Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Camelia mencoba untuk menghitung berapa uang tunai yang dia miliki saat ini, selain perhiasan dan rumah makan, dia juga sudah membeli sawah yang luas selama bekerja keras dua tahun belakangan ini.
Dan sawah itu di urus oleh saudara dari Laila, sedangkan rumah makan, di urus oleh orang pilihan dari Jeky.
Setelah menghitung semua uangnya, tapi dia tidak menghitung langsung uang tunai tersebut melainkan hanya menghitung menurut catatan yang ada padanya saja. Dan tentu saja catatan itu tidak langsung bertuliskan dengan angka-angka, Camelia sengaja menuliskan catatan itu dengan sandi yang hanya dia yang mengetahuinya.
Dan setelah menghitung sampai jam makan siang, dia menemukan bahwa setidaknya dia punya sekitar 7 juta uang tunai. Pada zaman itu uang pecahan dengan nominal tertinggi adalah 50 ribu rupiah, dan itu baru diproduksi selama 1 tahun belakangan ini.
Harga emas 24 karat, saat itu adalah 22.500, artinya uang Camelia itu kalau tahun ini, sama dengan sekitar 598 jutaan. Itu baru yang tunainya saja.
Seharusnya Camelia merasa senang karena dia memiliki uang yang begitu banyak belum lagi perhiasan dan hasil panen tahun ini yang sudah pasti jumlahnya juga akan semakin menambah kantong uangnya. Tapi Camelia masih merasa kalau uang yang dia miliki itu kurang.
"Ini memang bisa membeli perhatian masyarakat, Tapi tetap saja jika ada yang memiliki uang lebih banyak dari ini kemudian mencuri hati masyarakat pasti masyarakat akan berpaling dan memilih orang itu" gumam Camelia yang sudah mulai belajar memahami tentang politik di masa itu.
Dan apa yang dia pikirkan itu tentu saja benar, dia mungkin akan bisa membuat masyarakat yang dia beri uang memilih dia dalam pemilihan nanti, tapi tidak menutup kemungkinan juga kalau Cokrodima memberi uang lebih banyak kepada orang itu maka pilihan orang itu pasti adalah Cokrodima.
Camelia kembali termenung. Dia benar-benar harus memerass otaknya untuk memikirkan semua ini.
7 bulan itu bukan waktu yang lama, masih banyak sekali yang harus dia persiapkan. Dia benar-benar pemula. Dia tidak tahu apapun tentang hal semacam ini. Tapi dia juga tidak mungkin pergi ke Tuan Peter untuk menanyakan lagi hal-hal semacam ini. Pria yang merupakan orang yang berkoalisi dengan Cokrodima itu akan curiga. Dan bisa Jadi kalau Tuan Peter akan melaporkannya pada Cokrodima, lalu selain Cokrodima maka Gandara juga akan mengetahui tentang rencananya ini.
Camelia menghela nafas panjang, ingin bertanya pada Laila dan Hani. Hal itu juga bukan keahlian mereka. Bertanya pada Jeky, pria itu hanya tahu berdagang dan berdagang.
Sampai malam, Camelia bahkan masih terus memikirkan caranya. Membeli suara itu bukan sesuatu yang efisien. Memberi pinjaman, itu juga sedang dia pikirkan. Karena untuk menjalankan rencana itu, dia perlu mencari orang dari luar Desa Muara yang bisa dia percayai untuk memegang semua uang yang dia miliki kemudian menyalurkannya dan meminjamkannya kepada masyarakat yang membutuhkan dengan bunga yang kecil dan pada akhirnya itu akan menjadi sarana kampanye yang baik untuknya.
Tapi pada zaman ini mencari orang yang bisa dipercaya apalagi masalah uang seperti mencari jarum dalam jerami. Bahkan saudara Laila saja yang dipercaya untuk mengurus sawah dan hasil panen dari sawah Camelia sering melaporkan laporan yang tidak sesuai dengan hasil di lapangan.
