Note: Novel genre High Fantasi. se-chapter berjumlah 3000 sampai 4000 kata. Harap maklum, jika lama untuk membacanya.
Di dunia di mana ras monster dan manusia terpaksa bertarung untuk bertahan hidup, Serena, seorang gadis naga, bermimpi tentang perdamaian yang selama ini sulit diwujudkan. Meskipun dihadapkan pada penolakan dan ketidaksetujuan, dia bertekad untuk mengubah nasib rasnya sendiri.
Dengan tekad yang kuat, Serena berusaha untuk menciptakan sebuah dunia di mana kedamaian antara monster dan manusia bukan lagi sekadar impian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quinnela Estesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Selanjutnya (1)
“Akhirnya, kita kembali,” ucap Serena pelan. Mulutnya tersenyum tipis menunjukkan perasaan leganya, seperti seseorang yang akhirnya menginjak rumah setelah perjalanan panjang.
Violina berdiri di sampingnya, matanya menyapu sekeliling, mencari tahu sesuatu.
“Sepertinya kita berada di altar portal teleportasi bagian timur deh,” gumamnya. Alisnya sedikit berkerut, mengingat kembali tempat ini.
Keduanya menatap sekitar. Lantai di bawah kaki mereka terbuat dari batu kapur yang sama seperti di Altar Portal bagian barat. Namun, di lantainya terdapat rune-rune sihir yang berdenyut redup. Bercahaya lalu padam, berulang kali, setiap ada seseorang yang datang dari kehampaan.
Saat menoleh ke belakang, empat bukit menjulang tinggi seperti pegunungan.
Di atasnya, bulan purnama bersinar, menerangi halaman, menjadi latar belakang yang indah bagi tempat Altar Portal bagian timur.
Pohon-pohon tua tumbuh berakar di tebingnya. Akarnya merambat, mencengkram bebatuan, sedangkan batang kayunya tumbuh menjulang di angkasa dengan dedaunan yang bergoyang diterpa angin malam.
“Ternyata portal bergambar gerbang di peta yang kita pakai itu tujuan akhirnya ke sini,” kata Serena pelan. “Aku pikir, kita bakal muncul di altar portal teleportasi bagian barat.”
Violina meletakkan kedua tangannya di pinggang, menghela nafas panjang, bersyukur akan semua yang telah mereka lewati.
“Sudahlah. Yang penting kita sampai dengan selamat. Yuk, cari tempatmu untuk terbang. Kita harus pergi ke Serikat Guild sekarang.”
Tanpa banyak bicara, mereka berdua mulai melangkah menjauh dari altar.
Suara langkah kaki mereka, menyatu dengan langkah kaki orang lainnya di sekitar; para warga monster kota Hiddenama dari berbagai ras monster yang kembali dari kota manusia.
Di depan, hanya beberapa meter jauhnya. Sebuah terowongan alami terlihat di antara akar-akar pohon raksasa. Pohon yang sama dengan yang ada di altar portal bagian barat, sebagai jalan masuk menuju tempat berteleportasi.
Di dalam sana, udara terasa lebih hangat, diselingi bau sangit kayu bakar dan aroma rempah herbal.
Sebelah kanan, di jalur terowongan. Sebuah warung kecil berdiri sederhana di bawah naungan akar pohon yang menjalar. Tempat berjualannya dari batang pohon yang dilubangi sebagai tempat untuk warung dibangun. Di sekitarnya dipasangi lentera sihir berwarna putih, membuat bagian dalam terowongan tidak gelap sama sekali.
Penjualnya, seorang monster wanita tua dari bangsa Goblin, berkulit hijau kusam dengan taring dan telinga runcing, menggunakan daster. Beliau sedang mengaduk sup dalam panci besar sambil bersenandung pelan, sedangkan beberapa karyawannya membantu menghidangkannya.
Begitu melewati warung itu, pandangan mereka terbuka sepenuhnya, menyaksikan tempat yang berbeda.
