Sudah tiga tahun lamanya, Yasmin menanti Cakrawala kembali pulang. Namun, harapan tinggallah harapan. Kepergian Cakrawala menyisakan kepedihan mendalam baginya.
Cakrawala menghilang tanpa jejak dalam tugas terakhirnya. Yasmin sudah melakukan segala macam cara untuk mencari Cakrawala. Namun, tak ada hasilnya, hingga suatu hari, ia melihat Cakrawala berdiri tak jauh darinya. Tetapi, belum jua kakinya melangkah, Yasmin membeku saat mendengar seorang bocah memanggil Cakrawala dengan sebutan Ayah!
Setelah melakukan penyelidikan, ternyata Cakra sudah memiliki keluarga baru dan namanya adalah Tomi. Dia menebak Cakra hilang ingatan.
Yasmin pun menemui Cakra. Akan tetapi, Cakra tidak mengenal Yasmin dan mengatakan Yasmin, wanita licik yang berusaha merusak rumah tangganya. Namun, Yasmin yakin sekali, jika Tomi adalah Cakra setelah melihat tanda lahir yang terukir di tubuh Tomi sangatlah mirip dengan Cakra.
Yasmin pun berencana mengejar cinta sang suami. Akankah rencana Yasmin berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berakting
"Ahk!" Hendra terpelanting ke samping seketika. Hingga kursi yang dia duduki patah. Sontak para pengunjung cafe memusatkan perhatian ke arah mereka.
"Cakra! Kenapa kau memukul Hendra?!" Yasmin bergegas menghampiri Hendra hendak memapahnya.
Wajah Cakra merah padam, melihat Yasmin dengan Hendra, pria yang dikatakan Yasmin kemarin adalah teman akrabnya. Beberapa menit sebelumnya, Cakra diberitahu Meli untuk mengikuti Yasmin. Meli mengatakan kalau Yasmin sepertinya berbohong padanya. Dan tanpa pikir panjang secara diam-diam Cakra membuntuti Yasmin. Dia menahan cemburu ketika melihat Yasmin tertawa bersama Hendra.
Cakra enggan menjawab. Dia malah mengendus kasar setelahnya dan menarik tangan Yasmin agar menjauhi Hendra. "Mengapa kau berbohong padaku, Yasmin?!" Cakra bertanya dengan sorot mata menyala-nyala.
Yasmin melirik Hendra sekilas, memberi bahasa isyarat.
Dengan tergopoh-gopoh Hendra bangkit berdiri lalu berkata,"Maafkan aku, Cakra. Aku yang menyuruh Yasmin berbohong, ini semua salahku."
"Untuk apa kau menyuruh Yasmin berbohong?!" Cakra maju beberapa langkah kemudian mencengkram pakaian Hendra.
"Karena...." Perkataan Hendra terjeda kala Meli datang dari samping dengan napas tersengal-sengal.
"Tomi! Mengapa jalanmu sangat cepat?" Meli mengatur pernapasannya sambil melempar pertanyaan. Dia tak peduli dengan ketegangan yang terjadi di antara Cakra dan Hendra.
"Ayo cepat jawab! Karena apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Meli. Cakra malah menatap tajam Hendra. Dia sangat penasaran mengapa Hendra menyuruh Yasmin berbohong.
"Sudahlah, Cakra! Kau tak perlu tahu!" Hendra mendorong kasar dada Cakra hingga Cakra terhuyung ke belakang sejenak. Lalu Hendra mengalihkan pandangan ke arah Yasmin dan memberinya kode melalui gerakan mata agar melakukan tugasnya. Sebelum melangkah pergi, mata Hendra sempat bertemu dengan mata Meli. Dan tanpa banyak kata Hendra melenggang cepat keluar cafe.
"Si4lan! Hei kau! Berhenti!" Cakra hendak mengejar Hendra. Namun, Yasmin menahan tangannya.
"Cakra, sudahlah! Hentikan, maafkan aku telah berbohong padamu tadi." Yasmin menatap dalam bola mata Cakra. Berharap emosi Cakra dapat mereda.
Cakra menghempas kasar tangan Yasmin. "Diam! Kau membela Hendra? Sebenarnya apa yang kalian bicarakan di sini sampai-sampai kau harus berbohong denganku hah?!" Wajah Cakra merah padam. Dadanya semakin terbakar membara, kala pikirannya melanglang buana entah kemana. Membayangkan Yasmin dan Hendra bermain di belakangnya.
Yasmin terlonjak kaget seketika mendengar suara Cakra yang melengking tinggi. Dia bingung apa harus berkata jujur dengan Cakra atau tidak. Sebab sekarang ada Meli di hadapan mereka. Sementara, Meli mengulas senyum tipis, melihat Yasmin dimarahi Cakra di depan umum.
"Lihat kau tak bisa menjawab bukan! Pulang kau sekarang!" Cakra menarik tangan Yasmin seketika lalu melangkah cepat, melewati Meli.
Meli mengumpat kesal kala diabaikan Cakra lagi. Lantas, Meli bergegas mengekori Cakra dan Yasmin dari belakang.
Sesampainya di rumah, Cakra malah mendiamkan Yasmin. Pria itu begitu marah karena istrinya berbohong padanya tadi. Mel8 yang melihat Yasmin diabaikan Cakra. Tersenyum penuh kemenangan.
