Aria Ji, dia adalah seorang wanita tanpa hati, ditangannya ada rahasia gelap orang-orang besar. Dia hidup dalam bayang-bayang setiap waktu, sampai akhirnya dia mati di tangan salah satu orang yang dia percaya, Bos nya sendiri. Kenapa? karena dia tau terlalu banyak, sudah saatnya mengganti orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosita.Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BTHLA 23
"Diam!" Wanita itu meraung marah.
Dia sadar anggotanya sudah mati, dia hanya tidak mau menerimanya. Jika dia gagal, orang-orang itu akan membunuhnya.
"Saudari kamu sangat membosankan." katanya sambil menjentikkan jarinya.
"Kamu bocah penyakitan, apa yang kamu inginkan?" katanya tajam.
"Saudari, kamu salah." Yunwei memiringkan kepalanya dan tersenyum polos.
"Aku disini tidak menginginkan apa-apa, tetapi..." Ucapnya menggantung sambil mengetuk-ngetuk dagunya pelan dengan jari telunjuknya.
Dia memasang senyum manis dibibirnya.
"... Saudari aku bisa memenuhi keinginanmu."
Wanita itu menatap Yunwei dengan waspada,"Apa yang kamu inginkan?"
"Sudah kukatakan tidak ada."
"Tidak mungkin. Kalau tidak ada, mengapa kamu membantuku," kata wanita itu curiga.
"Siapa bilang aku membantumu?" tanyanya dengan ekspresi manis.
"Lalu apa?"
"Aku bisa membantumu mendapatkan kebebasan, tetapi itu tergantung apa yang bisa kamu tawarkan untuk menukarnya." Ujar Yunwei dengan santai.
Wanita itu tergiur didalam hatinya, bahkan lupa bahwa orang yang menawarkan kebebasan adalah orang yang dia katakan bocah penyakitan.
"Apa yang kamu butuhkan?"
"Apa yang kamu tawarkan?" balas Yunwei.
"Selama itu memenuhi persyaratanku," lanjutnya.
"Perusahaan majalah Crescents, hotel bluemoon dan seluruh apartemen Pearl, ambillah." Ujar wanita itu.
"Apa aku terlihat kekurangan uang?" Kata Yunwei sambil menaikkan alisnya.
Mendengar ini wanita itu semakin khawatir. Orang yang tidak menginginkan uang adalah yang paling sulit menurutnya, "Lalu perusahaan keamanan Fenlie. Seluruh anggotanya adalah kultivator level 3."
Yunwei mengangkat alisnya mendengar ini. setahunya kultivator didunia ini sudah sangat langka.
Sumberdaya untuk kultivasi juga langka. rata-rata mereka hanya sampai level 2. Orang-orang dengan sumberdaya melimpah biasanya level 3-5. Para tetuah level 7. level 8 dan 9 sangat jarang dan tersembunyi.
Para kultivator hanya tahu sampai level 7. Diatasnya mereka bahkan tidak pernah bertemu secara langsung.
Kultivator level 1-2 adalah yang paling umum dalam dunia kultivasi. Level 3-5 adalah mereka yang berbakat, kaya dan berkuasa. Dan mereka sangat jarang sehingga dianggap bakat yang langka.
"Yoo, saudari. Kamu punya kemampuan." Ujarnya sambil tersenyum.
Wanita itu sedikit lega.
"Tapi..."
Begitu kata itu keluar dari bibir Yunwei. Wanita itu langsung menahan nafasnya.
"Aku tidak punya apapun lagi selain itu." katanya putus asa.
"Saudari, aku bisa mendapatkan semua itu tanpa bantuan mu." ucap Yunwei dengan santai.
Mendengar ini, wanita itu menutup matanya putus asa. Energinya pada boneka-boneka itu telah meredup.
Ketika energinya habis, jiwanya juga akan hancur.
Yunwei memperhatikan semuanya sambil mengetuk-ngetuk jarinya pada kursi roda.
Ketika energi terakhir menghilang, mantra pembatas langsung menyelimuti seluruh ruangan.
Gelang Bulan Jiwa muncul di tangan Yunwei. Dia langsung melakukan pembersihan jiwa pada wanita itu.
Lonceng terus berdering dengan cepat, kemudian terhenti, lalu kembali berdering dengan perlahan-lahan.
"Aaaaaaaaarghhh...." Wanita itu berteriak pilu.
Urat-urat lehernya menonjol. Butiran keringat memenuhi pelipisnya.