Halaman altar teleportasi bagian timur ternyata jauh lebih hidup dibandingkan tempat serupa di altar teleportasi bagian barat kota Hiddenama.
Warung-warung berjejer rapi. Masing-masing ramai pengunjung: ada yang duduk sambil menyantap makanan, ada yang memeriksa senjata, ada yang membeli perlengkapan sebelum berangkat ke kota manusia atau membeli peta sihir. Sebagian, ada yang sekadar berbincang dengan sesama petualang.
Suasana riuh, tapi tertib. Obrolan terdengar dari segala arah, dengan berbagai macam topik bahasan.
“Ternyata benar ya,” gumam Serena sambil melangkah perlahan, matanya menyapu pemandangan di sekitarnya. “Kalo semua orang berada di teleportasi bagian timur.”
Violina mengangguk, matanya memerhatikan sesuatu. “Iya. Lihat saja itu,” ujarnya sambil menunjuk ke satu arah. “Banyak banget yang mau ke dunia manusia. Mereka mengantri di gerbang portal.”
Serena mengikuti arah tunjuk Violina. Di seberang warung, hanya berjarak beberapa meter, terbentang pemandangan yang cukup mencolok:
Dua belas gerbang kecil berbaris rapi, dibangun dari dinding batu yang telah dilapisi akar-akar pohon tua. Akar-akar itu seperti urat hidup, merambat di permukaan gerbang dan berdenyut samar, seolah mengalirkan sihir dari tanah ke udara.
Setiap gerbang dijaga oleh enam petualang monster berseragam Serikat Guild, berjas kelabu dan celana hitam, lengkap dengan jubah panjang dengan logo segitiga gambar burung phonix yang mencengkram pedang menggunakan kedua kakinya.
Mereka berdiri tegak, mengatur barisan petualang lain yang hendak melintasi gerbang.
Para penjaga memberi aba-aba, membiarkan hanya satu kelompok yang masuk dalam satu waktu, sebelum memberi jeda dan melanjutkan dengan kelompok berikutnya.
“Ya sudah deh,” gumam Serena sambil menunjuk ke arah langit. Di ujung area itu, tampak beberapa monster bersayap mendarat bergantian di suatu tempat. “Di sana sepertinya tempat penerbangannya deh. Ayo kita coba pergi ke sana!”
Violina menyipitkan mata, menatap Serena dengan sorot mata hangat. “Eh, kita kembali ke wujud monster yuk? Enggak enak rasanya, pakai wujud manusia terus-terusan.”
Serena mengangguk setuju. “Iya deh, setuju banget.”
Keduanya berhenti sejenak di tepi jalan, menjauh dari kerumunan.
Dengan tarikan napas dalam dan penuh kendali, Serena menutup matanya.
Aura panas membungkus tubuhnya. Dalam detik berikutnya, kobaran api kecil meletik di pundaknya, menjalar turun ke tangan dan punggung. Dari dalam api itu, tanduk hitam kebiruan menembus keluar dari kepala Serena, diikuti ekor naga bersisik biru gelap yang keluar dari dalam rok gaunnya, sedangkan telinganya berubah jadi panjang dan runcing.
Di sebelahnya, Violina melakukan hal yang sama seperti Serena.
Aura angin berdesir pelan di sekitar tubuhnya, membuat debu-debu tipis dan rambut coklatnya terangkat lembut. Ekor panjang berbulu coklat muncul dari balik rok jubahnya, mengibas ringan, sedangkan telinga serigala bermunculan dari sisi rambutnya, bergetar halus, menangkap semua suara dan arah angin.
“Lebih nyaman begini,” gumam Violina sambil meregangkan tubuhnya. “Tenaga sihirku jadi lebih stabil kalo pakai wujud asli.”
“Ayo jalan,” kata Serena. “Nanti, kau jelaskan sendiri surat bagianmu ya?”
