Teruntuk kau yang terlambat mengatakan cinta.
Aku di sini, di tempat tanda cinta berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurwahidah Bi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: My Mistake (1)
***
Wanita yang tampak tua dengan pakaian serba hitam tengah menatap kosong sebuah akuarium kecil di kamar pribadinya, ingatan dua tahun lalu runtuh dari memori buangannya menuju ke sistem saraf yang ingin memprosesnya menjadi sebuah rangkaian ingatan yang masih segar.
Ingatan itu perlahan mundur semakin dalam hingga waktu dua puluh tahun yang lalu, masa di mana ia adalah seorang ibu muda yang pintar.
***
28 Juli 1992.
"Dan pemenangnya adalah... Park Min Joon!" teriak guru laki-laki mengumumkan juara satu dari lomba matematika antar sekolah. Tampak seorang ibu berusia sekitar 30 tahunan segera memeluk anak kecil itu dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan.
"Kau hebat! Kau hebat Min Joon ...," ucapnya mencium kening puteranya.
"Kau hebat adikku!" seru remaja laki-laki yang terlihat lebih tua darinya.
"Ayo kita beritahu ayahmu ...," ujar ibunya mengajak kedua puteranya pulang ke rumah dengan hati yang gembira karena keduanya berhasil meraih peringkat yang bagus di sekolah.
***
Setiba di rumah, tak sengaja dia melihat rumah sebelah yang terlihat sibuk, sepertinya ada tetangga baru. Sebuah perjumpaan yang menurutnya menyenangkan, mengingat pribadinya yang ceria.
"Permisi! Apa kau akan tinggal di sini?" sapa ibu muda itu ramah.
"Iya, aku akan tinggal di sini Nyonya ... harap bantuannya."
"Ya ... senang berkenalan denganmu. Aku Ibunya Min Hoo dan Min Joon! Namaku Song Hye Sun ...," lanjutnya tersenyum sembari membungkukkan badannya.
"Aah ... aku Moon Ha Na! Senang berkenalan denganmu," jawabnya melakukan hal yang sama.
"Moon Ha Na?" ucapnya mengulang nama tetangganya. "Moon Ha Na? Aah ... jadi kau adalah Nyonya Moon? Aku tidak tahu kita bisa bertemu seperti ini? Astaga!"
"Apa maksudmu?" tanya tetangga barunya itu tak mengerti.
"Kudengar kau adalah pemilik perusahaan sepatu di Jepang, kudengar kau tinggal selama hampir delapan tahun di Indonesia?" jelasnya bersemangat.
"Aaah ... kau tahu hal itu? Kau juga tahu Indonesia? Bagaimana kau tahu tentang aku?"
"Suamiku memiliki beberapa mall kecil di luar negeri termasuk beberapa Negara Asia!" jawabnya terkesan pamer.
"Benarkah?" ujar tetangganya mencoba mencari tahu, "kalau begitu mungkin saja aku mengenal suamimu?" lanjutnya berpikir.
"Tentu saja, Park Seung Joo... itu nama suamiku!" ucapnya pasti.
"Park Seung Joo?" katanya mengingat nama itu, "aaah ... ya aku kenal dia, beberapa waktu lalu aku bertemu dengannya di bandara Gimpo!" ucapnya pasti, "tapi, apa yang sedang dilakukan suamimu di sana? Apakah urusan pekerjaan?" lanjutnya penasaran.
"Iya, untuk menjalankan bisnis baru bersama temannya. Tapi, mungkin besok dia akan kembali untuk menjemput putera tertuaku dan pergi ke Italia."
"Aaah ... benarkah? Nyonya, kalau begitu aku permisi dul u... aku harus mempersiapkan sesuatu!" ucap tetangganya itu mencoba meninggalkannya.
"Maaf sudah mengganggu! Kalau begitu aku permisi dulu! Sampai bertemu tetangga ...," ucapnya sangat ramah yang disambut dengan anggukan singkat dari tetangga barunya itu.
***
Sebuah sentuhan lembut terasa di pundak lemahnya, membangunkan sosok terpuruk itu dari memori buangan. Tersadar seketika dan masih kebingungan mencari dirinya yang tenggelam dalam ingatan aneh.
"Hh?" kejutnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya suaminya hangat.
"Aku hanya merindukan Min Hoo? Kapan dia dan istrinya akan kembali dari Amerika?"
"Kau pasti masih sangat terpukul?" ucap suaminya tiba-tiba duduk berlutut di hadapannya yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Apa Min Joon tidak akan mau untuk kembali lagi ke rumah ini?" tanyanya terdengar frustrasi.
