Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.
Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.
Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.
Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ego dan Perasaan Rania
Amira menyiku lengan Hamid saat melihat Dave sedang berjalan ke arah dapur membawa bekas makan Rania. Hamid yang sedang fokus menganalisa grafik di layar tab nya pun melirik kesal ke arah Amira.
"Apa? ganggu saja," sewot Hamid.
Amira memanyunkan bibir bawahnya, kemudian dagunya menunjuk ke arah Dave. Meskipun agak kesal pada Amira yang telah mengganggu konsentrasinya, Hamid terpaksa mengikuti arah yang ditunjuk oleh istrinya itu.
"Apa tidak sebaiknya kita tanya langsung sama pak Dave tentang Rania, pa?"
Sejenak Hamid terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya.
Melihat respon suaminya yang tak menyetujui usulannya, Amira menegakkan duduknya, menatap heran ke arah Hamid.
"Kenapa? Pak Dave kan suaminya Rania. Kenapa dia tidak boleh tau kalau Rania...."
"Siapa yang tidak boleh tau? Jangan sekarang. Kita pura-pura tidak tau saja dulu," potong Hamid. Kembali melihat pada layar tab nya.
"Memang kenapa?"
Hamid menghembuskan nafas besar." Papa bilang jangan sekarang, ya jangan sekarang. Paham tidak?" ucap Hamid sedikit menyentak. Sontak saja membuat mata Amira membesar. Entah setan apa yang sedang merasuki suaminya saat ini, berani menyentaknya. Amira kesal, bangkit dan beranjak pergi begitu saja.
"Ishh, dasar perempuan. Baru segitu saja ngambek. Tidak tau apa, suamimu ini sedang pusing banget," gerutu Hamid, melihat ke arah Amira yang kian menjauhinya
Dave memberikan senyuman pada Rania saat dirinya kembali ke kamar. Namun, Rania hanya menatap Dave diam tanpa ekspresi. Rania memang pelit senyum. Setiap kali Dave tersenyum padanya, Rania tak pernah membalas senyumannya. Oleh karena itu, Dave tidak tahu seperti apa senyuman Rania.
Dave tidak bertanya apa-apa. Dia langsung ngeloyor pergi ke arah walk in closet. Sementara Rania, hanya menatap punggung Dave sampai menghilang dari pandangannya.
"Rania..."
Rania yang mendengar namanya disebut, lantas mendongak. Nampak Dave dengan penampilan yang sudah sedikit berubah. Celana jeans panjang tapi kaos nya masih memakai kaos yang sama.
"Saya mau ijin pulang ke rumah saya," kata Dave pelan. Akan tetapi, Rania tidak merespon apa-apa, lalu kembali menundukkan wajahnya.
Melihat sikap Rania yang hanya cuek padanya, Dave tersenyum kecut, kemudian beranjak.
"Berapa lama?"
Dave yang hendak menarik gagang pintu diurungkan.
"Tergantung. Bisa sebentar, bisa lama."
Rania tak lagi bertanya. Pandangan nya pun tak berubah tetap menunduk. Tapi kali ini, Rania me re mas buku-buku jari nya.
"Semua tergantung kamu, Ran. Kalau kamu meminta sebentar, saya akan pergi sebentar saja. Dan kalau kamu meminta lama, saya juga akan pergi lama dan mungkin selamanya tidak akan kembali lagi ke rumah ini."
Rania seketika mendongak. Hatinya mendesir. Menatap Dave dengan tatapan yang sulit di artikan.
Jadi bagaimana? Kamu mau saya pergi sebentar, atau saya pergi selamanya?"
Hati Rania ingin mengatakan 'jangan lama-lama' tapi mulutnya seolah terkunci.
Bathin Rania berperang antara melawan logika dan perasaannya. Rania sempat berpikir, Jika Dave pergi selamanya, bukan kah itu bagus? dan bukan kah hal itu yang dia inginkan selama ini? tapi kenapa saat ini ada rasa ketidakrelaan di hatinya.
Sejujurnya Rania benci pada situasi perasaannya saat ini. Hal yang sebenarnya telah mencoba menggiring Rania untuk memilih berpikir lebih dewasa, tanpa harus mementingkan egonya. Tapi ternyata, kekuatannya tak cukup mampu menahan senapan ego yang makin membombardir hati dan benaknya.
