"Ini bukan sebuah hubungan"
"Saya tahu"
"Kau tidak akan mendapat apapun dari hal ini"
"Saya mengerti"
"Apa kau masih ingin melanjutkan hal ini?"
Tanpa ragu lagi, Eva menjawab
"Iya"
Laki-laki yang mulai mencium dan membuka pakaiannya ini tidak tahu kalau Eva mendapatkan sesuatu dari hal ini.
Kenikmatan
Dan hanya itulah yang dibutuhkan Eva saat ini. Tanpa semua kerumitan hubungan yang pernah dijalaninya. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Eva ingin menikmati semua sentuhan dan kehangatan pria yang mulai membuat mereka menyatu itu.
Diharap pembaca dibawah umur tidak membaca ini🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Sebaiknya Anda tidak mengulangi apa yang tadi terjadi Tuan muda" kata Fint saat mengetahui Henry baru saja datang ke hotel tempat keluarganya berlibur.
"Itu bukan urusanmu"
"Saya diperintahkan untuk menjaga martabat keluarga oleh mendiang kakek Anda. Dan perbuatan Anda dapat mengancam apa yang saya jaga"
Henry tersenyum. Secara turun temurun, keluarga Fint memang sangat setia pada keluarga Ford. Awalnya dia terkejut mengetahui seseorang yang lebih mencintai keluarganya daripada dia sendiri. Tapi untuk urusan ini, apa yang dilakukannya tidak salah.
"Aku melakukan semua ini untuk menjaga martabat keluargaku. Jadi berhenti menggangguku" katanya kesal.
Sampai sekarang FInt memang tidak mengetahui urusan kesepakatannya dengan Miss Grey. Yang Fint pikir pasti dia memilih untuk bermain-main dengan perempuan itu sebelum terikat pada pernikahan. Seandainya saja dia normal, maka kehadiran perempuan itu tak perlu ada. Dia akan menjadi pewaris yang sempurna untuk keluarga Ford.
"Meski untuk wanita lain. Miss Grey ... bukanlah wanita yang pantas"
Henry tersenyum kecut.
"Kau pikir aku tidak tahu"
"Lalu Tuan, kenapa ..."
Sial. FInt sudah mendesakku sampai seperti ini. Dia tidak ingin membagi kekurangannya pada orang lain. Tapi kalau memang Fint ingin menjaga keluarga Ford, Henry tidak punya pilihan lain.
Meski berat untuk mengakui hal seperti ini, akhirnya Henry mengatakan semuanya pada Fint.
"Hanya kau dan ayah yang tahu. Juga ... perempuan itu. Jadi berhentilah menggangguku dan lakukan pekerjaanmu dengan baik"
Fint terdiam sejenak lalu mengangguk dalam.
"Maafkan saya sudah berpikir buruk pada Anda. Anda bisa percayakan semuanya pada saya"
Henry tidak tahu apa arti dari ucapan asistennya itu hingga saat ini. Dia sedang mengurus pekerjaan dan perlahan perempuan itu masuk ke dalam apartemennya. Sungguh sebuah kesempatan yang langka. Perempuan itu seakan menyodorkan dirinya sendiri.
"Silahkan Tuan. Sembuhkan tubuh Anda"
Henry membaca pesan yang dikirim oleh Fint dan tersenyum. Ternyata membicarakan masalahnya pada Fint membuat jalannya lebih mudah.
Henry berdiri dan mendekat ke arah perempuan yang merasa seperti ditipu itu. Dia tidak peduli. Semakin sering dia melakukannya dengan perempuan ini, maka dia akan menjadi lebih sempurna di mata keluarga tunangannya..
Tapi ... perempuan itu memberontak dengan kuat. Henry mulai kesal. Padahal dia tahu kalau perempuan ini hanya bisa puas kalau bercinta dengannya. Jadi ... Henry tidak peduli pada semua ocehan Miss Grey dan melanjutkan apa yang dia inginkan. Lalu perempuan itu bicara ingin melaporkannya. Melaporkannya? Untuk apa? Bercinta? Perempuan ini ... Sangat berani menyinggungnya. Padahal dia adalah putra dari pemilik perusahaan besar dan telah ditakdirkan untuk mernjadi pewaris sejak lahir. Perlahan tapi pasti, Henry berubah menjadi ganas. Dia tidak lagi melihat wajah memohon yang ada di bawahnya dan melakukan apapun yang dia inginkan pada tubuh Miss Grey.
Setelah puas, dia membasuh tubuhnya dengan air dingin. Ternyata berhubungan seperti ini bisa membuatnya lebih bersemangat lagi. Apa dia harus mencoba sekali lagi? Henry keluar dari kamar mandi, bermaksud untuk bercinta lagi namun perempuan itu sudah hilang. Bersama semua baju yang sudah dikoyakkan oleh Henry.Dia tidak peduli. Kalung yang dia tinggalkan di rumah perempuan itu bisa membeli semua baju yang diinginkan Miss Grey.