Matanya melotot merah mengerikan, kulitnya terkelupas.
Lonceng ditangan Yunwei terus berdering dengan pola-pola aneh. Di setiap hentakan kasar lonceng, wanita itu akan berteriak kesakitan.
Ketika matahari akan mulai muncul, deringan lonceng itu juga terhenti.
Yunwei membuka matanya kemudian menatap wanita dilantai yang terlihat sangat mengerikan dengan darah di sekujur tubuhnya.
Nafas wanita itu terengah-engah, dia menatap ngeri pada Yunwei yang duduk di kursi roda.
Yunwei tersenyum manis ketika dia berkata, "Saudari, karena kamu menggunakan jiwa Huo Si untuk menyamar. Mulai sekarang kamu akan menjadi dia."
Wanita itu terus menatap Yunwei.
"Orang-orang itu tidak akan bisa mendeteksi jiwamu. Kultivasi mu telah hilang, jiwamu telah diganti dengan inti jiwa Huo Si yang telah kamu segel selama lima tahun ini. Begitupun dengan wajahmu telah berubah menjadi wajah Huo Si sang pemilik inti jiwa."
"Ap...a... aku... benar...benar... bebas?" Tanya wanita itu terengah-engah.
"Ya."
"Tapi, saudari..." lanjutnya.
"Kamu harus ingat sebab dan akibat selalu beriringan." Katanya sambil tersenyum.
"Dan apa yang paling dipedulikan oleh Huo Si adalah Putrinya, Sun Jiayi."
Begitu kalimat Yunwei selesai, Energi jiwa Huo Si disampingnya berubah menjadi kepingan cahaya kemudian musnah dari dunia.
Melihat ini Yunwei merasa hal ini sangat kejam. Jika wanita itu mati, energi jiwa Huo Si akan mengembara beberapa saat lagi dan menghilang dari dunia. Jika inti jiwa Huo Si dan wanita itu menyatu, energi jiwa Huo Si juga akan tetap lenyap, hanya saja waktunya lebih cepat.
Wanita itu merasa energinya sudah lebih baik ketika dia bangun dan berlutut didepan Yunwei.
"Master, terimakasih." Katanya kemudian bersujud.
Yunwei menyeringai melihatnya, kultivator selalu seperti ini, mereka menghormati orang-orang dengan kekuatan yang lebih tinggi.
"Mmm... ingat saudari. Selain Sun Jiayi, ada Sun Jialun. Putra Huo Si yang telah hilang lima tahun lalu saat dia baru lahir."
"Ya, master." Balas wanita itu.
"Baiklah." Yunwei berbalik dan pergi dari apartemen itu.
Mantra penghalang juga hilang bersamaan dengan semua benda-benda yang berhubungan dengan kultivasi yang ada didalam apartemen itu.
Huo Si baru masih berlutut dilantai kemudian dia bersujud kearah perginya Yunwei.
"Baik, Mulai sekarang aku adalah Huo Si, manusia biasa, tidak terkait dengan dunia kultivator dan orang-orang itu." Ucapnya tegas.
"Master, terimakasih." katanya melihat kearah kepergian Yunwei.
Disisi lain Yunwei sampai dipusat penelitian ibukota saat hari mulai terang.
"Nona siapa yang kamu cari?" Tanya petugas keamanan saat melihatnya.
"Ji Junhui, katakan Yunwei mencarinya." balas Yunwei sopan.
"Tunggu sebentar," balas petugas keamanan kemudian menelepon seseorang.
Tidak lama kemudi seorang pria berlari tergesa-gesa ke gerbang.
"Weiwei." panggilannya begitu melihat Yunwei.
"Apa yang terjadi," suaranya sedikit panik.
"Tidak apa-apa Kakak Hui." Balas Yunwei.
"Ayo masuk." Ji Junhui mendorong kursi roda Yunwei ke dalam area pusat penelitian ibukota.
"Ayo lakukan pemeriksaan, okay?" tanyanya lembut.
"Okay."
"Weiwei semalaman begadang menemani temanku berjaga. Jadi kondisi Weiwei menurun." Jelas Yunwei membuat alasan.
"Kamu ini, apa Mama tau?" tanyanya lembut.
"Tidak, Weiwei langsung kesini setelah dari rumah teman."
"Jangan lakukan lagi," ujar Junhui sambil menggeleng pelan.
Junhui membawa Yunwei ke pusat pemeriksaan.
Dia melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Yunwei.