"Menikahlah denganku, aku akan memberikanmu uang untuk balas dendam. Habiskan semua uang, bahkan semua uang yang ada di rumahku..." Kalimat yang diucapkan oleh seorang pemuda rupawan, dengan tubuh sempurna, mengecup bibirku. Harum parfumnya yang maskulin telah menyatu dengan tubuhku.
Semalam kami memang melakukannya, benar-benar melakukannya. Pria yang paling sempurna di kantor tempatku bekerja, tampan, pintar, karier cemerlang. Apa yang kurang darinya? Kenapa dia mau-maunya tidur dengan si cupu muka jerawatan sepertiku.
Keberuntungan yang gila-gilaan!
*
Namaku Valentino, manager pemasaran. Tidak memiliki ambisi maupun cinta. Tapi ketika gadis berkacamata ini berani menentang dan menamparku di hadapan umum, saat itulah aku sadar. Aku membutuhkan gadis ini, predator yang akan aku bawa ke dalam rumah untuk melawan ayah dan ibu angkatku.
Memberinya cinta, dia akan menjadi kesatria. Sedangkan aku akan memeluknya dari belakang. Itulah aku, yang ingin bersembunyi di bawah rok istriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Why
...Jika ditanyakan sebesar apa aku mencintaimu, aku akan menjawabnya sebesar semut....
...Hewan kecil yang mengangkat begitu banyak beban berat, membawanya pulang ke sarangnya....
...Karena itu dengan sisa tenagaku yang tidak seberapa, aku akan mengangkat jutaan kasih sayang agar dapat meluluhkan hatimu....
Valentino.
Bug!
Suara pintu mobil dibuka terdengar, Zizy mengenyitkan keningnya kala dirinya duduk terdapat karangan bunga di dalam mobil beserta sekotak coklat di tempatnya duduk.
Wanita yang menghela napas kasar mengenyitkan keningnya. Melirik ke arah Valentino, bukan masalah coklatnya. Tidak ada masalah dengan coklatnya hanya saja karangan bunganya membuat Zizy ingin menangis rasanya.
"Aku belum mati." Ucap Zizy melihat ke arah karangan bunga di kursi penumpang bagian belakang.
"Ini kesalahan mereka, aku mengatakan memesan karangan bunga paling mahal. Sementara aku berkeliling membeli yang lain, saat mengambilnya mereka malah sudah menuliskan turut berdukacita." Jawaban dari Valentino dengan tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun. Inilah bosnya, benar-benar bos laknat. Diantara prilaku manisnya pasti terdapat sejuta tamparan busuk.
Zizy menghela napas kasar, ini mungkin memang kesalahannya. Atau ini memang ancaman dari Valentino karena menjelek-jelekannya di depan umum? Apa ini ancaman pembunuhan?
Entahlah Zizy berdidik ngeri kali ini. Kala mobil kembali berjalan, menuju rumah mereka tidak satu katapun terucap. Begitu tegang dan dingin itu yang terasa.
Hingga tangan Valentino bergerak nakal saat berhenti di lampu lalulintas. Jemari tangan yang memegang paha wanita itu.
"Astaga!" batin Zizy ingin rasanya mengumpat. Namun benar-benar aneh rasanya, dirinya juga ingin yang semalam? Tapi tidak boleh, kewarasannya kembali.
Plak!
Jemari tangan Valentino dipukul olehnya. Pemuda itu hanya tertawa kecil kembali menjalankan mobilnya. Wanita yang sesekali melirik ke arah atasannya. Inilah yang namanya suami rasa atasan bukan?
Tapi memang seperti mimpi baginya dapat menikah dengan tuan sempurna. Seseorang yang paling sempurna di kantornya.
Tapi apa Valentino benar-benar menyukainya? Entahlah...
*
Keesokan harinya...
Semuanya berjalan sesuai rencana, malam kepergiannya dari kampung halaman. Valentino kembali menghajarnya, tapi kali ini di dalam mobil.
Keluarganya berangkat dengan mobil travel yang terpisah. Sedangkan mereka berangkat hanya berdua menggunakan mobil sport berwarna hijau milik Valentino.
Wanita itu menonggakkan kepalanya, dalam pelukan sang pemuda. Tempat mereka berada kini? Tepi perkebunan karet yang cukup luas. Dua orang yang berada di kursi penumpang bagian belakang. Sang pemuda yang tersenyum menyelimuti tubuh mereka dengan selimut tenunan yang memang selalu berada di mobilnya. Mengingat pemuda itu yang memang jarang pulang ke rumahnya.
Pemuda yang masih memeluknya tanpa menggunakan pakaian.
"Apa setelah ini aku bisa kembali bekerja?" tanya Zizy ragu, Valentino hanya diam terus memeluknya erat.
"Pak Valent?" Zizy mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Diam, sebentar saja." Hanya itulah jawaban dari Valentino mendekapnya lebih erat.
Wanita itu menuruti kata-katanya untuk diam. Sang pemuda yang kembali mendekapnya seolah-olah merindukan kehangatannya. Darimana obsesi ini dimulai?
*
Tepatnya 7 tahun lalu kala pegawai berkacamata itu baru mulai bekerja. Suara bentakan terdengar, seorang karyawan melarikan diri dari ruangan manager marketing.
Zizy menelan ludahnya, sebagai pegawai baru dirinya harus memiliki citra baik. Karena ini tidak membuat masalah adalah prinsipnya.