Besoknya Henry datang ke kantor dan kembali melakukan pekerjaan Presdir. Tidak lama lagi, dia akan memiliki jabatan itu, jadi semua orang di perusahaan harus terbiasa melihatnya dengan lebih hormat lagi.
"Ada apa Tuan muda?" tanya Fint karena Henry tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Bau parfum ini, dia mengenalnya. Tak lama Henry bisa melihat perempuan itu masuk ke dalam lobi perusahaan. Sangat terlambat untuk seorang asisten Presdir. Tapi ... kenapa perempuan itu tidak berhenti dan menyapanya? Apa perempuan itu tidak melihatnya karena terburu-buru?
"Tidak" jawab Henry kesal.
Sampai siang hari, hati Henry masih kesal. Dia melampiaskan kepada banyak orang tapi tetap saja amarah itu tidak hilang.
"Panggil Miss Grey kesini!" perintahnya pada Fint.
"Tuan muda ini ... Baiklah" jawab Fint lalu menghilang dari hadapannya.
Tak menunggu waktu lama perempuan itu sudah ada tepat di depan meja Henry.
"Selamat siang Wakil Presdir" sapa perempuan itu lalu menundukkan wajahnya.
Henry melihat sosok Miss Grey yang ada di depannya dan merasa ada yang janggal. Seakan perempuan itu menjadi berbeda dari yang biasanya.
"Pagi ini kau terlambat. Meskipun kau akan mengundurkan diri saat aku menjadi Presdir, bukankah itu adalah pelanggaran. Apalagi kau adalah asisten Presdir" Henry merasa senang bisa mengeluarkan kekesalannya pada orang yang tepat.
"Maaf Wakil Presdir, saya tidak akan mengulanginya lagi" jawab perempuan itu tanpa melihat ke arahnya. Henry merasa emosi lagi. Dia bangun dari kursi dan mendekati Miss Grey. Perempuan itu tidak bergerak dan tetap di tempatnya berdiri.
Henry berdiri tepat di belakang perempuan itu dan merasa emosinya perlahan hilang. Berganti dengan gairah yang membuat tubuhnya panas. Sampai sekarang Henry tidak mengerti kenapa dia cepat berdiri saat bersama perempuan ini. Padahal bila bersama Lisa, dia tidak seperti ini.
"Apa kau sudah lihat apa yang kutinggalkan di meja dekat ranjang?" tanyanya dengan suara pelan.
"Meja?"
"Kau tidak melihatnya?"
"Apa yang Anda maksud ... kalung?"
Bagus. Perempuan ini ternyata melihat kalung yang dia hadiahkan.
"Apa kau tahu, berapa harga kalung itu?" tanyanya lagi sembari menempelkan tubuhnya ke punggung Miss Grey.
"Tidak" jawab Miss Grey singkat.
"Kalau menjualnya. Kau tidak perlu bekerja lagi seumur hidup. Karena itu, jangan melawanku dan menurutlah. Mungkin inilah alasan kau hidup dengan kondisi yang seperti ini"
Perempuan itu tidak lagi mejawab. Mungkin sedang memikirkan kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya setelah menjual kalung yang Henry berikan.
"Berbalik dan naik ke atas meja!" kata Henry lalu melihat wajah perempuan itu di depannya. Miss Grey mengangkat tubuhnya ke atas meja dan Henry tidak bisa menahan diri lagi. Dia mencium perempuan itu dengan lembut. Meraba seluruh tubuh Miss Grey dan mempersiapkan dirinya untuk masuk.
"aaahhh" desah lirih Miss Grey saat Henry mendorong perlahan. Dia merasa sangat puas dan menyelesaikan semuanya dengan meraih puncak bersama.
Setelah istirahat siang yang penuh gairah, Henry bersemangat bekerja. Semua jadwal hari itu rampung sebelum waktu pulang tiba. Membuat Henry memiliki waktu untuk mengingat semua desahan yang didengarnya tadi dan tersenyum lebar. Sepertinya dia perlu membeli kalung lagi. Atau kali ini gelang berlian? Bagaimana dengan anting? Terakhir kali dia melihat sebuah anting berlian yang panjanjg dan cantik. Henry mulai membayangkan melihat anting berlian itu berguncang hebat saat dia berulang kali masuk ke dalam tubuh Miss Grey.
"Anda mau kemana Tuan?" tanya Fint, melihatnya keluar dari ruangan.
"Membeli hadiah" jawabnya dengan wajah cerah.