Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Tak tega melihat kondisi anak dan ketiga cucunya, Mentari terpaksa merelakan perhiasan serta tas mewahnya untuk menyewa sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, membayar biaya sekolah ketiga cucunya, serta untuk menyambung hidup.
"Mengapa hidup kita jadi seperti ini?" jiwa Senja masih terguncang atas penangkapan suaminya, dirinya dan keluarganya harus keluar dari rumahnya dan juga mendapati fakta bahwa suaminya berselingkuh. Semua itu terjadi dalam satu waktu tanpa memberi kesempatan kepada Senja untuk bernapas.
Tapi bukan hanya Senja saja yang merasa hidup mereka semakin nelangsa, Bintang dan Mentari pun merasakan hal yang sama. Ketiganya merenungi nasib mereka di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga.
"Apa ini semua karena kita dulu jahat dengan Kak Nadi dan mendukung perselingkuhan Mas Surya dengan Cindy?" sahut Bintang. Seketika Mentari menoleh ke arah Bintang sembari melotot. "Dengar ya Bintang, kita mendukung Masmu selingkuh dengan Cindy karena Nadi mandul. Lagi pula Masmu sudah menawarkan poligami, tapi dasar wanita itu terlalu sombong sehingga memilih untuk di ceraikan," ucap Mentari. "Justru dia yang jahat karena telah membuat hidup kita susah."
"Ya tetap saja, seharusnya tidak seperti itu. Memangnya kalau mandul jalan keluarnya harus mau di poligami? Kalau aku jadi Kak Nadi pun aku enggak mau di poligami, lebih baik mengadopsi anak dari pada di poligami."
"Tutup mulutmu Bintang!" memikirkan nasib rumah tangga dan tumpukan hutang judi online suaminya saja sudah membuat kepala Senja rasanya mau pecah, ia tak ingin membahas masalah rumah tangga orang lain.
Bisa saja Senja menceraikan Gading, tapi harta dan hutang dalam pernikahan biasanya akan di bagi rata dan Senja sedang memikirkan bagaimana caranya ia tidak terlibat dengan hutang tersebut.
Bintang beranjak dari tempat duduknya, ia memilih untuk beristirahat di kamar bersama ketiga keponakannya. 'Sebetulnya, jika Mas Surya dan Kak Nadi tidak bercerai kehidupan kami tidak akan seperti ini, dan peluangku untuk mendapatkan Pak Aaron terbuka lebar,' gumam Bintang, kini ia hanya bisa menyesali nasibnya.
...****************...
Sementara itu di tempat berbeda, Aaron justru tengah menikmati makan malam romatisnya bersama Nadi dan putri kecilnya. "Akhirnya ya, Die. Kita bisa jalan bertiga lagi, sudah lama banget loh kita tidak jalan seperti ini. Terakhir kali kita jalan saat di Bogor," ucap Aaron, ia terlihat begitu menantikan malamnya bersama dua qanita kesayangannya.
Nadi memaksakan seulas senyumannya menutupi rasa tidak enaknya. "Maaf ya, akhir-akhir ini aku sibuk sekali." Beberapa hari yang lalu akhirnya Nadi menceritakan bahwa dirinya kini tidak lagi bekerja di perusahaan Sofia dan mulai menjalani perusahaan barunya.
"Enggak apa-apa aku ngerti kok, kalau ada apa-apa sharing sama aku ya, aku pasti akan membantumu."
Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Nadi enggan bercerita dengan Aaron, pria itu pasti akan selalu siap membantunya, bahkan tanpa ia minta sekalipun. Dan Nadi tak ingin memiliki hutang budi pada Aaron, sehingga ia memilih untuk bekerja sama dengan Margareth. "Iya, lain kali aku akan lebih terbuka lagi padamu."
Selesai makan malam, tiba-tiba saja lampu restoran redup, dan tak lama kemudian ada seorang pemain biola mendekat ke arah meja makan mereka membawakan lagu romantis. Di tengah suasana yang begitu syahdu Aaron berlutut di hadapan Nadi sembari mengulurkan sebuah kotak berisi sebuah cincin berlian untuknya.
"Die, menikah-lah denganku, aku bersungguh-sungguh padamu," ucap Aaron dengan segenap hatinya. Alyssa pun ikut beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Nadi, ia menggenggam tangan Nadi begitu erat. "Jadilah Mama sungguhan untukku," wajah polos bocah itu menatap Nadi penuh harap.
Nadi terdiam menatap keduanya secara bergantian, ia tak ingin mengecewakan mereka tapi mereka akan lebih kecewa lagi saat mengetahui dirinya tidak sempurna. Nadi tak ingin sakit di lubang yang sama, Nadi tak ingin merasakan kegagalan untuk yang kedua kalinya.
Nadi mengelus kepala Alyssa dengan lembut. "Alyssa, sayang. Maafkan Mama ya, Mama tidak bisa menjadi Mama sungguhan untukmu," ucap Nadi hati-hati. "Tapi Mama berjanji akan selalu menemanimu, dan kau tetap boleh memanggilku Mama," ia beralih ke Aaron. "Maafkan aku Aaron, aku tidak bisa."
Wajah Aaron dan Alyssa seketika muram, terutama Alyssa. Bocah kecil itu perlahan menitikan air matanya, kemudian menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku, sayang," saat Nadi hendak memeluk Alyssa, Aaron mencegahnya.
Aaron langsung memeluk dan menggendong putri kecilnya. "Kami pulang dulu, Die. Terima kasih sudah bersedia makan malam bersama kami, selamat malam." Aaron melangkah meninggalkan restoran.
Nadi hanya bisa memandangi keduanya yang mulai menjauh darinya, buliran-buliran bening mulai berjatuhan ke wajah cantiknya. "Maafkan Mama, Alyssa." Andai mereka tahu, aku pun sama sakitnya dengan apa yang kalian rasakan, tapi aku yakin ini hanya sementara, setelah ini kalian pasti akan pulih dan mendapatkan yang lebih baik, aku yakin itu.
Nadi pulang, dengan hati sedih bercampur lega. Sedih karena setelah ini kemungkinan akan jauh dengan Alyssa dan Aaron, dan lega karena tidak terus menerus membuat Aaron menunggu dirinya, Aaron kini bebas mencari pengganti dirinya, wanita yang bisa memberikan apa yang tidak bisa ia berikan.
Setelah ini Nadi tidak akan lagi memikirkan soal cinta, ia akan terus fokus pada pekerjaan dan hal-hal menarik yang bisa ia lakukan misalnya ikut kegiatan amal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari soal asmara.
Ya pekerjaan dan kegiatan amal, dua hal yang tak akan mungkin membuatnya sakit, itulah yang Nadi pikirkan saat ini.