan?" tanya Romi, suara tenggelam dalam kecemasannya.
"Tenang saja. Kami sedang menangani semuanya," jawab perawat dengan lembut, meskipun ia tahu bahwa situasi itu lebih menegangkan daripada yang bisa dibayangkan.
Romi kembali berjalan mondar-mandir, tidak bisa duduk tenang. Seluruh tubuhnya terasa lemas, namun hatinya bergejolak, penuh dengan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Apa yang terjadi kalau ada yang salah? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau Azizah dan bayinya tidak selamat?
Setiap detik menambah ketegangan, tetapi Romi tetap mencoba menahan diri, berharap proses kelahiran berjalan lancar. Ia tahu, tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan berdoa.
Di dalam ruang bersalin, Azizah merasakan setiap kontraksi yang semakin kuat. Wajahnya memucat, namun tekadnya tetap kuat—meskipun rasa sakit itu hampir membuatnya kehilangan kendali. Bayinya harus lahir dengan selamat, apapun yang terjadi.
Azizah terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, wajahnya masih pucat, keringat menetes di pelipisnya. Namun, setelah perjuangan panjang dan rasa sakit yang luar biasa, akhirnya suara tangisan bayi yang meresap ke dalam hatinya menandakan keajaiban itu. Bayinya... selamat.
Perawat yang berdiri di sampingnya tersenyum, melihat dengan penuh kebahagiaan. "Selamat, Ibu. Bayinya sehat," kata perawat itu, sambil mengeringkan tubuh bayi yang baru lahir.
Azizah terdiam, merasakan air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Alhamdulillah," bisiknya pelan, meskipun tubuhnya masih terasa lelah dan rapuh.
Tak lama setelah itu, perawat yang lain menghampiri Romi yang masih duduk dengan gelisah di ruang tunggu. "Tuan Romi," ujar perawat itu dengan lembut. "Anak Anda selamat. Ibu juga dalam kondisi stabil. Kami ingin Anda mengumandangkan azan di telinga kanan bayi dan iqamah di telinga kiri."
Romi terdiam sejenak. Kegelisahan yang semula memenuhi dirinya kini sedikit terangkat dengan kabar baik itu. Ia mengangguk, meskipun sedikit bingung dengan permintaan tersebut. Ia berjalan cepat menuju ruang bersalin, hatinya dipenuhi oleh perasaan yang campur aduk—kebahagiaan, kecemasan, dan sedikit rasa tidak percaya.
Di dalam ruang bersalin, bayi yang baru lahir itu masih terbaring di bawah sinar lampu, tubuh kecilnya yang merah dan basah, wajahnya yang pucat. Azizah yang lemah menatap bayi itu dengan penuh kasih sayang, sambil tersenyum meski kelelahan.
Azizah terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, matanya menatap kosong ke arah bayi yang baru lahir. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara Romi, yang berdiri di samping tempat tidur, mulai mengumandangkan azan di telinga kanan bayi dengan suara serak, penuh emosi. Suara Romi yang dalam dan penuh pengharapan itu memecah kesunyian malam.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”
Azizah merasakan tangisannya semakin tak terbendung. Ada kebahagiaan yang meluap dalam hatinya melihat bayi yang baru lahir itu mendapatkan doa pertama dari seorang lelaki yang dulunya pernah begitu dekat dengannya. Namun, di balik kebahagiaannya, ada perasaan yang sangat dalam, perasaan kesedihan dan penyesalan yang menyatu.
Di telinga kiri bayi, Romi melanjutkan dengan iqamah, suaranya sedikit gemetar, namun tetap terdengar tegas.
"Qad qāmati-s-Salāh... Qad qāmati-s-Salāh..."
Azizah menatapnya, air matanya mengalir deras, menciptakan campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, dia merasa terharu, merasakan doa yang begitu indah untuk anaknya. Namun di sisi lain, hatinya hancur. Harusnya Raka yang ada di sini, yang mengumandangkan adzan ini, bukan Romi.
Selama ini, dia berharap Raka, suaminya, akan selalu ada untuknya. Namun kenyataannya sangat berbeda. Sejak keluar dari rumah Raka, tak ada kabar yang datang darinya. Azizah beberapa kali memeriksa ponselnya, namun tak ada satu pun panggilan atau pesan dari Raka. Bukan ingin dicari Aziza hanya sekedar ingin mengabri kehamilan dirinya walau bagaimanapun itu anak raka, tapi raka memang sudah tak peduli sama dia dan anaknya.
Dan sekarang, yang ada di sampingnya adalah Romi—pria yang dulu ia tolak demi Raka. Pria yang dulu ia hindari, namun justru kini menjadi penolongnya. Romi yang telah mengantarnya ke rumah sakit, menemani proses kelahiran, dan bahkan yang mengumandangkan adzan di telinga anaknya.
Romi menyelesaikan iqamah dengan pelan, lalu menatap Azizah sekilas, namun tak berkata apa-apa. Ada kecanggungan yang terasa Pikirannya mengutuk kepeduliannya tapi tindakannya selalu mengarah kepada aziza dalam hati kecilnya dia masih mengharapkan aziza tapi rasa kecewa dan gengsi kadang membuatnya enggan mengakuinya.
..
Sementara itu d rumah raka. Susan sedang memuluk erat raka
Raka tidur sama Susan saat Aziza melakhirkan
Raka selingkuh saat aziza bertaruh nyawa melahirkan anaknya