Tapi apa benar? Malam itu dirinya yang baru menjadi pegawai magang diberikan tugas yang cukup banyak oleh seniornya. Tidak mendapatkan uang lembur, namun harus bekerja lembur?
"Senior br*ngsek!" teriakannya Zizy saat itu membangunkan Valentino yang tengah tertidur di ruangannya. Matanya menelisik, mengamati seorang pegawai yang belum pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Berisik..." gumam Valentino kembali tertidur.
Tapi apa bisa? Beberapa malam berikutnya gadis itu masih terlihat. Bahkan kali ini memutar musik bernyanyi dengan suara cemprengnya di kantor yang diyakininya kosong.
Namun kali ini Valentino tidak tinggal diam. Pria itu keluar dari ruangannya.
Brak!
"Bisa tidak kalau bekerja pakai tangan! Jangan pakai mulut!" teriaknya murka. Namun karyawan itu hanya menunduk meminta maaf dan menurut.
Belum cukup menjadi alasan untuk mencintainya? Selama 4 tahun karyawati itu bekerja lembur hampir setiap malam. Begitu juga dengan Valentino yang memang tidak pernah pulang. Wanita yang tidak menyadari dari kaca satu arah ruangan managernya pemuda itu selalu mengamati apa yang dikerjakannya.
Berjalan seiring waktu, menjadi rasa penasaran apa yang dikerjakan karyawati itu. Seseorang yang tertunduk setiap pagi tidak pernah bertatap muka secara langsung dengannya.
Tepat pada tahun keempat semuanya terjadi, mungkin gadis itu tidak mengingatnya sama sekali. Atau itu memang tidak penting untuknya? Namun, sesuatu yang begitu penting untuk Valentino.
Tepat pukul 10 malam suara teriakan seorang wanita terdengar. Wanita yang membawa keyboard, memukul seorang yang disangkanya sebagai pencuri memasuki kantor mereka. Pada akhirnya pria itu ditangkap pihak kepolisian, seorang pria dengan pisau di tangannya. Tujuan aslinya adalah untuk membunuh Valentino.
Tangan pemuda itu gemetar saat itu, andaikan Zizy tidak bekerja lembur, mungkin dirinya sudah ditikam saat tertidur di ruangannya. Ketakutan, itulah perasaannya, harus tinggal dimana lagi jika kantor sudah tidak aman.
Namun, tanpa diduga wanita yang tidak memiliki sandaran itu juga ketakutan. Memeluknya erat sembari menangis."Syukurlah ada pak Valent! Jika tidak, tidak akan ada yang memanggil security. Aku akan mati dibunuh perampok!" teriak Zizy saat itu.
Wanita yang tidak menyadari, Valentino membalas pelukannya. Ikut menitikan air matanya. Bukan Zizy, dirinya adalah tujuan sang pembunuh, pemuda yang mengeratkan pelukannya pada tubuh Zizy. Entah mengapa dirinya mulai mempercayai orang lain, ingin memiliki pelukan ini, begitu nyaman baginya.
Jujur saja, setelah malam itu, Valentino selalu lebih memperhatikannya. Namun, tidak mengetahui bagaimana caranya untuk dekat atau menjalin hubungan.
Kala ada rekomendasi untuk naik jabatan akan diberikannya pada staf lain. Wanita ini tidak boleh meninggalkan divisi marketing.
Hingga pada tahun ke lima wanita itu bekerja. Sang pemuda diam-diam keluar dari ruangannya. Kala Zizy yang bekerja lembur tertidur. Anggap saja dirinya gila, tidak memikirkan fisik atau wajah wanita ini. Tubuh Zizy yang tertidur di atas kursi dipeluknya.
Bagaimana jika atasan kalian yang rupawan melecehkan kalian seperti ini? Pemuda dengan obsesi yang aneh bergerak ragu, mencium pelan bibir karyawati yang tertidur nyenyak.
Hal gila yang tidak hanya sekali dilakukannya pada tahun ke 6 dan ke 7 wanita itu bekerja. Setiap ada kesempatan kala sang gadis tengah tertidur nyenyak di jam lemburnya.
Anggap saja dirinya atasan tidak beradab. Namun detik demi detik kala wanita itu tertidur yang dirindukannya. Hanya saja mencoba mengelak perasaannya.
Hingga pada tahun ke 7 dirinya melihat pria itu (Wijaya). Apa kelebihannya? Kenapa dapat memiliki Zizy?
Pemuda yang baru memahami, wanita yang diamati dan dijaganya dari jauh bukan miliknya. Namun dapat dimiliki oleh siapa saja. Karena itu apapun akan dilakukannya untuk memilikinya, membuatnya berada di sisinya.
Obsesi dan cinta yang bercampur menjadi satu. Itulah yang dilakukannya kini. Pemuda yang tidak mengerti cara untuk mendekati wanita sama sekali.
*
Saat ini...
"Apa dengan adanya anak, kamu akan mencintaiku?" satu pertanyaan dari Valentino, kembali membungkam bibir Zizy dalam ciuman.
Wanita yang tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Setiap sentuhan yang diterimanya hanya dapat dibalas olehnya. Tidak dapat, lebih tepatnya tidak rela untuk mencegah.
"Valent..." racauan dari bibir Zizy kala pemuda ini kembali menggerakkan tubuhnya, mengumbang-ambingnya tidak tentu arah.
Wajah tersenyum sang pemuda. Tidak ada embel-embel 'pak' Valent lagi bukan?
Perbuatan laknat yang dilakukannya dalam mobil yang terparkir di tepi kebun karet dalam perjalanan menuju kota.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sukses ya kak💪