Violina terdiam gelisah, mendengar hal tersebut. "Nanti, aku gimana bilangnya? Aku saja tidak tahu ini surat apa."
Serena menghela nafas pasrah. Ia baru teringat, jika Violina tidak ikut pembahasan dengan Pak Agran dan Pak Malvier. Pantas, Violina akan bingung, jika disuruh menjelaskannya.
"Baiklah, tidak apa. Aku sendiri aja yang akan menjelaskannya nanti. Serahkan saja suratmu itu Dewan Serikat Kesehatan."
Keduanya pun kembali melangkah. Semakin mereka mendekati tempat mendapatnya para monster bersayap, semakin terasa hembusan angin liar dari arah tempat itu.
Tempat itu berada sedikit jauh dari halaman portal gerbang. Tampilan latarnya tampak seperti bandara alam liar dengan lantai yang terbuat dari tanah berbatu yang hanya dikelilingi oleh pagar kayu tebal, setengah lingkaran, sebagai tanda pembatas aman dari hembusan angin.
Sama seperti halaman portal barat, lapangan tempat terbang di sisi timur kota Hiddenama penuh dengan kesibukan.
Puluhan makhluk bersayap terlihat sedang beristirahat, membersihkan bulu mereka, atau memeriksa peralatan penerbangan.
Di sudut tertentu, tumpukan barang bawaan disusun rapi, siap untuk diangkut ke udara. Ada yang membawa peti logam, gulungan kain sihir, bahkan koper-koper besar yang tampaknya menyimpan barang-barang penting.
Sayap berdesir, debu mengepul pelan. Setiap kali satu makhluk lepas landas, angin hasil kepakan membentuk hempasan kuat yang membuat pasir dan kerikil menari di udara.
Serena berjalan perlahan, matanya menyapu ke sekeliling. Ia mencari spot yang cukup lapang, tempat dirinya bisa mengeluarkan sayap naganya tanpa mengganggu siapa pun. Violina menyusul di belakang, langkahnya santai, mengikuti kemana Serena pergi.
“Aku mau ke sana,” ucap Serena sambil menunjuk ke sisi lapangan agak memojik yang masih sepi oleh orang. Hanya ada empat bangsa monster saja yang sedang menata barang mereka. “Di sana cukup lega.”
"Boleh," jawab Violina.
Belum sempat mereka tiba di tempat itu, sebuah suara tajam, tapi terasa familiar memanggil mereka.
“Serena! Violina!”
Telinga serigala Violina langsung berdiri tegak, menangkap sumber suara. Ia menoleh cepat, mencari arah datangnya sosok dari suara tersebut.
“Serena! Itu Malnez, teman sekolahmu. Dia datang!”
“Iya, aku tahu kok,” jawab Serena, tak terkejut namun wajahnya berubah sedikit cerah.
Dari arah kiri pandangan mereka, seorang wanita dengan postur ramping dan anggun melangkah cepat ke arah mereka.
Dia mengenakan mantel panjang dari bulu bertumpuk yang tampak hangat dan ringan. Sayap besar berwarna hitam legam terbentang menggantikan kedua lengannya, dan kedua kaki yang bercakar seperti elang, mencengkeram tanah dengan lincah setiap ia melangkah.
“Kalian ke mana saja? Dua hari enggak ada kabar!” serunya cemas saat jarak mereka cukup dekat. Mata kuningnya menyipit tajam, namun penuh kekhawatiran.
Violina menanggapi dengan senyum jenaka, mencoba mencairkan suasana.
“Tenang aja, Malnez. Kami cuma habis kerjain quest sih di kota manusia. Tapi, ya gitu. Guest-nya susah banget.”
Serena mengangguk santai, tapi wajahnya tak sepenuhnya lepas dari rasa penasaran.
“Emangnya kenapa sih? Kau panik banget. Ada sesuatukah?”
Malnez langsung mengangkat telunjuknya, sikapnya mendadak seperti guru yang hendak memberi tahu murid yang nakal.