Airmata Rania mengalir begitu saja tanpa diminta. Dave tak bisa menafsirkan makna dari airmata Rania yang mengalir itu. Entah airmata kesedihan, entah airmata kebahagiaan dirinya akan pergi. Karena sikap Rania yang hanya diam itulah pada akhirnya, Dave memilih untuk melanjutkan langkahnya. Menarik gagang pintu, lalu menutupnya kembali.
Setelah Dave hilang dari pandangan matanya, Rania menumpukan wajahnya pada kedua lututnya. Dan menangis terisak.
"Raniaaaaa, mama boleh masuk tidak!"
Mendengar suara cempreng Amira, lekas Rania menghentikan tangisnya, dan mengelap airmata nya sebelum sang mama memasuki kamarnya.
Tak lama, seorang wanita baya yang terlihat awet muda dan modis menyembul dari balik pintu sambil tersenyum lebar ke arah Rania.
"Eleh, eleh. Putri mama yang cantik ini kenapa semedi terus didalam kamar? Kamu tau mama rindu berat! Mau menemui mu disini tidak enak sama suamimu," ujar Amira panjang lebar, sambil berjalan ke arah ranjang. Sementara Rania hanya tersenyum saja melihat kedatangan mamanya yang sambil nyerocos.
"Tadi mama lihat suamimu keluar. Mau kemana dia?"
Rania mengangkat kedua bahunya tanpa berkata.
Sejenak Amira memandangi wajah Rania yang pucat dan sembab." Apa Rania sedang bertengkar dengan pak Dave? Tapi kalau bertengkar kenapa tadi pak Dave membelikan seblak untuk Rania," bathin Amira.
"Ran...!"
Rania menatap Amira tanpa bertanya.
"Kamu...pucat banget. Apa kamu sedang sakit ? terus tadi kenapa muntah-muntah?" Amira pikir, dia harus memancing Rania. Apakah Rania tahu kalau kondisinya itu seperti ciri-ciri wanita hamil? Dan apakah suaminya sudah tahu? Oleh karena nya mereka bertengkar. Tapi diluar dugaan Amira, Rania menjawabnya dengan santai.
"Aku cuma masuk angin saja kok."
"Apa kamu yakin cuma masuk angin?"
Rania mengangguk tanpa keraguan.
Amira terdiam. Sempat terlintas dipikiran Amira untuk membawa Rania check ke dokter memastikan. Tapi, bagaimana jika Rania benar-benar hamil dan Rania shock. Terlebih anak yang dikandungnya pasti anak Kevin bukan anak suaminya. Amira jadi bingung. Padahal, awalnya Amira senang sekali kalau Rania beneran hamil. Sekarang malah bimbang mengingat keadaanya seperti ini.
Setelah menjelang maghrib. Rania berulang kali bolak balik menoleh ke arah pintu kamarnya. Berharap pria yang tadi sore ijin pulang ke rumahnya telah kembali. Tapi, lagi-lagi Rania menghembuskan nafas kekecewaannya.
"Apa aku telpon saja!" bathin Rania. Lalu mengambil ponselnya di atas nakas. Akan tetapi, Semangatnya tiba-tiba menurun setelah sadar bahwa dirinya tidak memiliki nomer Dave.
Terbesit dipikiran Rania untuk meminta nomer Dave pada papa Hamid karena hanya papanya yang punya. Akan tetapi, Rania geleng-geleng kepala saat teringat tentang mobil milik Hamid yang rusak dan hingga saat ini masih dibiarkan di suatu tempat.
"Aku belum siap dimaki-maki sama papa," ucap Rania lirih.
Drrrt
Pada saat yang sama, ponsel Rania bergetar. Rania langsung melihat pada layar ponselnya. Kening Rania mengernyit saat melihat sebuah pesan dari nomer yang tak dikenal. Dan kening Rania semakin mengkerut saat melihat isi pesannya yang tak lain adalah beberapa buah foto Kevin bersama seorang wanita yang tak nampak wajahnya lengkap dengan alamat tempatnya.
Drrtt
Sebuah pesan dari nomer yang sama kembali masuk.
"Datang saja ke tempat itu malam ini. Kamu pasti menemukan nya."
"Siapa orang ini? Kenapa orang ini bisa tahu kalau aku sedang mencari Kevin?" Bathin Rania. Dan tak berpikir panjang lagi, Rania bangkit lalu mempersiapkan diri untuk mendatangi tempat keberadaan Kevin di foto itu.
ayo up lagi, kak