Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Bersandar
Diandra sampai di rumah dan langsung menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ah, aku lelah sekali, batinnya. Penerbangannya yang memakan waktu empat jam cukup membuatnya merasa capek di sekujur tubuhnya.
Gadis itu tiba-tiba teringat ponselnya yang sudah mati sebelum penerbangannya, dan belum diisi ulang sampai sekarang.
Dia bangkit perlahan, mengambil charger dari tas selempangnya dan sekaligus ponselnya.
Dia mencolokkan ponselnya pada charger dan baterai mulai mengisi. Entah kenapa dia bisa lupa mengecas batrai ponselnya padahal dapat dilakukan selama berada di dalam pesawat.
Gadis itu menunggu ponselnya kembali menyala, dan puluhan panggilan tidak terjawab masuk ke ponselnya. Ah, dari Gionard. Pasti dia berfikir aku masih di Thailand, batin Diandra lagi.
Dia menekan tombol panggil pada kontak Gionard, dan terhubung.
"Diandra," seru Gionard bersemangat.
"Ya, ini aku Gio. Ponselku baru saja hidup,"
Terdengar helaan napas Gionard disebrang.
"Syukurlah, kufikir akan kehilanganmu untuk kali kedua," balas pria itu.
Diandra terkekeh.
"Apakah kau takut?" tanyanya.
"Tentu saja. Kehilangan sekali sudah cukup untukku, Diandra. Tidak akan lagi," Gionard melambatkan intonasinya. Memastikan Diandra mendengar setiap kata yang dia ucapkan.
Diandra semakin terkekeh. Tidak menanggapi dengan serius apa yang diucapkan oleh Gionard.
"Istirahatlah. Kau pasti capek," ujar Gionard lagi.
"Waah.. kau tahu, aku baru saja ingin tidur dan teringat ponselku ini," Diandra semakin tersenyum.
"Apa kau akan kembali kesini, Gio?" lanjut gadis itu.
"Tentu saja. Aku akan tinggal lama disana. Aku sedang menunggu penerbanganku," balas Gionard tertawa.
Diandra tertegun.
"Kau sudah akan kembali?" tanyanya terkejut. Bukankan Gionard mengatakan bahwa dia akan tinggal sedikit lama di Thailand sebelum akan berangkat ke Indonesia?
"Ya, kebahagiaanku telah duluan pergi meninggalkanku, jadi aku akan menyusulnya sekarang," balas Gionard lagi, senyum tak lepas dari sudut bibirnya.
Diandra menaikkan alisnya. Entah apa yang terjadi pada Gionard, mungkin dia sedikit mabuk, fikir Diandra.
"Aku tidak mengerti yang kau katakan, tapi baiklah --nikmati penerbanganmu dan sampai bertemu lagi," ujar Diandra.
Gionard mengangguk.
"Pasti. Sekarang istirahatlah. Boarding-ku hampir tiba. Bye, Diandra," jawab Gionard lagi, menyudahi sambungan teleponnya.
Diandra kembali berjalan lalu naik ke atas ranjangnya. Dia ingin sekali tidur.
***
Diandra sedang menikmati waffle coklatnya di ruang nonton ketika sayup terdengar suara mobil Bram datang. Buru-buru Diandra melirik jam dinding besar yang berada di tengah ruangan. Katanya dia akan terlambat, fikir Diandra dalam hati. Ini baru jam delapan malam. Gadis itu terus saja melanjutkan memakan waffle nya sambil sesekali melihat ke acara talk show yang sedang ditayangkan di televisi.
Lalu pintu besar itu terbuka dan Bram muncul dari sana, menenteng tas dan jasnya dengan tangan kanannya. Kancing kemejanya sudah terbuka dua dari atas dan dasinya sudah tak rapi lagi. Dia berjalan pelan ke arah Diandra, menghampiri gadis itu.
"Diandra," panggil Bram pelan.
Diandra menoleh dan menyadari Bram sudah berdiri di ujung sofa, dengan tampilan yang cukup berantakan.
"Bram," panggilnya. Dia hendak bangkit dari duduknya namun Bram telah duluan duduk di sampingnya.
"Izinkan aku tidur di pangkuanmu, oke?" ujar Bram, tidak menunggu jawaban dari Diandra, dan langsung menaruh kepalanya di paha Diandra, membaringkan tubuhnya pada sofa dengan melipat kedua kakinya naik ke atas. Dia bersandar nyaman pada gadis itu.
Diandra hanya bisa mematung menyaksikan gerakan Bram yang begitu cepat. Kini kepala Bram telah bersandar pada pahanya, dan dia dapat menyentuh rambut-rambut Bram yang tampak berantakan. Bram menutup matanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Diandra pelan. Dia sungguh canggung, merasa tidak enak jika ada orang yang melihat mereka seperti ini sekarang. Mungkin Teh Fitri atau siapalah yang bisa saja lewat.
Bram tidak menjawab. Perlahan dia membuka matanya. Menatap Diandra lurus, dalam.
"Diandra," ucapnya lagi.
Diandra hanya membalas tatapannya.
"Izinkan aku hari ini tidur denganmu," pria itu berujar sedikit memohon.
Diandra salah tingkah. Tidur? Tidur seperti apa yang dimaksud Bram? Ah, bagaimana ini? fikirnya dalam hati. Tak terasa pipinya memerah.
"Aku ingin tidur memelukmu, bisakah gulingnya disingkirkan? Aku janji untuk hari ini saja," lanjut Bram lagi, masih memelas.
Diandra tersadar dari lamunannya yang entah kemana-mana, merasa malu pada dirinya sendiri.
"Baiklah," ujarnya cepat.
"Hari ini saja," lanjutnya lagi. Tersenyum kecil.
Bram mengangguk dan membalas senyuman Diandra.
Tidak apa-apa, Diandra. Hari ini juga tidak apa-apa, aku sangat membutuhkanmu, batin Bram dalam hati.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Makasih udah mampir ya kak.. pantengin terus, hehe 🙏❣️
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