“Aku dapat kabar dari Serikat Guild. Katanya, kalian masih belum kembali dari quest, padahal quest yang kalian kerjakan itu quest biasa aja, makanya banyak orang khawatir sama keadaan kalian!"
Keduanya spontan terkejut. Serena tanpa sadar menaikkan alisnya, sementara ekor naga di bokongnya sedikit melengkung naik. Violina juga, refleks menegakkan telinga serigalanya, merespon rasa terkejutnya.
“Yang bener?” tanya Serena, suara agak merendah. “Tumben banget sih, Dewan Serikat mengkhawatirkan kami.”
“Ihh, kau ini!” sahut Malnez, kali ini dengan nada setengah jengkel. Sorot matanya tajam, mencerminkan kemarahan yang lahir dari rasa khawatir. “Serena, masa kau lupa? Di Akademi Dasar Monster itu sudah diajarkan jelas-jelas: bangsa manusia tidak bisa melukai kita, kecuali mereka punya senjata sihir yang dibuat dari tubuh bangsa kita sendiri.
Matanya menatap tajam ke arah Serena dan Violina, kedua tangannya bersendekap di dada, menandakan betapa pentingnya hal itu.
Semakin kuat tubuh monster yang mereka pakai sebagai bahan senjata, semakin dahsyat pula sihir yang bisa mereka ciptakan. Makanya, Serena, waktu kau kabur ke dunia manusia dulu, banyak orang dari Serikat Guild langsung mencarimu. Mereka takut kalo kau sampai kenapa-kenapa.”
Violina mengangguk, mengingat kejadian itu, “Oh iya, aku ingat kejadian itu! Kejadian itu sampai viral, kalo Serena sempat pergi ke kota manusia sendirian dulu, kan? Setelah itu, banyak orang dari Serikat Guild Hiddenama yang pergi mencarinya untuk mengajak kembali.”
Malnez mendesak dengan nada lebih tegas, tak mau meninggalkan pesan penting itu begitu saja.
“Oleh sebab itu, kalian harus ekstra hati-hati! Cepat kembali ke Serikat Guild dan laporkan queat kalian, sebelum mereka pergi mencari kalian.”
Serena menunduk, matanya menerawang ke kejauhan. Ingatan lama menerpa, sewaktu ia masih menjadi gadis nakal yang tidak betah tinggal sendirian di kota Hiddenama. Serena ingat betul, bagaimana dirinya nekad pergi ke kota manusia, berharap bisa menemukan kedua orang tua angkatnya yang mungkin saja sedang mencarinya.
Namun, kenyataan jauh berbeda. Ia malah terjebak dalam pusaran bahaya yang membuat Serikat Guild kewalahan mencarinya.
Serena menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia mencoba mengenyahkan bayang-bayang masa lalu yang sempat membebani pikirannya, meskipun masa itu telah berlalu, luka kenangannya masih meninggalkan jejak samar.
"Iya. Terima kasih ya, Malnez," ucap Serena dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. "Kau benar. Kami akan kembali dulu ke Serikat Guild."
Malnez tersenyum lega, rona ceria kembali muncul di wajahnya. “Syukurlah. Hati-hati di jalan, ya. Aku juga harus pergi sekarang, harus ambil kotak obat. Di rumah sakit sekarang, sedang banyak korban yang terluka.”
Suaranya sempat merendah, namun sorot matanya mendadak kembali tajam saat menatap Serena dan Violina.
“Oh, dan satu lagi. Kalian juga harus ekstra hati-hati.” Malnez melangkah sedikit lebih dekat. “Aku dengar kabar dari tim penyelidik bahwa bangsa manusia, mereka berhasil mengembangkan senjata sihir baru. Senjata itu dapat menimbulkan luka yang sulit disembuhkan.”
Violina tersentak kecil, tapi mencoba tetap tenang. “Serius?”
