NovelToon NovelToon
Bukan Cinta Semu

Bukan Cinta Semu

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:149.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kirana Putri761

*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.

Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.

Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.

Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Sekarang

"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Tsabita dengan seperangkat alat salat dibayar tunai!"

"Sah..."

"Sah..."

Ketegangan di dalam rumah besar itu pun berakhir. Dengan canggung, Kanaya mengambil tangan Bara dan menciumnya dengan takdzim.

Bara menatap teliti wajah cantik itu sekali lagi, ini pertama kalinya dia menatap cermat kecantikan gadis yang menyandang status istrinya itu.

Bahkan, make up flawles dari salah satu make up artist yang di datangkan oleh Hanum menyempurnakan kecantikan wajah timur tengah putrinya.

Setelah akad nikah selesai, orang-orang yang terlibat di dalamnya pun berpamitan kecuali keluarga besar yang masih duduk-duduk di ruang tengah itu.

Meskipun dalam ruangan itu Bara adalah tokoh hari ini, tapi pria itu lebih banyak diam dan masih mengikuti pertemuan dalam keluarga.

"Baratha..." panggilan Hans menghentikan sejenak obrolan mereka.

"Iya..."jawab Bara yang masih mengenakan kemeja putih dengan celana hitam berbahan kain.

"Kamu tahu kebiasaan buruk Kanaya?" Pertanyaan Hans membuat semua keluarga menatap jengah pada pada pria yang semua rambutnya sudah beruban itu.

"Opa, kenapa harus mengajukan pertanyaan konyol?" protes Kanaya dengan cemberut.

"Oke-oke... Opa ganti pertanyaannya?"

"Apa yang kamu tidak sukai dari Kanaya?" lanjut Hans.

"Opa itu sama saja akan mengulitiku!" protes Kanaya membuat semua yang disana pun tergelak. Sedangkan Bara hanya tersenyum tipis dan menunduk.

"Bagaimana, Bara?" lanjut Hans tanpa peduli Kanaya yang mencebikkan mulutnya.

"Saya sudah tahu, Opa!" jawab Bara tanpa ingin menjawab panjang lebar.

"Contohnya?" desah Hans dia masih penasaran sejauh mana pria berambut gondrong itu mengenal cucunya.

"Terlalu banyak disebutkan di sini, Opa!" jawab Bara sambil tertawa dan melirik Kanaya yang masih cemberut.

"Tapi, dia gadis yang manis." lanjut Barata membuat sorak heboh terutama suara Shanum. Sedangkan Kanaya malah tersipu.

"Hati-hati, Nay! Dia perayu handal." Hans memperingatkan cucunya sambil tersenyum. Tapi, dia senang jika cucu menantunya bukan tipe pria yang suka mengumbar keburukan pasangannya.

"Sudah-sudah ayo kita makan dulu!" Hanum pun menginterupsi karena sebentar lagi Mama dan papanya akan ada acara.

Hal yang sudah di rindukan oleh Bara, merasakan kehangatan keluarga. Banyak doa yang di berikan oleh keluarga meski pernikahannya sangat sederhana.

Sore menjelang magrib, rumah terlihat lenggang. Bara memasuki kamar yang terlihat cantik dan rapi meskipun tidak ada desain jika itu kamar untuk pengantin baru.

Canggung. Sepasang suami istri itu terlihat canggung meskipun Bara berusaha bersikap biasa.

Kanaya menghapus riasan di wajahnya dengan sesekali melirik Bara yang menyandarkan kepalanya dengan kedua mata terpejam.

Dalam hati Kanaya, ini seperti mimpi. Dia kembali lagi mengulik kesadarannya dan nyatanya dia memang sudah menikah dengan pria yang tidak begitu dia kenal.

"Kamu menyesal?" tanya Bara membuat Kanaya langsung menundukkan mengalihkan pandangannya.

Kanaya hanya menggeleng membuat Bara tersenyum tipis. Pria itu membuka matanya dan menatap Kanaya hingga gadis itu merasa salah tingkah.

"Aku akan mengambilkan Mas, baju dan peralatan mandi." ucap Kanaya dengan canggung, dia memang belum bisa mencintai Bara, tapi dia akan menghormati Bara dan menjalankan kewajibannya.

Tanpa menunggu persetujuan dari Bara Kanaya mengambilkan kebutuhan Bara yang sudah dia persiapkan sebelumnya.

"Nay, tidak udah seformal itu! Pernikahan kita tidak seperti pernikahan layaknya pasangan pada umumnya." ucap Bara yang tiba-tiba berada dibelakang Kanaya.

Sejenak, Kanaya menghentikan gerakannya. Gadis itu tediam sejenak mencerna kalimat itu.

"Berarti kita menikah sampai berapa lama?" tanya Kanaya dengan mata yang sudah memanas. Entah kenapa dia begitu sensitif menganggap Bara menikahi dengan kepura-puraan.

"Nay-nay, maksudku bukan seperti itu." Bara langsung memutar tubuh di depannya itu saat mendengar pertanyaan Kanaya dengan suara yang bergetar.

Di tatapnya mata yang kini sudah berkaca-kaca itu. Dia tak menyangka jika itu akan membuat Kanaya salah faham.

"Aku sudah siap, Mas!" lanjut Kanaya.

"Bukan begitu, Nay. Bisa Mas bicara sebentar?" tanya Bara kemudian langsung membawa Kanaya untuk kembali duduk di tepi ranjang.

