Naya tidak pernah membayangkan diulang tahun pernikahannya yang ke-empat harus berakhir menjadi mimpi buruk untuknya. Brian, suaminya terpaksa menjual Naya untuk melunasi utang-utangnya. Naya yang masih mencintai suaminya rela dengan keputusan Brian. Tidak ada yang pernah menerima dirinya selain Brian.
Di sana, Naya bertemu dengan Clara dan Rose. PSK yang mengubah sudut pandang Naya tentang dunia malam, dunia para penghibur.
Noah, klien pertama Naya, seorang pewaris tunggal perusahaan otomotif terbesar di Negara itu, menginginkan Naya untuk menemaninya setiap malam.
Naya dengan segala kerapuhannya dan Noah dengan segala kekuasaan dan arogansinya. Apakah mereka bisa saling menyembuhkan luka? Atau Noah hanya akan menambah luka Naya?
Lalu, bagaimana dengan pernikahan Naya dengan Brian? Suami yang sudah mengenalkan arti keluarga untuk Naya yang seorang anak yatim piatu sejak lahir.
Clara, Rose dan kisah memilukan PSK lainnya.
Ini bukanlah kisah tentang mereka di atas ranjang. Tapi ini adalah kisah yang tidak mereka ceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisya Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Suara pintu berdebam nyaring menerima dorongan keras.
“Beraninya kau membantahku!” Noah berteriak keras kepada wanita dengan lipstik merah di bibir dan sebuah puntung rokok yang terbakar di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Mike mau membayar lebih dari anda, Tuan. Saya tidak punya pilihan lain.”
Riya sudah bersiap. Ia tau, Noah akan datang dan memakinya. Tapi, baginya, itu tidak masalah. Selagi mereka memperebutkan satu wanita, saldo rekeningnya lah yang semakin membengkak.
Noah memukul keras meja kerja Riya dengan kedua telapak tangannya, menatap Riya dengan tatapan sangat mengintimidasi. “Kau juga yang mengatakan kepada Mike bahwa aku sedang mendekati Naya?”
“Mike punya mata dan telinga di seluruh klub ini. Saya tidak mengatakan apa-apa tentang anda dan wanita itu.”
Noah kembali berdiri tegak. “Malam ini adalah malam terakhir Naya bekerja di sini. Kirimkan tagihanmu.”
“Lalu bagaimana dengan Mike, Tuan?”
“Itu bukan urusanmu,” jawabnya dengan ketus.
Riya tersenyum senang. “Tentu saja, Tuan Muda.”
——-
Clara sudah mengetahui tentang Naya yang akan keluar malam ini. Ia membantu Naya mengemas barangnya, padahal Naya sendiri sudah mengatakan tidak akan pergi kemana-mana.
“Ra, sudah hentikan.” Naya membongkar kembali isi tas hitam itu, sementara Clara terus memasukkan barang-barang Naya ke dalamnya.
“Naya!” Air mata Clara jatuh, tapi sebisa mungkin ia menatap ke iris Naya yang juga sudah berair sejak tadi. Ia memegang kedua pundak Naya agar mau mendengarkannya.
“Aku tidak apa-apa. Ini adalah satu-satunya kesempatanmu untuk keluar, Nay. Aku mohon, terimalah kebaikan Noah.”
“Tidak. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendiri di sini? Setelah kepergian Rose, aku tau kau juga terpukul.” Naya terisak.
Clara tidak bisa berbohong. Air matanya jatuh dengan deras, tapi sebisa mungkin ia tersenyum.
“Aku sudah sedari dulu berada di sini. Aku bisa bertahan sendirian, tapi aku tau, kau tidak bisa. Aku menemukan ini di bawah lemari pakaianmu.” Clara mengeluarkan silet kecil yang selama ini Naya sembunyikan.
Naya semakin terisak. “Maafkan aku.”
“Sudah cukup Rose yang pergi dengan cara seperti itu. Karena itu aku mohon, Nay, ini adalah kesempatanmu. Hidup bahagailah bersama Noah.” Clara memeluk Naya untuk menenangkannya.
“Noah sudah menunggu di luar. Aku bantu, ya,” lanjutnya.
Naya hanya menggangguk lemah.
Di ufuk timur, langit mulai berganti warna jingga, udara sejuk yang belum bercampur dengan polusi, menusuk dengan lembut ke paru-paru yang sesak. Sekali lagi, Naya berbalik untuk memeluk Clara, sebelum ia berjalan ke arah Noah yang sudah menunggunya.
“Aku pasti akan datang untukmu, Ra,” bisik Naya sebelum melerai pelukannya.
Clara tersenyum manis. “Tentu saja, kau masih punya utang taksi kepadaku, kau ingat?”
Bibir Naya melengkung, tapi matanya basah lagi.
“Sudah sana. Sebelum Noah merubah pikirannya.” Clara mendorong kecil Naya untuk segera pergi. Meskipun dengan perasaan yang sangat berat di hatinya.
Melihat Naya yang berjalan mendekati Noah, melihat Noah yang tersenyum ke arahnya, dan melihat bagaimana Noah mempersilahkan Naya memasuki mobilnya. Hingga akhirnya mobil itu keluar dari area parkir gedung di sana. Pertahanan Clara akhirnya runtuh. Ia memukul dadanya yang penuh sakit. Ia menggigit bibirnya untuk meredam suara tangisannya. Dirinya kini ditinggal sendirian lagi.
“Aku akan menunggumu menepati janji, Nay. Sebelum aku juga menyerah.”
---
“Anda akan membawa saya kemana, Tuan?” Naya mencengkeram sabuk pengamannya saat Noah melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Noah mendengus. “Berhenti memanggilku seperti itu, Nay.”
“Ah, maaf. Saya sudah terbiasa.” Naya menunduk malu.
Noah tidak berbicara lagi. Naya yang merasa sangat canggung, menolehkan wajahnya ke arah jendela. Sudah lama ia tidak berkendara seperti ini. Banyak dilihatnya beberapa pekerja yang sudah bersiap sepagi ini. Mereka yang menyapu jalan, mereka yang menyiapkan dagangannya, dan mereka yang masih tertidur di atas trotoar jalan. Naya tersenyum kecil. Mungkin apa yang ia alami tidak sebanding dengan apa yang mereka jalani.
Meskipun menjadi pelacur, tapi Naya mendapatkan tempat tidur dan makan untuk memenuhi kebutuhannya. Di satu sisi, Madam Riya adalah seorang ‘bos’ yang baik untuk mereka. Madam Riya hanya akan memukul mereka jika mereka berbuat kesalahan.
Mungkin Naya tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dulu. Sebelum Riya menjadi muncikarinya.
...****************...
sukses trs tuk karya2nya thor 🙏🙏😍😍
semangat mba dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak sdh banyak menhibur🙏🙏
semangat terus ya kak, terima kasih sudah memberikan cerita yg sangat menginspirasi. sukses n bahagia selalu❤️