Malnez mengangguk cepat. “Serius. Jadi kalo nanti kalian menyelesaikan quest lagi ke dunia manusia, pastikan kalian bawa batu portal perpindahan, ya. Jangan nekat. kalo situasi gawat, langsung kabur pakai batu portalnya.”
Serena menanggapi dengan anggukan mantap. Senyum tipisnya menguat, meski dalam hatinya tersisa bayangan rasa khawatir.
“Terima kasih juga atas infonya, Malnez. Seandainya bukan kau yang bilang, mungkin kami enggak bakal tahu.”
Malnez melambaikan tangan sekali lagi, sebelum akhirnya berlari ringan menuju gerbang teleportasi.
Bulu-bulu di sayap hitamnya mengoyang pelan, mengikuti langkahnya, lalu sosoknya perlahan menghilang di balik kerumunan.
Keheningan singkat mengisi udara saat Serena dan Violina berdiri di tempat mereka, memandangi arah Malnez pergi.
“Senjata yang Malnez maksud, sepertinya senjata dari bahan Manaterium,” gumam Serena, menopang dagunya dengan tangan, pikirannya melayang.
Violina menyentuh dadanya perlahan, di mana perban masih terbalut rapi, menutupi bekas lukanya
“Itu senjata yang melukaiku, bukan?”
Serena mengangguk, matanya menatap sahabatnya dengan sorot prihatin. “Iya. Dan jujur saja, Violina. Aku bersyukur bisa mendapatkan penawar racunnya tepat waktu. kalo tidak,” suara Serena menurun, “Mungkin, kau tidak akan selamat.”
Telinga dan ekor serigala Violina langsung merunduk, tubuhnya bergetar pelan. “Seburuk itu, ya, sampai bisa bikin aku mati?”
“Lebih dari itu,” jawab Serena serius. “Bukan senjatanya yang mengerikan, tapi bahan dasarnya. Bahan Manaterium itu semacam katalis. kalo digabungkan dengan senjata biasa, dan mengenai tubuh kita. Sistem regenerasi kita bisa berhenti bekerja. Kita akan menjadi seperti makhluk biasa. Rentan, lemah dan mudah mati.”
Violina menelan ludah. Jelas rasa takut belum benar-benar hilang dari sorot matanya.
“Pantas saja. Waktu itu, penyembuhanku tidak bekerja. Aku sendiri sampai kebingungan.”
Serena menoleh ke sekeliling. Area tempat lepas landas sudah jauh lebih sepi. Para monster bersayap sudah banyak yang terbang, menyisakan hanya beberapa orang yang masih beristirahat.
“Dan yang lebih gawat lagi,” lanjut Serena, suaranya pelan, “ketua Serikat Guild Chirandian, Pak Agran bilang, kalo obat untuk racun dari bahan Manaterium belum ditemukan. Kita harus segera ke Serikat Pengobatan. Mungkin mereka bisa membantu dan sekaligus untuk menyampaikan suratmu juga disana.”
Violina mengangguk perlahan. Wajahnya masih terlihat khawatir, namun ia mencoba menenangkan diri.
Serena menutup mata, menarik napas panjang. Dari punggungnya, dua sayap naganya yang lebar membentang, bersinar lembut dalam warna biru keputihan.
“Ayo,” ucap Serena lembut. “Pegang kakiku. kalo lukamu masih nyeri, kita jalan kaki saja sampai dekat Serikat Guild.”
Violina tersenyum kecil, hatinya sedikit lega melihat perhatian sahabatnya itu. “Tenang saja, aku masih kuat kok. Lukanya juga sudah enggak sakit. Ayo kita selesaikan ini.”
“Baiklah. kalo begitu, mari kita pergi.”
Serena mengepakkan sayap naganya dengan satu hentakan kuat.
Udara seketika berdesir kencang, menciptakan pusaran angin yang menerbangkan debu dan pasir di sekitar. Barang-barang yang disusun di atas peti kayu oleh para monster bersayap lain terlempar, berjatuhan ke tanah, membuat beberapa di antara mereka menatap dengan pasrah, ada yang menahan debu dengan tangan, ada yang hanya mendesah, merelakan apa yang terjadi.