Jika itu hanya sekitar satu atau dua ton saja, Camelia masih membiarkannya dan tidak mempermasalahkannya karena mengingat orang yang dipercaya itu adalah saudara dari orang yang sangat baik padanya yaitu Laila.
Saat pertunjukkan malam ini, Camelia bahkan tidak melihat Jeky. Mungkin karena kemarin lentera malam tutup, Jeky jadi tidak datang malam ini karena mengira lentera malam juga tutup lagi.
Saat Camelia akan melemparkan selendangnya pada para tamu yang membayar harga di atas 35 ribu. Tiba-tiba seseorang membuat pandangannya tiba-tiba mengarah padanya.
Pria bertubuh tinggi, dengan setelan jas berwarna putih gading, dengan kacamata dan syal tebal di lehernya itu menarik perhatian semua orang, tidak hanya Camelia.
Karena pria itu mengeluarkan pecahan 50 ribu sebanyak empat lembar, dan dia letakkan pada nampan yang bertuliskan Camelia.
Camelia mendongakkan sedikit dagunya menatap pria itu. Tapi hal itu dilakukan bukan karena dia berlagak atau sombong, sebenarnya Camelia sedang gugup. Dia tidak pernah bisa mengimbangi permainan dari pria itu. Bukan itu saja, entah kenapa jantungnya berdebar sangat cepat saat melihat pria bernama Adjie itu menatapnya.
Camelia mendongakkan sedikit dagunya itu sebenarnya untuk mengusir rasa kegelisahan dan gugupnya.
Camelia sudah tahu, dia akan bermalam dengan siapa malam ini. Dia pun segera meletakkan selendangnya di atas nampan itu. Hingga nampan, selendang dan yang di simpan oleh anak buah Gandara.
Adjie juga langsung di antarkan oleh salah satu anak buah Gandara ke kamar Camelia.
Camelia terlihat mulai melepaskan satu persatu pakaiannya dengan posisi kaki yang dia angkat satu di atas kursi meja riasnya.
Pintu kamar itu sudah tertutup. Dan seperti biasa, pengawal akan datang jam lima pagi untuk memastikan tamu harus pulang.
"Selamat datang kembali tuan..."
"Namaku Adjie, seingat ku aku sudah memberitahu namaku padamu kan? Camelia?" tanya Adjie.
Camelia masih bersikap, dan berlagak melupakan nama Adjie itu dan tampak tak terpengaruh apapun setelah melihat ruang Adjie yang begitu besar dan kemungkinan Adjie adalah orang yang punya pengaruh penting di kota.
Adjie mendekati Camelia dan menyentuh pinggang Camelia yang hanya mengenakan satu helai penutup saja tidak bisa menghentikan debaran jantungnya yang semakin kencang. Dia tidak tahu, dia sendiri sebenarnya kenapa, di sentuh seperti itu sebenarnya sudah sering dialami. Bahkan Jeky sudah tidak terhitung berapa kali sudah menyentuh tubuhnya.
Tapi entah kenapa, perasaan yang berbeda selalu kami lihat rasakan kalau Adjie yang menyentuhnya. Mungkin karena pria itu yang pertama membajak sawahnya dalam konotasi berbeda.
"Aku mana bisa mengingatnya tuan, terlalu banyak pria yang datang silih berganti menghabiskan malamnya bersama ku" kata Camelia menahan gelisah dirinya sendiri.
Debaran jantung Camelia bahkan mungkin bisa di dengar oleh Adjie saat ini. Camelia ingin menjauhkan dirinya dari Adjie, tapi itu akan membuat Adjie merasa senang dan besar kepala nanti. Camelia pun berniat menggoda dan berbalik untuk menyentuh wajah Adjie dan menunjuk keahliannya dalam membuat panas dingin seorang pria.
Tapi sebelum Camelia melakukan itu, Adjie bahkan sudah mengecupp mesra sampai terdengar suara kecupann itu dan membuat Camelia meremang.
"Benarkah? Lalu kenapa kalau nona Camelia tidak mengingatku, nona Camelia bisa sampai di depan rumahku?"
Deg
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