"Biarkan saja anak itu!" seru suaminya terdengar emosi.
"Aku tidak percaya Min Joon benar-benar sudah membencimu!" ucapnya mendesah dan menatap penuh penyesalan kepada suaminya.
"Maafkan aku!"
"Kali ini dia pasti benar-benar pergi 'kan? Dia tidak akan mau untuk kembali?" Suaranya terdengar menyedihkan.
"Itu semua salahku!" ujar suaminya mengisyaratkan bahwa sang istri tak perlu memikirkan perselisihan yang terjadi diantara dirinya dan si anak bungsu.
"Sayang, kau bilang akan selalu percaya padaku. Bahkan waktu itu kau juga percaya padaku kan?" tanyanya tiba-tiba.
"Entahlah ...."
"Bagaimana jika aku berkata jujur kepadamu? Apa kau akan semarah Min Joon?" Suaminya menatap tak mengerti. "Bagaimana jika seandainya semua ini adalah kesalahanku lagi?" ucapnya menunduk ketakutan.
"Ini salahku!" kata sang suami memeluknya erat.
"Tidak, ini semua salahku ...," kilahnya dengan air mata yang jatuh tertahan.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri?" Ucapan suaminya terdengar menghibur.
"Tidak sayang ... akulah ... yang mengalihkan penerbangan Jin Hee ...," jujurnya parau.
"Apa?"
"Maafkan aku! Aku sangat menyesal," katanya menyesal. Menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, saat sang suami melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu? Sebentar, apa maksud ucapan itu?" tanya suaminya tak percaya dan bangkit dari berlutut.
"Maafkan istrimu ini ...," jawabnya sedih dan segera berlutut memegangi kaki pria tua itu.
"Apa maksudmu, sayang?" Ayah Min Joon kebingungan.
Perempuan bernama Song Hye Sun juga ibu dari seorang Park Min Joon, si licik bertopeng penyabar ini hanya bisa menangis.
"Benarkah? Benar kau yang melakukannya? Kenapa kau melakukannya? Untuk apa? Bukankah kau bilang menyukai Jin Hee? Kau menyukai anak itu kan?" serang suaminya penuh kesedihan.
"Sejujurnya, aku tidak pernah menyukainya. Aku hanya ingin Min Joon melupakan kejadian masa lalu itu!" jawabnya mulai menangis.
"Aku tidak percaya kau sanggup melakukannya?" ucap suaminya tak percaya.
Dengan menggenggam erat bahu Hye Sun, dia mencoba untuk tidak mempercayai ucapan beracun itu. "Kemana wanita luguku itu?" lanjutnya.
"Maaf ...," ucapnya lagi dan lagi.
"Bukankah aku begitu percaya padamu? Aku pikir setelah sekian tahun kau akan berubah, apa aku masih hidup bersama seorang monster?" tanya suaminya melepaskan tangan yang melengkung mengikat di kaki.
"Sayang ...," jawabnya terdengar sedih.
"Jika melakukan sesuatu bukankah kau harus beritahukan kepadaku terlebih dahulu?"
"Aku benar-benar membenci Moon Ha Na! Aku tidak bisa membiarkan Moon Ha Na terus hidup pada diri Jin Hee. Itu sangat menyesakkan bagiku! Itu membuatku tersiksa, itu sangat mengganggu!" ungkapnya membela diri.
"Lihat! Lagi-lagi kau membuat masalah karena kemarahanmu yang seperti itu, kau tidak ingat tentang kejadian 18 tahun yang lalu? Saat kau menggunakan emosimu dalam menyelesaikan masalah yang tengah aku hadapi!" marah suaminya.
"Aku hanya tidak ingin siapa pun menyakiti putera-puteraku!" teriaknya menggila. Wajahnya memerah padam, emosinya pun meluap.
"Astaga ... hah .... Tapi, lihat ini! Kau telah membuat situasi yang sama terjadi lagi. Kini bagaimana kita akan menjelaskan semuanya kepada Min Joon? Hah! Kecelakaan itu telah menjadi tanggung jawab Min Joon seumur hidupnya, hingga dia harus berusaha melupakan kejadian itu dengan membayar rasa bersalah kepada dua anak Moon Ha Na," ungkap suaminya dengan napas yang memburu kesal, "dan kau ingin mengulanginya lagi? Tidak, kau memang sudah mengulanginya!" lanjutnya benar-benar tak bisa menahan kesal.
***
Bersambung
cerita yg menarik karena kekuatannya ada pada kata2 yg indah