“Hei! Ayo naik, Violina!” seru Serena, tubuhnya kini perlahan terangkat ke udara.
Violina merendahkan tubuhnya. Kedua kakinya menekuk, lalu ia melompat ke atas dengan sigap. Tangan kirinya mencengkeram kuat pergelangan kaki Serena.
“Aku sudah siap! Ayo kita pergi!” jawabnya lantang dari bawah.
Tanpa membuang waktu, Serena kembali mengepakkan sayap. Kali ini lebih kuat.
Tubuh mereka melesat ke langit, menembus udara hangat yang menyapu wajah mereka di pagi hari, meskipun langit kota Hiddenama selalu masih malam.
Di bawah, halaman teleportasi timur tampak mengecil, berubah menjadi titik samar, saat mereka semakin terbang tinggi ke atas.
Langit di atas wilayah timur Hiddenama penuh dengan aktivitas. Puluhan monster bersayap melintasi udara, membawa peti-peti kayu dan kantong besar yang menggantung di tubuh mereka. Namun ketika Serena terbang melintas, satu per satu mereka menyingkir, membuka jalan baginya seakan tahu betul siapa yang sedang lewat.
Violina melirik sekeliling dari ketinggiannya. “Hebat juga sih, Serena. Semua orang yang terbang langsung kasih jalan kalo kau lewat.”
Serena menunduk sedikit, menatap sahabatnya dengan ekspresi tenang. “Itu bukan karena aku hebat. Sayapku saja terlalu kuat, Violina. kalo mereka enggak menyingkir, barang bawaan mereka bisa jatuh semua diterpa anginku.”
Violina terkekeh pelan, ekor serigalanya bergoyang ringan tertiup angin. “Tapi tetap saja, itu keren. Aku jadi ingin punya sayap juga deh.”
Serena menoleh sedikit, angin mengibaskan helai rambut putihnya yang panjang. “Iya, terima kasih,” jawabnya dengan suara tenang, disertai senyum kecil yang tulus.
Mereka melanjutkan perjalanan di langit. Angin hangat menggulung lembut di sekitar mereka, membawa aroma harum berempah dari toko-toko yang sedang beroperasi di bawah.
Pemandangan kota yang luas membentang sejauh mata memandang.
Di bawah bentangan awan, lima bangunan besar berdiri berjejer tidak rapi. Modelnya sama seperti gedung-gedung asrama monster yang ada di wilayah barat kota Hiddenama: tinggi, kokoh, dengan atap terbuat dari genteng merah yang ditumbuhi tumbuhan merambat.
“Lihat! Itu asrama monster bagian timur,” ujar Violina, sambil menunjuk ke bawah. Matanya bersinar penuh rasa ingin tahu. “Sepertinya mereka sedang masuk waktu sekolah deh.”
Di antara bangunan itu, lima lapangan luas terbentang seperti panggung latihan.
Dari langit, titik-titik kecil tampak bergerak cepat, sebagian mengeluarkan kilatan api, pusaran angin, dan semburan petir. Beberapa bahkan menciptakan ledakan kecil yang meninggalkan bekas gosong di tanah.
Tak jauh dari sana, dua danau tampak seperti cermin kotor yang penuh kehidupan.
Airnya tidak jernih, melainkan keruh kecoklatan karena ditutupi tumbuhan air dan ganggang.
Di permukaan danau, beberapa anak dari berbagai bangsa monster terlihat berlatih berenang sambil beradu pedang, menyemburkan bola air, atau bertarung satu lawan satu dengan sihir elemen air.
Serena mengangguk ringan. “Iya, aku tahu tempat itu. Asrama monster bagian timur memang khusus buat anak-anak monster yang udah dewasa. Mereka lagi bersiap buat ujian akhir tahun kayaknya, ujian untuk bisa berpetualang ke dunia manusia.”