Seperti saat ini, Yasmin mengajak Cakra berbicara. Tapi, Cakra hanya diam saja.
Meli yang duduk juga di samping Cakra, mulai mengeluarkan suara.
"Sayang, jangan marah-marah lagi, malam ini temani aku tidur di kamar ya," ucap Meli sambil merangkul lengan Cakra. Namun, Cakra menepis cepat tangan Meli.
"Diam kau! Aku mau tidur di kamar lain!" bentaknya sambil bangkit berdiri dan melangkah pergi dari ruangan.
Meli terperangah. Secepat kilat ia beranjak dari sofa hendak mengejar Cakra. Namun, bunyi panggilan masuk di ponselnya mengurungkan niatnya. Sementara, Yasmin mengikuti Cakra.
Meli tersenyum lebar kala melihat sebuah nama menghiasi layar ponselnya. Dengan tergesa-gesa dia mengangkat panggilan.
"Halo Sayang, tumben sekali kau meneleponku? Apa karena kau tak tahan menahan rindu bertemu denganku ya?" kata Meli sambil tersenyum genit.
Di sisi lain, Yasmin berjalan cepat mendekati Cakra.
"Cakra, jangan seperti ini." Yasmin menahan tangan Cakra sambil sesekali melirik ke belakang hendak memastikan apakah ada Meli atau tidak.
Cakra menghela napas berat. "Kau membuat aku kecewa Yasmin."
"Iya, aku tahu. Aku minta maaf Cakra. Tapi kau harus tahu satu hal, janin yang di dalam perut Meli belum tentu anakmu." Yasmin menatap dalam mata Cakra.
"Maksudnya?" Dengan kening berkerut kuat, Cakra bertanya.
Yasmin mulai menjelaskan pada Cakra tentang praduganya tentang Meli. Dia juga mengatakan tempo lalu melihat rekaman seorang laki-laki mendatangi rumah mereka.
"Apa? Apa kau melihat wajahnya?" Rahang Cakra mulai mengeras.
"Tidak terlihat dengan jelas, Cakra. Karena terhalang daun," balas Yasmin.
Cakra tampak berpikir keras sekarang.
"Maka dari itu untuk saat ini kita harus berhati-hati, Cakra. Aku tak mau kau kembali terluka, aku berharap ingatanmu cepat pulih," kata Yasmin sambil memegang pundak Cakra.
"Iya Sayang, maafkan aku tadi cemburu denganmu, aku tak tahu, setiap kali bertemu Hendra. Dadaku rasanya terbakar, apalagi kalau dia memandangmu, aku tak suka." Cakra heran sendiri mengapa setiap kali bertemu Hendra, dia tak dapat mengontrol perasaannya.
"Apa kau ada masalah dengan Hendra sebelumnya? Aku pun aneh, mengapa kalian seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan, ada-ada saja, sudah lebih baik kau beristirahat lah Cakra. Untuk saat ini bisakah kita berakting seperti orang bertengkar agar Meli merasa menang dan mulai dari sekarang kita harus memantau gerak-geriknya."
"Aku tak tahu, Yasmin. Hm, iya, baiklah. Aku pandai berakting kalau masalah itu." Cakra menyeringai tipis lalu menarik tangan Yasmin seketika hingga tubuhnya dan Yasmin menempel satu sama lain. Yasmin tersentak. Secepat kilat matanya menoleh ke samping, ingin melihat apakah Meli ada atau tidak di sekitar mereka.
"Malam ini aku tidur di kamarmu ya," ucap Cakra sambil mengecup cepat bibir Yasmin.
Yasmin tersipu malu. Kejahilan Cakra mulai muncul perlahan-lahan. Dia sangat bahagia. "Iya, tentu saja tapi aku sedang datang bulan," katanya.
"Hm, tidak masalah." Cakra kembali mengecup bibir Yasmin.
*
*
*
Malam harinya, Cakra benar-benar tidur di kamar Yasmin. Sejak tadi sore hingga malam hari, ia dan Cakra seperti orang yang sedang berkelahi. Meli tak menyadari jika keduanya tengah berakting. Hingga Meli tak tahu kalau Cakra secara diam-diam menyelinap masuk ke kamar Yasmin.
Tepat pukul sepuluh malam, Yasmin terpaksa terbangun dari tidurnya kala rasa haus menderanya. Dia tersenyum hangat saat pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tidur Cakra di sampingnya. Secara pelan-pelan dia beringsut dari tempat tidur dan melangkah cepat menuju pintu hendak ke dapur.
"Sayang, kau bersabarlah ya, besok kita baru bisa bertemu, malam ini aku tak bisa ke sana."
Langkah kaki Yasmin terhenti ketika mendengar samar-samar suara Meli di ruang sebelah.
'Meli berteleponan dengan siapa ya? Sayang, katanya?'
smg tetep syang rion ya
kasian rion
semangaat cakra..selamat ya sebagai CEO baru diperusahaan papa..sukses teruus kedepanx😙😙
semangat yasmin..
biang kerokx sdh ketangkep..
alhamdulillah😘
iya kalo baik tulus..
kalo yuni cuman mau harta papax cakra doang..
sekarang nikmati karmamu ibu tiri..
Tuhan itu Maha Adil..
semangat cakra yasmin..akhirx semua terbongkar😘