Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Rahasia di Balik Senyum Dingin
Malam semakin larut, namun Laras tetap berdiri diam di depan pintunya, menatap ke arah lorong gelap tempat Dika menghilang. Ucapan laki-laki itu terus berputar di benaknya bagaikan teka-teki yang mengancam. Ia menutup pintu perlahan dan menguncinya dengan kayu penyangga, lalu kembali duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam erat bilah pisau kecil itu. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan: siapa sebenarnya Dika? Apakah ia tahu siapa dirinya dulu? Atau apakah ia justru utusan dari orang-orang yang dulu ingin memburunya?
Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti bukit-bukit di sekitar desa saat Laras keluar menuju dapur. Ia terkejut melihat Dika sudah duduk di sana, menunggunya dengan secangkir teh hangat yang disiapkan sendiri. Wajahnya tampak tenang seolah tidak ada pembicaraan berat yang terjadi di antara mereka tengah malam tadi.
"Selamat pagi," sapa Dika pelan saat melihat Laras masuk. "Udara pagi di sini sangat sejuk, bukan?"
Laras tidak menjawab seketika. Ia berjalan mendekat dengan langkah hati-hati, matanya tak lepas dari menatap laki-laki itu. "Kau bangun sangat pagi," ucapnya akhirnya, nada bicaranya masih terdengar dingin dan menjaga jarak. "Biasanya orang yang baru datang dari perjalanan jauh akan lebih suka beristirahat lama."
"Aku sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit," jawab Dika santai sambil menyesap tehnya perlahan. "Di tempatku dulu, siapa yang bangun terlambat, seringkali sudah tidak memiliki kesempatan untuk melihat matahari itu bersinar."
Kalimat itu sederhana namun memiliki makna mendalam yang membuat dada Laras kembali sesak. Ia duduk di ujung meja, menjaga jarak sejauh mungkin. "Kau selalu berbicara dengan makna ganda seperti ini?" tanyanya menantang.
Dika meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja hingga terdengar bunyi ketukan halus. Ia menatap lurus ke arah Laras, senyum tipisnya kembali muncul namun kali ini terasa lebih tulus sedikit. "Hanya kepada orang yang aku rasa bisa mengerti makna tersembunyinya. Laras, kita sama-sama orang yang pernah hidup di dunia di mana kepercayaan adalah hal paling berbahaya."
Belum sempat Laras membalas, suara ketukan pintu terdengar dari teras depan. Keduanya saling berpandangan seketika, kewaspadaan kembali menguasai diri mereka serentak. Di desa yang sepi ini, jarang ada orang yang datang berkunjung, apalagi sepagi ini.
Laras bangkit berjalan menuju pintu, sementara Dika diam-diam ikut berdiri dan mengikuti dari belakang, tetap berada di bayang-bayang ruangan agar tidak terlihat sekaligus siap bertindak jika ada bahaya. Saat Laras membuka pintu, ia melihat dua orang pria berpakaian gelap berdiri tegak di sana. Wajah mereka asing, namun tatapan mata mereka tajam dan dingin—ciri khas orang yang terlatih untuk membunuh.
"Maaf mengganggu pagi hari, Nyonya," ujar salah satu dari mereka dengan suara berat. "Kami hanya bertanya, apakah ada pendatang baru yang menginap di rumah ini? Kami sedang mencari seseorang yang hilang dari tempat kami."
Darah Laras seakan berhenti mengalir sejenak. Ia tahu betul tatapan mata itu—tatapan yang dulu sering ia miliki saat memimpin pasukannya sendiri. Sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.
"Tidak ada orang lain di sini selain aku dan nyonya rumah ini," ucap Dika sambil melangkah maju berdiri tepat di samping Laras, menatap berani ke arah kedua orang asing itu. "Kalian salah tempat."
Terjadi keheningan sejenak yang menegangkan saat kedua pria itu mengamati Dika dari ujung kepala hingga kaki. Laras bisa merasakan ketegangan yang menguat di udara, siap untuk melompat dan bertindak secepat kilat jika diperlukan. Akhirnya, pria itu mengangguk singkat.
"Kalau begitu maafkan gangguan kami," ucapnya sebelum berbalik pergi bersama temannya.
Setelah bayangan mereka menghilang di balik kabut pagi, Laras menoleh tajam ke arah Dika. "Siapa mereka? Dan kenapa kau berani menjawab seolah ini rumahmu sendiri?" tanyanya berbisik.
Dika menatapnya serius, senyumnya lenyap sepenuhnya berganti ekspresi tegas. "Mereka bukan orang biasa, Laras. Dan aku rasa... mereka bukan datang untuk mencariku."
bersambung...