“Yang diadakan setahun sekali, bukan? kalo mereka sudah bisa menguasai sihir transformasi.” Violina melanjutkan, nadanya penuh perasaan nostalgia.
“Betul,” balas Serena. Ia memandangi para murid yang tengah bertarung dan berlatih dengan semangat membara. “Setelah bisa menyamar sebagai manusia, baru mereka boleh menjalani quest yang ada di kota manusia.”
Violina terdiam sejenak, menatap ke bawah dengan sorot mata lembut, membuatnya teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong. Anak-anak monster yang dulu kita selamatkan dari perdagangan itu. Apa mereka baik-baik saja, ya?”
Serena menghela napas pelan, angin di ketinggian menyapu wajahnya.
Tatapannya menembus awan tipis yang berarak, mengarah lurus ke depan. Di kejauhan, sebuah bangunan megah mulai tampak: tiga lantai menjulang tinggi di antara atap-atap bangunan lainnya yang lebih rendah. Itulah Bar Serikat Guild Hiddenama, tempat yang selama ini menjadi titik kumpul para petualang monster.
“Semoga aja mereka betah,” ucap Serena, masih menatap ke depan. “Kalo mereka enggak mau jadi petualang karena takut terluka, sebenarnya masih bisa jadi non-petualang monster. Seperti menjadi pedagang misalnya. Kerjanya cuma jual-beli.”
Violina langsung mencibir, alisnya terangkat tinggi, mendengar penjelasan Serena. “Cuman jual-beli, katanya?” Ia melipat tangan kirinya di dada sambil mendengus. “Itu pekerjaan susah, tahu. Menjadi pedagang monster harus belajar banyak ilmu dulu sebelum bisa berjualan di kota manusia. Ada banyak uji lisensinya juga.”
Serena terkekeh kecil. “Iya, iya. Aku tahu, tapi aku sendiri sebenarnya sempat pengen ambil profesi non-petualang soalnya.”
“Lah, kenapa?” Violina menoleh cepat, sedikit terkejut.
Serena menghela nafas, lalu melanjutkan perkataannya sebelumnya.
“Tapi dilarang. Waktu aku tes kekuatan di Serikat Guild Hiddenama, para dewan langsung menolak mentah-mentah. Mereka langsung menyuruhku jadi petualang monster.”
“Yaiyalah!” potong Violina sambil menunjuk ke arahnya. “Dengan kekuatanmu yang luar biasa seperti itu, siapa yang mau, kau hanya jadi pedagang saja di pasar?” Violina tertawa singkat. “Kau juga dari bangsa naga yang langka. Tenaga besarmu itu bukan buat duduk di balik meja saja pastinya.”
“Sudahlah,” gumam Serena, suaranya berubah tegas. Matanya kembali fokus ke depan. “Violina, kita hampir sampai. Pegang rokmu baik-baik. Jangan sampai tersingkap waktu kita turun nanti.”
Violina cepat-cepat merapikan roknya, menekuk kain ke dalam agar tak berkibar terlalu liar saat mereka mendarat.
“Aku sudah siap,” katanya dengan mantap.
“Baiklah. Pegangan, kita turun sekarang,” sahut Serena sambil mengepakkan sayapnya dengan lembut, memperlambat laju terbang mereka.
Udara mulai tidak berhembus kencang, saat mereka menembus lapisan langit yang lebih rendah secara perlahan.
Serena mengarahkan terbang ke sebuah lapangan luas yang diberi tanda khusus untuk tempat mendaratnya bangsa monster yang memiliki sayap. Di bagian paling sepi dari area itu, ia mempercepat pendaratan.
Begitu jaraknya cukup dekat dengan tanah, Violina melepaskan pegangan dan berputar di udara sejenak. Ia mendarat anggun dengan sihir angin yang memijak telapak kakinya, menghasilkan hembusan ringan dan debu tipis di sekitarnya.