"Pernikahan ini bagiku bukanlah sebuah permainan. Tapi, tidak mudah menjadi istriku. Aku tidak bisa memberikan kemewahan seperti ini." ucap Bara dengan menatap tajam gadis yang mendongak menatapnya.

"Aku sudah tahu, Mas."

"Apa kamu sudah siap meninggalkan kemewahan ini? Hidup dengan apa yang hanya diberikan suamimu?" Mendengar pertanyaan itu membuat Kanaya mengangguk pelan.

Suara Azan Magrib pun mengalihkan pembicaraan keduanya. Kanaya pun akhirnya kembali beranjak dan mengambilkan baju ganti untuk Bara. Sedangkan pria itu hanya menatap istrinya. Bingung, canggung dan ada sesuatu yang sulit di deskripsikan.

"Cepatlah mandi. Aku menunggumu untuk Salat berjamaah!" titah Bara saat keluar dari kamar mandi.

Pria itu terlihat lebih segar dengan rambut gondrongnya yang masih basah. Kanaya hanya melongo, menatap suaminya dengan ragu.

"Kenapa?" tanya Bara mendekat ke arah Kanaya yang hanya mematung menatapnya.

"Mas Bara salat?" Kanaya bertanya dengan rasa ragu.

"Ctaaak..." satu jitakan mendarat di kening Kanaya hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Sakit..." protes Kanaya dengan mengusap keningnya yang masih terasa linu.

Saat melihat tatapan tajam Bara, Kanaya langsung berlari ke kamar mandi. Gadis itu hanya tidak habis pikir, jika pria yang preman dan paling hobi nongkrong dimana-mana ternyata masih menjalankan agamanya.

"Astaghfirullah...." lirih Kanaya karena dia terus saja bernegatif thinking pada seseorang yang kini menjadi suaminya.

Setelah makan malam berakhir, mereka kembali ke kamar. Saat inilah hal yang membuat Kanaya merasa gelisah. Dia takut jika Bara akan meminta haknya saat ini sementara, dia belum siap.

"Kamu tidak tidur?" tanya Bara saat melihat Kanaya mondar-mandir.

Pria yang tengah menatap layar ponselnya bisa membaca kegelisahan istrinya.

"A-aku... hanya belum ngantuk." ujar Kanaya kemudian membuka pintu kamar yang menghubungkan balkon.

Bara hanya melirik Kanaya memilih duduk di sofa yang terdapat di balkon kamarnya. Sedangkan Bara masih membalas pesan dari beberapa temannya yang sedang menanyakan keberadaanya karena dirinya tidak nampak di tempat tongkrongannya.

Begadang adalah hal biasa untuk pria yang tengah asyik stalking akun sosial media istrinya. Hingga tak terasa angin malam terasa dingin mengingatkan dirinya pada Kanaya yang masih duduk di luar sendirian.

Gegas dia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri keberadaan istrinya. Ternyata, gadis itu tengah tidur sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Tak ingin membangunkan Kanaya, Bara pun menggendong tubuh kecil itu untuk di bawanya masuk.

Wajah yang masih terbingkai jilbab itu memang sangat cantik. Bara begitu mengagumi, bibir mungil dan hidung mungil yang menghias wajah cantik istrinya.

Diletakkan tubuh mungil Kanaya dia ranjang. Tapi saat akan membuka jilbab bergo itu, Seketika Kanaya tersentak kaget dan membuka matanya lebar.

"A-aku belum siap, Mas." lirih Kanaya dengan terbata-bata. Sorot matanya sarat akan rasa canggung, dia takut melukai perasaan Bara.

"Aku mengerti, tapi tidak akan nyaman jika kamu tidur dengan mengenakan jilbab." ujar Bara dengan meneruskan membuka jilbab itu dan beranjak setelah menyelimuti tubuh istrinya.

Rasanya begitu lega saat Bara kembali duduk di sofa dan fokus dengan ponselnya. Ketakutan akan malam pertama tidak lagi membuatnya gelisah.

1
R@tna
pecat rindu kl u mau Kanaya balikan
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
yg gini bikin mls tuh
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
laki ga punya sikap mah tinggalin saja
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
karya otor ini rata2 karakter ceweknya lemah lembut, selalu tersakiti, banyak makan hati dan karakter cowok nya kebanyakan tidak tegas alias plin plan, knp ya? coba buat karakter ceweknya strong tor
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
banyak sekali pemeran antagonis nya
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
kan kan rindu tidak sebaik kelihatan nya
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
rindu, aina, cewek sok baik
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
orang ke 3 nya cewek yg katakter nta seperti diam tp menghanyutkan
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
karakter cewe karya otor rata 2 cewek kalem
Dwi Puji Lestari
sllu menanti karya2mu kak..
gita yunita
Yeaaayyyy ada lanjutannya 🥰🥰🥰 semangat kak nulisnyaaa 🥰🥰
Hana Roichati
ayo kak, lanjutin ceritanya sdh kangen n rindu karya" kakak 👍👍👍
RSDP💖
alhamdulillah....sehat sehat ya mbal/Drool/
mom farhan
hai juga thor kemana aja.cerita anik juga di lanjut dong thor masih setia menunggu😍😍
Nur Ainy
seruuuuu
Nur Ainy
Maas sakti miiss you.....
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Mutia Agustin
ceritanya mba kirana bagus, tp kenapa gk ada pemberitahuan kl ada nobel baru, jd gk tau
Mutia Agustin
Kecewa
Mutia Agustin
Buruk
Yayah Ade
Iya sebenarnya siapa bara itu ya jadi penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!