Serena menyusul tak lama kemudian. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kedua sayap naganya perlahan lenyap ke dalam tubuhnya dalam percikan cahaya biru keperakan. Ia menukik cepat dan mendarat langsung dengan kedua kakinya.
Tanah bergemuruh lembut saat kakinya menyentuh tanah, suara hentakan itu cukup keras hingga menarik perhatian monster lain di sekitar yang tengah bersantai.
Beberapa kepala menoleh, namun Serena dan Violina hanya saling pandang dan langsung berlari kecil menuju bangunan utama Serikat Guild yang tak jauh dari sana, mengabaikan semua tatapan yang tertuju pada mereka.
Jam tiang beton yang berdiri di pinggir jalan menunjukkan pukul 11 siang, waktu di dunia manusia. Jarum panjangnya berhenti tepat di angka tujuh, berdentang pelan satu kali.
Begitu sampai di halaman depan Serikat Guild, langkah mereka melambat.
Mereka melintasi Bar utama, tempat berkumpul para petualang, seperti biasa; penuh tawa, gelas bir yang terangkat, dan aroma makanan hangat yang menggoda dari dapur belakang. Kursi-kursi kayu dipenuhi penduduk berbagai bentuk dan ras, beberapa mengenakan jubah lusuh, sebagian lagi bersenjata lengkap, sedang bercanda sambil menyantap daging panggang atau roti bundar besar.
Seorang pria pelayan Bar mengenali mereka dan buru-buru menghampiri dengan ekspresi lega.
“Nona Serena, Nona Violina! Syukurlah kalian kembali!” serunya, napasnya agak tersengal karena terburu-buru.
Serena juga mengenali pelayan tersebut. Ia tersenyum tipis, berusaha tampak santai. “Iya, Dandis. Kami baik-baik saja kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Pelayan bernama Dandis itu masih tampak cemas. “Nona Ra sejak kemarin sedang mencari kalian. Beliau benar-benar khawatir. Katanya, kalian tidak kembali sesuai jadwal, padahal quest yang diberikan sangat mudah. Beliau sampai harus mengecek koordinat keberangkatan kalian untuk menyusul, jika terjadi sesuatu.”
Serena mengangkat tangan, mengayun pelan seolah menepis kekhawatiran itu. “Tidak usah dibesar-besarkan deh. Kami sedikit mengalami kesulitan saja. Enggak ada masalah, kan, Violina?”
Violina menangguk dengan cepat, memancarkan senyum meyakinkan. “Benar.”
Dandis menundukkan kepala dengan sopan. “Kalau begitu, saya pamit dulu,” ujarnya sebelum berbalik dan meninggalkan Serena serta Violina yang masih berdiri di halaman depan Serikat Guild.
Namun Violina segera mengulurkan tangan, menghentikannya. “Tunggu sebentar, Dandis! Nona Ra ada di mana ya?”
Sebelum Dandis bisa menjawab, seorang pelayan wanita yang baru saja lewat sambil membawa nampan berisi makanan berseru, “Beliau ada di dalam. Langsung saja masuk. Tapi hati-hati, ya. Beliau lagi enggak dalam mood bagus. Bisa-bisa kalian dimarahi nanti.”
kenapa mereka tidak bercocok tanam atau beternak? mengandalkan pasokan saja ya sulit.
pasokan itu dari mana?
serigala cukup terbayang, yang satunya belum.
Diceritakan juga bahwa mereka sepertinya berjumlah banyak, prediksiku mungkin ada belasan atau puluhan. Kalau mereka tipe agresif feel di keroyoknya itu kurang terasa buatku.
Atau mungkin karena mereka lemah ya, jadi tidak segalak para zombie bab bab sebelumnya🤣 jadi gampang buat di sikatnya
Tapi overal aku masih menikmati kok, hehe, sejauh ini belum kerasa ada minus yang benar benar merusak ceritanya..